
"Iya...kau lah maksudnya tampan, tak mungkinlah kakek tua renta dan bau tanah yang ada di sebelahmu itu, ganteng!!" serunya dengan wajah genit.
Xavier berdiri kaku di samping ayahnya. Bulu-bulu di tubuhnya mendadak meremang, gadis bukan perawan yang berdiri di hadapannya sekarang ini sungguh membuat dia sedikit ngeri.
"Ayah, Xavier ngeri menghadapi perempuan jelmaan seperti ini...jangan-jangan mereka bukan manusia tapi siluman." bisiknya ke telinga kakek Kojiro.
"Hei...kalau mau gosipin saya jangan lewat belakang dong!!! langsung aja sama saya sini!!" gadis bukan perawan melambaikan tangannya dengan genit.
Dia maju mendekati Xavier...
"Idih...sana jauh-jauh!! atau dekat-dekat sama ayahku saja!!" kata Xavier ngeri.
"Kok aku yang harus jadi tumbalnya sih?? Sama perempuan beneran aja aku belum tentu mau, apalagi sama siluman monyet ini!!" kakek Kojiro pun menjauh.
"Kurang ajar...berani-beraninya kamu menyebut anakku siluman monyet, dasar tua bangka!!" umpat Oroshi.
"Tua bangka? kayak situ masih muda aja...mudaan aku kali kemana-mana!! aku tua dengan wajar tapi kau tua terjemur dan kurang ajar!!" cibir kakek Kojiro.
"Setan alas...sejak dulu kau memang selalu menjengkelkan Kojiro, kau dan Tosiro sepupumu itu setali tiga uang saja." Oroshi tampak marah sekali.
"Sato...ayo kita bermain-main dengan mereka...ayah dengan ayah dan kau dengan si tampan rupawan itu, siapa tau dia bisa menjadi suamimu!!"
Hueekkk...
Xavier mengeluarkan suara seperti orang mau muntah.
"Jangan begitu tampan, sekali kamu merasakan goyanganku maka kamu akan ketagihan dan minta nambah terus!!" Sato mengedipkan mata genitnya.
"Minta tambah gimana? memang mau main anggar? pedang sama pedang diadu?" jawab Xavier jengah.
Sato mengeluarkan senjata berupa kipas yang ujung-ujungnya bisa mengeluarkan pisau-pisau tajam.
Oroshi mengeluarkan kantong jarum neraka dari balik pinggangnya dan juga mengeluarkan senjata berupa tongkat yang bisa memendek dan memanjamg.
"Ayah, keluarkan juga senjatamu..." bisik Xavier cepat sambil mengambil busur dari pundaknya.
"Keluarkan senjata apa? yang mana? kamu kan tau ayah tidak punya senjata apapun.
"Kalau ayah mengeluarkan tongkat pusaka ayah, seluruh peri di hutan ini bakal menjerit histeris." kata Kojiro.
"Tak ada waktu untuk bercanda yah, keluarkan semua apa yang bisa dikeluarkan!!" jawab Xavier.
Kojiro mengeluarkan jubahnya yang dipakai untuk menghalau jarum-jarum neraka milik Oroshi tadi.
"Ayah, kita mau berkelahi bukan mau pulang!! kok jubahnya dibawa sih?" kata Xavier kesal.
"Siapa yang mau pulang sih?? kamu tadi meminta ayah mengeluarkan semua yang bisa dikeluarkan, ya ayah cuma punya jubah ini...ya ini saja yang ayah keluarkan, gimana sih??" kata Kojiro gusar.
"Kapan kita bisa mulai pertarungannya?" teriak Orosi.
"Cerewet..." teriak Kojiro dan Xavier kompak.
Sato pemuda yang berdandan cantik itu mengeluarkan jurus-jurus kipas besinya yang gemulai tapi sangat mematikan.
Serangan-serangannya terarah dan mematikan. Awalnya Xavier kewalahan, tapi pada akhirnya dia mampu menemukan kelemahan kipas itu.
Dia terus menyerang tangan Sato yang memegang kipas itu, pada jurus ketiga puluh mendadak Sato merubah permainan kipas besinya.
Kembali Xavier kewalahan hingga...
__ADS_1
Breettt....
Lengan Xavier tersabet pisau yang ada di ujung kipas Sato.
Xavier menggeratakan gerahamnya menahan sakit di lengannya yang robek dalam terkena sabetan pisau lawan.
Dia juga merubah gerakan jurusnya. Busur di tangannya berubah jadi ribuan banyaknya dan pada jurus kelima puluh jidat Sato terkena kemplang busur Xavier.
Karena Xavier memang tak ada niat membunuh, maka dia hanya membuat benjol sebesar telur ayam di jidat Sato.
Pemuda gemulai itu menjerit histeris melihat jidat mulusnya ternodai dengan benjolan.
Dia tampak marah sekali sehingga gerakannya menjadi kacau dan memudahkan Xavier untuk mematahkan serangannya.
Dan pada jurus keseratus keisengan Xavier muncul dengan sengaja dia mengarahkan kibasan busurnya di bagian bawah perut Sato hingga tali kolor Sato putus terkena sabetan busur yang berubah setajam mata pedang di tangan Xavier.
"Ayah...:"
Teriakan Sato menggelegar membelah hutan belantara.
Oroshi yang tengah bertarung sengit dengan Kojiro menjadi pecah konsentrasinya.
