
...Satu pikiran adalah berbicara soal cara memahami. Proses dan cara yang sama. Bukan hanya soal perihal jawaban yang sama....
..._Eouny Jeje_...
...Remember, you have no companions but your shadow....
..._Genghis Khan_...
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
Santi mengerjapkan matanya. Dia kembali terjaga. Entah, mengapa semenjak kehadiran Lea di dalam kediamannya. Dia selalu merasakan raga di sebelah sisinya kosong. Dia terlelap sendirian tanpa dekapan kasih sayang, dan tangan yang mengelus perutnya.
Santi menoleh ke sisinya. Kiri dan kanan. Tidak ada sosok suami yang biasa akan mengulurkan tangan untuk membantunya duduk. Santi berusaha bangun sendiri, dengan perut besar yang terlihat membuat dirinya harus berupaya lebih keras. Akhirnya dia bisa bangun duduk, dan pandanganya pada sebuah jam dinding. Pukul 24.00 wib.
"Dimana mas dewa?" Santi menjilat bibirnya,dan merasakan haus akan penasarannya. Biasanya, dialah yang pergi menyelinap diam-diam hanya untuk menemui Bintan. Namun, suaminya akan selalu terlelap hingga fajar.
Santi meletakkan telapak kakinya di lantai. Mengenakan sepasang sendal tidurnya, dia pun keluar kamar, menuju ruang kerja Sadewa. Kosong. Ruang kerja itu hanya gelap dan gulita. Diapun menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati. Tangan kirinya mengelus perutnya. Tangan kanannya berpegang pada pagar tangga.
Setelah kaki Santi berpijak pada lantai ruang pertama. Dia mengedarkan sepasang matanya, dan sayup dia mendengar tukar tawa di dalam kamar tamu.
"Apa di kamar Lea?"
Santi mengikuti rasa curiga, berjalan menuju kamar. Kemudian, meletakkan telinga pada daun pintunya. Sepasang mata Santi histeris cemburu. Sayup-sayup dia mendengar.
"Oppa, jangan melakukan hal seperti itu. Pijatlah dengan baik."
Bagai rambut yang telah terbakar api cemburu. Santi mendorong pintu. Terbuka lebar dan suara, Brakk! mengejutkan dua sosok di dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan, mas?" Santi berteriak seakan menangkap basah perbuatan adik-kakak kandung tersebut.
Sadewa melepaskan tangan dari kaki jenjang Aprilia. Dia menoleh ke belakang, menatap Santi dan menjawab, "Aku sedang memijat kaki adik Perempuanku! Ada masalah denganmu?"
"Tetapi, bukankah terlalu int—"
Santi berhenti tidak melanjutkan kalimatnya. Serba salah menuduh.
"Intim?" lanjut Aprilia dan menurunkan kakinya berselongsor ke lantai.
"Kami masih sedarah. Untuk apa kau cemburu?"
Santi terlihat kecewa karena setiap matanya telah merekam tangan Sadewa. Baru saja dia melihat tangan pria itu turun dari memijat paha indah dan putih itu.
Sadewa berdiri dan mendekati Santi, dia turun berlutut, mensejajarkan kepalanya pada perut besar Santi. Sadewa menyapa sosok di balik perut membuncit besar itu, "Bayiku, apakah tidur nyenyakmu terganggu karena ulah ibumu yang beranjak bangun dengan bodohnya menuduh ayah dan bibimu. Cemburu yang berlebihan."
__ADS_1
Aprilia tersenyum tipis. Santi terlihat mematung konyol, dan Aprilia pun turun dari ranjang, bergerak mendekati Santi, dan dia pun menjatuhkan lutut, bersikap manis dan menyapa sosok kecil di dalam perut, "Bayi kecil. Cukup ibumu saja yang negatif think.Kau jangan. Mencurigai orang lain berlebihan adalah, dosa."
Sadewa menyembunyikan rasa gelinya. Sindiran demi sindiran datang menampar wajah Santi.
"Mas."— Santi mengarah pada Aprilia— "Lea."
Dua sosok di bawah wajahnya mendongak ke atas. Berpura-pura bodoh dan seperti anak kecil menatap ibunya.
"Berdirilah," pinta Santi kemudian.
Sadewa berdiri lebih awal, dan mengajak Aprilia berdiri pula.
"Beristirahatlah, istriku sayang," pinta Sadewa dan mengecup kening isterinya, "Tidak baik bergadang."
Santi mendongak, meraih pergelangan tangan Sadewa dan raut wajahnya terlihat memohon, "Mas, ikutlah bersamaku. Aku tidak berani tidur sendirian."
Sadewa mengelus rambut Santi, dan berkata, "Aku akan menyusul. Biarkan aku memiliki banyak waktu dengan Lea. Karena, aku sangat merindukannya. Aku bekerja sepanjang hari. Hanya memiliki waktu pada malam hari."
Santi menatap pada Lea. Wanita itu terlihat menaikkan satu alisnya, dan berkata, "Kakak ipar, kau jangan cemburu. Atau kau ingin duduk bersama kami. Tetapi, bayimu bagaimana?"
Santi tidak memiliki opsi lain. Selain segera mengundurkan diri untuk tidur. Menyimpan rasa cemburu yang tidak masuk akal.
Tidak mungkin mereka inseks! Mereka sedarah.
