Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 119 Triangle of love


__ADS_3

Dengan mata kepalanya sendiri Almira melihat Xavier dan wanita cantik itu saling berpelukan erat. Berkali-kali juga dia melihat Xavier mengecupi kepala wanita itu sambil menyeka airmata yang menetes ke pipi wanita itu berkali-kali.


Seluruh sendi-sendi di tubuh Almira terasa seperti telah berlepasan dari engselnya.


Almira membaca gerakan bibir Xavier dan si cantik itu dengan mata berkaca-kaca.


"Jika kalian masih saling mencintai, mengapa abang mengejarku padahal kita saat itu tau bahwa kita bersaudara, tapi abang masih berusaha untuk mengejarku walaupun kita sudah saling menjauh."


"Mengapa abang menikahiku hanya karena bola matanya berwarna biru sepertiku?"


"Apakah abang bersamaku hanya untuk menjadikanku pelarian cinta semata?"


Rafa memandang kearah yang dipandang oleh Almira. Rahang bocah umur 5 tahun itu mengeras melihat apa yang ternyata ditangisi oleh wanita yang telah dianggapnya sebagai mommy itu.


Dia menggenggam tangan Almira erat lalu tubuh mungil itu memeluk Almira untuk mengatakan lewat bahasa tubuhnya jika dia masih peduli, jika tak ada orang lain lagi yang peduli pada mommynya tapi dia masih peduli dan sayang oada Almira.


"Mommy i love you...don't you cry again!!" tetapi air mata Rafa pun telah membanjiri pipi mungil dan gembulnya.


"Sayang, maukah Rafa berjanji sesuatu pada mommy??" tanya Almira setelah bisa menguasai perasaannya.


"Apa itu mommy?" tanya Aliarafa.


"Mommy mohon, rahasiakan ini kepada siapapun paling tidak untuk saat ini jangan sampai diketahui oleh siapapun!! maukah Rafa berjanji pada mommy??" kata Almira.


Bocah lucu itu mengangguk setuju dengan permintaan Almira.


"Tetapi mommy janji jangan menangis lagi, ya!!" kata Rafa dan hanya dijawab anggukan kepala oleh Almira.


"Hei...kenapa Rafa kok meluk mommy sambil menangis??" tanya Alia dan tuan Kelvin yang baru tiba di sana.


"Rafa tadi mau minta gula-gula tapi Mira larang takut nanti giginya sakit, makanya Rafa menangis!!" kata Almira.


"Sayang...mengapa matamu terlihat sembab dan bengkak?? apakah kamu habis menangis??" tanya tuan Kelvin pada Almira.


"Mata Almira tadi terkena debu dan pasir yang beterbangan di parkiran, yah!!" kata Almira berdusta.


*****


"Mengapa kamu bisa sampai kemari Sulli?" tanya Xavier sementara tangannya yang berada di bawah meja melepas cincin pernikahannya supaya jangan sampai terlihat oleh Sullivan agar wanita itu tidak semakin sedih dan terpuruk.


"Aku kabur dari rumah, Xavier...aku memang sengaja datang ke negara ini karena aku mendapat kabar dari teman bahwa kamu kembali ke Indonesia, menetap di sini dan bekerja sebagai seorang dosen."


"Lalu kamu di sini tinggal di mana dan bekerja di mana?" tanya Xavier sambil menggenggam tangan Sullivan berusaha menenangkan hati mantan yang belum menjadi mantan itu.


"Aku tinggal di apartemen yang tak jauh dari sini, aku bekerja di salah satu perusahaan besar di kota ini." Jawabnya.


"Maafkan atas semua yang ayahku pernah katakan ya, Xavier...maukah kamu jika kita kembali merajut kisah kita yang pernah terputus?? di sini kita hanya berdua, ayahku tak ada lagi di sini untuk menghalangi kebersamaan kita."


Xavier terdiam. Di satu sisi dia masih mencintai Sullivan. Sullivan adalah cinta pertamanya dan tak mudah baginya untuk menggeser posisi Sullivan di hatinya...tetapi di sisi lain dia sudah punya Almira, dia juga sangat mencintai Almira apalagi istri kecilnya itu kini telah mengandung benihnya.


"Sulli...aku tak bisa menjawabnya saat ini jujur aku masih sakit hati dengan perlakuan ayahmu padaku..." jawab Xavier.


"Atau begini saja...bagaimana jika kita menikah diam-diam di kota ini jika aku hamil anakmu tentu tak ada alasan lagi bagi ayah untuk melarang hubungan kita."


