Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 143


__ADS_3

..."Makin lama mengurutnya. Makin aku berhati-hati menyebut namanya. Karena, dia adalah pemilik kunci utama."...


..._Aprilia_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia menatap jam dinding telah pukul tiga dini hari.  Baru saja, dia telah melepaskan pagutan Moon pada dadanya. Tuyul berwajah dewasa itu pergi dengan senyum terkekeh lebar, "Terimakasih, Eoma."


Aprilia hanya merapikan piyama tidur. Tidak tertarik untuk melihat sosok Moon. Bahkan dia berharap, Moon pergi dan tidak kembali lagi. Jangan hanya mengejar setoran setiap bulan purnama. Sungguh menggelikan di isap tuyul pemberi uang.


"Bergelayut menyusui tuyul itu, sangat menggelikan," komentar Aprilia pada dirinya sendiri.


Brummmm!


Suara deru mesin mobil memasuki garasi terdengar memecahkan keheningan pada suasana dini hari. Aprilia menebak yang datang adalah sosok Sadewa.


"Kenapa baru pulang jam segini?" tanya Aprilia pada dirinya sendiri. Dia pun melangkah keluar dari kamarnya.


Klek! Krett! Pintu terbuka dan kaki pria itu melangkahi garis pintu. Langkahnya sempoyongan. Seakan dia adalah dewa mabuk saat ini.


Aprilia mengangkat satu alisnya. Hidungnya mengerut tajam. Alisnya bertautan menyatu. Diapun segera mengendus aroma alkohol dari pria yang tiba menapaki tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhuyung berjalan.


Panik dan khawatir akan Sadewa. Aprilia segera menyusul dan melingkar erat lengan Sadewa, dan satu tangan Sadewa di kalungkan pada pundak Aprilia. Dia berjalan menahan bobot pria itu agar berjalan dengan baik, dan menuntut pria itu masuk ke dalam kamarnya.


Brakk!


Raga Sadewa miring dan terjembab ke atas kasur, dengan kaki yang bergelantung di udara. Perlahan, Aprilia turun menunduk dan mengangkat kaki pria itu ke atas kasur. Melepaskan sepatunya.


"Tina ...," lirih Sadewa.


Aprilia mengerutkan keningnya. Untuk pertama kali, dia mendengar pria itu menyebut nama wanita lain. Seakan sebuah jarum di tusukan pada jantung Aprilia. Rasa nyut di dadanya datang tiba-tiba, dan dia segera mendekati pria yang berbaring malas.


"Tina ...," sebut pria itu sekali lagi.


Aprilia gelisah. Sepasang matanya menyipit. Tidak suka jika Sadewa menyebut nama wanita lain. Cemburu. Api menyala di dalam bola matanya, dan dia segera memukul pria itu, dan mengajak bangun.


"Siapa yang kau sebut Tina, Oppa?"


Yang di bangunkan hanya bersikap acuh dan tidak acuh. Membuka matanya sebentar. tampak merah dan digenangi air mata. Lalu, terpejam kemudian. Tidak bergeming. Raga itu terlelap dalam buaian mimpi.


Aprilia menghela napas. Ada rasa jengkel ketika nama itu telah lolos dari tenggorokan Sadewa. Konon, pria yang sedang mabuk akan berkata jujur.


"Siapa Tina?" Aprilia menatap pantulan dirinya dalam cermin. Dia merasakan dirinya, jauh berbeda. Sangat cantik. Bagi dirinya, kini dia sangat cantik dari wanita manapun. Kecantikan tiada Tara. Tiada tandingnya. Mampu di samakan dengan kecantikan salah satu Charlie angel yakni Drew Barrymore . Bahkan, sungguh pantas label babu jelek itu dibuang predikatnya. Dia bukan lagi seorang babu jelek, yang di pandang sebelah mata. Seorang wanita kemasan lama.


Kesal. Mengingat nama wanita lain yang terlontar. Aprilia segera teringat akan sosok iblis pemberi pelet, Nenek Mayang.


"Jika pelet itu ampuh? Mengapa di saat dia terlelap, dia malah menyebutkan nama wanita lain?" Aprilia menuruni tangga. Derap sepatunya terdengar Krak! Krak! Krak! Seperti ingin menghancurkan anak tangga. Cemburu. Dia merasa telah dilemparkan ke neraka.


