Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 105 Diantar Pulang


__ADS_3

"Kalau saya boleh tau, siapa gerangan tuan yang telah menyelamatkan nyawa saya ini?" ucap Almira.


Perlahan pria tinggi besar yang berdiri di depannya membuka hodie yang menutup kepalanya.


Almira masih belum bisa melihat jelas siapa orang itu karena di tempat mereka berdiri sangat minim cahaya.


Dia hanya melihat secara samar-samar wajah orang itu tetapi belum benar-benar bisa dikenalinya.


"Halo, kita berjumpa kembali cantik!!" sapa pria itu pada Almira.


"Apakah saya mengenal anda?" tanya Almira lagi.


"Kita pernah berjumpa walau hanya sekilas mata!!" jawabnya.


"Ya sudahlah, siapapun kamu aku mengucapkan banyak terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku!!" sahut Almira.


Lalu dia terdiam. Dia sempat melihat Xavier suaminya berteriak histeris saat mahluk-mahluk itu ingin mencabik-cabik tubuhnya. Sesaat kemudian dia melihat Xavier terkulai lemas dipegang oleh kakek Kojiro begitu pula dengan ibunya yang pingsan dipeluk oleh ayahnya.


"Bisakah kamu mengantar aku pulang sekarang? aku sangat mengkhawatirkan keluargaku saat ini!" ucap Almira.


"Bersabar ya cantik, jika kuantar pulang pun kamu tidak bisa masuk juga kerumah dan mahluk-mahluk ganas itupun masih berkeliaran di sana." Jawab pria itu yang sudah memasang kembali hodienya.


Terus kita mau apa di pinggir tebing begini? pagi masih beberapa jam lagi!!" kata Almira lagi.


"Kamu lapar? aku masih punya roti dan air mineral di jok motorku, bisa kita gunakan untuk mengganjal perut sampai menjelang pagi nanti."


"Memang perutku roda pakai diganjal segala supaya ngga gelundung!!" komentar Almira kembali nyerocos seperti biasanya.


Awalnya pria berjaket hodie tampak kaget melihat gadis yang tampak kalem, cool ternyata mulutnya pedes, ketus dan asal jeplak saja. Tetapi lama-lama dia malah semakin merasa asyik dan nyambung ngobrol dengan gadis ini. Ucapannya yang kadang menohok tak peduli lawan bicaranya tersinggung atau tidak, tetapi justru bicaranya yang secara spontan itulah yang sering membuat dia tertawa dan merasa terhibur.


"Kenapa kamu selalu tertawa saat melihatku? memang aku ondel-ondel?" tanya Almira yang masih belum bisa melihat wajah tuan penolongnya.


"Kamu lucu, dan kamu juga sangat cantik!!" katanya.


Bukannya tersipu seperti gadis lain yang dipuji atau memerah pipinya seperti tomat, dengan santainya Almira malah bilang..."Aku mah memang cantik dan lucu sejak lahir, jangan bilang kamu suka sama aku ya!!" jawabnya spontan.


"Kalau aku suka sama kamu memangnya ngga boleh??" tanya pria berhodie.


"Boleh...hanya suka aja kan, ngga lebih?" tanya Almira.


"Memangnya kenapa kalau lebih dari suka?" tanyanya lagi.


"Memang kamu sudah punya pacar?" tanyanya.


"Sudah dong, wanita cantik itu rugi kalau belum punya pacar!!" jawab Almira percaya diri.


"Oh ya??? jadi kamu sudah punya pacar tanya si hodie sambil menoleh pada Almira.


"Aku sudah menikah..." kata Almira pelan.


"Ohhh!!"


Hanya itu ucapan yang dikeluarkan si hodie.


"Siapa namamu, cantik!!" tiba-tiba dia bersuara memecah kesunyian.


"Shahnaz Almira!!'


"Namamu cantik secantik parasmu, tetapi sayang kamu sudah ada yang punya." Dia berpaling pada Almira sambil meneguk air mineral yang dipegangnya.


Almira tidak menjawab. Dia memandang keufuk timur matahari mulai terbit.


"Matahari pagi mulai terbit, kita pulang, yuk!!" katanya.


"Aku akan mengantarmu pulang, keadaan tampaknya sudah aman." Dia lalu beranjak berdiri menuju motornya.


Sebelum dia menghidupkan motornya dan aku naik, kami saling berpandangan.


Walau tak terlalu kelihatan wajahnya karena kepalanya tertutup hodie yang dia pakai tetapi aku masih bisa melihat wajah itu.


Perpaduan wajah tampan dan manis dengan bibir dan dagunya yang terbelah dan bola matanya juga berwarna biru, sebiru mataku.


