Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 173 Wabah


__ADS_3

Terbayang olehnya bagaimana manjanya Almira dulu dengannya, walaupun dulu mereka hanya bersahabat tetapi mereka sangat bahagia.


"Aku jadi meragukan perasaan Mira kini padaku!!" gumam Matsuyama.


"Tidak...aku tidak boleh menyerah...aku mencintai istri dan anak-anakku, aku harus bisa merebut hati mereka kembali!!" tekad Matsuyama.


*******


Redo sedang duduk bersila di lantai kamarnya di lantai dua di mansion tuan Kelvin.


Matanya terpejam berusaha menyambungkan rasanya pada ibundanya ratu Nilakandi.


"Ibunda ratu!!!! ada apa gerangan ibunda ratu memanggil ananda??" tanya Redo.


"Redo...bisakah kamu pulang sebentar ke dunia kita?? di kerajaan sedang ada masalah serius!!" kata ratu Nilakandi.


"Ada wabah penyakit yang tidak diketahui dari mana asalnya membuat rakyat kita banyak yang tertular dan meninggal!!"


"Baiklah ibunda...Redo akan segera kembali...apakah Tristan dan yang lain masih ada di sana??" tanya Redo lagi.


"Mereka ada di sini masih berusaha mencari sebab musabab wabah ini!!"


Redo menyudahi semedinya dan berdiri.


Dia melangkah keluar kamar menuju ruang keluarga kekasihnya.


Tampak tuan Kelvin, Aliandhara, Rafa dan Alia sedang duduk berkumpul dan bercengkerama.


"Ada apa Redo??" tanya tuan Kelvin sambil menatap wajah anak tirinya yang tampak sangat serius itu.


"Ada masalah di kerajaan ayah..." kata Redo.


"Ibunda ratu meminta Redo untuk pulang ke kerajaan...apakah kalian tidak apa-apa jika Redo tinggalkan??" tampaknya Redo masih khawatir meninggalkan keluarganya di sini setelah kejadian penculikan Alia oleh Levia saat itu.


"Tapi kalian jangan khawatir...Redo akan memagari mansion ini untuk memastikan keselamatan kalian selama Redo pergi."


Juga jangan melepas bungkusan yang Redo kasih ini...jangan dilepaskan kemanapun kalian pergi sampai Redo kembali...kalian mengertikan??" kata Redo dan dijawab anggukan oleh mereka semua.


"Kalian berdoa saja semoga pekerjaan Redo cepat kelar agar Redo cepat kembali kemari lagi."


Setelah memastikan keluarga ayahnya aman, Redo duduk bersila di tengah ruangan dan sekedipan mata tubuhnya hilang dari pandangan mata mereka semua yang ada di situ.


"Ayah jadi cemas setelah kepergian Redo...!!" kata tuan Kelvin.

__ADS_1


"Kita berdoa saja yah, semoga Redo cepat kembali kemari." Kata Aliandhara.


******


"Selamat datang saudaraku!!" Tristan mengembangkan tangannya memeluk Redo.


( Untuk mengetahui siapa Tristan ikutilah kisahnya di bab 103 dan 104 yang mengisahkan tentang asal mula Tristan ).


"Apa yang sudah terjadi di kerajaan kita Tristan?? dari mana datangnya wabah itu??" tanya Redo.


"Itu semua berawal saat salah seorang bangsa kita mengambil air dari hulu sungai untuk keperluan sehari-hari seperti biasanya."


"Tak disangka setelah mengkonsumsi air itu tubuhnya tiba-tiba terasa sangat gatal dan ditumbuhi seperti bulu-bulu kasar." Kata Tristan menjelaskan.


"Bulu-bulu seperti apa?? bisakah kamu perlihatkan kepadaku bagaimana bentuk bulu yang di maksud itu??" tanya Redo pada Tristan.


Tristan mengambil sehelai bulu yang dia dapatkan dari salah satu korban wabah itu.


"Banyak dari rakyat kita yang memilih mati bunuh diri karena tidak tahan pada rasa gatal dan rasa sakit yang menyerang bersamaan!!" kata Tristan mengenang kembali kejadian demi kejadian beberapa hari belakangan ini.


****Flashback on*****


"Pengawal...ada apa suara-suara ribut dari rakyat di gerbang sebelah timur??? kalau tidak salah tembok istana sebelah timur itu dilewati oleh aliran sungai Xin Yuen ya!!" tanya Tristan yang kebetulan pagi itu berkuda berpatroli di bagian timur istana.


