
...Karma itu akan singgah pada setiap orang yang masih hidup. Karma bukan hanya untuk setiap yang jahat....
...—Eouny Jeje—...
...Anggap saja ini adalah harga yang harus ku bayar, karena telah datang terlambat di hadapanmu....
...—Aprilia—...
...꧁❤•༆PJP 63༆•❤꧂...
Satu Bulan Kemudian ...
Aprilia berjalan di antara rak-rak minimarket. Tangan ramping bewarna perunggu itu mengambil satu pembalut yang berjejer di rak.
"Seharusnya aku telah datang bulan kembali. Mengapa telah telat dua hari? lebih baik bersiaga sebelum cairan merah itu datang."
Aprilia meletakkan pembalut pada keranjang belanja miliknya. Lalu, dia melanjutkan kembali berbelanja bulanan yang di tugaskan Ratih untuknya. Wanita tua itu cukup baik padanya,dan rela berbagi kamar yang sama dengan Aprilia. Tujuannya tentu saja untuk mengawasi agar Sadewa tidak pernah mengunjungi Aprilia lagi. Pengaturan seperti ini, awalnya di tentang keras oleh Sadewa. Namun, Ratih dan Aprilia telah bertukar peran berbagi lakon untuk menakuti Sadewa.
Jika kau tidak menyetujui pengaturan yang aku buat. Aku akan memberikan obat penggugur kehamilan pada Aprilia. Jika tetap hidup pun, dia tetap lahir cacat.
Ancaman wanita tua itu pada Sadewa kembali terbesit pada benak Aprilia.
"Ancaman nenek Tua itu berhasil menakuti mas Sadewa, dan tubuhku bebas dari jamahannya sebulan ini." Aprilia tertawa konyol tanpa suara pada rak di hadapannya.
Setelah selesai mengambil semua item yang sesuai catatan Ratih. Mengantar ke meja kasir dan selesai membayarnya,Aprilia segera pulang.
Pukul 16.00 Wib
Aprilia baru mencapai rumah Santi. Aprilia mengerutkan dahinya, suasana rumah tampak sepi melompong.
"Tumben," ragu Aprilia yang segera melangkah masuk. Baru saja melangkah melewati garis pintu. Satu tangan besar merangkul perutnya dan napas berat terdengar di belakang telinganya. Blam! Pintu kemudian terhempas begitu saja.
"Mas Dewa," tebak Aprilia yakin akan aroma musk yang selalu di gunakan pria ini.
"Aprilia aku merindukanmu.Sebulan ini aku sangat menderita."
Kantongan belanja terlepas begitu saja dari tangan Aprilia. Isi kantong berserak keluar. Pembalut wanita menjadi sorotan pertama Sadewa.
"Pembalut milikmu?" Sadewa melepas rangkulannya.
__ADS_1
Aprilia menjulingkan matanya sebentar, seakan dia teringat sesuatu. Bukankah sekarang dia harus berakting hamil? Namun, janin dalam perut itu, telah di makan oleh Nenek Mayang.
"Katakan sesuatu padaku Aprilia. Apakah itu milikmu atau milik Santi?"
Seharusnya jika ini adalah kehamilan awal milik Sadewa. Seharusnya sudah empat atau masuk lima bulan. Perutku tidak kunjung besar. Bagaimana jika dia menyadari bahwa anak dalam perutku sudah tidak ada? Tetapi bukankah aku tampak telat datang bulan beberapa hari. Bisa saja,aku hamil kembali. Tetapi, usia kandungan tidak bisa membohongi Sadewa.
"Mengapa kau terlihat memikirkan sesuatu yang sangat rumit. Apakah terjadi sesuatu pada anakku?"
Sepasang mata Aprilia indah membola tiba-tiba berembun kecil yang mulai terlihat menggenangi sudut matanya. Tidak menunggu lama, satu tetes embun jatuh ke pipinya.
Bug! Sadewa melepaskan tinjunya menabrak pintu di belakang kepala Aprilia. Raut wajah Sadewa nelangsa biru terpampang jelas menakuti Aprilia.
Aku hanya bisa berbohong. Tidak mungkin aku berkata soal anak dalam perutku saat itu telah di makan nenek Mayang.
"Mas, jangan se--dih. Anggap sa-ja i-ini a--dalah harga yang harus ku bayar bayar, karena aku da-tang terlambat di ha-dapan-mu." Suara Aprilia terdengar sangat bergetar.
"Tidak!" Sadewa meringis dengan sepasang mata yang berkaca. Dia telah kehilangan anaknya. Saat ini, dia sangat berduka.
"Mengapa kau tidak mengatakannya?"
Aprilia menutup matanya dan hanya mengenakan topeng kesedihannya, dan berkata mengundang hasrat pria di depannya, "Jangan sedih mas. Kita hanya perlu berdoa,dan berharap di titipkan kembali seorang anak untuk kita."