"Hei...wajahmu tampan sekali...mengapa kamu menutupinya dengan hodie yang kamu pakai?"


"Benarkah aku tampan? tetapi walaupun aku tampan, kamu juga tak akan pernah suka padaku!!" jawabnya.


"Ya jelaslah aku tak suka padamu, aku kan sudah menikah, kamu carilah wanita single di luar sana, ok???" jawab Mira sambil tersenyum.


"Siapa namamu??" tanya Almira.


"Tristan Calderon..."


Lalu tanpa banyak bercakap lagi dia melaju menggonceng Almira di belakangnya membelah pagi menuju ke rumah pantai!!


Di rumah pantai suasana masih berduka. Xavier duduk di teras sambil memandangi kearah lautan. Matanya sembab dan bengkak karena habis menangis semalaman.


Keadaan Aliandhara juga tidak lebih baik dari Xavier. Dia duduk memeluk lututnya di lantai. Dia sudah tak mampu berkata apapun lagi saat ini.


Serafin masih menangis di kamar ditemani oleh Giandra suaminya.


Suara deru motor membuat Xavier dan Aliandhara mengangkat wajahnya.


"Abang...."


Teriakan kencang Almira sontak mengagetkan keduanya.


"Sayangnya abang!!" kata Xavier lalu lari menyongsong Almira diikuti oleh Aliandhara di belakangnya.

__ADS_1


Xavier memeluk istrinya sambil terisak. Sungguh dia sangat takut kehilangan wanita itu, begitu pula dengan Aliandhara.


Tristan Calderon mengamati mereka dari atas motornya.


"Almira melepaskan pelukan Xavier dan menggandeng Xavier serta Aliandhara mendekati Tristan.


"Bang Xavier, bang Ali...perkenalkan...ini Tristan Calderon, dia yang telah menyelamatkan nyawa Almira tadi malam!!" kata Almira.


"Xavier...saya suaminya Almira!! terima kasih karena telah menyelamatkan istri saya, ya!!" kata Xavier sambil menjabat tangan Tristan.


"Aliandhara kakaknya Almira..." Aliandhara dan Tristan berpandangan. Dan Tristan tersenyum penuh arti.


"Ohhh, inikah suaminya Almira?? dan jika Aliandhara adalah kakak dari Almira berarti tuan Kelvin yang akan kami bunuh semalam adalah ayah dari Almira!!" batin Tristan.


Xavier mengerutkan dahinya. Dia tau Tristan sedang mengatakan sesuatu tetapi anehnya dia sama sekali tak bisa membaca pikiran Tristan.


"Xavier...aku tau kamu dan Almira memiliki kemampuan yang sama, yaitu bisa membaca pikiran orang lain, tetapi kalian berdua jangan berharap bisa membaca pikiranku!!" batin Tristan lagi tersenyum.


"Ya sudah, saya permisi dulu ya...senang bertemu dengan kalian!!" Lalu Tristan naik kembali keatas motornya dan melesat pergi.


"Mira...kemana kamu dibawa oleh laki-laki yang bernama Tristan itu, mengapa tidak langsung pulang kerumah??" kata Xavier menatap istrinya dengan tajam.


"Bang Xavierkan tau aku sangat shock saat malaikat maut sudah menari-nari indah di depan mataku semalam."


"Aku tak bisa menghilang dari pandangan para mahluk astral itu saat tangan ku yang melingkar cincin sakti pemberian Hiro itu dicekal erat oleh para mahluk mengerikan itu."


"Aku sudah putus asa, apalagi aku mendengar teriakan histeris dari abang membuatku hilang fokus."


"Di saat-saat genting seperti itu, Tristan muncul dengan motornya menebas dengan sinar biru yang keluar dari matanya."


"Jika tidak ada Tristan, mungkin Almira sudah tinggal nama saat ini!!"


"Jadi dengan kata lain Almira berhutang budi pada Tristan!!"


"Rasanya semalam abang ingin ikut mati saja saat melihatmu hampir tewas." Kata Xavier memeluk istrinya dengan mat berkaca-kaca.


****


"Dari mana kamu Tristan?? semalam kamu tidak pulang?? Gabriela berdiri di muka pintu saat dia melihat Tristan melemparkan hodie dan kunci motornya keatas nakas


"Aku lagi suntuk, butuh penyegaran!!" kata Tristan singkat.


Lalu dia melangkah masuk ke kamarnya tanpa menoleh lagi pada Gabriela.


Di ruang tengah dia melewati seorang lelaki tua dengan warna rambut kelabu dan dikuncir kebelakang.


