Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 117


__ADS_3

...Jangan menyebut Karma. Sejatinya garis tangan setiap orang sudah di rencanakan dari awal, bukan dirinya berkehendak....


..._Eouny Jeje_...


...Bagaimana aku tidak menyebutmu raja di hatiku? Bahkan aku gila membeli kursi seorang raja untukmu....


..._Santi_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Santi dengan langkah ragu melangkah masuk rumahnya. Raganya bergetar dan kakinya luyut seketika di teras. Bagaimana dia bisa pulang? Kala, setiap wajahnya telah nyata terpampang pada setiap media cetak dan online. Berita perselingkuhan dengan perut besar  mengalahkan berita perselingkuhan para selebritis.


Santi menyeka air matanya. Ingin mati, rasanya segan. Ingin hidup, rasanya sangat malu. Dia mengelus dadanya. Dadanya sesak sekali. Dia sangat menyesal mengangguk setuju bertemu dengan pengirim nomor asing di sebuah hotel yang tidak pernah dia ketahui asal-usul sang pemesan. Awalnya, dia mengira dia akan bertemu Bintan. Tetapi, siapa sangka jika pria yang datang masuk ke dalam kamarnya, adalah dua pria mabuk yang terpengaruh bubuk aprodisiak.


Malam itu. Segenap seluruh pakaiannya di lucut dan di lempar acak ke lantai. Awalnya dia menolak, berusaha keluar dari setiap jebakan tangan yang akan memperkosa dirinya. Namun, setiap aliran dalam darahnya memberontak panas dan bergelora. Entah, oleh apa? Dia hanya merasakan setiap darah dalam nadinya, mendorong dirinya bercinta lebih banyak. Dia tumbang seketika akan benteng pertahanan menolak napsunya.


Jleb! Jleb! Dua pria yang tidak diketahuinya sebagai sosok yang telah beristri itu melewati dan menikmati proses sepanjang malam dengan bergantian. Hingga menjelang fajar.


Brakkk! Tiba-tiba pintu ternganga lebar. Dia menemukan beberapa pria masuk di sertai dua wanita yang terlihat geram dan antogonis.


Santi yang terlihat lelah dan berpeluh keringat, mengangkat pandangan. Malu sejadi-jadinya kemudian.


"Mas, apa yang kau lakukan?" Wanita itu mendorong jatuh tubuh suaminya. Mengajak bangun Santi untuk duduk, dan Plakkk! Tamparan itu pedas menyentuh pipi Santi.


"Kau sedang hamil, dan bercinta dengan suamiku!"


Tubuh polos terekspos. Malu. Wajahpun  merah panas. Santi segera menarik selimut. Menutup seluruh tubuhnya. Seakan ingin menutup aibnya.


Santi menggigit bibirnya. Dia terbangun dari setiap kenangan yang kembali kepadanya. Dia memopang tubuhnya untuk berdiri kembali. Berharap, sang suami akan mengampuninya. Namun, hal itu terdengar sangat mustahil. Sadewa bahkan tidak berniat menjemputnya. Hanya meminta seorang pengacara datang menyelesaikan dengan uang sebagai ganti rugi, dan menjamin dirinya tidak akan berbuat asusila kembali.


Santi merangkak dan akhirnya mampu  berdiri dengan kedua kakinya dan dia berjalan seraya  mengelus  perutnya.


"Jika Mas Sadewa tidak mengasihiku. Setidaknya, dia mengasihmu sebagai puteranya, penerus Sadewa," bisik Santi pada sosok kecil di dalam perutnya.

__ADS_1


Kret! Pintu ruang utama terbuka. Santi nanar menatap segala isinya. Mewah elegan. Setiap perabotannya unik dan edisi terbatas. Dulu, dia memilihnya dengan sangat hati-hati, selalu saja mengutamakan selera Sadewa yang menyukai estetika antik, terlihat kuno, langka, dan mewah.


Santi menitikkan air matanya. Dia menyentuh pinggir kursi antik yang pernah dia beli saat lelang di China. Dia melemparkan uang satu miliar. Hanya untuk mendapatkan kursi Raja Dinasti Ming.


Bagaimana aku tidak menyebutmu raja di hatiku? Bahkan aku gila membeli kursi seorang Raja untukmu, Mas.


Santi segera menyeka air matanya. Alih-alih berjalan dia duduk meraba dan berjongkok terhadap setiap guci peninggalan zaman prasejarah yang dia beli dari seorang pedagang Kalimantan. Di saat itu, dia  bahkan harus bersedia bermalam dan terbang ke sebuah dusun yang terkenal primitip, hanya untuk membawa setiap guci pulang bersamanya.


