
...Jika berbohong itu manis,lanjutkan....
..._Eouny Jeje_...
...Apa yang bisa aku jawab? Jika sudah ketahuan berbohong seperti ini. Tidak ada, selain hanya meminta kasihan dengan air mata....
..._Aprilia_...
...꧁❤༆PJP 84༆❤꧂...
Pelupuk mata Aprilia terbuka perlahan. Samar aroma minyak kayu putih membuat rasa pusing mulai memudar. Kepalanya berat perlahan terasa ringan, dan bayangan gelap di sisinya mulai terlihat jelas. Santi di kiri. Sadewa merangkulnya di kanan.
Pandangan Aprilia bergeser ke belakang tubuh Santi. Dia segera terkesiap dengan pandangan di belakang tubuh Santi. Rumah sakit.
"Mau kemana?"
"Kau pingsan. Baru bangun! Mari kita periksa, anak di dalam perutmu!"
"Periksa kandunganmu," timpal Santi penuh intonasi.
Aprilia tercengang. Seakan dia telah mengerti bagaimana dirinya telah di jebak dalam rencana Santi.
"Aku baik-baik saja, Mas!"
Klek! Sadewa membuka pintu mobil. Tangannya meraih tangan Aprilia dengan lembut, "Kita periksa anak dalam perutmu,kita belum pernah USG semenjak satu bulan terakhir."
Raut Aprilia panik seketika. Santi terlihat menelan senyum di dalam mulutnya.
Deg! Jantung Aprilia terpanah. Kosong. Dia tidak kuasa untuk menolak ajakan turun dari mobil. Aprilia menoleh ke belakang, terlihat Santi mengikuti. Namun, pandangan mata Santi terlihat berkilat senang, seakan dia melihat jebakan sukses menangkap kaki kelinci.
Aprilia membisu. Dia hanya menurut kala di minta berbaring. Ada wajah harap cemas Sadewa di belakang seorang dokter yang memegang alat USG.
Gel dingin di oleskan di atas perut Aprilia. Kala alat USG menyentuh perutnya, jantung Aprilia makin berlari, dup-dup-dup! Gugup dan telapak tangan bergetar dingin.
Dokter terlihat memincungkan mata menatap monitor. Dup! Jantung Aprilia lepas kendali, meledak seketika kala dokter bersiap membuka mulutnya.
"Dokter, bayinya baik-baik saja kan!"
Dokter memandang wajah Aprilia dan Sadewa bergantian.
"Tentu saja baik. Janin itu masih kecil. Kita doakan sehat selalu!" tambah Santi.
Aprilia menoleh ke kiri, menatap Santi yang terlihat piawai menambah api lebih besar.
Sang dokter mengenakan raut menyesal. Sadewa makin heran. Sedari tadi dia memandang USG 4D itu. Biasanya dia bisa melihat cikal bakal bentuk dan porsi tubuh janin. Namun, hari ini diapun merasa heran. Hanya kegelapan layar yang dia lihat.
Dup! Sadewa cemas.
"Sepertinya, janin itu tidak ada! nyonya ini,"—melihat ke arah Aprilia—" Sedang tidak sedang hamil!"
__ADS_1
Sadewa mengerutkan alisnya, "Tidak mungkin. Sebulan yang lalu. USG anakku masih ada."
Sadewa kosong sebentar. Dia teringat dengan lembar USG yang kerap di koleksinya. Dia segera berlari ke mobil. Lalu, masuk kembali tergopoh-gopoh dengan membawa lembar USG dalam tangannya. Tangannya gemetar membawa lembar USG, "Bisakah periksa kembali?"
"Dengan teliti," pinta Sadewa memohon.
Aprilia nanar detik itu juga. Dia menitikkan air matanya. Bagaimana melihat rupa Sadewa cemas,dan penuh harap.
Apa yang bisa aku jawab? Jika sudah ketahuan berbohong seperti ini. Tidak ada, selain hanya meminta kasihan dengan air mata, ujar Aprilia nelangsa dengan banyak raut ekspresi kesedihan Sadewa menjadi momok rasa bersalahnya.
"Mas, apa Aprilia telah keguguran?"
Sadewa berpaling pada Santi sebentar. Lalu, menoleh lemah pada Aprilia,"Apa keguguran lagi?"
Aprilia hanya mengurai air matanya lebih banyak. Raganya kaku terlentang. Tidak bisa bangun. Dia ingin seseorang menusuk jantungnya saat ini. Air muka Sadewa terlihat surut air matanya. Namun, emosinya terlihat jelas seperti gunung yang akan meletus.
"Mengapa kau tidak berkata apapun tentang masalah ini? Mengapa kau sembunyikan?"
"...." Bibir Aprilia menjadi sangat keriting. Air matanya jatuh makin banyak. Banjir memenuhi wajahnya kini.
"Tidak mungkin Aprilia tidak menyadari dirinya telah keguguran, bukan dalam darah, sudah membentuk daging," timpal Santi.
Aku sudah berbohong satu kali. Tidak mungkin, aku mengucapkan kebohongan yang sama lagi. Dulu, aku menyebutkan keguguranku atas nama Ratih! Tidak mungkin, aku mengarang cerita karena Santi apalagi aku telah di sudutkan seperi ini.
Santi mendekat sisi ranjang. Menyeka air mata Aprilia, "Apa kau melakukan aborsi diam-diam?"
