
"Kenapa kamu melamun Mira? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanya kakek lagi.
"Anu kek..."
"Anumu kenapa? Atau Anunya Xavier kamu apakan?" Kata kakek Dahlan
"Ishh...belum juga Mira selesai ngomong sudah main putus aja!!"
"Gini lho kek, Mira dan pak Xavier itu sepaham bahwa Alia sekarang itu banyak berubah."
"Maksudnya berubah dalam hal apa Mira?"
"Alia yang sekarang ini lebih genit kek, apalagi kalau dekat sama pak Xavier...maunya nempel melulu!!"
"Terus kalau dia nempel melulu sama pak Xavier, kamu cemburu gitu?" Kakek tersenyum menggodaku.
"Isshhh...ya nggalah kek, itu terserah pak Xavier aja...lagian Mira sama pak Xavier belum ada ikatan apa-apa!!"
"Coba terus lanjutkan ceritamu tadi tentang Alia, Mira!!" Kakek serius kembali.
"Itu yang pertama, yang ke dua kalau kita sedang bertiga gitu seolah-olah dia selalu membuat pak Xavier cemburu dengan tuan muda Aliandhara."
"Ada saja hal tentang tuan muda yang selalu dikait- kaitkannya pada Mira."
"Dan yang ke tiga yang Mira sangat bingung adalah Mira tak lagi bisa membaca pikiran Alia...seolah ada aura hitam yang menghantam balik pada Mira setiap kali Mira berusaha menembus masuk ke dalam pikirannya."
"Sejak kapan kamu merasakan perbedaan itu?" Tanya kakek dengan mimik wajah yang di serius-seriuskan.
"Sepertinya sejak Alia berganti penampilan dari si culun menjadi si seksi."
"Sebenarnya kakek juga merasa curiga, Mira!! Suatu malam saat kakek sedang merasa kegerahan di dalam paviliun sewaktu kita masih tinggal di sana, Kakek sempat melihat ada sekelebat bayangan hitam melompat dari atap ke atap dan menghilang di samping jendela non Alia."
"Pocong kali kek!!" Jawabku.
"Hitam dodol...bukan putih!!" Jawab kakek sambil menggerutu.
"Bisa jadi kan waktu dia melompat terus kecebur selokan atau masuk kecerobong asap rumahnya orang, makanya dia hitam semua."
"Bocah semprul...analisamu itu ngga pada tempatnya, tau!!"
"Bercanda kek, gitu aja marah...awas tambah banyak uban di kepala tuh
."Hahhh...bicara denganmu ini selalu menjengkelkan, Mira!! Xavier kok tahan sih dekat dengan bocah edan seperti kamu?"
"Justru itu kek, hidup itu harus penuh warna jadi cerah juga kalau hanya hitam dan putih seperti warna rambut kakek? Ya hidup jadi monotonlah!!"
"Dasar anak bangsyat kurang ajar..."
"Nah..nah...andalannya ngambek, marah sama Mira kalau sudah kalah bersilat lidah..."
__ADS_1
"Tau ah...kakek mau tidur aja di dalam...nanti kamu beresin ya gelas teh sama piring sanggarnya."
"Bilang aja kakek malas ngeringkasin kek...ngga usah banyak alasan!! Sahutku setengah kesal juga gemas.
"Nah itu tau..." Sahut kakek Dahlan enteng sambil masuk ke dalam.
"Dasar orang tua...orang tua..."
Aku baru saja akan masuk ke dalam rumah saat aku melihat sesuatu yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon-pohon bakau di depan rumah ini.
"Ada seseorang yang tengah mengintai rumah ini, entah tujuannya apa yang jelas ngga ada tujuan baik-baik kalau sudah mengintip rumah orang malam-malam gini."
"Kadir!!! Sepi....
"Kadir......"
Ssssss....Sssssss
"Kamu itu dari mana, Kadir!!! Tidur melulu kerjamu...kalau ngga tidur ya keluyuran...awas terjerat pergaulan bebas, Kadir!!! Nanti kamu hamilin anak ular yang lain...kamu sendiri aja orang sudah pada lari menjauh, apalagi kamu bawa keluargamu...hadeuh!!!"
