
"Sekarang kamu malah semakin cantik, jadi nyonya Hiro ya...aku akan mengajakmu pulang ke Jepang menemui ayah Kakegawa di perguruanku.
"Aku sama dengan Xavier, sama-sama ingin menikah di usia muda agar bisa lama menikmati kebersamaan dengan keluarga!!" kata Hiro.
"Tapi kan aku belum genap 18 tahun Hiro, masa sudah mau diajak nikah? kuliahku aja belum kelar kok mau nikah?" jawabku.
"Kan setelah kita menikah kamu masih bisa melanjutkan kuliah Miraku sayang...atau kamu tidak mau padaku karena aku orang miskin? begitu Mira?" tanya Hiro dengan raut muka yang sedih.
"Aku bukan tipe gadis matre, Hiro...cukup jangan kamu ucapkan laΔ£i." kataku pelan.
"Syukurlah...jadi kita bisa pacaran nih??" tanya Hiro.
"Ya belum lah, tapi kita bisa mencoba menjalaninya." jawab Mira.
"Lalu bagaimana dengan Aliandhara? dia juga mencintai kamu kan? terlebih anak lelakinya sangat menyayangimu...tapi sudahlah aku juga tak peduli dengan apapun." jawab Hiro.
"Hiro, kamu lihatkah sesuatu yang bergerak di ujung semak itu? perasaan dekat pantai ini ngga ada semak-semaknya?" Mira memberi kode dengan bibirnya.
"Itu bukan semak belukar biasa, Mira."
Lalu Hiro mulai berdiri. Dia memusatkan tenaga inti pada kedua bola matanya.
Tiba-tiba wussss....
Cahaya putih keperakan melesat dari kedua bola mata Hiro menabrak semak belukar yang ada tak jauh di depan mereka.
Siuutttt...
Tampak semak itu bergerak dan menghindar tapi ada suara pekikan kecil setelahnya.
"Aduhhh...kakak...jahat amat sih?"
Sesosok tubuh keluar dari semak yang telah dibuat hancur oleh Hiro.
"Matsuyama???"
Sosok itu mendekat dan barulah kelihatan jelas.
Tampak seorang lelaki muda berpakaian serba hitam. Rambutnya yang hitam berombak dengan bola mata kecoklatan.
Dia mendekat sambil cengengesan pada Hiro dan Almira. Usianya kurang lebih baru 20 tahun. Tetapi wajahnya yang imut malah tidak menunjukan usia aslinya.
"Ada apa kamu menyusulku kemari Matsuyama?" tanya Hiro.
"Kakak...sebelum menjawab pertanyaanmu, tidak kah kamu mau memperkenalkanku dengan boneka Anabelle eh boneka Barbie berjalan ini?" tunjuknya pada Almira.
"Aku bukan boneka Anabelle tapi aku boneka Chucky yang siap merobek-robek tubuhmu..." kataku dengan kesal. Baru orang tak di kenal satu ini yang menyebutku boneka Anabelle.
"Maaf ya Mira, Matsuyama ini adalah adikku lain ibu, sifatnya sebenarnya hampir mirip denganmu kadang menyenangkan tapi lebih banyak menjengkelkannya sih!!" ucap Hiro sambil mengacak rambut adiknya.
"Dia pacar kakak, tepatnya baru calon pacar sih belum resmi pacaran."
Matsuyama maju mendekatiku, dia berputar dua kali sambil mengelilingiku.
"Cantik banget kak, ngga ada celanya...hanya sifatnya saja terkadang menjengkelkan."
Almira hanya cemberut mendengar penuturan Matsuyama.
"Sepertinya barbiemu ini habis patah hati ya!! aku tadi saat jalan melingkari dia untuk yang kedua kali menangkap sinyal kebakaran eh...maksudku sinyal patah hati."
"Hiro, kalau ini bukan adikmu ingin rasanya aku menggiles wajah menjengkelkan dan sok taunya itu di pasir pantai sana itu.
"Tapi benarkan kamu sedang patah hati? sudah dengan kakakku ini saja maka kamu akan dijamin...
