Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 112 Penentuan


__ADS_3

Perubahan sikap pada ayahnya tak luput dari perhatian Kebebitak. Kebebitak adalah putra dari istri pertamanya, sedangkan istri kedua tidak mempunyai anak.


"Ada apa sih sebenarnya yang terjadi dengan ayahku?? mengapa semenjak sore tadi ayah berubah jadi lebih pendiam??" gumam Kebebitak.


"Xiexie sayangku?? apa kabarmu sekarang? sudah puluhan tahun aku coba mencarimu tapi tak bisa lagi kutemukan."


"Pemuda itu, seandainya kita masih bersama, anak kita kira-kira seusia pemuda tadi sore itu...siapa namanya??? iya, Xavana!!"


Xavana...Xiexie...kok sepertinya ada kemiripan ya??" gumam kakek Bilis lagi.


"Ahhh...aku jadi ngga sabar ingin bertemu lagi dengannya!!" kata kakek Bilis.


*


*


Anggota keluarga rumah pantai berkumpul semua di ruang tamu, besok adalah hari yang di tunggu itu.


"Yah, biasanya di mana para golongan hitam dan putih berkumpul?" tanya Xavier pada kakek Kojiro.


"Di perbatasan pantai yang merupakan pintu masuk kedunia manusia dan kedunia gaib." Kata kakek Kojiro.


"Jauhkah tempat itu dari sini, kek?" tanya Serafin.


"Kira-kira satu kilo meter dari sini!!" jawabnya lagi.


"Aku jadi deg-degan yah!! baru kondisi Almira kurang begitu sehat sejak kehamilannya ini!!" kata Serafin.


"Ibu jangan khawatir, aku akan menjaga istriku baik-baik!!" jawab Xavier.


"Bukan masalah itu, kalian adalah 4 unsur yang harus menyatukan kekuatan yang ada di dalam diri kalian, jika salah satu dari kaluan melemah bagaimana kekuatan inti itu bisa terbentuk?? sedang untuk berdiri saja Almira sudah kelimpungan, apalagi untuk bertarung??"


Xavier diam. Dia membenarkan perkataan ibunya. Kondisi istrinya sedikit mengkhawatirkan, mampukah Almira memusatkan kekuatannya??"


Diam-diam Xavier khawatir juga pada keselamatan ibu dan janin yang ada di perut Almira.


Dia masuk kekamar. Dilihatnya istrinya tidur meringkuk karena semua makanan tak ada yang bisa masuk ke perutnya selalu dimuntahkan kembali oleh Almira.


"Sayang!! apakah kamu baik-baik saja??" bisiknya ketelinga Almira.


Tubuh itu menggeliat perlahan lalu membuka matanya.


"Abang?? ada apa??" tanya Almira pada suaminya!!" suara serak dan manja istrinya membuat pertahanan yang sejak sebelum masuk kamar tadi dibangunnya kini runtuhlah sudah.


Tak tahan rasanya dia jika berdekatan dengan Almira tidak melakukan tanam benih.


Almirapun tak pernah menolak keinginan suaminya itu. Seolah sakitnya sembuh jika mereka selesai berhubungan.


Tiga jam telah berlalu saat mereka berdua berkali-kali melakukan pelepasan.


"Sayang...abang mengkhawatirkanmu dan calon bayi kita, kamu taukan besok adalah hari penentuan kita semua."


Almira berbalik dan menghadap dada bidang suaminya.


"Abang tak perlu khawatir berdoa saja kita semua mampu melewati masa-masa tersulit ini untuk kebaikan semua umat manusia.


Xavier memeluk istrinya seolah malam ini adalah malam terakhir mereka bersama.


"Sayang, jika abang gugur besok dalam pertarungan, abang minta jagalah putra kita baik-baik ya!!" Xavier membelai lembut wajah Almira.


"Abang ngga usah bicara yang ngga-ngga deh!!" kesal Almira tak suka mendengar ocehan suaminya.


"Nah kalau sebaliknya Almira yang gugur gimana?" tanya Almira.


"Abang akan bawa cinta kita hingga ke liang lahat sekalipun, Mira!! karena abang sungguh tak sanggup hidup tanpamu di samping abang!!"


Kedua suami istri itu saling berpelukan dalam diam merenungi ucapan mereka masing-masing.