"Ngawur kau Sulli...aku bukan tipe laki-laki seperti itu yang kesana kemari jadi mesin pencetak anak...tidak aku tidak setuju ide gilamu itu, Sullivan!!" kata Xavier sambil menggelengkan kepalanya


Bagaimanapun juga dia adalah seorang suami dari seorang istri yang tengah mengandung anaknya, dia menyadari betapa beratnya perjuangannya dan Almira dulu sampai dia harus merenggut kesucian gadis lugu itu terlebih dahulu untuk memperoleh restu dari para orang tua yang menentang keras hubungan mereka berdua.


Bahkan perjuangan para orang tua yang masih berusaha untuk mencari cara bagaimana mematahkan kutukan yang ada pada diri istrinya itu.


Tegakah dia mengkhianati sesuatu yang telah dia mulai sendiri?? tetapi di sisi lain dia juga tak tega pada Sullivan cinta pertamanya tersebut.


"Sulli, aku tak bisa menjawabnya sekarang...lebih baik kita berteman saja dulu karena tak mudah bagiku untuk melupakan dan memaafkan sesuatu yang telah melukai hatiku." Jawab Xavier.


"Apakah kamu sekarang masih mencintaiku, Xavier?? apakah sekarang sudah ada gadis yang mampu menggeser kedudukanku di hatimu??" tanya Sullivan penuh dengan linangan air mata.


Sullivan memang sangat berbeda jauh dari Almira. Sullivan terkesan rapuh dan manja walaupun Sullivan mempunyai ilmu bela diri yang lumayan.


Sementara Almira karena sering mendapat gemblengan keras dari kakeknya membuatnya menjadi gadis tangguh yang tak mengenal rasa takut dan sakit.


Xavier menghela napas berat sebelum menjawab pertanyaan Sullivan.


"Sulli...kita jalani saja dulu ya..." Xavier menggenggam tangan Sullivan untuk meyakinkan wanita itu.


Satu jam kemudian mereka berpisah setelah Sullivan memberikan alamat apartemennya.


Almira tertidur di kamar ditemani oleh Rafa. Kepalanya terasa pusing sekali dan seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.


"Yah...kenapa dengan Almira itu??" tanya Alia khawatir.


"Semenjak pulang dari supermarket tadi wajahnya terlihat sangat pucat dan seluruh tubuhnya menggigil seperti orang terserang malaria tropika!!" jawab Alia.


Alia masuk kekamar Rafa, dilihatnya Almira meringkuk dipeluk oleh Rafa yang juga tertidur.


Jam 4 sore Xavier datang menjemput Almira...


"Almiranya kemana yah??" tanya Xavier.


"Sejak siang dia mengeluh sakit kepala dan sekarang sedang tidur ditemani Rafa di kamar!!" kata tuan Kelvin.


Xavier masuk ke kamar. Dilihatnya Almira tertidur meringkuk dipeluk oleh Rafa.


"Sayang...ini abang, kita pulang ke rumah yuk!!" Xavier mengguncang pelan bahu Almira yang tertidur membelakanginya.


Almira menggeliat lalu membuka matanya melihat siapa yang datang.


"Bang, Almira masih kangen sama Rafa...abang pulang saja ke rumah pantai...Almira ingin tinggal di sini beberapa hari ini!!" katanya sambil bicara senormal mungkin.


Xavier menatap istrinya yang sama sekali tak mau menatapnya. Xavier merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh istrinya itu. Tapi Almira bukan tipe wanita yang suka dipaksa, bila waktunya tepat dia akan bercerita sendiri tanpa ditanya.


"Abang juga ngga usah kemari menjenguk Almira atau pun menelpon Almira kecuali jika kita mau pulang nanti baru abang jemput kesini."

__ADS_1


Mati-matian Almira menahan supaya air matanya tidak luruh. Dia menatap Xavier seperti tatapan biasanya.


"Memang kenapa jika abang menjenguk kemari?" tanya Xavier.


"Abang perlu waktu untuk mengambil jalan berputar lagi jika datang kemari." Alasan yang memang masuk di akal oleh Xavier.


"Ya sudah abang pulang dulu ya...baik-baik kamu di sini dan jangan lama-lama karena abang akan selalu merindukanmu."


Xavier membelai rambut istrinya tetapi saat dia ingin mengecupnya seperti biasa, Almira menghindar.


"Jangan bang, Rafa baru saja tertidur nanti dia bangun dengan adanya gerakan dari badanku." Kata Almira menghindar secara halus.


Xavier pulang masih dengan tanda tanya di kepalanya.


"Lho...Almira tidak ikut pulang?" tanya tuan Kelvin sambil menyeruput tehnya.


"Katanya dia masih kangen sama Rafa yah...jadi biar Mira di sini bersama Rafa.


Lalu Xavier pulang. Diperjalanan dia teringat pada cincin kawin yang tadi dia lepas supaya tidak terlihat oleh Sullivan.


"Lho...kemana cincinku ya???"


Xavier sampai menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk mencari keberadaan cincin tersebut.


