
"Hiro, aku melingkarkan pahaku dan kakiku di pinggangmu...bukan di atas otongmu lagian hebat betul otongmu bisa menembus masuk lewat celana jeans yang aku pakai...memang kamu mau lari ngga pakai celana membiarkan otongmu gundal gandil kemana-mana melihat dunia?" Almira dengan tanpa dosa menyerocos tanpa mengerem mulut usilnya seperti biasanya.
"Kamu pikir aku kurang waras...lupa ingatan...sampai harus lari menggendong anak gadis orang sambil telanjang membawa buah pisang bergelantungan?" Hiro bersungut-sungut sampai membuat Almira tertawa cekikikan mendengarnya.
"Ya sudah cepat kugendong...terserah mau gendong belakang atau gendong depan, senyamannya kamu aja!!" Jawab Hiro.
Hiya....
Dengan sekali lompat Mira naik kebelakang Hiro bertepatan saat lelaki tampan itu berbalik menghadapnya.
Karena posisi kaki Hiro yang belum pas di tambah dengan berdirinya kurang stabil membuat Hiro terjengkang kebelakang sambil menarik tubuh Mira jatuh bersamanya.
Euhmmmm....
Mulut Hiro menggumam tidak jelas karena tertindih dua gunung kembar Almira yang mendarat sukses di wajah dan bibirnya.
"Kamu ngomong apa sih? Kok menggumam ngga jelas begitu? Payah kamu, baru dilompati gitu aja sudah jatuh." Almira belum sadar karena posisi jatuhnya yang seksi membuat Hiro panas dingin.
Hiro mendorong Almira pelan sambil berusaha untuk duduk.
"Gila kamu ya...main lompat begitu aja? Kamu pikir badanmu itu enteng? Mana mukaku ditempa buah semangka lagi..." Hiro menggerutu.
Mira cengengesan mendengar ocehan Hiro. Bersama lelaki itu dalam beberapa hari ini sebenarnya membuat moodnya semakin lama semakin membaik. Hiro yang humoris dan suka bercanda bisa mengimbangi sifat Mira yang suka berubah-ubah, terkadang ketus, cerewet tapi terkadang dingin dan jutek.
"Ayo cepat naik di belakang saja supaya tidak menimbulkan banyak masalah." Sahut Hiro.
"Aduduh...kamu makan berapa piring sih sehari? Badanmu berat amat?" Tanya Hiro
"Enak aja ngatain aku gendut, ranselmu yang ada di punggungku ditambah lagi sama Kadir, itu yang bikin berat." Mira bersungut-sungut.
Hiro mengandalkan ilmu lari cepatnya untuk bisa segera sampai di rumah pantai. Sebenarnya sejak tadi hatinya berbunga-bunga apalagi menggendong Almira seperti ini membuat semangatnya berlipat-lipat.
"Hiro, apakah Sima tidak mencarimu dalam beberapa hari ini?" Tanya Almira setelah sekian lama mereka terdiam.
"Entahlah...kan ponselku tertinggal di rumah pantai, sementara aku memasang tabir pelindung di sekitar kita agar tak di ketahui oleh sìapapun terutama mereka yang berniat jahat pada kita."
Tak lama mereka tiba kembali di rumah. Keadaan rumah sepi dan lengang.
"Dia kini sudah pergi...mungkinkah kita bisa bertemu kembali? Aku harus siap jika suatu hari nanti saat bertemu dengannya, kakak tampanku itu sudah menggandeng kekasih yang baru." Mira meringis menahan nyeri di hatinya sambil membatin.
__ADS_1
"Selamat jalan pak Xavier kekasihku...selamat tinggal kak Giovanno abangku...Semoga suatu hari nanti aku bisa mengubah panggilan bapak kekasih menjadi abang tersayang." Mira tersenyum dalam luka.
"Mira...kok melamun lagi? Ayo masuk!!" Ajak Hiro sambil membukakan pintu.
"Kakek kemana ya Hiro?" Aku celingukan di dalam mencari kakek.
"Paling kakek Dahlan pergi mengantar sepupunya kakek Kojiro dan Xavier eh maksudku Giovanno abangmu itu."
Almira termangu dan mematung di depan pintu. Masih jelas terbayang dalam ingatannya saat dia berlarian dikejar Xavier karena Xavier gemas kaos oblongnya di masukan kadir oleh Mira ke dalamnya sehingga membuat Xavier terlunjak menahan geli.
