
...Dendam itu bagai pil pahit yang tertelan dan melukai tubuhmu sendiri....
..._Eouny Jeje_...
...Sangat menjijikan. Mencium kening seorang wanita yang berani berkhianat!...
..._Sadewa_...
...꧁❤•༆Pelet Janda Penggoda༆•❤꧂...
Tiga Hari Kemudian ....
Setelah pertemuan malam itu. Setiap malamnya Sadewa hanya akan menghabiskan waktunya di bawah ruang bawah tanah itu, bersama Aprilia.
Setelah yakin Aprilia tertidur lelap.Sadewa mengendap keluar dari ruang bawah tanah. Melanjutkan kembali berpura-pura tidur di sisi Santi. Sepasang matanya terlihat terpejam ketat. Namun,otaknya terus menyusun banyak rencana yang untuk menjatuhkan Santi dari kursi permaisuri dalam istana.
Aku akan membuatmu seperti babu dalam istana milikmu sendiri. Kematian adalah hal yang tidak akan ku ijinkan lebih awal untukmu,Santi. Kau dan ibumu bersikap busuk pada Aprilia, telah berani mencelakai anakku, dan menjebak Aprilia.
Sadewa terus berpikir Hinga menjelang pagi. Sosok tubuh gempal di sisinya, bergeliat, membuka mata ,dan membangunkannya.
"Mas,bangun sudah pagi."
"Hmm," gumam Sadewa berpura-pura telah terbangun dari mimpi panjangnya. Dia pun menatap Santi, kebencian seakan tergenang dalam sepasnag mata Sadewa. Diapun segera menunduk ke kasur. Dia tidak ingin sinar mata kebenciannya terkuak lebih awal. Dia mengontrol dirinya—emosi— kesedihannya.
"Hari ini apa mas bersiap ke kantor?"
Sadewa mendongakkan wajahnya,dan menjawab, "Tidak. Hari ini aku hanya ingin di rumah."
"Tumben."
"Aku akan berkerja dari rumah saja. Aku hanya ingin menjaga dirimu dan anak kita."
Sadewa mendongakkan kepalanya dan tersenyum. Sedikit aneh terlihat oleh Santi. Sadewa tidak akan pernah bersikap seramah ini.
"Aku tidak apa-apa, mas. Lebih baik bekerja."
Sadewa tersenyum, menyentuh perut berlemak di sana, "Kau tahu aku sangat mengharapkan anak. Kejadian sebelumnya, membuatku takut. Oleh itu, biarkan aku menjagamu. Aku tidak ingin ada trauma baru lagi."
__ADS_1
Glek! Santi menelan ludahnya. Dia tidak menyangka kehamilan palsunya akan membuat suaminya mendadak posesif melindunginya.
"Terima kasih, mas."
Cup! Sadewa mengecup kening Santi. Lama dan dalam. Hatinya menahan napas yang memburu kebencian.
Sangat menjijikan. Mencium kening seorang wanita yang berani berkhianat!
Sadewa pun turun dari ranjang lebih dulu. Merekapun memutuskan mandi bersama, dan melewati sarapan pagi bersama. Bahkan, tangan Sadewa sendiri yang menyuapi setiap makanan masuk ke dalam perut Santi.
Setiap kali Santi bersikap mual dan berpura-pura eneg. Sadewa segera memijat bahu Santi, dan mengurut punggung wanita itu perlahan.
Bagi Santi, Sadewa mendadak berubah 180 derajat. Ramah— Manis— Romantis.
Pada malam harinya. Santi di kejutkan dengan banyak hadiah yang tiba-tiba datang. Semuanya adalah perlengkapan pakaian ibu hamil, pakaian anak, perabot yang di butuhkan bayi.
"Apa ini tidak terburu-buru? Bukankah ini baru sebulan saja, dan aku bahkan tidak mengetahui sosok anak kita kelak, perempuan atau laki-laki?"
Sadewa membawa wanita itu duduk di pinggir ranjang.
Santi memeluk Sadewa erat. Tidak menyangka kehamilan palsu akan membuat pria yang telah berumah tangga sepuluh tahun ini, akan bersikap bagai madu yang meleleh dalam mulut. Sangat manis sikapnya.
"Terima kasih, mas."
Sadewa tersenyum miring dengan tangan yang merangkul ketat pinggang wanita itu, Kali ini pembalasanku adalah membuat lubang kubur yang bunga-bunganya jatuh bertebar dulu di dasar lubang. Setelah itu aku mendorongmu di saat bahagia, dan menutupmu dengan tanah, dan tidak akan pernah memperdulikan tangis air matamu, Santi.
"Minum obat vitamin sebelum tidur," pinta Sadewa pada Santi.