__ADS_1
"Dijamin apa? kenapa perkataanmu itu menggantung seperti rambutmu itu?" tanyaku mulai kesal padanya.
"Dijamin akan lebih patah hati!!" lirihnya.
"Apa maksudmu, Matsuyama" tanya Hiro agak gusar.
"Kak, biar aku bicara di sini aja ya, ayah mengutusku untuk menjemput kak Hiro dan kak Sima pulang kembali ke perguruan."
"Tapi baru kak Hiro yang aku temui sedangkan aku belum berhasil menemui kak Sima, dia seperti siluman ngilang melulu."
"Untuk apa ayah meminta kami pulang ke perguruan, Matsuyama?" tanya Hiro.
"Kakak lupa ya, bulan depan itu hari pertunangan kak Hiro dan kak Sima dengan anak paman Evan?"
"Darren dan Daniah mereka kan sudah dijodohkan dengan kalian semenjak kecil!!"
Hiro tertegun, wajahnya memucat seketika. Bertahun-tahun dia sudah melupakan perjanjian kedua orang tua mereka itu.
Di dalam keluarga dan perguruan mereka tak ada istilah membangkang atau menolak permintaan orang tua karena mereka akan di cap sebagai anak durhaka.
"Hiro...pergilah penuhi janjimu pada ayahmu!! jawab Mira sambil tersenyum.
Dia juga tau sulit sekali rasanya ada di posisi Hiro, menerima orang lain tapi di hati telah ada seseorang yang dicintai.
"Tapi Mira, aku mencintaimu...dulu saat remaja aku pikir aku mencintai Daniah, tapi seiring dengan berjalannya waktu aku semakin yakin bahwa cintaku padanya hanya cinta sebagai sahabat, tidak lebih!!"
"Tapi Daniah tidak menganggap begitu Hiro, dia tulus mencintaimu!!" jawabku.
"Mira, aku...maafkan aku yang juga ikut mengecewakan hatimu!!" kata Hiro penuh sesal.
"Pergilah Hiro, semoga kalian berbahagia!!" jawabku sambil tersenyum agar Hiro bisa pergi tanpa kepikiran tentang aku.
"Lalu siapa lagi yang akan menjagamu jika aku tak ada di sini lagi di dekatmu, Mira??"
"Sebelum pak Xavier dan kamu datang, aku juga sudah sendiri dan aku mampu menjaga diriku sendiri??" kata Almira.
"Ya kamu jika sudah bertunangan apalagi menikah dengan Daniah maka tak usah menemuiku lagi lah...kamu mau aku di cap sebagai pelakor?"
Seketika musnah harapan Hiro untuk bisa bersama dengan Almira, mimpi-mimpinya hancur hanya dalam beberapa jam saja.
"Ya sudah, aku pergi malam ini juga...aku takut jika besok aku baru mau pergi maka akulah yang tak sanggup untuk meninggalkanmu."
"Mira, aku tidak bisa memberikan apapun kenang-kenangan sebagai tanda cintaku padamu...aku hanya punya ini."
Dia meloloskan cincin bermata zamrud dari tangannya.
"Mira, ini cincin peninggalan dari almarhumah ibuku!! ibuku dulu berpesan, jika aku telah menemukan wanita yang ku cintai maka berikan cincin ini."
"Aku mencintaimu Mira, sangat...maka cincin ini kuberikan padamu dan bukan pada Daniah."
"Ini bukan cincin sembarang cincin, jika cincin ini kamu rendam di dalam air dan kamu minum airnya maka tubuhmu akan kebal dari segala macam racun apapun."
"Sebaliknya jika keadaanmu terdesak oleh musuhmu, masukan cincim ini kedalam mulutmu maka jangankan manusia, setan sekalipun tak akan bisa menyadari keberadaanmu...kamu bisa menghilang dan lolos dari mereka."
"Terima kasih Hiro, aku tak akan pernah melupakan semua kebaikanmu."