"Darimana kamu Tristan? Gabriela bilang semalam kamu tidak pulang!!"


"Keluar...kepala Tristan penat dengan sebuah job yang belakangan ini Tristan terima bersama dengan Gabriela."


"Benar..." jawab Tristan.


"Wanita yang tak memberikan identitas apapun..."


"Tetapi akibat tugas ini, Tristan harus kehilangan Wardoyong dan tiga anak buahnya, bahkan Tristan dan Gabriela kehilangan sasaran!!" Tristan sengaja menyembunyikan fakta terakhir, dia tau di mana keberadaan Kelvin Antonio tetapi dia sengaja menutupinya.


"Ayah...entah mengapa rasanya Tristan berat awalnya menerima tugas ini!!" jawab Tristan kepada lelaki tua yang ternyata adalah ayahnya.


"Jika kamu merasa berat, mengapa kamu menerimanya?" tanya ayahnya lagi.


"Gabriela yang menerimanya yah...biasanya kami selalu berkompromi dulu sebelum menerima job dari seseorang, tetapi beberapa hari lalu Gabriela bertindak sendiri." jawab Tristan.


"Kita memang pembunuh bayaran Tristan, tapi tidak sembarang orang juga kita harus bunuh, kita harus jelas apa motif dan latar belakang niat si pemberi tugas dan apa kesalahan orang yang akan dibunuh tersebut."


"Seperti sekarang ini, kalian berdua malah gagal bahkan kehilangan Wardoyong dan anak buahnya yang sudah ikut dengan kita selama bertahun-tahun."


"Iya ayah..." kata Tristan.


"Dan satu lagi Tristan, jangan sekali-kali kamu atau Gabriela jatuh cinta pada sasaran yang akan kalian bunuh, karena perasaan cinta hanya akan menghambat kelancaran tugas kita, paham kamu Tristan?" mata Zamrud lelaki tua itu seolah menusuk masuk ke dalam mata dan pikiran Tristan.


"Iya, ayah!!" jawab Tristan singkat.


****


"Hai anak kadal....syukur kamu selamat, kakek sudah berpikir yang tidak-tidak tentangmu!!"


Kakek Dahlan yang berdiri menyambut Almira dan tak terasa air mata orang tua itu membanjiri pipinya yang keriput.


Dia sangat mencintai Almira walaupun dengan caranya sendiri, begitu pula sebaliknya.


"Tosiro!!!"


Kakek Kojiro melotot menatap Tosiro si kakek Dahlan.


"Begitu-begitu dia menantuku, jadi jangan bicara yang tidak-tidak!" sungutnya.


"Siapa bicara yang tidak-tidak? aku hanya bicara yang iya...iya saja kok!!" jawab Tosiro tak mau kalah.


"Kakek berdua ngapain?? sedang menyiapkan upacara kematianku kah!!" tanya Almira.


"Sembarangan kamu ini, sayang!!" tegur Xavier yang datang bersamaan dengan Aliandhara ke kebun belakang.


"Selamat pagi kek!!" sapa Aliandhara pada kedua orang tua itu.


"Selamat pagi tuan muda, bagaimana keadaan ayahmu?" tanya kakek Dahlan.


"Sudah lebih baikan, kek!!" jawab Aliandhara.

__ADS_1


"Oh iya, ayah!!"


Buru-buru Almira berlari ke dalam menuju kamar ayahnya.


Tok...tok...tok


Lalu Almira masuk dan melihat seorang lelaki setengah tua tengah berbaring di ranjangnya!!


Matanya terbuka saat melihat siapa yang datang. Tampak mata tua itu bengkak dan sembab seperti habis menangis.


"Ayah...mengapa ayah menangis!!" kata Almira.


"Bagaimana ayah tidak menangis Refanya..." kata tuan Kelvin memanggil nama asli putrinya itu.


"Ayah dengan susah payah keluar kamar dan bergabung dengan yang lainnya untuk melihat kejadian di luar sana bertepatan saat mahluk-mahluk itu ingin membantaimu."


"Ayah sudah berpikir akan kehilanganmu selamanya...apalagi jeritan nyonya Serafin yang pingsan, teriakan histeris Xavier dan Aliandhara, membuat ayah langsung jatuh dan tak sadarkan diri!!"


Almira memeluk ayahnya yang tak henti-hentinya meneteskan air mata bahagia mengetahui bahwa putrinya masih hidup.


"Demi ayah dan ibunda ratu Nilakandi...Almira akan tetap berjuang hidup yah!!" sahut Almira.


"Bagaimana keadaan penyakit ayah!!" tanya Almira.