*


*


"Sayang...besok malam adalah penentuan bagi kita. Dan besok malam juga aku akan mengungkapkan identitasmu dan Levia yang sebenarnya."


"Aku takut pangeran!!" kata Alia sambil bersandar di dada bidang remaja 16 tahun itu.


"Aku akan melindungimu dari saudara kembarmu dan ibumu...jadi kamu ngga usah khawatirkan itu." ucap pangeran Redo.


Tetaplah ada di sampingku, sayang...walaupun nanti kamu telah melihat wujudku yang sebenarnya!!" kata pangeran Redo sambil memeluk Alia.


"Berjanjilah untuk tetap bersamaku walau apapun yang terjadi nanti, ya!!" Alia hanya mengangguk dan memejamkan matanya saat bibir itu mengecup kedua matanya dengan lembut.


Sementara itu di kamar Levia...


"Aduh...mengapa aku tak bisa melakukan sambung rasa dengan ibunda, ya??" ucap Levia.

__ADS_1


"Aku merasakan tenagaku seperti tersedot sedikit demi sedikit, apakah ini pengaruh dari kekuatan yang ditebarkan bocah naga itu di sekeliling tempat ini..."


"Bisa gawat jika terus menerus seperti ini, aku bisa terbunuh besok pada saat pertarungan itu berlangsung!!" Levia terlihat sangat cemas.


****


"Ayah, besok aku harus pergi...aku akan mengunjungi teman lama!!" kata Tristan.


"Kamu tak perlu membohongi ayahmu yang sudah tua ini, nak!! pergilah jalani takdirmu...sudah waktunya kamu tau jati dirimu yang sebenarnya...kamu terlahir sebagai pembela kebenaran, kita memang besar dari keluarga pembunuh, tapi ayah selalu menekankan jangan bunuh wanita, orang tua dan anak-anak yang tak berdosa!!"


"Pergilah...besok adalah awal baru perjalanan hidupmu, Tristan Calderon!!" sengaja sang ayah menyebutkan nama lengkap putra angkatnya itu untuk menutupi kesedihannya.


*


*


"Semua orang mempunyai persiapan untuk pertempuran besok, kamu dan Kadir malah sibuk mencari belut tak berguna di parit begini!!" sentak kakek Kojiro kesal pada tingkah sepupunya itu.


"Siapa bilang tak berguna, Kojiro??? Almira kepingin makan belut yang ditangkap olehku dan Kadir untuk digoreng!! kamu pikir aku ngga geli apa nangkap yang licin-licin berlendir begini?" kata kakek Dahlan kesal.


"Memang ada belut di parit?? setauku belut itu di lumpur sawah sana!!" kata Kojiro lagi.


"Kamu pikir aku tidak takut jungkang jungking di sawah sana malam-malam begini?? bisa-bisa bokongku di makan hantu yang bertebaran di luar sana...Kadirlah yang menggiring belut-belut itu dari sawah sana ke parit kita di sini!!" jawab kakek Dahlan.


"Memang kamu punya persiapan apa?" tanya kakek Dahlan pada kakek Kojiro.


"Aku melatih semua ilmuku untuk persiapan besok, paling tidak kita yang berdiri di garis belakang juga harus siap sedia."


"Aku ngga punya ilmu apa-apa, jadi apa yang harus kulatih??" tanya kakek Dahlan.


"Kalau ilmu bersilat lidah aku punya dan sudah kuturunkan pada Almira, tetapi kalau ilmu lain ada juga, yaitu ilmu melarikan diri!!" kata kakek Dahlan.


"Ya sudah...jika kamu tak punya ilmu apa-apa mending kamu di rumah aja, masak buat kita-kita nanti!!" kata kakek Kojiro mencibir sepupunya.


*


*


Hari yang ditentukan datang juga. Bulan purnama bersinar tetapi anehnya bulan itu berwarna merah seperti darah.


Para mahluk yang bergentayangam itu mendadak sepi tak ada satupun mahluk di sekitar rumah pantai itu.


Giandra, Serafin, Xavier dan Almira, Kojiro dan Dahlan serta Kadirpun tak ketinggalan.


Kakegawa beserta Matsuyama, Hiro beserta istrinya.


Dan datang seorang diri Tristan Calderon. Juga banyak lagi tokoh golongan putih lainnya.


