Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 120


__ADS_3

...Hal yang paling mengerikan di lakukan lidah adalah Salah Tafsir! Salah Tafsir dan di gosipkan! Salah Tafsir yang menjadi Fitnah identik dengan kebohongan yang tersebar luas....


..._Eouny Jeje_...


...Lie is sweet! Berbohong itu manis! Virus Lie!...


..._Aprilia_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aprilia kembali ke kamar. Sadewa terlihat sudah bangun terjaga. Dia mengangkat kedua alisnya mengerutkan keningnya, menatap Aprilia yang baru melewati garis pintu.


"Sayang, wajahmu suram sekali," tegur Sadewa.


Aprilia berjalan kian mendekat. Duduk di ranjang, dengan kepala yang bersandar pada pria itu. Dia merangkul pinggang rata pria itu.


"Oppa! Santi mulai mencurigai diriku. Dia menyebutku sebagai Aprilia, dia menyebutku mencuri dari semua yang telah dia beri, padahal dia lah yang memberikannya," papar Aprilia dengan nada rendah,dan Isak bercampur di dalam tangga nada suaranya.


Sadewa mencium kening Aprilia. Merebahkan wanita itu ke sisi kirinya, dan diapun berpaling naik merangkak di atas tubuh Aprilia. Sadewa terlihat tidak perduli pada cerita Aprilia mengenai Santi. Yang dia perdulikan adalah hasratnya pada wanita di bawah tubuhnya.


"Oppa, kau tidak mendengar keluhanku?" Aprilia menahan dada pria itu, memberi jarak agar tubuh pria itu tidak lengket jatuh padanya.


"Dengarkan hasratku. Aku ingin itu!"ujar Sadewa memberi isyarat dengan matanya, dia menginginkan percintaan dengan meleburkan hasrat yang telah lama tertunda.


Aprilia menggelengkan kepala, "Jangan kau yang menjadi perdana. Ini akan sangat memalukan. Jika aku ketahuan tidak perawan kembali!"


Aprilia meletakkan telunjuknya pada bibir Sadewa, "Ingat aku tidak ingin operasi di situ lagi. Jika aku melakukannya berkali-kali, apakah aku harus operasi otak."


Sadewa terlihat tidak perduli. Dia memiringkan wajahnya akan menurunkan bibirnya menyentuh bibir Aprilia.


"Arrrgh!" Terdengar suara Santi yang berteriak melolong dari lantai bawah.


Deg! Jantung Aprilia terkejut. Tidak kalah teepacu dengan jantung milik Sadewa. Aprilia segera mengangkat kelopak matanya, "Istrimu berteriak!"


"Tidak perduli!" jawab Sadewa.


"Mungkin dia akan melahirkan."


"Bukan anakku!"


Aprilia menjulingkan matanya, "Ingat status kita adalah adik kakak. Bagaimana jika Santi naik ke atas dan melihat tubuhmu di atas tubuhku?"


Sadewa membalikkan badannya ke sisi ranjang.


"Aaaaaa tolooong!" teriakan Santi terdengar melolong keras lebih banyak.


"Kau tidak menolongnya?"


Sadewa menggelengkan kepala, "Biarkan dirinya sakit sendiri!"


"Oppa, kau masih suaminya."


"Itu di kertas. Aku adalah suami di atas ranjang untukmu. Sementara, aku harus mengalah untuk perusahan lebih besar lagi. Status kita adalah adik kakak di depan publik. Kau adalah Mimi di atas ranjangku."


"Mimi pipi?" Aprilia terdengar sungkan mengucapkan dua sebutan baru itu.

__ADS_1


"Ya, kau adalah Mimi bagiku. Kau boleh memanggilku Pipi kapan saja, setelah kita mengambil alih penuh kekuasaan Asia."


Aprilia menahan napas.


"Tengoklah istrimu. Jika berakting harus sebagus mungkin. Tetaplah baik pada istrimu, dan berlakulah sopan pada adikmu."


Aprilia membenarkan posisi duduknya. Dia segera duduk di tepi ranjang, dan sepasang alisnya menukik tajam, "Di depan publik kita adalah sedarah. Darah yang sama. Darah dari negeri Jiran."


Sadewa tersenyum tipis.


"Aku tau!"


"Jadi pergilah kepada isterimu!"


"Aku akan menceraikannya!"


"Menurutku jangan sekarang. Saham perusahaan milikmu sedang turun karena perselingkuhan isterimu. Jadilah, seorang pemimpin yang terlihat mencintai isterinya. Dengan begitu, publik bukan hanya mempercayakan uangnya. Namun, juga ikut menitipkan doa akan kesuksesanmu kelak."


Sadewa bangkit, dan melambaikan tangan, "Baiklah. Aku akan turun melihat isteriku!"


Sadewa melangkah pergi. Aprilia segera memperbaiki setiap tombol kemeja tidurnya.


"Lain kali. Aku tidak akan memasuki kamar seorang singa."


Aprilia turun dari ranjang, dan tanpa sengaja dia melihat sebuah miniatur Menara kembar di atas meja Sadewa.


"Sepertinya aku harus berkunjung pulang ke Malaysia. Lagipula, di sanalah negeri ayah khayalanku berada."


Aprilia tersenyum mengambil ponselnya dan memesan penerbangan pertama kalinya untuk pergi ke Malaysia.


Namun, belum saja Aprilia menekan tombol pembelian pesawat. Ponsel Aprilia jatuh ke pangkuan kakinya. Derap kaki yang tergesa masuk ke kamarnya.