Kakinya menginjak ubin lantai dasar. Dia menoleh ke belakang, dan mendengus kesal. Napasnya masih terlihat naik turun.  Dia menolehkan kepalanya ke belakang. Sekedar, menatap kamar yang berada di lantai atas.


"Siapa nama wanita itu tadi yah?"


Aprilia terlihat menerawang ke langit-langit ruang tamu. Dia mencoba mengingat nama wanita itu.

__ADS_1


"Tina? Lina? Dina .... Pokoknya, ujungnya Na-na-na!" ujar Aprilia jengkel. "Tidak perduli, siapapun si Na itu. Putri salju yang terkenal di dongeng atau Princess Diana, Inggris legenda, akan kusingkirkan jika ingin berebut pria denganku."


Aprilia menginjak kaki kirinya berkali-kali ke lantai. Seakan dia menghempaskan amarah ke alam yang tidak terlihat. Diapun memanggil lembut sosok wanita tua renta itu.


"Ibu Mayang! Eoma Mayang! Datanglah ... datanglah ... datanglah."


Ting!


Tidak lama seorang wanita cantik dengan rambut sebahu lurus, berbalut gaun ketat bewarna hitam, hadir dengan memukul keningnya. Dia tampak sangat mengantuk.


"Ada apa anakku? Sebentar lagi fajar menyingsing. Eoma harus tidur. Hingga senja itu datang. Aku akan kembali menemuimu."


"Eoma Mayang? Kau kah ini?" Aprilia tampak tidak yakin akan sosok datang bukan wanita keriput dengan raga yang membungkuk.


"Mengapa harus heran? Transformasi mengikuti zaman. Bosanlah menjadi nenek-nenek mulu. Kapan dapat jatah? Di Klab', pria mana yang akan melirik nenek-nenek! Aku perlu jantung, ginjal, hati, untuk menyambung nyawa. Kau pikir hanya pelajur yang ke klab meyambung nyawa. Iblis-pun berangkat ke sana! Mencari ginjal, jantung, dan hati!"


Aprilia mengangguk bodoh, dan segera menginterupsi dengan apa yang telah terjadi pada Sadewa, "Eoma, mengapa Oppa Sadewa menyebut nama wanita lain? Peletmu bukan unlimited, seperti yang kau janjikan."


"Menyebut siapa? Bukan namamu."


"Entah siapa nama wanita itu? Tina apa Dina? Aku amnesia."


Nenek Mayang menghentikan gerakan tangannya yang sedang bermain dengan rambutnya. Dia tercengang. Dia tidak menyangka pelet ampuh andalannya, bisa sirna.


"Tidak mungkin. Bahkan kecantikan wanita Inggris, layaknya Princess Diana. Tidak akan membuat milik Sadewa bangun. Dia akan impoten. Kecuali, denganmu."


"Lalu mengapa dia menyebut wanita lain?"


"Mungkin dia hanya teringat kenangan lama," sahut Nenek Mayang dan mulai menerawang pelet yang tersisa pada tubuh Sadewa.


"Hmm ...," ujar Aprilia jengkel. Meninggalkan Nenek Mayang yang terlihat termenung di tengah ruang tamu yang besar itu. Nenek Mayang terlihat menghitung hal gaib dalam jemari tangannya. Lalu, dia menemukan penyebab hilangnya pelet dari raga Sadewa.


"Ternyata, sebuah kenangan bisa membangunkan seseorang. Hanya karena kenangan. Kenangan itu membekas. Bagai, air bertemu api. Api adalah pelet yang menguasai raga. Air adalah hujan kenangan. Lucu sekali! Penyebabnya hanya seperti itu."


Nenek Mayang terbahak keras, "Sepertinya Aprilia harus mempersembahkan janin kembali padaku. Agar, dia mampu memiliki Sadewa kembali. Jika tidak, dia akan menemui ajalnya. Bersekutu dengan Nenek Mayang, wajib sesajen."


Nenek Mayang menghilang dan hadir kembali dalam kamar Aprilia. Aprilia terlihat terlelap bersama Boneka kelinci yang terlihat imut. Nenek Mayang mengangkat telunjuk. Lalu, segenap ruh-nya masuk dalam alam pikiran Aprilia.


