Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 128


__ADS_3

...Kita berada di perahu yang sama. Bukan menyebrang sungai. Bukan menyebrang danau. Kita menyeberangi laut seluas samudera. Di saat kita berlayar. Tepi daratan itu bahkan nihil akan terlihat. Badaipun tidak bisa di tebak. Satu perahu hanya cukup dua orang. Membawa banyak orang, akan membawa kita tenggelam lebih awal....


..._Rie_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia mendekati Sadewa. Meraba kepala pria itu. Mendapatkan bercak merah telah kering. Dia pun segera meminta tenaga medis untuk merawat Sadewa. Untung menghindari kecurigaan Sadewa terhadap daun telinganya yang telah hilang. Aprilia meminta secara khusus, agar Sadewa rawap inap walau cedera yang didapatkan hanya ringan. Kemudian, dia meminta suntikan obat tidur, dengan alasan Sadewa telah mengalami insomia panjang. Sadewa perlu istirahat yang cukup.


Setelah menyelesaikan administrasi. Aprilia turun ke lobby, masuk ke dalam restoran dan memesan kopi. Dalam hitungan 15 menit. Kopinya telah datang.


Aprilia menatap gelas kopi. Ada pesan di atas penutup kopi.


Katakan pada dirimu sendiri, kamu hebat!


Aprilia hanya bergumam pada dirinya sendiri, "Bukan aku yang hebat. Tetapi, Nenek Mayang."


Aprilia berpaling mengedarkan pandangan mencari kursi untuk dirinya. Dia menemukan sosok yang dia kenal. Sosok wanita yang pernah bertemu dengan dirinya di bandara. Rie.


Aprilia menatap lama akan sosok wanita itu. Teringat akan ramalan yang diucapkan wanita itu. Rasa penasaran menyelimutinya pula.


Apakah ada cara keluar dari kutuk kematian itu?


Aprilia masih mematung. Ragu untuk melangkah. Nenek Mayang telah memperingatinya untuk menjauhi wanita itu. Aprilia pun mengurungkan niatnya untuk menemui wanita yang terlihat menulis di atas secarik kertas.


Aprilia melangkah keluar dari garis pintu restoran. Berdiri dua langkah dari ambang pintu restoran. Dia melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. Pukul satu dini hari. Dia akan melangkah kembali. Namun, jantungnya terus mengajaknya menoleh ke belakang. Dia ingin bertemu Rie. Dia ingin bertukar kata pada wanita itu.


Aprilia gamang. Mengikuti peringatan Nenek Mayang, atau mengikuti arah kompas hatinya.


Menyeruput kopi sebentar. Akhirnya dia mengikuti hati nuraninya. Aprilia berpaling. Memutar langkah menuju meja wanita itu yang terlihat sedang melipat kertas.


"Hai," sapa Aprilia,dan duduk berhadapan dengan wanita itu.


Rie berdiri, tersenyum, "Aku pamit."


"Pergi begitu saja? Aku ingin berbicara."


"Aku sedang di kuntit seseorang! Lain kali saja."


"Hah?" Aprilia merasa bodoh karena tuli. Dia hanya melihat Rie berpaling, bersikap acuh padanya.

__ADS_1


Aprilia menghela napas. Menatap pada kertas yang terlipat di atas meja, "Rie, tunggu milikmu ketinggalan."


Rie melirik pada Aprilia dan menjawab, "Biarkan kertas itu di atas meja. Seseorang akan mengambilnya."


Aprilia hanya menganggukkan kepala. Padahal, dia tidak mendengar satu katapun. Menjadi tuli, adalah hal yang terbodoh daripada tidak mampu berbicara.


Rie pergi meninggalkan restoran.


Aprilia masih duduk. Sepasang matanya menatap pada kertas kuning yang terlipat membentuk segitiga. Ada rasa penasaran akan isi kertas itu. Setiap jemari Aprilia bergerak mendekat pada kertas, membuka, dan membacanya.


Kita berada di perahu yang sama. Bukan menyebrang sungai. Bukan menyebrang danau. Kita menyeberangi laut seluas samudera. Di saat kita berlayar. Tepi daratan itu bahkan nihil akan terlihat. Badaipun tidak bisa di tebak. Satu perahu hanya cukup dua orang. Membawa banyak orang, akan membawamu tenggelam lebih awal.


"Artinya, membawa perahu mengarungi samudera adalah bunuh diri. Seharusnya membawa kapal tanker. Kapal lebih besar dari Titanic juga boleh. Jangan bunuh diri pakai perahu. Ingat yah. Kapal tanker!"


Aprilia melipat kertas kemudian seperti semula. Baru saja dia akan meletakkan di atas meja. Satu tangan pria mengambilnya.


"Milik saya."


Kertas itu di rebut begitu saja. Aprilia akan mendongakkan kepala menatap sosok yang datang. Namun, pria itu telah dengan cepat memutar tubuhnya untuk menyembunyikan wajahnya. Dia pergi begitu saja. Tanpa satu kata pamitan untuk pergi.


