Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 11


__ADS_3

Aprilia menggulung lengan bajunya dan mulai memegang ganggang setrika dan menyetrika satu lembar demi lembar pakaian milik Puspa, dan Dimas membantu memasukan ke dalam koper, menyusun rapi setiap pakaian yang sudah terlipat rapi ke dalam koper Puspa.


"Bu, apa Mak lampir Nana akan lama berlibur?"


"Ssttt! Jangan menyebut Nona rumah seperti itu," tegur Aprilia dengan punggung tangan menyeka keringat di kepalanya.


"Dia seperti Mak lampir, Bu. Kenapa ibu diam aja kala dia semena-mena. Bukankah ibu mengajarkan, bahwa kita harus melawan setiap orang yang tidak adil pada kita."


Aprilia meletakan setrika pada bagian besi putih papan setrika. Dia mematikan setrika, memutar ke posisi Off, dan barulah dia mencabut kabel setrika dari colokannya. Dia turun menekukan lututnya, menyamakan kepalanya setara dengan kepala anaknya.


Aprilia memeluk tubuh mungil anaknya, dan menumpukan dagunya pada pundak puteranya,dan berbisik, "Ini adil anakku. Kita bekerja untuk mendapat tempat tinggal, dan makan."


"Tetapi, ibu. Mak lampir, tidak iklash memberi. Dia jahat."


"Ssst! Di dunia ini, kita tidak selalu bisa menebak nasib, apakah akan bertemu orang jahat ataupun orang baik. Jalani saja, selama masih bernapas."


Dimas menganggukan kepala. Lalu, Aprilia meletakan pakaian lainnya yang telah terlipat, masuk ke dalam koper.


"Sudah selesai?" tanya Puspa yang datang dengan glamornya pada pagi hari. Dia terlihat sangat cantik,dengan aura yang sangat memikat. Bahkan sinar bulan di bandingkan, akan kalah dengan pesona pagi Puspa.


Aprilia menganggukan kepala setelah Puspa berjalan dengan menyenggol bahu Aprilia, "Kau jangan terpesona padaku. Kau wanita. Aku wanita."


Aprilia menelan ludahnya. Dia hanya merasa kecantikan Puspa terlihat sangat memikat dan membiusnya, Sepertinya sihir Puspa bukan hanya untuk pria. Namun, membuat semua wanita takluk memuja pula. Ih, mengerikan ...


"Aku akan pergi selama dua bulan. Honeymoon dengan Om Dandy sekaligus mengurus bisnisnya di sana. Jangan lupa, jaga rumahku dan rawat rumahku. Ini jajan kalian selama aku pergi."


Aprilia menatap uang satu lembar bewarna merah di atas meja makan, Hanya seratus ribu untuk dua bulan. Bagaimana cukup?


Puspa tersenyum miring seakan mengetahui arti kening berkerutnya Aprilia, dan raut yang terlihat nelangsa linglung, "Kau ingin bilang ini tidak cukup! Bersyukurlah aku masih memberi sedikit uang! Sisanya karena mikir sendiri. Yang bisa menolong dirimu keluar dari kesulitan adalah diri sendiri. Contohnya, aku lahir yatim piatu berasal dari panti asuhan. Memperoleh segala ini, bukan karena orang lain. Namun, karena diri sendiri. Jika kau selalu mengandalkan orang lain, kau hanya akan terus seperti ini. Sangat miskin!"


Aprilia mendongakkan kepalanya sebentar di saat itulah Puspa membalikkan tubuhnya keluar, dan meninggalkan rumah. Memasuki mobil Sport hitam, yang dikendarai langsung oleh Dandy.


"Ibu, kita bebas tinggal tanpa gangguan mak lampir."

__ADS_1


"Iya, nak!"


Aprilia menarik garis senyum melengkung sempurna. Entah mengapa hatinya pun merasa sangat lega, Puspa meninggalkan rumah selama dua bulan. Setidaknya, selama Puspa pergi, dia boleh menjadi ratu sementara. Walau harus mencari uang untuk makan.


Dring! Dring! Ponsel buntut Aprilia berbunyi dan bergetar dalam saku dasternya. Dia segera merogoh, dan sang penelpon adalah Puspa. Dia segera mengangkat teleponnya.


"Heh! Jika kau terjepit uang. Jangan menjual diri di rumahku yah! Nanti rumahku menjadi menjijikkan. Om Dandy akan menyuruh seseorang memasang CCTV di rumahku, besok pagi!" Lalu, bunyi tuttttttt terdengar panjang. Telepon telah di matikan.