Saat itu, Santi dengan sengaja memilih guci dengan motif gambar wanita yang jatuh bersandar pada seorang pemuda yang gagah. Motif itu paling langka. Tiada harganya. Namun, Santi harus melewati setiap ritual. Dia berjalan di atas bara api. Setiap telapak kakinya melepuh panas, hanya untuk mendapatkan guci langka bermotif dua manusia sejoli.


Kau menyukai setiap yang antik. Akupun  mempersembahkan guci mahal yang ku bayar dengan derita — dengan segenap hatiku yang sangat mencintaimu. Katamu, kau menyukai segala estetika dari masalalu. Karena, masa lalu itu tidak mampu di rubah. Jadi, masalalu adalah tonggak sejarah badai air mata, badai darah, yang sangat menarik di matamu. Bagaimana kau harus berjuang keluar, tanpa harus menjadi buruk seperti musuhmu.


Santi meringis. Dia segera memukul dadanya. Jika dia mampu mengingat dengan baik, setiap kesetian dan cinta dahulu kala, dalam tubuh dan darahnya ada sifat yang terpuji dan mampu dia banggakan. Lalu, bagaimana dengan pengkhianatan yang telah dia lakukan sekarang. Menghapus segala yang baik dalam darahnya.


Prankkk! Sebuah tongkat terlihat mengayun di udara dan menghancurkan setiap guci.


Pletak! Tongkat itu jatuh ke lantai.


"Apa yang kau perbuat hari ini? Telah menghancurkan setiap estetika masa lalu. Dimana letak kesetianmu yang dulu?"


Santi menunduk malu. Wajahnya merah panas. Air matanya jatuh tertampung dalam tangannya.


Sadewa duduk berjongkok, mencengkram dagu itu dan melihat bagaimana rupa air mata itu jatuh bak hujan menyentuh punggung tangannya.


"Apa dari dulu kau hanya berpura-pura setia? Kau adalah buaya berkulit kelinci."


Santi menggelengkan kepala.


"Segala yang baik akan terhapus hanya karena satu kejahatan. Bagaimana aku bisa mempercayaimu?"


Santi menahan napas. Isaknya seakan menjadi batu yang bersembunyi dalam dada. Rasanya sangat sesak.


"Kini, aku ragu anak siapa dalam perutmu."

__ADS_1


Deg! Santi mengangkat kepalanya, dan sepasang mata nanarnya terlihat mengemis, dan bibir terkatupnya, perlahan lirih mengeluarkan suara, "Jangan menyebut dosa ibunya pada anaknya."


Sadewa tersenyum dengan tatapan membunuh, "Aku tidak mengaitkan dosamu dengan janin dalam perutmu. Hanya saja, ada satu pertanyaan yang menjanggal hatiku."


Sadewa mengangkat dua alisnya, dan arogan bertanya, "Siapa nama lelaki yang menjadi ayah dari janin yang berkembang ini?"


Getir. Untuk pertama kalinya Santi kehilangan setiap kata untuk menjawab. Tatapan Sadewa terlihat tidak akan mudah di tipu, ataupun di cuci otaknya.


"Siapa namanya?"


Santi menelan isaknya, dan raganya luyut jatuh menyentuh lutut Sadewa. Dia mencium setiap lutut itu dengan air mata, dan wajah itu terbenam di atas lutut pria bak dewa itu.


"Maaf-kan-lah a-ku se-per-ti a-ku te-lah memaafkanmu," lirih Santi memohon tidak berani mendongakkan wajahnya.


"Kaupun per-nah ber-se-ling-kuh membawa Aprilia, babu jelek itu, masuk ke dalam ru-mah i-ni."


Sadewa terbahak,dan berkata, "Kini kau ingin menyebut dosaku 1:1 dengan dirimu."


Sadewa menarik keluar lututnya dan membiarkan wajah Santi terbenam di atas ubin dingin, yang terlihat bersedia menampung air matanya.


"Kau tahu salahmu apa?"


Santi tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan,dia tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu.


"Jika aku tidak membuka kebohonganmu. Bukankah, kau  menuntutku bertanggung jawab atas jebakan yang kau nikmati dengan pria lain. Kau meludah di wajahku."


Sadewa menahan napas dan sesak menyerang rongga dadanya.


"Sedangkan aku membawa Aprilia bukankah atas ijinmu sebelum pernikahan. Kau selalu berkata, akan mengijinkanku mengambil madu jika kau tidak bisa memberi seorang anak untukku," lanjut Sadewa memukul setiap kalimat Santi.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


...Santi miris? apa ada yang bisa request cerita nasib Santi, di akhiri dengan kematian atau di biarkan terjebak dalam ruang bawah tanah, sampai Aprilia dan Sadewa tobat?...

__ADS_1


__ADS_2