
"Cucu saya memang cantik pak, seperti bidadari merosot dari monas langsung kecebur got." Kakek Dahlan tertawa membalas gurauanku tadi.
"Terus...hina terus...kayak situnya paling ganteng-gantengnya aja!!" Mira mencibir pada kakeknya.
"Kakek memang ganteng pada zamannya Mira!!" Sahut kakek.
"Zaman apa itu kek? Zaman batukah?" Jawab Mira lagi sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ngga sekalian bilang zaman prasejarah? Karena pada masa itu yang hidup para dino semua!!" Kakek bicara sambil melotot pada cucu usilnya.
"Takut kek, nanti kakek ngambek lagi kalau Mira bilang seperti itu...ya sudah Mira berangkat kuliah dulu ya kek...Assalamualaikum!!"
"Heh bocah sableng...urusan kita belum selesai main pergi aja, ngga bisa gitu dong!!" Teriak kakek Dahlan.
"Mira serahkan Kadir aja untuk menyelesaikannya kek...jangan lupa mandiin Kadir ya kek, jangan pakai air laut nanti sisiknya rontok semua." Teriak Mira sambil lari menggandeng tangan Xavier.
"Kamu sudah sarapan Mira?" Tanya Xavier sambil menyetir mobilnya.
"Sudah tadi pak!!" Jawab Mira singkat.
"Oh ya?? Sarapan apa?" Xavier menoleh pada Mira.
"Sarapan omelan!!" Jawab Mira enteng.
"Kalau itu mah jangan ditanya lagi, setiap menit bahkan!!" Ucap Xavier sambil tersenyum.
"Tadi saya hampir ngga ngajar Mira..." Xavier menatap lurus sambil menyetir.
Aku menoleh padanya, kutatap lekat-lekat wajah tampan itu...aku seperti pernah melihat pak Xavier ini tapi aku lupa dimana dan kapan tepatnya.
"Memangnya bapak sakit? Kalau masih sakit kenapa tidak ijin saja hari ini untuk tidak mengajar?"
"Saya tidak bisa Mira, justru di mansion saya nantinya akan lebih sakit lagi...saya sakit mikirin kamu takut kepincut lagi sama duda keren Aliandhara."
"Ada-ada saja bapak ini...kalau takut begitu, ikat saja tangan saya sama tangan bapak, jadi kan ngga takut lepas!!" Almira menggerutu sendiri.
"Mira, perasaan kamu tuh ya beda sama gadis-gadis yang lain...perasaan ngga ada romantis-romantisnya." Xavier melirik gadis sekaligus mahasiswinya itu.
"Ya lagian, sudah tau Mira baru 17 tahun...bapak malah sukanya sama Mira!! Masih banyak tuh mahasiswi yang cantuk-cantik di kampus belum lagi para dosen wanita yang selalu memuja bapak...kok malah milih saya, apa supaya bapak gampang bohongin saya ya?" Selidik Mira.
__ADS_1
"Astaghfirullah Mira...saya ngga pernah ada niatan begitu, kamu ini bawaannya suudzon aja!!" Xavier menyempatkan diri mengacak rambut kekasihnya.
"Nih bukti cinta saya ke kamu, ini saya bawakan bekal makanan untukmu karena saya tau kamu tuh males masak jadi saya buatkan khusus untukmu satu dan untuk saya satu nanti jam istirahat kita makan di taman."
Kami tiba di parkiran kampus bersamaan dengan mobil Alia.
Aku meliriknya dan kulihat di dalam ada Aliandhara sedang menatap tajam padaku dan Xavier.
"Hai Mira...selamat pagi pak Xavier...makin ganteng aja nih tambah hari!!" Sapa Alia pada kami.
Aliandhara sengaja tidak mau turun dari mobil, dan akupun juga malas bersitatap mata dengannya. Aku masih jengkel dengan peristiwa waktu itu.
"Cerah banget wajahnya hari ini pak?" Goda Alia pada Xavier. Mereka sudah berjalan duluan ketika Aliandhara turun dari mobilnya dan menyapaku.
"Mommy!!!"
Aku berhenti lalu menoleh padanya.
