Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 79 Misteri


__ADS_3

Almira terdiam. Pikirannya masih tertuju pada Xavier.


"Semoga kamu baik-baik saja abangku...kekasihku." bisik Almira.


"Hei...apa maksudnya kalian saling berpegangan tangan di dapur begini?? kata kakek Dahlan melotot melihat kearah keduanya.


"Siapa yang berpegangan tangan?? orang saya mau mengajak Mira kawin lari, eh..." Matsuyama cepat menutup mulut latahnya dengan tangan kiri sementara tangan kanan bukannya melepaskan pegangannya malah semakin dieratkannya.


"Heh anak gunung...lepas ngga pegangan tanganmu dari tangan cucuku sebelum kupatahkan tangan mulusmu itu."


"Ngga!!!! eh...???"


"Aduh aku kok jadi latah begini sih??" umpat Matsuyama kesal.


"Kenapa kamu jadi tiba-tiba latah begini Cowi?" tanya Mira.


"Ntahlah...mungkin terkena kuman dari kakekmu!!" jawab Matsuyama ngasal.


"Apa yang kamu katakan anak gunung?" seru kakek Dahlan lantang.


"Kakek berkuman!!??? teriak Matsuyama tak kalah lantangnya!!


"Hadeuh...."


Almira menepuk jidatnya membayangkan alangkah marahnya sang kakek kepada sahabatnya itu.


"Kamu kenapa sih, Cowi??? kok mendadak jadi aneh begini?? ngga biasa-biasanya???"


"Tau nih, seperti kena kutuk aku di sini!!" kata Matsuyama.


"Mira, kamu dengar sesuatu ngga?? aku seperti mendengar ada suara mendesis dekat sekali di kakiku!!" kata Matsuyama.


"Oohhh itu suara Kadir!!" jawabku singkat.


"Kadir siapa???" tanya Matsuyama bingung.


"Kadir ular anak angkatku!!" jawab Mira lagi.


Tak lama sesosok benda melata yang tadi nya ada di lantai mulai menaikan lehernya. Matanya yang berwarna biru semakin bertambah biru dengan lidahnya yang menjulur, dia menatap dingin pada Matsuyama seolah mau menelannya bulat-bulat.


"Kadir jangan begitu...kenalkan dia adalah Matsuyama adik dari Hiro sahabat kita!!" kata Mira.


"Halo...namamu siapa tampan?" lalu dengan beraninya Matsuyama mengelus kepala Kadir.


Kadir sangat senang di bilang tampan, karena hanya Almiralah yang selalu memujinya, kakek Dahlan selalu bilang dia pantat dandanglah, pantatnya pancilah, gulungan kabel, semua perkataan jelek yang membuat Kadir sangat sebal dengan orang tua yang menjengkelkan itu.


Karena Kadir adalah seekor ular sakti tentu dia dapat mengerti apa yang di bahasakan manusia.


Kadir menjilati tangan Matsuyama pertanda dia menerima persahabatan dari pemuda itu.


"Kadir menyukaimu, Cowi seperti dia juga menyukai Xavier dan Hiro dulu."

__ADS_1


"Kamu tidur di kamar dekat dapur ya..." kata Almira pada Matsuyama.


"Tapi apakah kakekmu tidak akan menelanku bulat-bulat, Chucky?" tanya Matsuyama sedikit khawatir pada nasibnya malam itu.


"Kadir yang akan menemanimu...kakek Dahlan agak ngeri sama kadir makanya mereka berdua bertengkar terus."


Akhirnya malam itu Kadir menemani Matsuyama tidur di kamarnya.


Saat baru akan terlelap, Matsuyama mendengar suara langkah kaki pelan sekali hampir tak terdengar oleh telinga biasa.


Matsuyama yang orangnya memang jarang tertidur cepat segera duduk di pembaringannya, dia memasang telinganya baik-baik. Dilihatnya Kadir seperti terkena sirep juga tidur melingkar sangat pulasnya.


"Ada apa ini?" kenapa hawa malam ini aneh sekali?" gumam Matsuyama.


"Langkah kaki siapa itu tadi? masa langkah kaki setan?" Matsuyama bergidik sendiri.


"Di rumah ini hanya ada kakek Dahlan, tidak ada orang lain lagi!!" berpikir sampai kesitu membuat Matsuyama bangkit berdiri dan mengintip dari lubang pintu kamarnya.


"Apa itu?" Matsuyama menajamkan penglihatannya.


"Itu kakek Dahlan tapi siapa wanita yang melayang seperti kabut tipis di depannya? wajahnya tak terlihat karena tertutup oleh tubuh kakek Dahlan."


