Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 131


__ADS_3

..."Aku akan menjamin setitik debupun tidak akan masuk dalam matamu, Aprilia."...


..._Sadewa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tiga hari kemudian ....


Aprilia tampak membantu Sadewa mengganti pakaiannya, dari pakaian rumah sakit menjadi pakaian casualnya.


"Kau istri yang baik," puji Sadewa.


"Ingat aku adalah adikmu. Bukan istrimu, Oppa."


"Bagiku kau adalah istri alpha omega," bisik Sadewa dan memeluk Aprilia kemudian. Tangan pria itu ketat melingkar pada pinggang ramping Aprilia, dagunya bertumpu pada pundak wanita itu.


Napasnya terasa menggebu-gebu kala wangi tubuh dan wangi rambut wanita itu menjadi wangian yang sedap pada hidup Sadewa.


"Kau wangi istri alpha omegaku."


"Jika aku adalah alpha. Maka tidak ada Santi dalam hidupmu," sindir Aprilia dan mendorong Sadewa dengan siku. Memberi jarak dan akhirnya keluar dari lingkaran tangan pria itu.


"Wanita itu hanya wanita di atas kertas. Kau ada dalam dada kiriku. Namamu dibungkus dalam jantungku,"ujar Sadewa kemudian.


Aprilia melengkungkan bibirnya bak wanita menyihir pandangan sang penontonnya, "Aku harap aku adalah cinta terakhirmu."


Sadewa menganggukkan kepala.


Setelah menghabiskan cemilan malamnya. Menyelesaikan administrasi. Mereka pun pergi ke bandara. Tidak menghabiskan waktu yang lama. Dalam  waktu yang singkat, memasuki kabin pesawat kemudian.


Di dalam kabin pesawat ....


Aprilia memiringkan kepalanya bersandar pada lengan pria yang duduk di sisinya. Pria itu tampak terus melihat ke luar jendela, dan dia terlihat menikmati geraknya awan yang tertinggal di belakang sayap pesawat.   Dia terlihat tidak jemu. Hingga akhirnya, pandangannya bangun ketika sayup-sayup telinganya mendengar serut suara hidung beriring dengan isak.


"Kau menangis?" tanya Sadewa pada Aprilia yang terlihat segera menyeka air matanya.


"Ada apa denganmu?" Suara pria itu terlihat sedih dan ikut jatuh suram mendengar suara isak hnag belum kunjung berhenti.


Aprilia mengangkat kepalanya tegak, dan menjawab, "Aku menangis karena sebuah novel."


Sadewa mengerutkan keningnya.


"Part bagian ini sangat menyedihkan."


Aprilia mengangkat ponselnya, dan menunjukkan layar bacaannya pada Sadewa.


Sadewa segera merogoh kacamata dari saku tasnya. Mengenakan kacamata. Mengambil ponsel Aprilia, dan memenuhi rasa penasarannya dengan membaca bagian yang dimaksud Aprilia.


Malang, 21 September 2021


Penyesalan seorang suami ...


Namamu pernah tercetak bersamaku di atas undangan.


Cincin emas pernah kau sematkan pada jari manisku.

__ADS_1


Setiap cinta itu menjadi darah dan daging.


Yang telah kau lahirkan dengan jerit dan jerih payah mendorongnya keluar melihat dunia.


Tahun demi tahun kita lewati dengan tangan yang saling menumpuk, membuat setiap cinta itu tumbuh menjadi gadis kecil yang manis dan cantik.


Terkadang ada api kecil. Namun, kembali kita padamkan dengan air mata. Saling memaafkan dan kembali saling mencium hati.


Hingga suatu hari ...


Seorang pria baru datang dalam hidupmu.


Dia mampu membuatmu terlena ...


Dia mampu membuatmu tertawa ...


Dia mampu membuatmu terpikat ...


Hingga akhirnya dia mulai meminta satu hal darimu.


Pelan-pelan mencuri atensimu.


Lalu, kau bergerak menjauh dariku.


Mengambil setiap jerih payahku untuknya.


Menyisihkan setiap jerih payahku untuknya.


Untuk pria sang Don Juan. Yang kau sebut sebagai sahabat. Ternyata, adalah kekasih bayanganmu.


Hadirnya menghancurkan setiap rencana yang pernah kita ucapkan.


Selamat tinggal isteriku.


Semoga kau berbahagia dengan Don Juan milikmu.


Sadewa menghela napas pendek, "Untuk apa menangis terhadap seseorang yang tidak setia?"


Aprilia mengangkat pandangannya dan menatap jemari Sadewa yang terlihat memberi bintang satu pada karya tersebut.


"Mengapa kau memberi satu bintang pada karya Chuky Girl."


Sadewa mengangkat pandangannya. Menyodorkan ponsel kembali pada sang pemilik, dan tatapan terlihat manis dengan seluruh tirani dewa tersirat di dalam bola matanya, "Aku akan menghancurkan setiap orang yang membuat wanitaku menangis. Walau hal itu hanya sebuah tulisan."


Aprilia meringsutkan punggungnya. Mengangkat kedua tangannya setinggi mungkin, "Terkadang kita perlu menangis agar sepasang mata kita bersih dari kotoran. Menangis itu penting."


Sadewa tersenyum miring, dan berkata, "Aku akan menjamin setitik debupun tidak akan masuk dalam matamu, Aprilia."