Dup! Aprilia menelan ludahnya. Baru saja dia akan melepas rangkulan pria di belakangnya. Pria itu lebih dulu menyeretnya mundur ke kamar tamu.
Blam! Pintu terkatup rapat. Klek! Klek! Anak kunci berputar dua kali.
"Mas, ingat ancaman mertuamu. Jika kita ketahuan. Mungkin dia akan memanggang ku dalam api, mas."
Aprilia melotot menolak untuk melayani suami kedua. Dia merasa begitu nyaman dengan kehidupan sebulannya ini, seakan dia menjadi bayi polos lagi. Dia tidak harus bersikap seperti wanita yang terjebak melayani nafsu yang bukan datang dirinya. Hanya melayani nafsu pria, yang tidak pernah dia cintai.
Sadewa hanya tersenyum licik dan melepas pakaian miliknya sendiri.
"Mas, aku takut pada Nyonya Ratih!"
"Mereka telah aku perdaya dengan obat tidur. Mereka tidak akan bangun selama satu hari penuh."
Aprilia membola terkejut.
"Mas, itu bahaya untuk Nyonya Ratih, dia sudah tua. Kau beri obat tidur."
__ADS_1
"Diapun jahat padaku. Cepat atau lambat istana dan segala isi mertua itu, akan menjadi milikku," ujar Sadewa seraya merangkak naik ke ranjang, dan dalam satu kali tarikan membawa Aprilia jatuh turun ke atas ranjang.
"Mas!" Peringat Aprilia.
Sadewa menyipitkan matanya.
"Kau bisa di buat miskin dan gelandangan oleh Nyonya Ratih dan isterimu!"
Sepasang mata Sadewa seakan menampiki hal itu,dan dia mendengus, "Aku telah memiliki ide untuk menyingkirkan mereka berdua. Aku akan mengirimkan neraka. Kematian untuk Ratih, mertua yang telah mencabut nyawa anakku. Kemudian, untuk Santi,aku akan membuatnya seperti pembantu di dalam istananya sendiri."
Aprilia melongo sebentar akan rencana pria di depan matanya, "Apa kau yakin?"
"Tunggu saja. Dalam waktu yang cepat, kau akan menjadi nyonya dalam rumah ini. Asal, kau segera memiliki anak lagi bersamaku,Aprilia."
Sadewa terlihat marah dan murka. Kilatan matanya terlihat bagai api yang berkobar. Api yang membakar Santi dan Ratih.
Aprilia hanya bisa pasrah dengan belaian datang lagi padanya. Setiap pakaian miliknua Cumbuan-cumbuan pria itu seperti singa rakus yang telah kelaparan begitu lama. Menjatuhkan Aprilia berkali-kali akan rasa terkoyak-koyak akan sentuhan dan cumbuan yang tidak dia inginkan. Terkadang dia sengaja, meninggalkan hasrat pria itu dengan tidur secepatnya. Namun, pria itu tidak pernah mengijinkannya untuk tidur selain jatuh pingsan karena kelelahan.
Suara kokok ayam samar-samar terdengar telinga Aprilia saling bersahutan dengan suara dengkur yang sangat keras. Aprilia masih jatuh lelah dalam tidurnya, memaksa matanya untuk segera terbuka lebar. Dia memalingkan wajahnya segera kala dia menemukan wajah pria paruh baya yang terlelap, dan menjengkelkan hatinya.
"Tidur ngorok setelah mengerjai ku!" Apriloa bangkit kesal berdiri, segera mengenakan seluruh pakaian miliknya. Dia akan melangkah keluar dan mengendap masuk pada kamar Ratih. Namun, dia mengurungkan niatnya kembali. Jika meninggalkan Sadewa dalam keadaan seperti itu, bukankah hanya menciptakan api pada minyak yang mereka tabur sepanjang malam.
Aprilia kembali ke sisi ranjang, dan bergerak membangunkan Sadewa.
"Mas, bangun."
Pria itu mengerjakan matanya. Namun, mendengar suara Aprilia yang membangunkannya bukan suara Santi, wajah pria itu segera melunak dan tersenyum manja.
"Ada apa istriku?"
Aprilia mendengus. Napas berat itu terdengar jelas bersiap mengeluh.
"Jangan pikirkan aku. Pikirkan istri pertamamu itu. Di saat seperti ini, kita harus kembali ke kamar masing-masing. Jangan sampai, apa yang telah kita lewati akan menjadi gelandangan yang berjalan tanpa pakaian oleh mereka."
"Itu tidak akan terjadi," tepis Sadewa dengan mata berkilah marah kembali. Teringat akan anaknya yang telah gugur, seakan guntur akan siap dia ledakkan pada Ratih dan Santi.
...꧁❤•༆PJP 63༆•❤꧂...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo