Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 156 Pertarungan Matsuyama


__ADS_3

"Dasar bodoh semuanya...mengejar dua orang aja kalian tidak becus...apa kalian mau kaki-kaki kalian aku potong semua karena tidak punya kegunaan??" wanita berambut dan bola mata berwarna merah itu mengamuk memukul apa saja yang ada didekatnya.


Mereka semua yang ada di situ menyingkir menjauh takut terkena pukulan dari wanita singa itu.


Amukan wanita itu membabi buta menghancurkan semua yang ada di depannya, membuat Dora dan Dori menghindar sejauh mungkin.


******


Bonita menatap tak berkedip pada sosok Matsuyama.


Wanita mana yang tidak terpesona pada ketampanan pemuda berambut gondrong itu.


Tubuhnya yang berkeringat nampak bercahaya terpantul cahaya matahari pagi.


Mereka berdua berencana untuk membuat rakit pagi ini mau menuju pulau seberang.


Matsuyama sibuk mengikat rakit itu dan tidak tau sama sekali ada sepasang mata yang memandang takjub padanya.


"Nah...sudah selesai!! ayo Snow, Bonita...kita seberangi pulau ini!!" kata Matsuyama penuh semangat.


Sambil berdiri diatas rakit mereka berdua bercerita.


"Istrimu itu orangnya bagaimana, Matsuya??" tanya Bonita menoleh kearah Matsuyama yang sedang sibuk menjalankan rakitnya.


Matsuyama menoleh pada Bonita lalu dia tampak tersenyum sumringah!!


"Namanya Almira, dahulu dia seperti kalian bukan manusia biasa tetapi sekarang dia sudah berubah utuh menjadi manusia!!"


"Dia wanita yang sangat cantik sekali!!" kata Matsuyama tersenyum sambil matanya menerawang kearah kejauhan.


"Waktu aku pergi sebulan lalu mau mengunjungi kedua orang tuaku di perguruan, istriku sedang dalam keadaan mengandung, menurut perhitunganku sepertinya istriku sudah melahirkan."


"Ahhh...aku jadi kangen pengen cepat pulang menemui keluargaku!!" kata Matsuyama dengan wajahnya yang terlihat muram.


Bonita kagum pada kesetiaan laki-laki yang ada di sampingnya itu. Dia tau tak sedikit kaum wanita dari kalangan manusia bahkan dari bangsanya yang sudah jatuh cinta pada Matsuyama.


Tetapi tak sedikitpun dia tertarik pada mereka semua. Karena dia hanya mencintai satu wanita, ALMIRA.


"Yah, kudoakan kamu bisa cepat kembali pulang dan berkumpul bersama keluargamu lagi...Matsuya!!" kata Bonita tulus.


Dia sungguh iba dengan nasib pemuda tampan di sampingnya itu.


Rakit terus membawa mereka keseberang tanpa tau apa yang nanti akan menunggu mereka di seberang sana!!


*****


Oek...oek...oek...


"Cup...cup sayang....Miranda kenapa nak?? Miranda kangen daddy??" tanya Almira pada bayi mungilnya.


"Ada apa dengan Miranda, Mira?? sejak tadi abang dengar menangis terus!!" kata Xavier lalu masuk ke dalam kamar Almira dan Miranda.


"Ngga tau, bang...putriku sepertinya sangat gelisah, sejak tadi minta gendong terus tidak mau dibaringkan dalam boks bayinya." Kata Almira juga ikut gelisah.


"Coba sini abang gendong!!" kata Xavier mengulurkan tangannya.


"Cup...cup...coba sini sama ayah, nak!!" kata Xavier.


"Kenapa sayang?? Miranda sakit??" kata Xavier menimang bayi cantik itu.


PRANG...


"Mira, ada apa dek??" tanya Xavier mendengar suara benda jatuh.


"Gelas ini jatuh sendiri dari meja, bang, padahal ngga ada angin!!" kata Almira.


"Terus kamunya luka??" tanya Xavier sambil masih terus menggendong Miranda.


"Cuma tergores kecil, bang!!" kata Almira.


Xavier membaringkan Miranda yang sudah tertidur di atas kasur. Diambilnya kotak p3k dari dalam laci segera dibersihkannya luka Almira dan di perbannya.


