
Bertukar napas. Bertukar air liur. Melilitkan lidah. Hingga akhirnya lampu kabin tiba-tiba menyala. Menghentikan setiap gerakan bibir sepasang pria wanita itu.
Aprilia mendorong dada Sadewa. Menjauh dan memberi ruang kembali.
Sadewa terlihat akan mencumbui kembali. Tidak perduli terhadap pramugari yang datang memberi instruksi pesawat akan segera mendarat.
"Oppa, hentikan!" tolak Aprilia.
Sadewa terlihat memohon dengan dua bola matanya.
"Kita bisa lanjutkan nanti."
Sadewa melunak. Meluruskan punggung. Mengaitkan kembali seatbelt. Hanya dalam waktu 10 menit kemudian. Pesawat telah mendarat dengan sempurna. Pintu kabin terbuka untuk kelas VIP,dengan belalai panjang menyambut di depan pintu.
Aprilia lebih dulu melangkah keluar. Di ikuti Sadewa kemudian. Melihat lekuk tubuh wanita di hadapannya berjalan dengan pinggul yang terlihat bak model di atas karpet merah. Mampu menghinoptis seluruh indera Sadewa. Dia menginginkan Aprilia untuk tenggelam di bawah selimut bersamanya.
"Sayang," bisik Sadewa setelah mengejar langkah Aprilia.
Aprilia mendelik, dan mendengus, "Jangan panggil aku sayang. Aku adalah adikmu."
Aprilia mengangkat telunjuknya dan sepasang mata indahnya memperingati pria itu, "Bukankah kau yang menciptakan lakon ini. Jadi, janganlah bertingkah menghancurkan lakon ini. Ingat, kau adalah pria beristri, dan aku adalah seorang gadis. Kau berjanji akan membiarkan diriku menikah dengan seorang pria."
Sadewa menundukkan kepalanya. Panggung sandiwara telah dia buat. Skenario telah dalam rancangannya. Dia hanya perlu bersabar. Menunggu waktu cerita itu berakhir. Lalu, dia akan membuat babak cerita baru yang indah untuk wanita yang dia nilai, tiada taranya, tiada duanya. Hanya terlahir satu. Hanya tercipta pada abad ini saja.
Sadewa dan Aprilia melanjutkan pulang ke rumah. Selama perjalanan, hanya seruan napas yang bercengkrama. Kedua insan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Tuan, dan nona telah tiba," seru sopir.
Sadewa dan Aprilia mengangkat pandangan ke depan. Lalu, tanpa sadar saling memutar kepala ke sisi masing-masing lawan. Sepasang mata mereka seakan bertukar perasaan, saling memenjarakan sesaat. Lalu, bibir mereka masing tertarik ke kiri dan ke kanan. Tersenyum. Namun, senyum itu nyata meninggalkan jejak.
"Oppa, kau lebih dulu turun. Santi menunggu."
Sadewa menganggukkan kepala.
"Dan puteramu juga," sindir Aprilia sengaja.
Sadewa menahan napas. Tatapan mesra pada Aprilia berubah menjadi kabut biru menghalau pandangan sesaat.
"Bukan puteraku," koreksi Sadewa.
Aprilia mendekatkan tubuhnya pada pria tirani tersebut. Dia mencium pipi pria itu dan membisikinya, "Tenang saja. Suatu hari nanti, aku akan melahirkan putera untukmu."
Bibir Sadewa terlihat sedikit bergerak lurus, dan diapun membalaskan dengan bisikannya, "Hal itu yang aku tunggu, sayang."
Pria itu turun dari mobilnya. Melangkahkan kaki jenjang memasuki istana miliknya sendiri. Kala, dia mendengar suara tangis bayi. Langkahnya terhenti pada garis pintu. Dia berdiri kosong. Suara tangis bayi itu, membuat seluruh ruhnya segera ingin pergi.
Tidak pernah aku sangka. Jika, aku akan mendengar suara bayi yang bukan milikku. Di dalam istanaku sendiri, ratuku mengkhianatiku. Lalu, dia duduk dalam rumah ini dengan bayi mungil dalam gendongannya. Seakan dia tidak sedang menusuk pisau pada jantungku. Sakit sekali, pengkhianatan yang melahirkan daging dan mendeyutkan jantung yang bukan milikku.
__ADS_1
"Mas, sudah datang?"
Sadewa terbangun dari lamunannya. Dia mengangkat pandangan wajahnya setinggi mungkin. Dia melewati garis wajah Santi. Pandangannya angkuh, ujung bibirnya naik ke atas kiri. Dengan jelas, dirinya tengah mencibir Santi, ratu dalam rumahnya.
"Mas, apa kau lelah?" tanya Santi, dia berjalan mendekat dengan bayi dalam gendongan tangannya. Bayi itu terlihat merah dan lelap dalam gendongan tangan wanita itu.
Sadewa diam. Dia akan berkata sesuatu. Namun, wajah bayi mungil dalam pelukan Santi. Menghentikan seluruh atensi dan arogansi. Dia menatap sekilas. Namun, silet mengiris daging jantungnya kembali. Sadewa kembali mengangkat wajahnya setinggi mungkin.
"Aku bukan lelah. Aku sangat sakit hati!"
Aku sangat sakit hati.
Sadewa melangkah pergi. Memberikan punggung dingin. Santi terjebak dalam satu kalimat terakhir Sadewa.
Aku sangat sakit hati!
