Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 10


__ADS_3

Pukul 24.00 Wib


Aprilia membaringkan tubuhnya bersama Dimas,di kamar belakang. Sepasang matanya terlihat masih terjaga. Sedangkan Dimas telah terlelap cepat dalam pelukan tangan kanannya.


"Aneh! Aku kok ngelihat Nana terlihat sangat berbeda." Aprilia heran dan jatuh penasaran. Baru saja dia akan tidur, samar-samar dia mendengarkan suara seseorang yang tidak asing di belakang rumah. Suara Puspa.


Aprilia bangkit berdiri dari ranjangnya, dan berjalan ke asal suara. Dia melihat pintu ke halaman belakang terbuka, dan tampak Puspa sedang duduk dengan lilin di atas meja. Dia terdengar mengucapkan sederet kalimat yang sama dan di ucapkan berulang-ulang.


Aprilia mulai bergindik kala angin malam terasa berhembus kencang, dan mengirim hawa dingin yang membekukan tulang. Aprilia menggosok badannya, mencoba memberi kehangatan pada dirinya sendiri. Berbeda dengan Puspa yang terlihat mengenakan gaun malam yang tipis. Namun , sangat tidak terganggu dengan angin yang berhembus kencang, dia terlihat sibuk menjaga cahaya lilin, dan terus mengucapkan rentetan kata seperti mantera sihir, dan nama Dandy terdengar dan terlontarkan selalu dari bibir Puspa.


"Apa yang di lakukan Puspa? memanggil setan? Mau melet Pak Dandy." Aprilia berbisik pada dirinya sendiri. Karena takut akan dirinya ketahuan bersembunyi mengintip. Aprilia segera kembali ke kamarnya.


Apa yang di lakukan Arika di halaman belakang, tengah malam seperti ini, menjadi banyak momok pertanyaan dalam benaknya.


Apakah Nana bergaul dengan setan? pantas saja dia terlihat lebih cantik, berwibawa dan aku pun tunduk akan setia matanya yang tajam dan menyipit. Jangan-jangan dia menggunakan susuk!


Aprilia tersenyum miring akan rasa curiganya, "Menjijikan. Jika mati pasti tidak akan di terima tanah."


"Aku tidak kan melakukan hal seperti itu. Jauhkan dari keinginan yang menjual diri pada setan, jin seperti itu."


Karena malam makin larut, apalagi suara jangkrik terdengar menjerit berbisik menakutkan. Membuat Aprilia segera masuk ke dalam selimutnya. Memejamkan matanya. Namun, kembali membuka matanya lebar.


"Kenapa aku malah ingat Pak Jack? terus terbayang, bayangannya selalu hadir. A-aku ...." Aprilia malu melontarkan kalimatnya keluar dari tenggorokannya, dia hanya menyimpannya dalam hati, Aku merindukan Pak Jack. Belaian dan cumbuannya, itu ....

__ADS_1


Aprilia menggelengkan kepalanya, menyingkirkan perasaaan yang tiba-tiba muncul dari dalam dadanya, dan membuat jantungnya berdegup kencang dan bersiap meletus, Dup-dup-dup!


"Apa aku sudah jatuh cinta dengan pak Jack. Atau ini hanya sekedar hasrat akibat berani membuka kaki semalam. Akhirnya ... a-aku menjadi kecanduan dirinya."


Aprilia mengetok keras batok kepala, "Jangan bodoh Apri! pria itu menghinamu, dia hanya jual beli. Jangan berharap banyak. Aku hanya di sewa satu malam!"


Aprilia menghela napas, tanpa sadar dia meraba wajahnya. "Sayang, aku tidak punya uang untuk operasi wajah seperti artis korea."


Namun, peristiwa dan setiap adegan malam itu terlintas bak pita kaset yang bergerak mundur, dan membuat Aprilia bergeliat geli membayangkan betapa dirinya telah jatuh dalam permainan cinta semalam Jack. Aprilia menggigit bibir sebentar, dia teringat sesuatu.


"Seharusnya, tanggal hari ini adalah ahri pertama aku menstruasi. Wah, kenapa tidak datang yah?" Aprilia linglung teringat bahwa dia melewati hubungan tanpa pengaman. Apakah aku bisa hamil hanya dalam satu kali? atau aku hanya sedang terlambat datang bulan. Ah, akan kelihatan dalam satu Minggu ke depan. Jika tidak datang bulan, bearti aku hamil.