"Biar abang yang membereskan pecahan gelasnya, dek!! nanti tanganmu terluka lagi!!" kata Xavier.


"Bang!!" kata Almira.


"Pelan-pelan...tangan Mira, sakit!!" kata Mira meringis.


"Dasar manja...baru sakit begini sudah meringis...dulu abang tancapkan tongkat yang lebih sakit dari ini, diam-diam aja malah merem melek keenakan!!" canda Xavier sedikit mesum.

__ADS_1


"Abangg...!!!"


Mira mencubit pinggang Xavier karena kesal dan malu.


"Ada apa sih kalian ini seperti anjing sama kucing saja!!" kata kakek Kojiro yang masuk karena mendengar keributan Xavier dan Almira.


"Kadir mana kek??" tanya Almira mengalihkan pembicaraan.


"Di rumahnya lagi jaga anak-anaknya Luna dan Luni..." kata kakek Kojiro.


"Lho...terus Silvia mana, kek!!" tanya Xavier.


"Silvia lagi cari makan!!" kata kakek Kojiro lagi.


"Kok terbalik ya!!!" kata Xavier sambil menggaruk kepalanya.


******


Sullivan berjalan sempoyongan keluar dari peraduan Kebebitak. Hari ini tepat tujuh hari dia disekap di dalam peraduan raja kera itu. Melayani naf*su sang panglima itu yang seperti tak berujung.


Wajah Sullivan sedikit pucat karena tak pernah terkena cahaya matahari.


Hari ini dia bisa keluar kamar karena sang panglima akan pergi ke suatu tempat siang ini.


"Bi, apakah Levia, Shiera dan Valeria sudah kembali??" tanya Sullivan saat berjumpa seorang dayang di depan pintu kamar peraduan suaminya.


"Belum nyonyaku...para nyonya besar belum pulang sudah beberapa hari ini!!" kata dayang tersebut.


"Curang kalian bertiga!!" keluh Sullivan.


"Aku mati-matian melayani panglima kera sialan ini, kalian malah enak-enakan di luar sana!!" gerutu Sullivan.


"Aku semakin membencimu Almira, jika bukan karena menghindari polisi gara-gara mencelakaimu, nasibku tidak akan seburuk ini, harus menyerahkan kesucianku pada mahluk setengah manusia setengah kera itu!!" kata Sullivan sambil mengepalkan tangannya.


"Mommy...daddy...Sulli menyesal melarikan diri dari penginapan meninggalkan kalian waktu itu, mungkin inilah karma Sullivan karena telah melawan nasehat mommy dan daddy....Sullivan ingin pulang mom...dad!!" Sullivan menangis dalam diamnya.


"Sudah puas kamu meniduri perawan itu, Kebebitak??" tanya Bilygong ayahnya saat mereka berselisihan di teras.


"Puas banget ayah...jika tidak ada pertemuan penting antara ketua siluman, Kebe enggan meninggalkan wanita Kebe sendirian.


Bilygong hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuan putranya yang selalu bernaf*su saat melihat perempuan cantik.


Lalu kebebitak melangkah kedalam kamarnya. Dia ingin melakukan dengan wanitanya sebentar sebelum dia pergi.


Kebebitak langsung menuju ke kamar mandi perlahan dan dilihatnya tubuh putih polos menantang untuk dia jelajahi sedang mandi membelakanginya.


Tanpa di komando lagi dia melepas seluruh pakaiannya dan hup....dipeluknya tubuh polos menantang itu membuat si empunya tubuh berteriak kaget.


"Masih ada waktu satu jam sebelum kanda berangkat, dinda!!" bisik Kebebitak membuat Sullivan mengkirik membayangkan satu jam kedepan apa yang akan terjadi padanya.


******


"Kita sudah sampai tujuan Matsuya...!!" kata Bonita.


Dia membantu menuntun Snow kuda putih milik Matsuyama sementara Matsuyama menggeret rakit buatannya kepinggir dan mengikatnya di pohon bakau.


"Bonita...sejak turun dari rakit tadi aku kok seperti merasa ada yang memperhatikan kita, ya??" kata Matsuyama.


"Ah masa?? aku tak merasakan apapun??" kata Bonita.