Santi tertohok. Seakan ribuan anak panah telah menyerang seluruh inderanya. Matanya mendadak buta. Telinganya mendadak tuli. Lidahnya kelu tak mampu berkata. Dia telah menyusun banyak kalimat dan mereka-reka seluruh adegan permohonan maafnya. Namun, hal itu berujung sia-sia. Suami yang telah dia puja bertahun-tahun, tidak sudi memaafkannya.
Dalam sekejap sepasang mata Santi telah berkaca-kaca. Sinar matanya redup terhalau kabut dalam bola matanya. Bibirnya bergetar. Perlahan dia merengek,dan mengeluh, "Pria lahir egois. Aku telah memaafkannya beribu-ribu kali atas kesalahannya. Namun, satu kali perselingkuhanku, tidak sudi dia maafkan."
"Apa kau tahu mengapa?"
Santi terkesiap. Dia bangun menatap wanita cantik ramping itu telah berdiri di hadapannya. Wanita itu melipat tangan di dadanya, sikapnya elegan bercampur kesombongan yang menggunung.
"Kau ingin tahu. Mengapa pria membenci perselingkuhan wanita?"
Aprilia tidak kunjung menjawab, seakan membiarkan wanita itu jatuh penasaran, dia mendekat pada Santi, dia mencium kening bayi mungil dalam gendongan Santi.
Cup! kecup Aprilia penuh kehangatan. Seakan dia merindukan sosok yang pernah dia dorong keluar dari rahimnya. Dimas.
"Dia sangat menggemaskan," puji Aprilia.
Sekejap kenangan Aprilia kembali pada Dimas, puteranya yang telah lama di tinggalkan bersama ibunya di kampung halaman.
"Apa itu?" kejar Santi penasaran. Mengejutkan jantung Aprilia, bangun dari lamunannya.
Aprilia masih meletakkan ujung telunjuknya pada pipi kulit bayi merah itu, dia mengabaikan pertanyaan Santi, dan bertanya, "Siapakah nama puteremu?"
"Namanya Al Rakha," jawab Santi.
"Nama yang sangat bagus. Al artinya orang mulia yang pintar. Rakha artinya bahagia dalam hidup. Kelak, semoga dia sesuai namanya."
Aprilia mundur dari wajah sang mungil berkulit merah. Dia melewati Santi, seraya mendenguskan jawaban untuk pertanyaan Santi.
"Seorang pria membenci perselingkuhan wanitanya. Karena, cintanya pada wanita itu telah pudar. Jika dia mencintaimu, kau berzinah akan di maafkan. Tetapi, cinta itu pudar. Tidak ada yang akan di maafkan lagi."
Deg! Jantung Santi tertikam. Berhenti bernapas. Lidahnya mendadak kelu. Bibirnya bergetar melengkung panjang hingga telinganya. Dia merengek tanpa suara. Santi membawa kembali puteranya, menggendong pulang masuk kamar, dan rengekkan si mungil berkulit merah itu menggema mengisi kamar.
__ADS_1
"Owek! Owek! Owek!"
"Berhentilah menangis, anakku sayang."
Santi bergerak mondar-mandir dalam kamar dan menimang-nimang dalam tangannya, air matanya mengalir, bibirnya bersenandung serak.
Timang-timang anakku sayang buah hati ayah 'nda seorang
Jangan marah dan jangan merajuk sayang tenanglah
Dikau dalam buaian
Betapakah hati tak 'kan riang bila kau bergurau dan tertawa
S'mogalah jadi orang berguna sayang riang gembira sepanjang masa
Selesai satu lirik. Mahluk mungil merah itu terlihat tenang dalam pelukan setelah Santi membuka tombol kancing bajunya, dan menyusui Rakha.
Air mata Santi menetes perlahan, dan dia menyeka rambut Rakha basah oleh keringat.
"Jika kita melangkah keluar dari rumah ini. Apakah ayahmu Bintan akan menerima kita?"
Santi menghela napas, "Aku telah menyakiti ayahmu Dewa. Tidak mungkin pula aku bersamanya lagi. Terus memberi luka, tidak akan membuat dirinya bahagia."
Krettt!
Pintu terbuka. Aprilia berdiri bersandar pada kusen pintu. Lalu, melemparkan sebuah stopmap ke atas kasur.
"Bercerailah adalah jalan terbaik. Menikahlah dengan pria yang menjadi ayah atas anakmu."
Santi menelan ludahnya.
"Bertanggungjawablah sesuai kepemilikannya. Lagipula, identitas pria itu telah terungkap."
Santi kaku. Seluruh raga bergetar. Sepasang matanya berkaca dan dia menatap lurus pada Aprilia, "Tingkahmu seperti ini mengingatkanku pada si babu jelek itu. Musuhku yang mengerikan. Merebut suamiku. Kau menjijikkan!"
"Namun, keberuntungan berkata lain. Suamimu mencintai orang yang telah mati itu."
Santi mendelik. Miris. Mengetahui keberuntungan itu tidak berpihak padanya.
"Anggap saja. Aku sedang sial. Karma aku bayar. Aku bahkan melihat si babu jelek itu telah mengalami metamorfosis di hadapanku. Ulat itu membusuk menjadi kupu-kupu beracun."
Aprilia mengerutkan keningnya, "Aku dan dia adalah orang yang berbeda. Namun, terlihat sama. Mungkin, karena kau pernah mengejeknya. Melukainya. Menghinanya. Hingga dosa itulah yang mengejar kehidupanmu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maafkan ketelatan update
__ADS_1