"Aduh...bodohnya aku??? kemana aku menghilangkan cincin pernikahanku?? apa yang akan aku katakan pada Almira jika cincin itu hilang??" Xavier sangat panik.


*


*


Sehari, dua hari...tak terasa sudah seminggu lebih Almira tak pulang kerumah. Dan Xavierpun juga tak berani menelpon istrinya itu karena menurut pesan Almira jangan menelpon kecuali nanti dia yang minta jemput.


Tetapi sudah semingguan ini tak ada kabar apapun dari istrinya.


Siang ini seperti biasa dia menemani Sullivan makan siang di kafe. Padahal bukan hari ini saja...setiap hari dia menemani Sullivan makan siang, hanya sebatas menemani makan siang tidak lebih setelah itu mereka lanjut dengan segudang aktivitas masing-masing.


Dan sudah semingguan ini juga Almira dan Rafa mengikuti kegiatan Xavier dan Sullivan.


Setiap pulang dari sana Almira selalu termenung. Tetapi Rafa lah yang selalu menjadi tiang penyangga kekuatannya yang mulai goyah.


Tepat dua minggu kepergian Almira ketempat orang tuanya.


Xavier sudah tidak tahan lagi menahan kerinduannya pada sang istri.


Sore ini dia berencana mau menjemput istrinya pulang, suka atau tidak dia akan memaksa istrinya.


Tetapi lagi-lagi Sullivan meminta tolong padanya untuk menemani mencari kado untuk pernikahan atasannya di kantor.


Rafa pun sore itu merengek pada Almira untuk minta dibelikan es krim. Dua minggu selalu bersama Almira membuat bocah itu merasa seolah punya mommy yang sesungguhnya.


"Kalian mau pergi kemana??" tanya Aliandhara yang sedang santai di ruang keluarga.


"Kalian mau pergi berdua saja?" tanya Aliandhara.


"Ngga boleh...daddy akan menemani kalian berdua!!" kata Aliandhara.


Jadilah mereka bertiga sore itu menuju kafe tempat biasa mereka makan es krim.


Mira meraih tangan Aliandhara dengan tangan kanannya karena tangan kirinya menggandeng Rafa.


Aliandhara melihat perubahan Almira jadi melihat juga ke arah depan mereka.


Sepasang pria dan wanita sedang tertawa-tawa sambil memilih-milih sesuatu.


Luka tapi tak berdarah...


Itulah perasaan yang tengah dirasakan oleh Almira, walaupun dia telah tau tentang perselingkuhan suaminya dengan wanita dewasa itu hingga dia mengalah untuk tidak lagi kembali ke rumah pantai.


Aliandhara pun menggenggam erat tangan sang mantan untuk memberinya kekuatan.


Tawa ceria Rafa di sepanjang pertokoan mengalihkan perhatian pasangan itu.


"Mira!!"


Suara Xavier tampak tercekat. Secepat kilat dia melepaskan pegangan tangan Sullivan di lengannya.


Matanya membola saat melihat tangan Aliandhara dan Almira saling bergandengan begitu pula dengan Rafa.


Mereka bertiga melewati Xavier dan Sullivan begitu saja seolah tak saling mengenal.


"Mira...!!!" bentak Xavier. Hatinya sakit saat dia diabaikan oleh istrinya sendiri dan saat melihat Aliandhara masih menggandeng tangan Almira.


Ketiga orang yang melewati Xavier dan Sullivan berhenti.


"Iya??? ada apa??" tanya Almira.


"Ayo pulang sekarang!!" Xavier mau merampas tangan Almira yang digenggam oleh Aliandhara.


"Anda siapa?" tanya Almira.


"Xavier...!" kata Sullivan memegang tangan Xavier tapi ditepiskan oleh Xavier.


"Ayo..." kata Aliandhara seolah mereka tak mengenali Xavier.


"Saya tidak mengenalmu...dan jangan sok mengenal saya!!" kata Almira sambil berlalu.


Secepat kilat Xavier menarik tangan Almira dan memeluknya.


Almira membatu sama sekali tak membalas atau berbicara apapun.


"Om...lepaskan mommyku...nanti adik bayi yang ada di perut mommy bisa sakit!!" kata Aliarafa.

__ADS_1


"Lepaskan adikku Xavier...urus wanitamu itu yang sudah mau menangis seperti anak bayi kehilangan botol susunya!!" kata Aliandhara dingin.


"Mira...Mira...maafkan abang, Mira...tapi abang bisa jelaskan semua!!" ratapan Xavier menghiba.


"Lepas....kamu siapa aku tidak mengenalmu!!" ucap Almira sambil mendorong Xavier dengan kasar membuat Xavier jatuh terjengkang.


"Bu...tolong suaminya...mengapa seperti orang gila begini!!" kata Almira menoleh pada Sullivan dan menunjuk pada Xavier.


"Ayo bang!!"