Aprilia menggigit bibirnya malu, dan meraba perutnya rata, tiba-tiba saja hatinya berbunga-bunga bak bunga sakura yang menguncup mekar indah, Sebejat-bejatnya lelaki pasti tidak akan membuang anaknya walau hal itu terjadi tanpa cinta. Aku yakin, anak ini akan menjadi batu loncatan ku menjadi lebih naik derajat, dan meninggalkan rumah sialan ini, dan wanita berhati sangat busuk itu.


Wajah Jack terlihat hadir dalam benaknya. Pria paruh baya itu tiba-tiba terasa hadir dan terasa sangat nyata, dan rasa rindu yang memuncak dan haus akan pertemuan yang menumpuk. Membuat sosok ilusi Jack terlihat nyata, mendekat padanya, mencium bibirnya dan menyusuri tulang angsanya hingga ke bagian dadanya.


"Hmmm," lenguh Aprilia akan ilusi yang dia ciptakan. Dia terus memejamkan matanya, dan bibirnya terus bergerak berdecak sendiri. Sampai akhirnya dia puas akan buaian dan sentuhan manis yang hanya terjebak dalam otaknya, Aprilia pun terlelap segera.


...****************...


Sinar matahari pagi merah membakar langit di atas puncak di timur, mengusir kegelapan sisa malam dan menyalakan segala se­suatu di permukaan bumi dengan cahaya­nya yang merah keemasan menerobos kamar Aprilia dan Dimas.


Aprilia bergeliat sebentar, dengan telapak tangan yang menudungi matanya menghalau sinar matahari. Dia masih sangat mengantuk. Sedangkan Dimas telah mandi, dan berganti pakaian. Dimas terlihat duduk di kursi dengan meja di depannya, dan bermain kartu gambar.

__ADS_1


Tok ... tok ... tok .... Terdengar tiga ketukan pintu panjang dan galak. Aprilia belum saja bangun. Dimas bergindik takut akan pintu yang telah di gedor itu. Dimas segera melompat turun dari kursinya, menghampiri ranjang dan membangun kan ibunya.


"Bu, bangun ada Tante Nana," ujar Dimas seraya menggoyangkan tubuh Aprilia.


"Pembantu! pembantu bangun!" teriak Puspa dari luar. Suaranya menggelegar bak petir di pagi hari. Sontak kelopak mata Aprilia terangkat, dan tersirat keterkejutan akan teriakan itu. Aprilia segera bangun, dengan langkah setengah berlari dia menuju pintu kamarnya, dan klek ! memutar kunci, dan pintupun terbuka.


Puspa berdiri dengan rambut yang tergulung dengan roll rambut menghiasai kepalanya. Dia mengenakan gaun tidur bewarna merah dan tipis. Tangannya sedang bertolak pinggang, dan wajahnya merengut marah. Namun, tetap saja dia terlihat bak matahari pagi, silau, hangat, dan sangat cantik terlihat.


Nana, makin cantik saja. Pasti karena amalan dan mantera yang dia ucapkan tengah malam.


"Ada apa Nana?"


"Nana! Nana!" Puspa seakan mengulang namanya sendiri karena penyebutan namanya yang keluar dari tenggorokan Aprilia. "Aku nyonya rumah di sini. Kau pembantunya. Apa pantas menyebut nama saja?"


Aprilia terhenyak akan teguran itu, ludahnya kelu dan setiap giginya terdengar gemerutuk akan marah. Tetapi, kala sepasang matanya mendongak marah akan wanita di depannya, dia menjadi tunduk kembali akan kharisma Puspa yang terlihat bak singa yang mengaum, terlihat tangguh dan menakutkan. Nyali Aprilia, langsung mundur dan ciut, "Maaf, Nyonya."


"Hmmm," gumam Puspa. "Aku belum menikah, jadi panggil nona saja."


Aprilia menghela napas, sedikit terdengar jengah, "Baik, Nona. Ada apa?"


"Dandy mau datang ke rumah. Mengajak aku berlibur ke Australia, pagi ini setrika semua pakaianku ini," perintah Puspa seraya mendorong satu keranjang pakaian miliknya pada Aprilia.


......................

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2