"Coba kamu buka pintu gerbang disebelah timur itu aku mau keluar dan melihat ribut-ribut apa itu." Kata Tristan memberi perintah.


Saat pengawal tersebut membuka pintu gerbang sebelah timur, Tristan segera keluar dan menyaksikan satu pemandangan yang mengerikan.


Dia melihat seorang wanita dari bangsanya yang rupanya habis mencuci di pinggir sungai Xin Yuen itu menggaruk sekujur tubuhnya hingga sekujur tubuhnya penuh luka garuk dan dari setiap garukan itu tumbuh bulu-bulu kasar seperti...antara bulu kera dan bulu babi hutan.


Tristan bergidik ngeri melihatnya. Dan karena tak tahan lagi akhirnya wanita itu memutuskan untuk bunuh diri dengan memukul pecah kepalanya sendiri.


"Kurang ajar...kerjaan siapa ini?? siapa yang berani menyusup sampai ke negeri kita untuk menyebar wabah tersebut??" Tristan benar-benar merasa marah dan geram tetapi dia tidak tau harus melampiaskannya kepada siapa.


Aliran air sungai Xin Yuen itu adalah satu-satunya sumber air bersih untuk diminum dan dikonsumsi oleh rakyatnya...jika sumber air satu-satunya itu beracun, bagaimana nasib rakyatnya selanjutnya??


Dan ternyata belum sempat disebar larangan untuk mengkonsumsi air sungai tersebut ternyata telah banyak rakyat yang lain dari segala penjuru perkampungan naga yang juga telah meminumnya.


"Pengawal...laporkan semua pada pihak istana dan aku akan berusaha untuk mencari penyebabnya dan berusaha menolong mereka yang sudah terminum air itu sebisaku!!" kata Tristan.


Dengan cepat berita itu menyebar sampai kepelosok istana.


Panglima Tristan hanya mampu menghilangkan sedikit dari rasa sakit itu tapi tidak bisa menghilangkan keseluruhannya

__ADS_1


Hingga akhirnya ratu Nilakandi memutuskan untuk memanggil pulang pangeran Redo.


****Flashback off****


"Coba aku lihat mana bulu itu!!" tangan pangeran Redo terulur untuk mengambil bulu dari tangan Tristan yang dibungkus dengan kain tetapi saat dia melihat lebih seksama bulu itu nampak seperti hidup, Redo menarik kembali tangannya.


Dia mengamati bulu yang seperti bulu kera dan bulu babi hutan itu.


"Bulu ini semacam ada kuman jahat yang hidup, Tristan...kumannya inilah yang jika bulu tersebut dimasukan kedalam air, dia akan menyebar membawa racunnya."


"Dengan sehelai bulu saja kuman nya bisa mematikan puluhan orang!!" gumam Redo.


"Terus bagaimana dengan bulu yang keluar dari luka garuk mereka itu??" tanya Tristan.


"Iya...karena kuman itu masuk kedalam tubuh maka diapun tumbuh dan berkembang biak dengan menumbuhkan bulu-bulu yang baru semacam biji-bijian yang di tanam di dalam tanah.


"Mengerikan sekali!!" kata Tristan bergidik.


"Lalu apakah penawarnya, pangeran?" kata Tristan.


"Panas.....sesuatu yang bersifat panas...kamu tau di perkampungan kita ini cahaya matahari tertutup oleh gunung tinggi menjulang di sebelah timur menjadikan kampung kita lembab dan hanya mengandalkan hembusan angin untuk mengeringkan sesuatu.


"Lalu...apa rencanamu??" tanya Tristan.


"Kita harus membuat panas buatan yang bisa bersinar keseluruh kampung.


"Terus maksudmu kita kumpulkan seluruh orang sakti di istana kita akan membuat matahari buatan...begitukan??" tanya Tristan lagi.


"Tepat sekali...!!" kata Redo tersenyum sambil menepuk bahu Tristan.


"Pangeran...." kata Tristan ragu-ragu!!


"Apa Tristan?? kamu ingin menanyakan tentang yunda Refanya??" katanya sambil menggoda Tristan.


Tristan tersenyum agak malu mendengar perkataan pangeran Redo.


*


*


****Bersambung....


Apakah Panglima Tristan masih menaruh hati pada Almira??

__ADS_1


Yuk ikuti terus kisah mereka selanjutnya ya!!😊😊


__ADS_2