Lalu mereka bertiga melenggang meninggalkan tempat itu seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun.


"Mira...." teriak Xavier hendak lari mengejar Almira tapi...


Brukkkk....


Xavier tak jadi mengejar Almira melihat Sullivan sudah jatuh pingsan di belakangnya.


Almira hanya melirik sesaat. Hatinya bertambah nyeri.


"Dia lebih mementingkan wanita itu!!" batin Almira sambil berlalu.


"Mungkin memang sudah saatnya aku pergi dari kehidupan bang Xavier...mereka berdua sama-sama manusia mereka pantas bersama sedangkan aku berbeda." bisik Almira lagi.


Mereka bertiga melangkah pergi dan menghilang di keramaian orang yang bergerombol menolong Sullivan.


*


*


"Ayah...Almira mau kembali ke rumah pantai!!" kata Almira sepulangnya dari membeli es krim.


"Kau akan pulang sendiri?? biarkan Aliandhara yang mengantarmu pulang!!" kata tuan Kelvin Antonio.


"Tidak usah ayah...Mira bisa kok sendiri!!" jawab Almira.


"Pakailah salah satu mobil ayah, jangan kamu gunakan taxi online!!" kata tuan Kelvin pada putrinya.


"Mommy...Rafa ikut sama mommy!!" seolah bocah kecil itu tau Mira akan pergi jauh dan mungkin lama baru kembali!!"


"Jangan Rafa...kasihan nanti mommymu, apalagi mommymu dalam keadaan hamil begitu!!" kata Aliandhara.


"Ngga apa-apa bang!! Mira akan menjaga Rafa kok!!" kata Almira.


Almira membawa Rafa bersamanya. Walaupun mereka berdua bukan ibu dan anak kandung tetapi ikatan batin mereka begitu kuat.


"Mommy, Rafa akan ikut mommy kemanapun mommy pergi!!" jawab Rafa sambil memeluk Almira.


*


*


Xavier menunggu Sullivan siuman. Pikirannya kacau terpecah kemana-mana. Mau meninggalkan Sullivan, dia tak tega...karena dia tau hanya dia lah yang Sullivan punya di kota ini.


Tetapi sisi hati yang lain dia ingin mengejar istrinya untuk menjelaskan semua kesalah pahaman ini.


"Maafkan abang, Mira...abang memang suami laknat!!" desis Xavier sambil menjambaki rambutnya.


Agghhhh....


Sullivan mulai sadar dari pingsannya. Matanya dan mata Xavier saling memandang.


"Kamu sudah sadar??" tanya Xavier sambil menggenggam tangan Sullivan.


"Katakan padaku Xavier...siapa wanita hamil yang kamu peluk tadi?? benarkah dia tidak mengenalmu ataukah hanya pura-pura tidak kenal?" tanya Sullivan dengan mata berkaca-kaca.


Xavier tak langsung menjawab, dia menarik napas panjang dulu.


"Dia lah alasanku mengapa aku tak bisa bersamamu lagi, Sullivan!!" jawab Xavier.


"Apa maksudmu Xavier?" tanya Sullivan.


"Dia istriku Sulli, kurasa dia sudah tau tentang hubungan kita sehingga dia tidak mau dekat denganku lagi!!" Xavier menutup wajahnya gusar.


Sullivan tidak bisa berkata apapun lagi selain terisak pilu.


Sementara itu di rumah pantai...


"Rafa...kamu yakin akan ikut dengan mommy??" tanya Almira meringkas pakaian seadanya dan mengambil tabungannya untuk bekal di jalan nanti.


"Yakin mommy, mari kita berpetualang!!" ucap bocah lucu itu.


Dan malam itu juga Almira dan Aliarafa meninggalkan rumah pantai.


"Selamat tinggal kenangan...kau pernah hidup dan bertahta di hatiku, kau pernah menjadi raja di jiwaku, tapi kini ada hati lain yang mampu membuatmu berubah dan berpaling, aku ikhlas mungkin sampai di sinilah takdirku untukmu, sampai beberapa detik yang lalu aku masih berpura-pura kamu masih menjadi milikku, dan kini kulepaskan kamu dengan segenap jiwa dan ragaku!!"


Air mata tak henti mengalir di pipi mulusnya seakan enggan untuk berhenti.


Aku hanya bagian dari masa lalumu dan lupakan, dan dia adalah bagian dari masa depanmu...pertahankan!! agar nasibnya tidak tercampakkan seperti nasibku.


"Ayo mommy kita tinggalkan tempat ini, kita bertiga dengan dedek bayi akan berjuang bersama memulai hidup kita yang baru!!" kata Rafa sambil menggandeng tangan Almira masuk ke mobil.


*


*


***Bersambung....


Ikuti terus perjalanan Almira selanjutnya ya...


Jangan tekan like, ketik komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2