"Santi mengeluarkan banyak darah. Panggil ambulance! Mari melihat dia."


Aprilia menghela napasnya. Ikut turun ke lantai pertama. Karena, keadaan Santi yang tidak sadarkan diri, Sadewa meminta Aprilia berjaga. Sadewa pergi akan menyiapkan mobil. 


Aprilia berdiam diri di dalam kamar yag sangat gelap. Bagi Sadewa, hanya terlihat Santi yang berbaring di ranjang dengan banyak darah yang mencoret sprei yang membungkus kasur. Namun, bagi Aprilia dia melihat sosok Nenek Mayang sedang menjilati setiap cairan merah itu. Aprilia terlihat tegang menonton bagaimana Nenek Mayang yang terlihat kasat mata sedang merangkak di atas ranjang milik Santi. Kepalanya terlihat menunduk dan berada tempat di balik daster di antara sela-sela ************ wanita hamil itu.


Aprilia terlihat jijik dan akan muntah. Akan berpaling untuk pergi. Namun, Sadewa terlihat datang membawa senter.


"Omma, hentikan Oppa sudah datang."


Nenek Mayang segera menyeka darah di sekitar bibirnya, dan hilang seraya mengomel dalam hatinya.


Terlalu cepat datang. Makanan tahapan cicilan akan berlanjut besok.


Sadewa melangkah masuk dan bertukar pandang pada Aprilia, "Bantu aku mengangkat Santi ke dalam mobil."


"Mengapa tidak menunggu ambulance saja?"


"Terlalu lama. Dia bisa hilang begitu saja."


Aprilia mengangkat satu alis. Mengikuti ke sisi ranjang. Dia terlihat ngeri akan setiap kasur bercecer cairan merah. Wajah Santi terlihat pucat seperti kertas.


Membuang rasa ngeri. Meningkatkan rasa kemanusiaannya. Aprilia segera merangkul sepasang kaki Santi. Sementara, Sadewa menyelipkan tangan pada bawah perut dan punggung atas Santi. Dengan hati-hati mereka berdua mulai mengangkat tubuh besar Santi.

__ADS_1


"Oppa, dia sangat berat!"


"Benar! Jika bukan karena nyawa. Aku tidak akan menolongnya."


Aprilia dan Sadewa pun melangkah hati-hati dan mengantarkan Santi ke rumah sakit.


Darah terus mengalir dari sela-sela ************ Santi. Aprilia yang meletakkan pahanya sebagai bantal untuk kepala Santi. Terlihat bersikap acuh dan tidak acuh. Sementara, Sadewa terlihat tegang memegang kendali di kabin depan.


"Aku datang!" bisik Nenek Mayang.


Aprilia menoleh dan melihat Nenek Mayang telah duduk di belakang kursi co-driver. Nenek tua itu terlihat menjilat kuku panjangnya.


"Omma, lakukan saja. Hisap darahnya!" ujar Aprilia hanya menggerakkan bibirnya, tanpa mengeluarkan suaranya.


Nenek Mayang mengeluarkan lidahnya. Meletakkan telunjuknya dan kukunya makin memanjang. Dia bersiap akan menjilat dan menarik daging halus dari balik perut itu.


Namun ....


Dritttttttt!


Mobil berhenti begitu saja. Tepat, di depan rumah sakit.


"Tidak jadi makan lagi," keluh Nenek Mayang dengan nada yang hanya dia bisa dengar sendiri.


Sadewa turun dari mobil. Meminta bantuan medis.


"Omma, bersabar saja. Nyawa Santi lebih penting!"


Nenek Mayang menggigit kuku telunjuknya. Santapan tidak berhasil dia makan, dengan suara manja dia berpamitan, "Aku pulang!"


Nenek Mayang hilang.


Tiga tenaga medis mendekati mobil. Membuka pintu, dan memindahkan Santi di atas ranjang bankars.


Setelah pemeriksaan medis. Dokter pun segera menemui Sadewa dan menjelaskan kondisi Santi.


"Istri anda mengalami pendarahan yang begitu banyak. Untuk menyelamatkan bayinya, harus melaksanakan operasi Caesar saat ini juga."


"Lakukan sesuai prosedur," pinta Sadewa.


Aprilia duduk di sisi Sadewa. Terlihat menggerutu dengan napasnya, "Apakah kau akan menyayangi Santi kembali jika dia memiliki anak."


Sadewa terbahak tanpa suara, "Demi nama, kedudukan, dan harga diri. Aku harus menyayangi di hadapan publik. Namun, tetap dirimu lah yang berada di balik dada kiri ini. Kau adalah jantungku yang bersembunyi."


Aprilia menyipitkan salah satu matanya, dan mendengus, "Kau gombal Oppa!".


Aprilia merogoh ponselnya kembali, dan memperlihatkan layar ponselnya pada Oppa, "Aku akan pulang ke Malaysia. Kembali ke tanah air milik ayahmu. Karena, drama kita harus apik luar dalam."


"Setuju. Adik kakak di depan publik. Mimi pipi di atas ranjang," bisik Sadewa.


"Lie is sweet! Berbohong itu manis. Virus Lie."


"Lie is Lier! "


Aprilia segera bangkit berdiri dan melambaikan tangan, dan menoleh sebentar seraya berkata, "Aku pulang!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Status palsu 🤫 dah ah pusing. Karya ini jangan di julit, tidak ada unsur untuk siapa 2 yah 🥰 Yuk yang smart membaca, cantik. Jangan di sebut macam2 yah....


__ADS_2