"Jika gadis dari dunia bawah tanah seperti Bonita tak dapat merasakan apapun, bisa dipastikan bahwa sesuatu yang mengawasi mereka itu bukan sebangsa siluman atau mahluk jejadian, tapi apa??" gumam Matsuyama.


Mereka hanya berjalan beriringan meninggalkan pantai dan mulai memasuki daerah hutan cemara.


Kuda putih milik Matsuyamapun nampak gelisah sejak turun dari rakit tadi.


Matsuyama melirik pada Bonita yang nampak tenang-tenang saja.


Sebenarnya Bonita bukannya tidak tau ada keganjilan semenjak mereka turun dari rakit tadi tapi dia sengaja berbuat begitu agar Matsuyama tidak merasa panik.


Bonita bukan manusia, tentu dia tahu jika ada keganjilan di depan mereka tetapi dia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Kok seperti ada sesuatu yang melata di samping kanan dan kiri kita, ya Bonita??" bisik Matsuyama sambil berusaha menenangkan Snow yang mulai meringkik.


Hewan itu seolah tau bahaya yang sedang menanti mereka.


Mereka bertiga tiba di tanah lapang yang rumput sekitarnya rebah seperti habis dilewati sesuatu yang besar.


Di situlah baru Bonita berucap, "berhati-hatilah Matsuyama ada bahaya menghadang di sebelah kanan dan kiri kita."

__ADS_1


Belum sempat Bonita menutup mulutnya, di depan mereka telah berdiri menghadang langkah mereka dua sosok lelaki dan perempuan yang lebih tinggi dari mereka berdua, tapi bukan itu yang mengagetkan Matsuyama, tetapi sepasang muda mudi itu tidak berdiri di atas kaki mereka melainkan berdiri di atas badan yang sebagian ekornya melata di tanah.


Pandangan mata mereka menyorot penuh kebencian menatap Matsuyama.


"Siapa mereka itu, Bonita??" bisik Matsuyama pada Bonita.


"Mereka itu putra dan putrinya Sinoe!!" bisik Bonita.


"Kamu tau setelah perut Sinoe terbelah saat kamu keluar dari dalam perutnya dengan membobol perut ular besar itu dengan samurai sakti yang ada di pinggangmu, saat itu Sinoe sedang menetasi telurnya...tak lama setelah perutnya terbelah dan ratu Hikaru musnah, Ular besar sesembahan ratu Hikaru itupun ikut musnah meninggalkan dua pasang putra dan putrinya."


"Mereka terpaksa harus mencari makan sendiri demi bertahan hidup dan tekad membalas dendam pada orang yang membunuh ibu mereka." Kata Bonita.


"Tetapi mengapa kok mereka sudah sebesar ini?? peristiwa itu terjadi belum ada dua tahun yang lalu!!" bisik Matsuyama pafa Bonita.


"Mereka bukan manusia seperti kamu, Matsuyama!! di dunia kami, sesuatu yang tak mungkin di duniamu, mustahil di duniamu tetapi tak ada yang tak mungkin di dunia kami." Jelas Bonita panjang lebar.


"Kami cepat menjadi dewasa karena usia kami juga rata-rata sampai ratusan tahun!!" kata Bonita lagi.


"Hai manusia brengsek yang telah membunuh ibu kami!!!" bentak si ular yang dari pinggang keatas berbadan manusia dan dari pinggang ke bawah berbadan ular.


"Kami berdua sudah lama menanti kedatanganmu di pulau kami...kami tau kamu akan melewati tempat ini karena hanya jalan ini saja satu-satunya bagimu untuk kembali kedunia manusia."


"Selamat datang untuk menyambut kematianmu, manusia jahat!!" kata sepasang muda dan mudi itu.


"Rini...Rana..." kata Bonita.


"Sinoe ibu kalian bukan mati secara langsung dibunuh oleh pemuda ini, ibu kalian mati karena membela ratu Hikaru yang jahat yang telah menjadikan ibu kalian sesembahannya."


"Pemuda ini ditelan oleh ibu kalian, dan hanya dengan merobek perut ibu kalian, dia bisa keluar dengan selamat dari sana."


"Jangan kamu termakan hasutan dari pihak lain yang ingin memanfaatkan kesaktian dan kekuatan kalian berdua."


"Siapa sih yang tak kenal pada Rana dan Rini sepasang ular kembar yang mempunyai kesaktian tinggi."