"Ayah sudah jauh lebih baik berkat ramuan obat yang telah diberikan oleh nyonya Serafin, Mira."


"Oh iya, keadaan nyonya Serafin dan tuan Giandra keadaannya juga tidak jauh lebih baik dari ayah, temuilah kedua orang tuamu itu!!" kata tuan Kelvin Antonio.


"Almira tinggal dulu ayah sebentar ya..!" lalu Almira beranjak keluar dan di depan pintu dia berselisihan dengan Aliandhara.


Netra mereka saling menatap. Ingin sekali rasanya Aliandhara memeluk tubuh gadis yang selalu dirindukannya itu tetapi tak mungkin karena pujaannya itu sudah menikah.


"Abang..." kata Almira saat mereka saling bertatapan mata.


Almira tak mengingkari bahwa jauh di dasar hatinya, masih ada getaran untuk laki-laki yang pertama kali membuatnya jatuh cinta itu.


Makanya dia tak mau berlama-lama menatap Aliandhara, dia takut tak dapat menahan perasaannya, ada hati yang harus dia jaga sekarang karena dia sudah menikah dengan Xavier.


Tok...tok...tok


"Ayah...ibu..."


"Mira...itu suara Mira kan, yah!!" dengan lemah Serafin yang sedang dipijit kepalanya oleh Giandra menoleh kearah pintu.


"Mira...."


Teriak Giandra dan Serafin bersamaan. Almira lari dan memeluk kedua orang tua manusianya itu.


"Ibu pikir sudah tak bisa melihatmu lagi, nak! hiks...hiks...hiks..."


Serafin menangis sambil memeluk Almira. Giandra hanya bisa mengucap syukur karena putri mereka telah selamat dari kematian itu.


"Siapa yang telah menolongmu, nak??" tanya Serafin setelahnya.


"Namanya Tristan Calderon, bu!! dia datang tepat pada saat tubuh Mira akan dicabik-cabik oleh para mahluk astral itu."


"Syukurlah...Allah masih melindungimu, Mira!!" kata Giandra ayahnya.


"Mira, siang ini tuan Kelvin sudah bisa pulang ke mansionnya...kamu dan Xavier antarkan ayah dan mertuamu itu, takut jika beliau pulang hanya dengan tuan muda Aliandhara ada orang lagi yang menginginkan nyawanya!! Kata Serafin.


"Baiklah ayah, ibu....setelah makan siang nanti, Mira dan bang Xavier akan mengantar ayah Kelvin pulang ke mansion!!" jawab Almira.


*****


Tristan sedang mempermainkan ponsel Almira yang ada di tangannya dan semalam lupa dibalikannya.


Dia berbaring sambil memejamkan matanya. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum saat dia teringat perkataan polos Almira yang terkesan ceplas ceplos.


"Dasar bocil!!" lirihnya sambil tersenyum.


Tristan Calderon yang terlahir tak jelas siapa orang tuanya, terbuang dan di besarkan oleh Maxwell Calderon seorang mafia, gangster dan pembunuh berdarah dingin.


Dia dan Gabriela senasib. Sama-sama anak terbuang membuat keduanya tumbuh dalam asuhan Maxwell yang kejam dan keras. Gabriela yang lebih tua 2 tahun dari Tristan sangat menyayangi Tristan seperti adiknya sendiri, begitu pula sebaliknya.


Sebagai dua orang yang tumbuh dalam dunia yang serba keras dan kejam, membuat Gabriela dan Tristan juga menjadi pribadi yang dingin.


Sejak kecil mereka selalu irit bicara, apalagi tersenyum dan tertawa?? jauh dari impian mereka berdua.


Tetapi sejak bertemu Almira malam itu terasa menjungkir balikan semua dunianya Tristan.


Almira yang mempunyai sikap dan sifat angin-anginan yang terkadang baik kalau angin ketimur dan terkadang jutek dan galak jika angin kebarat, membuatnya sejak tadi senyum-senyum melulu.


Celotehan Almira semalam yang seolah tak pernah terjadi apapun dengannya padahal nyawanya baru saja selamat dari bahaya, membuat Tristan kagum pada si jelita itu.


Senyuman dan tawanya selalu terbayang di pelupuk mata Tristan seolah gadis cantik itu sedang ada dan menari-nari di depan matanya.


*


*


***Bersambung...


Seorang pembunuh berdarah dinginpun akhirnya luluh pada kepolosan dan kejutekan seorang Shahnaz Almira๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Apakah Tristan Calderon juga akan jatuh cinta pada si tomboy dingin itu??


Ikuti terus lanjutan kisahnya ya...like, komen, vote, favorit dan ratenya selalu author nanti...terima kasih๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2