Dia melihat celana Sato sudah melorot sampai mata kaki, dan celakanya Sato tidak mengenakan apapun lagi di balik celananya itu.
Hahahaha....Xavier tertawa tergelak bersama ayahnya.
"Di atas kemayu, di bawah menunjuk malu-malu!!" kata Xavier sambil menunjuk bagian bawah Sato.
"Dari pada punya ayahnya??? di atas sangar di bawah menunjuk kurang ajar..." Kojiro terkikik sampai terkencing-kencing.
Merah padam wajah Oroshi sementara Sato sibuk memegang celananya.
Tiba-tiba Xavier meringis menahan rasa sakit di lengannya akibat sabetan pisau Sato tadi.
Kojiro cepat memeriksa lengan putranya untuk memastikan luka itu beracun atau tidak.
Dia menarik napas lega karena luka di lengan Xavier tidak beracun, hanya agak dalam saja.
*
*
Almira duduk di teras rumah menghadap ke pantai. Dia memainkan gitarnya dan bibir mungilnya bersenandung pelan.
Hatinya sedang kacau. Ada rasa rindu yang harus dia tahan dan bila bisa dibuang sejauh-jauhnya dari hati dan pikirannya.
"Pak Xavier..." tak terasa nama itu terucap dari bibirnya.
"Mira kangen...Mira ingin ketemu dengan bapak..."
Tiba-tiba petikan gitar di tangannya berubah menjadi lagu sendu yang menyayat hati siapapun yang mendengarkannya.
Kakek Dahlan hanya bisa menatap sedih pada cucu tersayangnya itu. Dia ingin membantu, tapi apa? merubah takdir? tapi dia tak bisa.
Hatinya juga ikut tersayat sedih mendengar ratapan hati Almira yang dituangkan dalam petikan gitarnya.
"Kakek..."
"Astaghfirullah..."
__ADS_1
Kakek Dahlan sampai terlompat dari duduknya saat ada suara yang memanggilnya.
"Hiro...kelewatan kamu ya...kamu mau membuat kakek cepat mati, hah!!" matanya mendelik kesal pada Hiro yang berdiri di belakangnya sambil cengengesan.
"Hiro, lihatlah Almira...hiburlah dia, kakek sangat tak tega melihatnya seperti ini terus!! padahal sudah hampir dua bulan Xavier pergi tapi Mira tetap saja bersedih.
Hiro melangkah mendatangi Almira yang sedang bernyanyi.
"Hei...anak gadis ngga boleh duduk di luar sendirian, nanti jauh jodoh lho!!" kata Hiro.
Almira menghentikan petikan gitarnya. dia berbalik menatap Hiro.
"Jodohku memang sudah pergi jauh, Hiro!! dia tak mungkin akan kembali padaku lagi. manik mata nan indah itu terlihat sayu.
Almira memang bukan seperti gadis kebanyakan yang jika patah hati akan menangis, mengurung diri di kamar, meratapi nasib...Mira bukan tipe gadis seperti itu.
Dia tidak menangis walau hatinya sedih, dia masih bisa tertawa dan bercanda walau perasaannya terluka.
Dia tidak suka mengurung diri, dia tidak suka meratapi nasib. Baginya, kesedihan itu cukup hanya dia yang tau dan merasakan, orang lain tak perlu tau apa yang tengah dia rasakan.
"Nyanyi bareng yuk!! aku yang main gitar kamu yang nyanyi, oke??" kata Hiro.
Akhirnya mereka bernyanyi bersama, sesekali diselingi tawa jika nada yang dimainkan Hiro tidak pas pada lagunya.
Ketika mereka lelah, mereka saling duduk bersandar punggung.
"Mira..."
Hmmm...
"Mira..."
"Apa sih??"
Kita pacaran yuk!!" kata Hiro.
"Aku ingin menggantikan posisi abangmu di dalam hatimu."
Mira terdiam. dia tengah berpikir. mungkin apa yang dikatakan Hiro itu ada benarnya. sampai kapan dia akan terus terpuruk pada suatu hubungan tanpa kepastian? sedangkan dia tau mereka berdua bersaudara.
"Aku tidak meminta kamu mencintaiku seperti kamu mencintainya, karena tentu saja itu berbeda!! tapi setidaknya kita bisa mencobanya."
"Sebenarnya sewaktu kamu dulu masih bayi, aku pernah mengatakan pada paman Giandra ayahmu kalau aku jika besar nanti ingin melamarmu menjadi istriku."
"Aku sudah menyukaimu sejak kamu bayi dulu...kamu itu begitu cantik dan imut saat.masih bayi."
"Memang sekarang aku ngga imut dan cantik lagi ya??" tanya Almira.
"Sekarang kamu malah semakin cantik, jadi nyonya Hiro ya...aku akan mengajakmu pulang ke Jepang menemui ayah Kakegawa di perguruanku.
"Aku sama dengan Xavier, sama-sama ingin menikah di usia muda agar bisa lama menikmati kebersamaan dengan keluarga!!" kata Hiro.
*
*
***Bersambung...
Hayo...terima ngga yah😊😊😊semua keputusan ada di tangan Almira...
__ADS_1
Mohon dukungannya selalu ya guys...sekali lagi mohon maaf jika author belum bisa baca dan membalas satu persatu karya teman-teman semua tapi nanti pasti akan author usahakan untuk mampir balik.