"Nama kalian sudah terkenal di mana-mana!!" kata Bonita mencoba melunakan hati kedua putra dan putri Sinoe itu.


"Rana si ular lelaki tampak bergeming dengan kata-kata Bonita, tetapi tidak dengan Rini!!"


Ular wanita itu tetap kukuh pada niatnya semula untuk membunuh dan membalaskan sakit hatinya pada kematian ibunda mereka.


"Kami tidak peduli dia salah atau benar...tetapi di dalam rekaman otak kami berdua, pemuda itulah yang telah membunuh ibunda kami yang menyebabkan kami menjadi yatim piatu dan menyebabkan kami tidak tau apa itu arti kasih sayang dari seorang ibu." kata ular betina yang telah diliputi amarah dan dendam kesumat itu.


"Biarkan mereka berbuat sesuka hati mereka, Bonita!!" kata Matsuyama.


"Tetapi asal kamu tau Rana...Rini...kalian menyerangku dan aku akan mempertahankan diriku dari serangan kalian!!" kata Matsuyama.


Kedua ular berbadan manusia itu menggeram marah.


"Hati-hati Matsuya, Rana dan Rini adalah perpaduan siluman ular dan manusia...kekuatannya juga berbeda dari ibunya dulu, mereka berdua jauh lebih tangguh dari Sinoe." Bisik Bonita memperingatkan Matsuyama.


"Bonita, tolong kamu bawa Snow kuda putihku ini ke tempat yang aman dulu ya!!" bisik Matsuyama lagi yang disertai anggukan oleh Bonita.


Snow dibawa agak menjauh dari tempat itu oleh Bonita, lalu diapun berpesan pada Snow.


"Snow...jika kami berdua nanti tidak akan selamat dalam menghadapi Rana dan Rini, tolong kamu lari secepat dan sejauh mungkin kearah matahari terbit, ikuti terus jalan yang kamu lihat jangan kamu berbelok-belok ya!! temui mertua Matsuyama karena jalan menuju ke timur itu adalah jalan yang akan melewati peternakan paman Giandra dan bibi Serafin, mengertikah kau Snow??" tanya Bonita pada kuda putih itu.


Seperti mengerti pada ucapan gadis itu, Snow meringkik halus.


"Bagus....kuda pintar!!" kata Bonita sambil menepuk punggung kuda milik Matsuyama itu.


Lalu kemudian dia kembali ke tanah lapang yang akan menjadi area pertarungan hidup dan mati antara Rana Rini dan Matsuyama yang juga akan dibantu oleh Bonita.


Kedua ular bersaudara itu sudah berdiri semakin tinggi menjulang di depan Matsuyama. Tubuh mereka yang sebesar pohon kelapa dan sepanjang lebih dari sepuluh meter itu bertambah beringas wajahnya karena sudah berhadapan dengan musuh yang mereka nanti selama kurang lebih dua tahun ini.


Matsuyama menghunus samurai yang dia dapat dari dalam perut ular Sinoe itu.


"Mira, anak-anak, ayah dan ibu Serafin dan Giandra, ayah dan ibu Miku dan Kakegawa....jikamemang umur Matsuyama hanya cukup sampai di sini, Matsuyama mohon maaf dari kalian semua ya!!"


"Maafkan abang Mira jika belum bisa menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan anak-anak kita...tapi percayalah jika aku mati hari ini sekalipun, maka cintaku padamu akan kubawa sampai kealam kematianku."


Matsuyama merasakan sesak di dadanya, entah mengapa dia merasa tidak yakin bisa menang menghadapi dua ekor ular siluman berbadan dan berkepala manusia itu!!


Tak lama Bonita pun datang padanya setelah memberi pesan pada Snow.


"Mengapa kamu tidak pergi juga, Bonita??? ini masalahku, aku tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini...aku berterima kasih padamu dalam beberapa hari ini selalu ada di sampingku untuk membantuku, pergilah selagi masih ada kesempatan Bonita...jika terjadi sesuatu padamu, apa yang akan aku katakan pada paman Bara Seta nanti??"


*


*

__ADS_1


****Bersambung....


Mohon selalu dukungannya ya reader...like, komen, vote, favorit dan rate dari kalian semua🙏🙏


__ADS_2