Santi pergi. Tangan besar Sadewa mendorong pintu, blam! dan klek! mengunci pintu kemudian.
"Kita adalah partner in crime. Tanpa perlu instruksi. Berjalan sesuai pikiran sama. Membunuh musuh yang sama, mas!"
Aprilia tersenyum merekah. Sepasang matanya berbinar cerah menjilat.
"Aku lebih menyukai sebutan Oppa. Daripada mas," lanjut Sadewa kembali.
Sadewa merangkul bahu Aprilia dan mendorongnya menabrak pintu dengan pelan.
"Kau makin pandai, sayang!" puji Sadewa.
"Bukankah aku belajar darimu. Manis dalam sikap, membawa pisau dalam lidah."
Sadewa mengangkat dagu Aprilia, "Seorang yang kejam. Hanya perlu di balas dengan cara bipolar. Membuat dia bingung,tak mampu menyerang, karena kita manis dalam sikap, ada pisau dalam lidah."
"Membual adalah trik cerdas membunuh musuh."— Aprilia merangkulkan lengannya pada leher Sadewa— "Oppa lah yang mengajariku soal cara menjerat leher musuh tanpa perlu tali milik kita sendiri mengikatnya."
"Musuhmu harus menjerat leher dengan talinya sendiri. Dosanya sendiri yang akan membuat dia sulit bernapas. Aib miliknya sendiri lah yang akan menjatuhkannya. Sejatinya, bangkai manapun akan terendus suatu hari."
__ADS_1
"Kau iblis!" komentar Aprilia terlihat takjub.
Cup! Sadewa mengecup kening Aprilia, dan berbisik, "Berbohong jangan sampai ketahuan. Karena, seorang prajurit di medan perang, akan mati terpanah, jika meletakkan senjatanya begitu saja. Berjuanglah sampai darahmu habis. Tidak perlu berkata jujur untuk orang jahat."
Aprilia tersenyum kaku. Dia teringat akan setiap kebohongannya pada Sadewa.
Aku akan terus menjaga rahasiaku. Karena, kebohongan itulah senjataku untuk memenangkan hatimu. Bersikap manis adalah caraku mencuri jantungmu. Membual adalah siasatku untuk menenggelamkan pikiranmu. Dua kali aku telah mengambinghitamkan orang lain, soal anak dalam perutku.
Sadewa memiringkan kepalanya, dan memakan bibir merah muda tipis, dengan tahi lalat kecil yang menjadi khas di ujung bibir kiri atas Aprilia.
Aprilia diam menerima rakusnya bibir Sadewa, dan lidah Sadewa bergerak menyentuh setiap dinding mulutnya, dan melilit lidahnya.
Akhirnya Aprilia mampu mengenali sosok pria di depannya, iblis dalam wujud manusia, dan dia harus berhati-hati untuk mempercayai pria tersebut. Aprilia teringat akan apa yang telah di ajarkan Ade untuknya.
Belajarlah dari Genghis Khan yang pernah berkata padaku, 'Remember, you have no companions but your shadow.'
Aprilia memejamkan matanya. Pikirannya berkeja memberitahunya.
Aku hanya bisa mempercayai bayanganku sendiri.
Aprilia membiarkan raganya kembali terdorong di atas kasur, dan membalas setiap perlakuan Sadewa di dalam mulut pria itu, dan tiba-tiba sepasang mata Aprilia membola waspada. Dia segera mendorong Sadewa. Kala, pria itu menginginkan lebih.
"Oppa, jangan melakukan itu! Ingat menjadi perawan kembali. Bukan soal harga. Namun, proses sakit yang harus ku tahan. Kau ingin mengoyaknya! Aku tidak mengijinkannya."
Sadewa menahan napas.
"Kau berani berkata tidak?" Sadewa menyipitkan tidak senang.
"Aku harus menikah dengan orang lain dulu. Baru, aku mampu kembali pada mantan suamiku. Bagaimana dengan suamiku kelak? Jika dia mengetahui seorang status gadis, telah tidak perawan. Hal itu konyol! Lea itu seorang gadis yang belum menikah. Cukup Aprilia yang janda!"
Aprilia memalingkan wajahnya. Menghindari tatapan Sadewa yang terlihat menjilat napsu.
Sadewa turun dari ranjang. Klek! Memutar kunci. Kreet! Membuka pintu! Blam! Pintu terbanting keras. Pria itu meninggalkan kamar.
Aprilia hanya terkekeh, "Dia marah, aku tidak perduli. Aku hanya ingin terus jual mahal."
Aprilia tersenyum, "Seorang pria baik itu terlihat dari napsunya. Jika mampu mengontrol napsu. Bukankah dia mampu mengontrol perbuatan lainnya."
Aprilia kembali melanjutkan tidurnya.
...꧁❤Pelet Janda Penggoda❤꧂...
...Hello Oppa Dewa nakal yah - Iblis banget deh. Tenang Aprilia sekarang bukan yang dulu lagi. Dia bukan babu jelek yang bodoh. Tetapi, dia adalah Srikandi 😂...
__ADS_1
...Hai semua nya tolong donk klik ava Jeje dan pilih cerpen terbawah judul "Tidak bisa bedakan" bantu kasih like dan komentar, sumbangan lah buat karya dadakan author. Mohon dukungannya yah 🥰🥰🥰🥰🥰...