Makan bersama, main catur, main gitar dan bernyanyi bersama di teras rumah bahkan berlatih silat bersama di pantai terkadang Xavier memeluknya saat duduk berdua sambil menyaksikan matahari tenggelam bersama.
Saling berjanji untuk sehidup semati dan tak saling meninggalkan satu dengan yang lain walau seberat apapun cobaan hidup yang datang mendera kehidupan cinta mereka.
Teringat perkataan terakhir Xavier padanya sebelum tragedi cinta itu terjadi.
***Flashback on***
"Mira, usiamu sekarang berapa?" Tanyanya sambil menggenggam tangan kekasihnya dan menyaksikan matahari terbenam berdua.
"Bulan depan 18 tahun, kenapa memangnya pak?" Tanya Almira sambil memandang mesra kekasihnya itu.
"Sini jari tanganmu..." Xavier meraih jari Almira. Lalu dia memasangkan cincin bermata berlian ke jari manis Almira.
"Saya nikahkan Shahnaz Almira binti...binti siapa yang??" Almira menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga tau binti siapa karena aku tak tau siapa ayah ibuku." Sahutnya lirih.
"Ya sudah ngga apa-apa karena aku juga ngga tau siapa ayah dan ibu kandungku." Jawab Xavier.
"Begini saja, kuubah pertanyaannya...Shahnaz Almira...maukah kamu menerima Xavier Anderson sebagai suamimu dan hidup bersama dengannya hingga maut memisahkan kalian berdua?? Dalam susah dan senang, dalam suka dan duka bersama?"
"Iya aku mau..." Almira mengangguk senang dan antusias menerima lamaran Xavier.
"Sah???"
Sssssssss
"Sah katanya Kadir..." Lalu mereka berdua tertawa bersama.
__ADS_1
***Flashback of***
Almira termangu di depan teras. Memandang kearah lautan lepas sambil menggenggam cincin berlian pemberian Xavier yang ada di jari manisnya.
"Mira...Mira..."
Hiro menepuk pundak gadis malang itu berusaha menyadarkan dari semua lamunannya yang telah hilang dan pergi meninggalkannya.
"Kamu masih memikirkannya? Kalau kamu merasa tinggal di sini selalu membangkitkan kenanganmu tentangnya...lebih baik kita mencari tempat tinggal yang baru." Hiro menatap prihatin pada Almira.
"Tidak usah Hiro, biarkan aku tinggal bersama berjuta kenangan dengannya di sini...aku ingin kenangan itu tetap hidup di sini...dan di rumah ini." Almira menekan dadanya sekuat tenaga.
"Terserah kamulah, tapi aku juga ingin tinggal di sini bersamamu memastikan bahwa kamu akan selalu baik-baik saja."
"Mira cucu kakek....akhirnya kamu pulang juga kerumah setelah sekian lamanya berkelana dan hidup luntang lantung di jalan." Tiba-tiba kakek dahlan muncul di belakang mereka.
"Apa sih kakek? Bahasanya kok luntang lantung, sih...ngga enak bener kedengarannya..." Sahut Almira kesal.
"Lha habis apa namanya, kabur hanya membawa baju di badan, sepeser uang ngga bawa, secuil makanan ngga punya, sandal lain sebelah...lengkap sudah penderitaanmu cucuku tercinta!!" Kakek Dahlan geleng-geleng kepala.
"Lho terus sipantat kuali ini kusuruh mencari malah ngga balik-balik kok jadi ikutan kabur juga." Kakek memandang lagi pada Hiro.
"Ini juga anaknya si Kakegawa, yang minggat siapa kok yang panik dia sampai-sampai ponsel ngga dibawa."
"Kek ingat umur...kalau mengoceh terus macam perkutut, bisa-bisa nanti kakek jantungan, terus stroke terus meninggoy, emang sudah siap menghadapi MM?" Tanya Mira.
"MM siapa Mira? Tanya Hiro.
"Malaikat Maut..." Jawabku.
"Kan...kan....baru aja patah hati, pulang-pulang kerumah mulut tengilnya sudah kurang ajar lagi." Kakek Dahlan melempar sandal yang dipakainya tepat mendarat cantik di jidatnya Hiro.
*
*
***Bersambung....
Minta selalu dukungannya ya...like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏🙏
__ADS_1