"Sini kamu, ada yang mau mama sampaikan."
Seolah mengerti, ular kobra yang cerdas itu mendekat dan melingkar di atas bangku menaikan lehernya menghadap Almira.
"Kadir, mama mau minta tolong...kamu liat pohon bakau yang rimbun itu, coba kamu diam-diam ke sana karena ada seseorang yang sedang mengintai rumah ini."
Rupanya si penyusup itu tidak menyadari bahaya yang mendekatinya.
Aku hanya mendengar jeritan tertahannya saat Kadir dengan buas menyemburkan bisa beracunnya.
"Mampus..." Desisku.
"Tinggal kita liat seberapa sanggup kamu bertahan dari serangan bisa ular Kadir."
Kadir mendekatiku kembali.
"Bagus Kadir, mereka memang harus diberi pelajaran biar kapok."
"Ayo kita masuk Kadir, tidurlah di dalam...nanti kalau tidur di luar entar kamu masuk angin...repot kita jadinya."
Sementara itu...
"Dasar ular jaha*nam...untung aku sudah melindungi tubuhku sendiri."
"Bekas semburan bisa ular itu membuat kulitku terasa melepuh dan terbakar."
"Aku harus mencari Hiro, hanya dia yang bisa menetralkan bisa ular ini...aku tak mau kulit mulusku cacat terkena racun kobra biru ini."
Dia terus meringis menahan sakit di tangannya yang seperti tersiram air aki.
__ADS_1
Tak lama kemudian sosoknya hilang ditelan kegelapan malam yang pekat.
Aku hanya menyeringai dari balik pintu.
"Sima...kamu mau bermain-main denganku, rupanya!!"
*
*
"Tumben kamu mencariku, Sima? Biasanya mana kamu peduli padaku?" Hiro hanya melirik malas pada Sima lalu melanjutkan lagi membaca buku di tangannya.
"Huffttt...aku juga tak akan mencarimu jika tidak ada keperluanku, bodoh!!" Sima melempar tubuhnya ke kasur sambil mengerenyit menahan sakit.
Kembali Hiro melirik sambil mencibir.
"Sudah tau aku bodoh, kenapa kamu masih mencariku? Mengapa tidak mencari dan meminta pertolongan pada junjunganmu itu, tuan putri Levia?"
"Hati-hati kalau bicara Hiro!! Sima memperingatkan saudara kembarnya.
"Kau yang harus berhati-hati Sima, jangan sampai ayah dan orang-orang lembah Soshen mengejarmu sebagai buronan karena kamu telah mencuri kitab perguruan."
"Aku diam karena aku malas ikut campur masalahmu, kita keluar dari lembah untuk mencari dan melindungi si pemilik kalung naga biru itu...bukan malah mau membunuhnya."
"Sudahlah Hiro, jalan kita berbeda...hentikan segala ocehan dan omong kosongmu yang seperti perempuan itu!!"
"Sekarang mau apa kamu kemari Sima?" Tanya Hiro sinis.
"Aku mau minta pertolonganmu untuk menyembuhkan lukaku ini." Sima mengangsurkan tangan kanannya yang terkena semburan bisa beracun dari Kadir.
Hiro melirik tangan kembarannya itu
"Bukankah itu semburan ular bermata biru yang jadi peliharaan gadis itu kan? Kok bisa kamu sampai disemburnya? Jangan-jangan kamu sudah menginjak ekornya.
"Aku tadi dari rumah mereka di pantai, aku bersembunyi di antara pohon bakau ternyata ular sialan itu mendatangiku atas suruhan gadis itu."
"Untung kamu hanya disemburnya kalau dia langsung membunuhmu?"
"Makanya aku mau meminta tolong padamu untuk menyembuhkanku."
"Aku tau kamu ahli dalam meracik obat bahkan racun sekali pun...sekaligus juga cara menyembuhkannya."
Hiro memeriksa tangan Sima yang melepuh. seperti terbakar.
"Untung ular itu tidak ada niat untuk membunuhmu, dia hanya sekedar memberimu pelajaran saja...jika dia mau, sudah sejak tadi kamu meregang nyawa.
***Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya...tinggalkan jejak berupa like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1