"Boleh aku memelukmu untuk terakhir kali, Mira?? karena setelah ini, jangankan memeluk untuk menghubungi kamu saja mungkin sudah tak bisa lagi!!"
Aku dan Hiro saling berpelukan erat. Berkali-kali dia mencium rambut, kening dan pipiku. Air mata juga tak henti mengalir dari kelopak matanya.
"Selamat tinggal Mira, semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu dan selalu lah berhati-hati karena anak buah ratu Hikaru selalu mengincar nyawamu, sedangkan aku sudah tidak bisa menjagamu lagi seperti dulu."
"Selamat jalan Hiro, bahagialah kamu di sana...sayangi Daniah dan jangan mencoba menjadi anak durhaka pada ayahmu, ya!!"
__ADS_1
"Aku pamit Mira, salam buat kakek Dahlan ya...katakan aku minta maaf tak bisa memenuhi permintaannya untuk menjagamu."
Malam itu juga Hiro dan Matsuyama meninggalkan kota ini. Meninggalkan kampus dan juga meninggalkan aku sendirian lagi di tempat ini.
Kupandangi cincin pemberian dari Hiro, sambil ku berucap, "terima kasih Hiro, kamu laki-laki yang tulus dan baik, semoga cintamu pada Daniah bisa setulus cintamu kepadaku."
Ssssss...ssssss
"Iya Kadir, sahabat terbaik kita satu persatu pergi meninggalkan kita di sini!! apakah kamu juga akan pergi meninggalkanku Kadir?" aku mengelus kepala Kadir. Dan hewan melata yang lucu itu seolah tau akan kesedihanku, dia menjilati tanganku lalu merambat naik ke leherku dan kembali menjilati pipiku.
"Sudahlah...ayo kita tidur!! semoga bangun besok di pagi hari mood kita bisa membaik." Lalu aku menggendong Kadir menuju kamar untuk tidur.
*
*
Aku memilih berjalan kaki sampai ke jalan besar sekalian untuk menghirup udara pagi yang segar.
Sudah lama aku tak lagi jalan kaki melewati jalan ini, selalu saja ada Xavier dan Hiro yang menemani.
Sekarang aku seperti kembali pada jati diriku yang dulu lagi. Tomboy, urakan, pakai celana jeans robek-robek...ah, kangennya pada suasana dulu!!
Tittt..tiitt
Aku meminggirkan jalanku.
Tiittt...tiittt
Aku menoleh dengan marah...
"Woiii, loe pikir ini jalan nenek moyang loe!!!jalan sudah sana...kubuat gembos itu ban baru tau rasa, baru punya mobil aja sudah belagu, aku yang ngga punya mobil aja tenang-tenang bae!!"
Tapi mobil sport warna merah terang itu berhenti tepat di sampingku.
Sesosok wajah yang tak aku kenal menyapaku, "hai...ayo naik...kamu berangkat ke kampus tempat adikku mengajar dulu kan?"
Aku menoleh kekanan dan kekiri...
"Anda bicara dengan saya?" tanyaku.
"Bukan, tapi dengan jin yang ada di sebelahmu...iyalah Aminah, aku bicara denganmu!!"
"Aminah siapa?" tanyaku bingung.
"Namamu Aminah kan?"
"Ngawur aja, main gonta ganti nama orang seenak jidatnya."
"iya siapapun namamu naik lah..kita berangkat bareng ke kampus!!"
"Isshh om ini siapa sih??? ngga kenal main ajak aja, ngga mau ah...saya jalan kaki aja naik bis lebih enak."
"Saya ini Xavana, kakak angkat abangmu yang sekaligus jadi kekasihmu itu!!"
"Om kakak angkatnya pak Xavier? kok ngga mirip?" tanyaku.
"Ya Allah...ampunilah dosa hambamu ini...beginikah sifat asli gadis ini? tengil, menjengkelkan, huh...untung cinta!!"
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Akhirnya Hiro pergi entah bisa ataukah tidak dia kembali. Lalu takdir membawanya bertemu dengan Xavana, si player kelas kakap.
Jangan lupa ikuti terus lanjutannya ya...ππππ