Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 9


__ADS_3

Tanpa sengaja Aprilia ikut terpaku akan aura bawaan Puspa. Dia terlihat cantik secara fisik dalam hitungan hari. Dia terlihat berwibawa, dan dia terlihat menyenangkan dan sangat ramah terlihat dengan senyumnya yang melengkung bak bulan sabit.


"Apaan sih kau,Dandy?" Alicia mendorong suaminya. "Kau pilih wanita rendahan daripada diriku!"


"Tutup mulutmu!" bentak Dandy kasar dan mendorong Alicia menyingkir dari jalannya, dan dia bagaikan seseorang yang tersedot akan penampilan yang manis dan panas, dia segera berdiri bersisian dengan Puspa. Dia pun segera membujuk dan merayu wanita yang selalu menjadi selingannya.


"Nana, tentu saja aku memilihmu!"


"Dandy!" Alicia berteriak kesal. Terlihat sangat murka, dan seakan dia telah mengeluarkan asap panas dari kepalanya.


Puspa tersenyum miring pada Alicia, dia bersikap lari dan bersembunyi di belakang punggung Dandy, dan dia sengaja mencubit ujung baju Dandy, seraya melontarkan bisikan di belakang pria paruh baya itu, "Jika om Dandy pilah Nana. Om harus tegas terhadap istri Om! Ceraikan saja dia om!"


Dandy tertegun sesaat. Dia menatap Alicia, dan terlihat ragu sebentar.


"Kalau om nggak tegas! Aku yang pergi!" ancam Puspa halus dari belakang punggung Dandy dan membuat Dandy segera menatap nyalang akan Alicia, istri sahnya.


"Kamu wanita tidak sopan. Bukannya membenah diri untuk intropeksi diri, malah bertindak kurang ajar di rumah oranglain.Seharusnya kau berpikir mengapa aku lebih nyaman dan tidur di pangkuan wanita lain!"


Alicia terperangah dan raganya bergetar seakan ada peluru yang menembaknya, tepat mengenai jantungnya. Peluru itu melubang sangat dalam. Tidak berdarah. Namun, seakan telah membuatnya tewas seketika.


"Apa Dandy? kau ingin bercerai?"


"Jika itu yang kau inginkan!"


"Oh baiklah! Kita akhiri saja drama bodoh dalam rumah tangga. Bersifat munafik terlihat mesra. Namun, suaminya telah menyembunyikan seorang wanita murahan di belakang layar!"


"Tutup mulutmu! Aku bukan murahan!" Puspa maju selangkah, berdiri tepat di sisi Dandy, dengan tangan kanannya bergelut melingkar erat tangan pria paruh baya itu.


"Kau merasa tidak murahan? Munafik sekali!"

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak murahan!"


"Kau merasa bayaranmu cukup tinggi yah!" Alicia maju selangkah, dan menyilang kan tangan di depan dadanya. Dia ingin meludah akan sifat wanita perebut suaminya.


"Aku dan Dandy saling mencintai, tidak ada uang di atas hubungan kami!"


"Cih!" Alicia meludah tepat di sepatu Dandy. "Dandy, jangan menyesal dengan pilihanmu! Jika saya pergi, maka saya pastikan duniamu, terludah setiap saat."


David terlihat akan menampar. Namun, tangan Alicia lebih dulu menahan tangan itu di udara, dan menepisnya dengan kasar, "Kau tersudut! Kau ingin menampar. Tetapi, ketahuilah wanita tehormat tidak akan pernah mengemis untuk di cintai."


Setelah itu. Alicia mengibaskan rok gaun malamnya, dan melangkah keluar dengan raut yang menahan banyak kesedihan dalam matanya. Dia menahan begitu banyak peluru melubangnya dalam satu waktu, dan akhirnya membenamkan kepalanya di atas kemudi mobil. Menangis sebentar, dan menyekanya kembali.


"Dia sangat keren, ibu!" puji Dimas dengan sepasang matanya ikut pergi mengantar kepergian mobil Alicia, dan kala matanya berputar dan menatap Puspa yang telah berangkul mesra dengan Dandy di atas sofa yang berada di ruang tamu. Diam-diam Dimas berbisik pada ibunya, "Tante Nana, pandai bersandiwara. Aku tidak suka!"


"Ssst!" interupsi Aprilia yang segera membawa Dimas melangkah masuk ke dalam rumah, dan dia dengan langkah yang terlihat malu-malu, membawa Dimas berdiri bersamanya menyapa Puspa dan Dandy.


"Nana, aku bersedia tinggal mengajak Dimas tinggal di sini." Lalu, tatapan Aprilia menatap tambang emas Puspa, dan menyapanya, "Selamat malam,om."