Dari golongan hitam tampak sosok berbaju hitam mengenakan mahkota dari mutiara hitam. Wajah cantiknya tertutupi oleh sorot mata yang dingin dan mengandung hawa membunuh.


Iya, dialah ratu Hikaru. Didampingi panglima perangnya Kebebitak, Levia dan satu orang yang sama sekali tak disangka-sangka, Sheira...dosen cantik yang sangat memuja Xavier.


Pantas dia berusaha mati-matian menghalangi Xavier dan Almira nyatanya dia adalah keponakan ratu Hikaru.


"Sayang...bukankah itu ibu Sheira?" tanya Almira pada Xavier!! tak kusangka dia adalah orang ratu Hikaru." Bisiknya pada Xavier.


Hiro yang semenjak datang tak pernah mengalihkan pandangannya dari sosok Almira membuat Daniah sangat cemburu.


Begitu pula dengan Tristan yang memandang Almira penuh cinta, tak luput dari pandangan Xavier.


"Lho...bang, itu Alia ada dua?" tanya Almira!! mana yang asli?" katanya.


"Yang asli pastilah yang datang bersama pemuda tampan itu...hei, pemuda itu wajahnya mirip sekali denganmu, Mira??" kata Xavier lagi.


Almira tertegun menatap seorang pemuda yang juga tengah menatapnya intens.


"Itukah adikku yang sering aku impikan itu??" gumam Almira.


"Dia adikku, bang!!" jawab Almira pelan.


Leviapun terkejut bukan main saat melihat kemunculan saudara kembarnya Alia bersama seorang pemuda yang tak oernah dia lihat sebelumnya.


"Bunda...bagaimana Alia bisa bersama pemuda itu?? dan siapa dia?" bisik Levia pelan kepada bundanya.


"Dia itu pelindung Rafa!!" kata ratu Hikaru.


"Pelindungnya Rafa?? maksudnya bunda?" tanya Levia masih tak mengerti.


"Pemuda itu bernama pangeran Redo yang selama ini bersemayam di dalam tubuh Rafa, melindunginya sekaligus melindungi seluruh mansion dan seluruh orang-orang yang ada di dalamnya."


"Kekuatannya itulah yang membuat bunda tak bisa masuk kedalam mansion dan kekuatannya itu pula yang menghisap energimu sedikit demi sedikit.


"Siapa sih pangeran Redo itu, bunda?" tanya Levia semakin penasaran.


"Dia putra ratu Nilakandi yang berarti ibundanya Almira juga dan berarti adik dari Almira juga."Jelas ratu Hikaru.

__ADS_1


Mata Levia tak lepas memandang wajah tampan pangeran Redo yang tak kalah tampan dari Xavier.


"Kok dia bisa bersama Alia sih, bunda??" tanya Levia.


"Kamu ini bodoh dipelihara, Levia...jangan kamu memelihara kebodohan, kalau bisa kamu pelihara saja pria tampan, dengan memelihara pria tampan dan semakin kamu sering mengisap keperjakaan mereka, semakin awet muda lah dirimu!!" ratu Hikaru menyeringai.


"Alia dan pangeran Redo itu berpacaran, makanya pangeran Redo mati-matian melindungi kekasihnya itu."


Tiba-tiba angin kencang sekencang ****** beliung bertiup.


Lalu dari dalam pusaran angin itu keluarlah satu sosok wanita berwajah cantik luar biasa. Dialah ratu Nilakandi atau seiryu si naga biru ibunda dari Almira dan pangeran Redo.


Semua orang yang ada di situ mengagumi sosok cantik dan anggun dari sang ratu, tubuhnya memancarkan sinar keemasan.


Dan berbisiklah kakek Dahlan yang usil ketelinga kakek Kojiro sepupunya!!


"Ratu Nilakandi bersinar keemasan berbau wangi dari aroma bunga melati, sedangkan ratu Hikaru bersinar kehitaman berbau terasi dari aroma bunga telek ayam!!"


"Bukan bunga telek ayam tapi bunga bangkai!!" timpal sepupunya yang sama-sama kocak. Lalu mereka berdua tertawa sembunyi-sembunyi.


Levia tampak menyikut pinggang bundanya.


"Bunda, dua kakek bau tanah yang ada di sana itu tampaknya sedang membicarakan kita!!" kata Levia sambil memandang tajam pada kedua kakek yang sedang berbisik-bisik sambil tertawa.