"Waduh kenapa bulu-bulu badanku meremang semuanya ya??? malam ini suasana begitu mencekam lagi!!"


Matsuyama menggoyang-goyangkan badan Kadir untuk membangunkannya.


"Haduh....si Kadir ini tidur atau berakting mati sih? susah sekali membangunkannya!!" Matsuyama terus mencoba dan berusaha membangunkan sahabat barunya itu.


Perempuan yang melayang dan setipis kabut itupun menampakan wajahnya.


"Itu hantu, kunti, jin atau manusia ya?" wajahnya datar seperti triplek, pucat pasi dan rambut panjangnya melambai ditiup angin.


"Jangan sampai sosok itu melihat kearahku ya??? aku sangat takut melihatnya."


Matsuyama belum apa-apa sudah bergidik betulan...nyalinya sudah keburu ciut duluan.


"Lhoh...lhoh...kemana mereka berdua akan pergi?" Hantu itu menggandeng sosok yang mirip kakek Dahlan.


"Aku harus cepat memberi tahu Almira tentang apa yang barusan kulihat ini."


Matsuyama membuka pintu kamar dan alangkah kagetnya dia karena Almira tepat berdiri di depan kamarnya celingukan mau mengetuk pintu.


"Cowi...perasaanku ngga enak banget, tapi aku mau keluar kamar tadi aku takut!!" celoteh Almira tanpa henti.


"Masuklah dulu, atau kita ke kamarmu aja aku serem di sini!!" ajak Matsuyama bergidik.


Almira mengangkat Kadir dan membawanya ke kamar bersama Matsuyama.


"Mira, apa kamu melihat seperti yang aku lihat?" bisik Matsuyama perlahan.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Almira tak kalah pelannya dengan suara Matsuyama.

__ADS_1


"Tadi aku melihat kakek Dahlan bersama seorang wanita yang seperti kabut dan melayang." kata Almira.


"Dan yang aku herankan, Kadir yang biasanya tak pernah tidur senyenyak ini seolah tidur seperti benda mati saja...seperti ada yang melancarkan ajian sirep agar kita semua tertidur."


"Tadi aku ingin mengikuti kakek Dahlan, tapi kamu kan tau aku takut sama hantu dan sejenisnya!!" kata Matsuyama.


"Kamu sudah memeriksa ke kamar kakek?" tanya Matsuyama lagi


"Sudah, kamar kakek kosong...berarti yang kita lihat tadi memang kakek Dahlan dan siapa perempuan aneh itu?" ujar Almira pelan.


"Mira, ada yang ingin kusampaikan padamu...tapi sepertinya tidak bisa di sini...aku takut jika kita bicara di sini suasananya kok mencurigakan, aku takut dindingpun punya telinga.


"Kita keluar aja yuk, Cowi...perasaan rumah pantai ini sejak beberapa minggu ini jadi horor deh!!" kata Almira.


Mereka bertiga berjalan keluar dan begitu melewati depan kamar kakek Dahlan, Matsuyama terbirit-birit seperti habis melihat sesuatu.


"Haduh...ada apa sih Cowi?? Kenapa kamu jadi ketakutan begitu??!"


Mereka menuju pantai dan berjalan-jalan di tengah malam menjelang subuh itu.


"Apa yang mau kamu sampaikan, Matsuyama?" tanya Almira setelah mereka agak jauh dari rumah pantai.


"Mira, sebelumnya aku minta maaf...apakah kakek Dahlan sering sesarkas itu kepada semua orang?" tanya Matsuyama perlahan.


"Hanya sama orang-orang tertentu saja seperti dengan Kadir dan kamu misalnya." jawab Almira.


"Itu sudah yang mau aku katakan dari awal tadi, tapi suasananya sangat tidak mendukung."


"Aku seperti melihat kakek Dahlan tapi bukan kakek Dahlan...mengertikan kamu maksudku, Almira Chucky??" tanya Matsuyama sambil tersenyum.


"Ngga!!!" kataku singkat.


"Aku malah bingung dengan penjelasanmu barusan!!" jawab Almira.


"Mira, dia bukan kakekmu!! Kata Matsuyama berubah menjadi serius.


"Dia akan sangat kasar kepada orang tertentu yang dianggapnya dapat mengetahui identitas dia yang sebenarnya."


"Contoh dengan Kadir...aku tau Kadir itu bukan ular biasa, dia dapat merasakan kejanggalan di sekitarnya termasuk dengan kakekmu."


*


*


***Bersambung...


Apa sebenarnya yang sudah terjadi? apa maksud perkataan Matsuyama itu!!


Ikuti terus kelanjutan ceritanya ya...dan jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenyaπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™πŸ™


.

__ADS_1


__ADS_2