Sadewa tercengang. Lembaran foto USG jatuh ke lantai. Berserak jatuh dari tangan besar yang bergemetar dingin dan marah.
Nana menendang perutku hingga janin itu mati. Nenek Mayang memakannya, mas! Apa kau akan percaya setiap kataku?
"Aprilia buka mulutmu?" tegur Santi, dan memberi instruksi pada Dokter, "Apakah Dokter mampu memeriksa keguguran itu alami atau tindakan sengaja!"
Deg! Aprilia cemas.
"Dokter, bantu aku periksa," mohon Sadewa dengan tangan bergetar pada pria tersebut.
"Apakah ibu setuju di lakukan pemeriksaan?"
"Jika tidak setuju. Berarti Aprilia telah mengalami Aborsi yang ilegal! Janin mana mungkin bisa hilang sendiri"
Aprilia kehilangan setiap katanya. Dia tidak mampu membela dirinya lagi. Dia di sudutkan bagaikan tikus yang akan siap di makan kucing pemangsa. Menjerit. Aprilia hanya bisa menjerit dalam hatinya.
Maafkan aku, mas. Aku yang bersalah. Aku telah menyia-nyiakan bayi kita.
"Kau ijinkan dokter memeriksa, ya kan Aprilia?"
Aprilia tidak memiliki pilihan lain. Dia hanya mengangguk menyetujui. Selanjutnya, dia pun melihat gorden putih membatasi dirinya dengan Sadewa dan Santi. Terlihat Dokter dan Suster yang berdiri di hadapannya, dan meminta kakinya untuk mengangkang.
Aprilia menarik napasnya,dan menghembuskan dengan pelan dan teratur, mengikuti instruksi Dokter yang terlihat teliti dan memeriksa. Alis Dokter terlihat bertaut tajam,sepasang matanya menyipitkan melihat organ genital tersebut terlihat mengalami kekerasan dari luar. Tidak ada jahitan di sana. Namun, luka cukup terlihat jelas masih membekas. Luka itu bahkan terlihat baru mulai sembuh sendiri.
__ADS_1
Sang Dokterpun menarik napas. Lalu, dia mengundurkan diri dan keluar dari gorden pembatasnya. Sadewa yang cemas segera berdiri.
"Bagaimana Dokter?"
Sang Dokter menarik napas,dan hanya lirih menjawab, "Aborsi bukan terjadi secara alami!"
Duar! Seakan petir menembak kepala Sadewa saat itu juga.
Grettt! Suara gorden berderit. Seakan tirai itu akan di robohkan dan di jatuhkan. Aprilia baru saja duduk bersiap turun menginjak lantai di kejutkan dengan sepasang mata merah yang kini menatapnya, dengan kebencian berselubung.
"Apa yang kau lakukan?"
Aprilia menelan isaknya. Kerongkongannya seakan berusaha menelan batu masuk ke dalam dadanya. Mengapa tatapan mata tajam Sadewa malam ini terlihat bagai orang mati? Harapannya akan seorang anak itu telah menguap ke udara begitu saja! Apalagi penyebabnya adalah aborsi yang sengaja.
"Apa yang kau lakukan?" Sadewa meremas kain selimut yang menutup sebagian kaki Aprilia.
"Aborsi dengan hati nurani?"
"Mengapa kau membuangnya?"
"Apakah dia yang belum bertumbuh itu menyakitimu?"
Aprilia terisak kembali. Satu demi satu peluru bersarang di dadanya. Setiap pertanyaan itu, tidak akan pernah mampu dia lontarkan jawabannya.
"Ada apa denganmu?"
"Apakah aku kurang baik padamu?"
"Aprilia, sudah aku katakan. Jika aku tulus mencintaimu. Sebagai ibu dari anakku!"
Sadewa menutup hidungnya. Meredam suara isak miliknya. Dia berjongkok jatuh perlahan seperti seorang anak kecil. Mendung sekali hatinya.
"Mas, sudah! Jangan seperti ini lagi," bujuk Santi memeluk dengan kepala yang bersandar pada punggung pria itu.
Sadewa merengek seperti anak kecil di dekat kaki ranjang. Berdiam lama di sana menangis tersedu-sedu. Seakan dia telah melihat tubuh kecil yang menjadi dambaannya itu. Namun, telah mati dalam pelukan ibunya.
"Tega! Tega! Tega sekali!" Sadewa memukul kaki ranjang berkali-kali dan membawa sakit dalam tinju yang tiba-tiba memukul setiap ubin keramik, melukai tangannya dan dia menatap Aprilia dengan wajah sangat berduka,dan bibir itu bergetar kuat.
"Saya ceraikan kamu, Aprilia!"
Aprilia kaku bergetar pilu. Dia memandang ujung sepatunya, dan memandang Santi kemudian.
Santi terbahak tanpa suara dengan wajah tidak berdosa yang dia tunjukkan pada Aprilia.
Rasakan kau!
...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...
...Lebih baik menjadi Janda aja yah Aprilia, daripada bertahan dalam rumah tangga denga Sadewa, isinya pura-pura cinta ✌️...
__ADS_1
...Akhirnya menetaplah hati Aprilia mengejar Si Kojeck!...
..."Lebih baik nggak usah nikah lagi, jika bukan dengan orang yang kucinta. Kojeck!"...