Aprilia membuang pandangannya segera,dan tertawa terpingkal kemudian.


"Mengapa tertawa?" Sadewa heran


Satu alisnya terlihat menukik tajam. Bibirnya terlihat bergetar kecewa. Apakah wanita di depannya terlihat meragukan hatinya.


"Bolehkah aku jujur?"

__ADS_1


Sadewa menganggukkan kepalanya.


"Kau adalah pria terbaik sekaligus terburuk,yang pernah aku kenal."


Sadewa tersenyum, "Oleh itu aku disebut hanya satu, dan tiada duanya."


Aprilia tersenyum melengkung sempurna. Perlahan, jantungnya yang tidak pernah berdegup untuk pria di sisinya, kini mulai berdegup kencang sedikit demi sedikit. Namun, hal itu mampu menyedot seluruh atensi terperangkap dalam netra sang penguasa dalam hidupnya.


"Aku akan melanjutkan membaca novel. Silahkan, Oppa lanjut pergi melihat awan," seru Aprilia segera menepis apa yang dia rasa kini. Degup jantung bagai suara pacuan kuda. Mendadak dia merasa malu, jika isi hatinya akan ditebak sang tirani di sisinya.


Sadewa menarik garis senyum yang terlihat datar. Jauh di lubuk hatinya, dia telah tenggelam dalam laut asmara hingga ke dasar, dan dia tidak mampu tertolong lagi untuk naik ke permukaan,hanya sekedar melihat sosok wanita terbaik lainnya.


"Cerita ini sangat baik.Tetapi, kau malah membullynya!" gerutu Aprilia sarkas,dan dia mendelik kesal pada pria di sisinya.


Sadewa menoleh ke sosok wanita di sisinya yang terlihat serius menatap layar ponselnya.


"Bully?"


"Ya, karena perasaan emosional dirimu, kau menjatuhkan karya oranglain. Anggapannya kau membakar jerih payah dalam satu sentuhan jempol. Sangat kasihan."


Sadewa menelan ludahnya.


"Baiklah. Aku bersalah. Apa yang harus aku berikan padanya?"


Aprilia melongos dengan napas panjang, "Tidak apalah. Hanya dirimu sendiri melakukan hal itu. Jika kau beramai-ramai melakukannya, kau bukan mematahkan pena seorang penulis. Namun, mematahkan tangannya."


Sadewa hanya memberi anggukan bodoh, dan bertanya, "Apa yang menarik dari cerita yang kau baca?"


Aprilia menegakkan punggung, bersandar pada kursinya, dan mulai bertutur perlahan, "Judulnya Don Juan sendal jepit. Cerita sederhana yang tidak muluk-muluk menjual mimpi seperti novel lainnya, tentang CEO, tentang mafia, tentang si tirani. Cerita ini sangat sederhana. Hanya menceritakan Rifki Hasan, seorang pria miskin dari Sukabumi yang pandai merayu wanita. Wajahnya mirip Ariel vokalis Peterpan."


Aprilia menjeda napasnya. Sadewa terlihat sangat serius mendengar ceritanya.


"Rifki Hasan, bahkan menghancurkan rumah tangga orang lain. Dia juga memalsukan identitas. Dia memiliki KTP ganda. Single dan married. Status pekerjaan hanyalah pengisi radio dari pagi hingga menjelang pagi. Namun, dia mengaku sebagai pengusaha kerupuk Palembang. Namun, dia suka meminta uang pada wanitanya."


"Lalu? berapa jumlah wanita yang dia perdayai."


Aprilia membalik halaman novel pada ponselnya.


"Disini dia hanya menceritakan jika Ratu bernama Emie, wanita yang mengijinkan suaminya membajak dompet wanita-wanita haus cinta. Selirnya Nabila, Vee, Ulan, Lele, Bee, Raysa, Louy, Desy, Zakia, Fitra, Rena, Lia, Rena, Sherin."


"Masih sangat sedikit dari milikku."


Aprilia mengangkat alisnya, Sadewa terkekeh.


"Dia hanya kang palak. Sedangkan aku adalah kang bolong. Predator janda dan perawan."


Aprilia menjulingkan matanya. Terlihat ingin segera meludah pada wajah pria yang mengaku cinta padanya.


"Tetapi itu dulu. Sebelum aku mengenal dan mengetahui cinta itu memiliki makna selain sentuhan kulit yang membuat kau puas di atas ranjang. Cinta tidak hanya berbicara soal hal itu. Cinta kerap kali membicarakan bagaimana kau berjuang, bertahan, akan rasa hanya pada satu orang, dan berakhir setia untuknya."


"Kau gombal sekali!" pekik Aprilia dengan suara rendah.


"Aku adalah Don Juan kaya. Wanita datang padaku karena ingin meraih dompetku. Berbeda denganmu, datang dengan tulus. Oleh itu, aku sangat mencintainya," puji Sadewa pada Aprilia dan mencubit dagu Aprilia.


Aprilia terpaku akan sinar mata Sadewa yang menyoroti dengan penuh cinta. Perlahan wajah pria itu terlihat mendekat,dan bibir mereka saling bersentuhan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maaf lambat update. Hape author rusak.. jadi perlu usaha banget ngetiknya 😌


__ADS_2