Siapa juga ingin menjual diri. Semalam aku hanya terpaksa. Kau memaksaku! Aku kan bukan wanita murahan! Aku janda baik-baik. Tidak seperti dirimu, wanita single berhati busuk, keluh Aprilia dalam hatinya. Dia pun segera mulai membereskan rumah dari debu, mengepel rumah dan menata ulang kembali rumah. Hanya kamar Puspa, yang belum dia masuki.


"Aku harus minta ijin lebih dulu," pikir Aprilia lalu merogoh ponselnya dari saku dasternya. Belum saja dia akan menghubungi Puspa, satu panggilan dengan nomor fixedline asing menghubunginya. Aprilia segera mengangkatnya.


"Halo, selamat pagi," sapa Aprilia.


"Selamat pagi, berbicara dengan ibu Aprilia Permata Indah."


"Iya, saya sendiri."


"Saya Bapak Aswin Mahendra Manager HRD PT. Global Kosmetik Indonesia, mengundang ibu untuk sesi wawancara. Jika berminat datanglah hari ini pukul dua siang."


Panggilan teleponpun berakhir. Aprilia ingat dia telah melamar kerja sebagai staf pembantu dalam PT.Global kosmetik Indonesia. Jam dua siang adalah sesi wawancara. Aprilia mulai bingung akan pakaian apa yang di pakai.


"Harus tampil rapi dengan baju yang bagus," ujar Aprilia yang bingung kemudian, "Hanya meminjam baju Nana, aku bisa kesana. Meminta ijin, pasti tidak akan di berikan. Baiklah, aku hanya meminjam diam-diam, dan akan mengembalikannya kembali seperti posisi semula."


Aprilia menghela napas, dan mulai melakukan panggilan untuk Nana yang terlihat sudah berada di Bandara, dengan tangan yang mengapit erat Dandy.


Panggilan tersambung.


"Ada apa, babu jelek?" sambut Puspa sarkas dan terdengar tertawa terbahak di seberang sana.


Aprilia menghela napas, ingin rasanya dia membalas memaki. Namun, hanya mampu menyimpan amarah di bawah kakinya. Jika dia memaki, maka dia dan Dimas akan kehilangan tempat tinggal.


"Apakah kamar Nona, boleh di bersihkan?"

__ADS_1


"Tentu saja! Bersihkan dan rapikan!"


"Baik."


"Tetapi, jangan berani-berani kau membuka laci lemariku paling bawah. Jika kau berani, maka aku akan menjual anakmu!" ancam Puspa.


Aprilia menghela napas, dan ingin rasanya dia segera mencekik leher wanita yang baru di kenalnya. Mulutnya bak anjing yang mengigit jantung dan tulang paru-paru. Rasanya sangat sakit di dada.


"Tidak akan berani menyentuh, nona."


"Pintar. Bye!"


"Tunggu," cegah Aprilia agar panggilan tidak terputus begitu saja.


"Ada apa?"


"Mulai besok, aku akan bekerja di perusahaan. Jadi ...,"


"Silahkan. Asalkan rumahku tetap bersih, dan anakmu tidak mengacaukan rumahku."


Panggilanpun berakhir.


"Syukurlah, dia tidak melarangku bekerja." Apriliapun segera memberikan ponsel pada Dimas,agar bermain game. Dia pun mulai berjalan memasuki kamar Puspa. Dia langsung menuju lemari, "Aku harus menggunakan baju yang bagus untuk wawancara."


Aprilia membuka pintu lemari. Banyak gaun mahal bergantungan indah. "Tidak cocok untuk interview." Aprilia mulai mencari potongan pakaian yang terlihat formal. Lama mencari, akhirnya dia menemukan kemeja biru muda, dan rok span.


"Semoga muat," harap Aprilia menutup lemari. Dia pun mulai membersihkan kamar Puspa. Mengganti kain gorden menjadi kain gorden bewarna yang lebih lembut. Diapun mengganti sprei dengan warna yang lebih cerah dengan motif sakura. Kemudian, barulah dia menyapu dan mengepel lantai kamar.


Setelah selsai, dia menyeka keringatnya. Bersiap untuk mandi dan wawancara kerja. Namun, belum saja dia menutup rapat pintu kamar. Hati kecil terketuk penasaran dengan laci lemari terbawah milik Puspa.


"Mengapa dia melarangku membuka laci itu? Apa isinya?"


......................

__ADS_1


Bersambung ..


__ADS_2