Aprilia mengibaskan tangannya. Dia telah tuli. Dia pun segera melintas pergi meninggalkan restoran. Dalam tiga puluh menit, dia pun kembali, ke hotel yang telah dia pesan sebelumnya.


Aprilia menyalakan lampu. Sprei yang terciprat darah, telah di ganti. Sekarang, dia bisa kembali tidur dengan nyenyak. Dia merebahkan dirinya dan membiarkan dirinya untuk segera terlelap. Namun, baru saja kelopak matanya merapat. Dia di kejutkan dengan suara angin yang terdengar berisik.


"Anak gadisku, bangun."


Aprilia terkesiap bangun akan angin yang memeluk tubuhnya. Sangat dingin. Seakan dia telah di tenggelamkan dalam danau es.


"Eoma, ada apa?"


Nenek Mayang menggerakan bola matanya ke daun pintu.  Seakan memberi isyarat ada seseorang yang berada di depan pintu.


"Aku lapar. Bujuk dia untuk mempersembahkan janin isterinya."


Nenek Mayang memeluk lebih erat,"Aku sangat lapar. Aku telah membawa mantan suamimu merindu ke sini. Aku janji akan lebih baik lagi. Ayo, bercinta saja dengannya. Belah saja durennya. Aku lapar,anak gadisku."


Aprilia hanya menggerakkan bola matanya ke pintu. Dia tau ada orang yang datang. Namun, dia tetaplah si tuli yang tidak mencerna satu katapun milik Nenek Mayang.


Nenek Mayang melepaskan pelukannya. Aprilia berdiri membuka pintu. Sepasang mata Nenek Mayang menyipitkan mata menatap punggung Aprilia. Lalu, jemari telunjuknya mengarah pada kepala Aprilia, dan bibirnya mendesis, "Naiklah hasratmu, Aprilia. Bertukar liur dan bersentuhan kulitlah dengan Gusti."

__ADS_1


Aprilia mematung sesaat. Seakan ada mantera yang menghipnotis dirinya sepenuhnya. Segenap aliran darah dalam dadanya, menjadi panas dan menginginkan persetubuhan.


Nenek Mayang tersenyum kemudian.


Menjadikan pria itu impoten. Akan membuat pria itu menjadi pria yang tunduk pada Aprilia. Napsu mampu membutakan segalanya.


Love -Love -Love se-dunia akhirat anak gadisku, ujar Nenek Mayang dalam hatinya.


Nenek Mayang menghilang kemudian.


Aprilia menekan tombol. Kret! Pintu berderit terbuka. Tampak mantan suaminya berdiri dengan senyuman yang melengkung dalam.


Pria itu pun memberi isyarat tangan padanya.


Maaf menganggu semalam ini. Aku hanya tidak bisa tidur. Aku mencari teman mengobrol.


Pria itu menatapnya menunggu jawaban rangkaian tangan wanita itu.


Glek! Aprilia menelan ludah. Entah, api kecil seakan menyulut gairah tubuhnya berkobar menjadi napsu yang tidak bisa dia kendalikan.


Dia kan bisu. Dia tidak akan mampu berteriak. Walau ... apapun yang aku lakukan padanya. Dia hanya akan diam dan pasrah, komentar Gusti dalam hatinya. Pria itu mendorong pintu lebih lebar, dan melangkah masuk.


Aprilia akan melontarkan sesuatu. Namun, pria itu telah lebih dulu menutup pintu. Klek! Menekan saklar. Kamarpun menjadi gelap gulita.


Gusti mendekat. Aprilia bergerak mundur. Seakan mencium keinginan pria ini adalah ranjang. Dalam darahnya pun mengalir hasrat yang sama. Tiba-tiba saja dia menginginkan ranjang pula.


Aprilia mencoba menepis hasrat miliknya. Namun, pria itu maju dengan cepat dan menjepitnya ke dinding.


"Cantik. Tuli. Bisu. Menarik!"


Aprilia akan melontarkan amarah. Namun, segenap isi mulutnya pun ikut terkunci. Lidahnya seakan kaku, tidak mampu di gerakkan.


Apakah ini ulah Nenek Mayang? Aku menjadi bisu lagi, gerutu Aprilia dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Duh, tinggalkan komentar di bawah ini yah ... apakah setuju Gusti yang belah duren, atau Sadewa ... atau Om Jack 👀 Tujuan cerita ini sesuai judul. Banyak pria yang terpikat pada Aprilia, janda palsu sekaligus gadis palsu juga 👀...


...Jika. kalian nggak setuju Gusti. Berarti hasrat sang mantan akan terpotong. Tiba-tiba aja ada satpol PP nanti, geledah : Dilarang mesum 👀 Kalian ketahuan 👀...

__ADS_1


__ADS_2