Puspa mengangkat kepalanya yang bersandar pada bahu Dandy sebelumya, dan menatap Aprilia beserta Dimas bergantian. Dia menghela napas, jengah.


"Aku perlu pembantu yang murah. Jadi, aku ijinkan dia tinggal satu atap denganku. Aku hanya perlu membayarnya dengan boleh menumpang."


Aprilia tertohok akan setiap kata yang terlontar. Dimas menatap dengan kesal. Namun, menundk jatuh kala tatapan Dandy menghardiknya.


Dandy terkekeh kemudian, "Kau butuh yang murah? Bukankah aku mampu membayar banyak asisten untukmu."


Puspa menatap Dandy, "Aku calon istri baik dan rajin menabung. Tidak seperti istrimu yang gila dengan belanja, dan berjalan-jalan keluar negeri, meninggalkan kewajiban sebagai isteri. Aku tidak suka berfoya-foya. Jika kau jatuh miskin karena aku boros bagaimana? Sungguh kasihan. Biarkanlah dia menjadi pembantu di rumah ini."


Aprilia menelan emosinya, dan menepis setiap gurat merah di wajahnya. Dia menendang kecil kaki Dimas, dan meminta Dinas segera pergi meninggalkan ruang tamu, dan berbisik, "Cepat! Pergi ke belakang!"

__ADS_1


Dimas menurut, segera lari ke dapur. Dia pun tidak ingin terlibat pembicaraan orang dewasa. Apalagi sepenuhnya dia tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh tiga orang dewasa tersebut. Hanya saja, dia merasa ibunya telah tersudut.


Dasar wanita perampas suami orang, tidak punya perasaan, dan kikir minta ampun! gerutu Aprilia dalam hatinya dengan menyimpan erat batu dendam di belakang punggungnya. Aku hanya sedang butuh tempat tinggal. Lihat saja nanti, aku akan menewaskanmu suatu hari.


"Seterah dirimu! Lagipula dia pantas menjadi pembantu."


"Sekaligus bantu aku menjualnya jika dia melakukan kesalahan lagi!" guyon Puspa bercanda dengan menyakitkan dan membunuh sadis dengan hanya menggunakan mulutnya.


Dandy tergelak dan tatapan matanya naik turun menatap Aprilia, dan mencibir, "Jack bercerita padaku. Dia sangat menyesal tertelan rasa penasaran. Dia sudah memejam mata. Bermain dalam gelap. Tetapi, tetap tidak puas.


Puspa terbahak dengan sudut air mata ingin menangis karena merasa setiap kalimat itu terdengar sangat konyol. Sementara, Aprilia hanya mengepalkan tangannya marah. Lidahnya kelu, tak mampu membalas. Setiap dia berusaha menatap nyalang Puspa, maka nyalinya tiba-tiba menjadi tunduk dan ketakutan.


"Semua pria akan menyesal berhubungan dengannya. Cantik tidak, dan miliknya ... ha ... ha ... kasihan Jack! Pasti dia menjadi sangat jijik!"


Jantung Aprilia tercongkel seketika dari dadanya. Lubang dadanya sangat besar. Ruhnya seakan sudah pergi ke langit. Mengetahui pria pujaannya dalam beberapa hari ini, yang selalu menghias angan dan mimpinya, malah berkomentar demikian.


"Aprilia. Buatkan aku dan Dandy, Jahe hangat."


"Baik." Aprilia baru saja akan memutar tubuhnya ke aarah dapur, Dandy berceletuk memperingatinya, "Jangan mencoba menaruh racun yah!"


Aprilia tertawa kecil, berusaha tetap ramah terlihat, "Tidak berani, tuan. Takut sama hukum Indonesia dan hukum Tuhan," sahut Aprilia.


"Takut Tuhan, tetapi terlibat One Night Stand! Jangan bawa nama Tuhan lagi mulai besok," tegur Puspa seakan telah menampar harga diri Aprilia. Harga dirinya kini seakan telah di injak-injak.


"Mulutmu sangat beracun, Nana!" ujar Dandy yang kemudian mencium bibir merah Puspa, dan ********** tanpa malu.


Aprilia segera berlari ke dapur, dan memutar tubuh Dimas agar tidak melihat hal seperti itu. "Jangan melihat seperti itu, nak."


......................

__ADS_1


Bersambung ....


Maaf yah, jika cerita ini agak ekstrem Lika liku, dan karakter sangat menonjol dan berbeda dari tokoh novel biasanya. Karena, Author lagi belajar adaptasi mengambil karakter yang biasa ada dalam masyarakat. Tamak Jahat, dan tokoh utamanya menjadi jahat karena banyak sakit hatinya.


__ADS_2