Santi mengambil pil obat yang terlihat asing di matanya. Namun, kebaikan Sadewa tidak membuat dirinya menaruh curiga sedikitpun.
Dengan meminum obat ini secara rutin. Kau hanya akan melahirkan— membesarkan anak cacat. Itulah karma untuk perselingkuhanmu, Santi.
Setelah meminum obatnya. Rasa kantuk menyerang Santi, diapun segera terlelap dan untuk memastikan Santi tidak akan bangun hingga pagi menjelang. Sadewa menyemprotkan obat tidur pada lubang hidung wanita itu.
Setelah Santi tertidur. Sadewa menghela napasnya. Menurunkan tangan besar melingkar itu dari perutnya. Dia turun dan bangkit dari ranjang. Lalu, dengan langkah senyap dia kembali ke ruang bawah tanah dan menemui Aprilia.
Aprilia terlihat menanti di kursi meja. Sadewa pun segera menarik keluar wanita itu dari persembunyian gelap dan pengap itu. Dengan hati-hati dia menggendong Aprilia menaiki tangga, dan membawanya masuk ke dalam kamar tamu, salah satu rumah.
__ADS_1
Klek! Sadewa mengunci pintu kamar tamu. Di bawah lampu kuning terlihat sosok Aprilia yang lebih lusuh—pucat—sangat kurus. Tampak nyata, dan terlihat mengerikan.
Sedih. Sadewa makin sedih. Namun, cintanya tidak ikut surut. Dia berjalan, dan duduk berlutut, dengan tangan yang menggenggam tangan Aprilia, "Aku tidak akan membiarkan setiap orang menghina— merendahkan—dan menghukummu!"
Aprilia tersentuh. Sepasang matanya terlihat berkaca akan pengakuan pria ini. Pria itu telah menagis di hadapannya. Kesombongan pria itu hilang dan lenyap.
Karena pelet atau karena dia telah jatuh cinta dengan sungguh-sungguh. Bukankah aku sangat jelek—kotor—jijik. Mengapa dia tetap datang padaku dengan tingkah bodoh dan air mata?
"Mas, jangan melakukan seperti ini. Kau membuatku tidak nyaman."
Sadewa segera berdiri, dan memeluk tubuh kurus yang terlihat renta setelah banyak hari yang dia lewati di ruang bawah tanah.
"Mas!"
"Aku akan membantumu mandi, membersihkan dirimu. Anggap saja, ini sebagai baktiku yang telah sering melukaimu, padahal kau tidak pernah melukaiku sedikitpun."
Deg! Aprilia menitikkan air matanya. Memeluk lebih erat, dan tersenyum sarkas di balik punggung pria itu, dan bersyukur dalam hatinya, Pelet Nenek Mayang memang manjur. Si buaya ini bahkan tidak memperdulikan rupaku lagi. Lain waktu, banyak pria akan ku buat seperti ini.
Sadewa pun membopong tubuh yang telah mengecil kurus itu masuk ke kamar mandi, membaringkannya di atas bak mandi, melepas satu potong demi potong pakaian Aprilia.
Air keran menyala mengisi penuh dengan busa sabun yang bercampur dengan aroma mawar yang menyegarkan kulit.
Sadewa duduk berjongkok di belakang kepala bak mandi, dengan tangan yang menggenggam batang shower, dia pun dengan teliti, menyiram rambut Aprilia, dan mencucinya dengan shampo. Mengeramasi rambut pirang dan merak tersebut dengan memijat lembut dan hati-hati agar setiap busa shampo tidak jatuh mengenai mata Aprilia.
Aprilia tertunduk malu. Sedangkan tangannya berpura-pura memecahkan sabun, dan kala siraman air datang kembali membasahi kepala— wajah— tubuhnya. Dia terpejam dan merasakan bilasan tangan pria itu, menyentuh kulit kepalanya, dan tangan yang menyusup ke dalam setiap batang rambut.
Kau begitu baik denganku. Apakah karena cinta? Atau karena peletku.
Aprilia menggelengkan kepala, dan tersenyum aneh, seakan dia meragukan cinta Sadewa adalah murni dari hati.
Sadewa jatuh hati karena manteraku. Dia gila mengejarkan karena manteraku. Logika mana yang pernah berkata jika pria buaya akan jatuh berlutut pada seorang yang hanya anggap aku— sebagai babu jejek.
...꧁❤Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
...Jangan lupa tinggalkan komentar dan boom like dan kasih hadiah 🥰...
...Aprilia dah makin pintar. Tetapi dia nggak nyangka jika Sadewa benar jatuh cinta pada kebohongan Aprilia. Jatuh cinta sangat dalam....
__ADS_1