Aprilia terlihat terlelap dalam kandang kelinci. Dalam kandang di sertai banyak wortel.


"Bahkan kau tidur dalam mimpimu. Enak sekali hidup Nona kelinci penuh kekayaan. Tinggal dengan wortel. Makan, tidur, makan!"


Nenek Mayang mengangkat jemarinya, dan mengubah sosok itu terlihat mirip kelinci.


Aprilia membuka kelopak matanya lebar. Kala, dia merasakan perubahan dirinya. Bulu-bulu putih halus mulai tumbuh. Lalu, jleb! Telinga panjang itu terlihat.


"Eoma, apa yang kau lakukan?"


"Aku ingin memakan kelinci!"


Aprilia dalam sosok kelinci. Meringkuk takut. Dia segera melompat. Namun, dia telah di kelilingi pagar.


"Oppa, bantu aku! Ada iblis yang ingin membunuhku! Oppa!"

__ADS_1


Nenek Mayang tidak berkedip. Dalam sekejap, dia telah berada di kandang. Lalu, tangannya melingkar cepat pada leher Kelinci, dan mencekiknya perlahan.


"Aku iblis. Aku butuh darah. Ingat, perjanjian kita. Kau telah bersekutu denganku. Jangan lupa, aku menagih jatahku."


Kelinci putih terlihat meringis, sesak, dan tubuh putihnya bergoyang meronta, dan sepasang matanya beriak menangis, "Eoma, ingin-kan a-pa?"


"Cepatlah mengandung! Berikan aku seorang janin lagi."


"Bu-kan-kah kau ti-dak ingin meminta la-gi!"


" Perjanjian hanya mengikat seorang hamba lemah. Tidak berlaku mengikat iblis Nenek Mayang. Hanya iblis yang boleh melanggar janji. Kalian hamba tidak boleh mengikuti. Jika tidak, kau akan mati terpanggang dalam api neraka Nenek Mayang! Bahkan seorang Lady Mafia ataupun Queen Mafia. Tidak akan bisa lolos dari api yang aku ciptakan! Mafia klub, bahkan bisa bubar dalam satu jentikkan jemari milikku."


"Ampun ...," lirih Aprilia.


"Kapan kau akan hamil?" Nenek Mayang melepaskan leher Aprilia. "Jika kau tidak segera membuat keputusan. Aku akan membuatmu, menjadi kelinci seumur hidupmu. Aku akan membiarkan kelinci jantan menggaulimu. Setelah itu, aku akan menyantap daging kelinci yang sedang hamil muda."


"Jangan, Eoma!" Aprilia duduk memohon kasihan.


"Kapan?"


"Aku akan segera memikirkan Pria yang First unboxing ." Aprilia terlihat ragu memilih pria yang akan menjadi pembuka segel kewanitaan imitasinya.


Jack atau Sadewa atau Adi!


Tiga nama pria itu berputar-putar dalam benaknya. Dia terbangun dan mulai menghitung kancing untuk melepas kegadisan imitasinya.


"Jack."


"Sadewa."


"Adi."


"Jack!" pilih Aprilia pada kancing piyama terakhirnya.


Aprilia menggelengkan kepalanya. Menghitung kancing ulang lagi.


"Makin lama mengurutnya. Makin aku berhati-hati menyebut namanya. Karena, dia adalah pemilik kunci utama!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Nah si Aprilia bilang dia mirip Drew Barrymore setuju kan 😚 Tinggal cari dua teman Aprilia. Karena Ade nggak akan mau tuh jadi pasukan elit penyuka uang 😚


Aprilia : Kenapa kau jadikan aku kelinci? nggak ada binatang yang lebih manis?


Author : Menurutku kelinci itu dagingnya manis jika jadi sate.


Aprilia : Aku tuh nggak bisa di giniin! jangan galakin aku!


Author: Jadi ratu Inggris aja lu 🤣 klo nggak mau di galakin. Mau di puja terus yah .... nggak mau di atur 🤗


Contoh kelinci hamil . Buy 1 Get 2. Menang banyak iblis Mayang....🤨

__ADS_1



__ADS_2