"Tuan muda memanggil saya?" Karena aku tak melihat siapapun di parkiran itu selain kami berdua.
"Mommy, maafkan daddy ya?" Ucapnya pelan.
Aku juga sering merindukan Rafa yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri padahal usiaku sendiri baru 17 tahun.
"Saya sudah memaafkan tuan muda!!" Kataku tanpa menatapnya.
"Mommy, lihat wajah daddy kalau bicara...jangan berpaling muka begitu...daddy sedih jika mommy terus menerus bersikap dingin begini."
"Rafa terus memanggil mommy dan selalu menanyakan mommy, Rafa bilang dia minta maaf jika selama ini selalu bersikap rewel dan manja sama mommy."
"Mengapa harus saya tuan? Kan ada nyonya Valeria sebagai mommynya yang asli? Saya tidak mau di cap sebagai perusak rumah tangga orang lain." Jawabku.
"Rafa tidak mau dekat dengan ibu kandungnya sendiri, dan tidak ada yang mengatakan mommy perusak rumah tangga daddy karena jauh sebelum mommy hadir dalam kehidupan kami...daddy dan Valeria sudah resmi bercerai."
"Maaf jika selama ini daddy selalu terkesan melindungi dia, karena bagaimanapun Valeria adalah ibu kandung Rafa jadi daddy berusaha mengenalkan dan mendekatkan mereka berdua tapi ternyata hasilnya nihil."
"Daddy tidak tinggal di apartemen bersama Valeria...daddy tinggal di mansion bersama Rafa dan lainnya."
"Daddy sangat berharap suatu hari nanti mommy akan kembali dan kita tinggal bersama lagi seperti dulu."
__ADS_1
Aku berbalik lalu menatapnya mencari kebenaran dalam pikirannya yang kubaca lewat gerak bibir dan bola matanya. Aliandhara berkata jujur tanpa ada kebohongan yang disembunyikannya.
Aku menghela napas panjang sebelum menjawabnya kembali.
"Akan saya pikirkan tuan muda, tapi saya tidak janji untuk memberikan jawabannya."
"Terima kasih ya my, daddy sangat mengucap syukur dan bahagia mendengarnya."
"Ya sudah daddy berangkat ke kantor dulu ya my...Assalamualaiku."
"Waalaikum Salam...hati-hati di jalan tuan muda!!" Aku berbalik dan aku sangat kaget...
"Kamu masih berhubungan dengan duda itu kah?" Tepat di belakangku Xavier berdiri tanpa aku tau kapan dia datangnya karena aku sama sekali tak mendengar suara langkahnya.
"Bapak...bikin saya kaget aja!!" Jawabku jadi ngga enak.
"Kok balik lagi? Tadi sudah duluan sama Alia?" Kataku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
"Iya saya balik lagi karena filling saya ngga enak, eh ternyata benar pacar saya lagi ngobrol dengan duda sang mantan terindah." Xavier bicara tegas tanpa senyum di bibirnya seperti biasa.
"Aduh...bisa runyam masalahnya nih, dengar ngga dia apa yang tadi aku obrolkan dengan tuan muda Aliandhara?" Batinku.
"Apa yang kamu pikirkan?" Kamu sedang memikirkan sesuatu kan?" Dia balik bertanya padaku dan menatap mataku tajam.
"Ngga pak, saya ngga mikirin apapun kok tenang aja!!" Jawabku. Mestinya aku tau Xavier juga punya kemampuan hampir sama denganku, yaitu bisa membaca pikiran orang lain.
"Sekarang kamu langsung masuk ke kelas, mata kuliah saya akan segera di mulai...jangan memikirkan duren itu terus...ingat itu."
"Apa pak Xavier cemburu ya?" Batinku lagi.
"Ya terang saya cemburu...pacar saya ngobrol akrab dengan laki-laki lain, mantannya pula." Dia mendengus kesal dengan ucapanku dalam hati tadi.
*
*
****Bersambung.....
Happy reading...jangan lupa untuk selalu tinggalkan jejak like, komen, vote, favorit dan rate nya ya😊😊🙏🙏
__ADS_1