"Dasar tua bangka kurang ajar, sebentar kurobek kedua mulut dower mereka itu biar tau rasa." Kata ratu Hikaru kesal.


"Selamat datang Nilakandi!! apakah di dalam goa pualammu sana kamu tidak punya pekerjaan, sehingga datang kemari??" Hahaha...


"Tenang saja, Hikaru...aku mempunyai banyak dayang-dayang makanya aku ngeluyur sampai kemari untuk melihat pertandingan ini!!"


"Dan hei...siapa pria tampan tapi mempunyai ekor panjang itu? simpananmu untuk kamu jadikan budak naf*sumu kah??" tanya ratu Nilakandi tak mau kalah dari Hikaru.


Ckckck...


"Lidahmu sangat tajam Nilakandi...apakah jika kamu menjadi naga maka lidahmu yang bercabang dua itu kamu asah di batu?" kata ratu Hikaru dengan seringai mengejek.


Bukannya marah sang ratu naga biru malah balas menjawab.


"Tentu saja selalu kuasah agar aku tidak sampai kalah jika bersilat lidah denganmu, Hikaru!!"


"Oh iya, dari zaman ngga enak, baju yang kamu kenakan itu hitammmm melulu...memangnya kamu tidak pernah mandi ya...sehingga kamu tak pernah ganti baju?" hihihi...


Merah mengelam wajah ratu Hikaru mendengar celotehan ratu Nilakandi apalagi di sebelah sana tampak Almira tak bisa menahan tawanya begitu juga dengan kakek Dahlan dan kakek Kojiro.


"Sayang..." tegur Xavier memperingatkan istrinya itu.


"Setan alas kamu Nilakandi!!! awas akan kurobek mulut besarmu." Lalu dia melesat terbang kearah ratu Nilakandi dan melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi kearah tubuh Nilakandi.


"Stop..." kata ratu Nilakandi...lawanmu bukan aku tapi mereka berempat di sana..."


"Kedua putra putri dan menantuku dan kamu lihat si tampan yang berdiri sendirian di sana itu?? dia lah keponakanmu putra dari adikmu yang kamu bunuh secara keji ibu dan ayahnya untung ibunya sempat menemukan orang baik yang mau menampungnya dan merawat putranya...kamu memang manusia berhati iblis, Hikaru!!" kata ratu Nilakandi.


Sosok yang berdiri di bawah pohon itu tampak bergetar tubuhnya saat mendengar semua yang telah diucapkan oleh ratu Nilakandi. Tapi dia berusaha untuk menahan diri terlebih dia masih ingin mendengar pengakuan oleh ratu kegelapan itu.


"Bersiaplah kamu menyongsong ajalmu oleh keponakanmu sendiri, Hikaru??" kata ratu Nilakandi sambil menggeser sedikit posisi tubuhnya untuk menghindari pukulan dan tendangan Hikaru.


"Satukan kekuatan kalian, Almira, Xavier, Redo dan Tristan!!" teriak ratu Nilakandi.


Kebebitak, Sheira, Levia dan para tokoh golongan hitam lainnya tak tinggal diam. Mereka merangsak maju membela junjungan mereka.


Dari pihak golongan putih pun semua maju serentak membuat posisi menyerang balik dan saling menghantam.


"Sayang...apakah kamu baik-baik


saja??" tan6a Xavier pada istrinya itu.


"Aku baik-baik saja dan abang tidak perlu khawatir, mari kita fokuskan pada penyatuan dan penyerangan kita saja." Kata Almira.


"Hei mahluk sialan yang telah masuk ke dalam tubuhku dan telah menggunakan tubuhku untuk hal-hal yang aneh!!" seru kakek Dahlan pada Kebebitak.


"Aku lawanmu, monyet sialan!!" teriak Kojirò dan siap membantu kakek Dahlan.


Pasukan siluman kera dan para mahluk astral itu ikut turun dan mulai ikut berkelahi.


"Kamu menjauhlah Alia...perintah pangeran Redo..."


"Aku tak ingin melihat kekasihku terluka..." tetaplah diam di sana ya!!" kata pangeran Redo memperingati Alia.


*


*


***Bersambung...


Pertarungan sengit baru saja dimulai. Pihak manakah yang akan keluar sebagai pemenangnya?

__ADS_1


Ikuti terus lanjutan ceritanya ya reader dan juga jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenya ya!!


__ADS_2