Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 150


__ADS_3

..."Dia datang membalas dendam. Hantu Belanda banyak uangnya, pasang benteng pertahanan setinggi gunung. Hantu Jepang sadisnya minta ampun, lahir bak Yakuza, serangannya mematikan. Hantu Indonesia Malaysia prajurit seperti semut berbaris."...


..._Susan_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagutan itu terlepas. Detik selanjutnya, hanya segera meraup oksigen untuk mengisi paru-paru dua insan yang bermandikan cahaya bulan di pinggir pantai,dengan sepasang kaki yang tersapu ombak yang menenggelamkan kaki.


Aprilia meluruskan tulang kakinya turun menginjak dalam pasir pantai. Sepasang matanya tersenyum seperti bulan sabit. Sedangkan, Jack hanya termanggu di bawah pesona bulan yang membuat seluruh raga hingga tulang sendinya, mendadak kaku, dan sulit digerakkan.


"Kau menyukaiku kan?" Akhirnya satu pertanyaan itu terlontar dari bibir pria yang telah membeku sedari tadi.


Aprilia tidak kunjung menjawab. Dia terlihat menyukai bagaimana pria itu  jatuh dalam lubang penasaran. Dia mengulurkan tangannya, dan meminta pria itu menggenggam telapak tangan kecilnya, dan membawanya pergi.


Jack menelan rasa penasaran sedalam mungkin. Seakan setiap jemari tangan itu sudah mampu menyakinkan dirinya, jika wanita cantik di sisinya memiliki perasaan yang sama.


Mereka berjalan sepanjang pantai. Meninggalkan jejak kaki yang dalam di belakang. Semilir angin tampak asyik bermain dengan rambut Aprilia.


"Kau tidak kedinginan?" tanya Jack di sela perjalanan mereka.


"Apakah kau lupa kau sudah membuang jaket itu?"


Jack menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Merasa menyesal kemudian.


"Maaf. Apa kau ingin masuk ke dalam dadaku? Berjalan menghangatkanmu," tawar Jack antusias.


Aprilia menolehkan kepala, seakan sepasang matanya tertawa mengejek, "Apakah kau tau sikap romantis seharusnya lakukan dengan benar? Kau membuang jaket. Lalu, kau ingin memeluk. Apakah itu romantis? Romantis menurut kacamata Tn.Jack. Namun, genit menurut kacamataku. Berpelukan sepanjang jalan, membuatku sangat geli."


Jack tertohok. Kelopak matanya berkedip. Seakan tidak percaya, ada seorang wanita yang berani menolak pesonanya.


"Kau benar Toxic Honey yang aneh. Apakah dalam sel otakmu ada yang tidak aktif? Pria tampan, banyak uang, menggodamu .... Kau bersikap jual mahal."


Aprilia menjulingkan matanya. Dia ingin tertawa lepas saat ini. Namun, dia menahannya sedemikian rupa.


"Kau melontarkan kesadisan setiap katamu dengan lidahmu. Namun, lidahmu pula yang melilit lidahku dalam rongga mulutmu. Katakan maksudmu?"


Aprilia menghentikan langkahnya, turun berjongkok dan menggambar segitiga di atas pasir pantai.


Jack ikut turun berjongkok. Menatap segitiga yang tergambar.


"Apa maksud dengan Triangle?"


"Cinta segitiga," sahut Aprilia.


"Siapa salah satunya?" Jack heran.


Aprilia tidak menjawab, dan menggambar kotak segi empat kembali.


"Square?"


"Cinta segi empat!"


Aprilia melanjutkan menggambar lingkaran kembali.


"Circle?"


"Cinta yang melingkar banyak orang. Putar-putar membingungkan," ledek Aprilia bangkit berdiri kemudian.

__ADS_1


Jack menahan pergelangan tangan Aprilia, "Apa yang di sebut saling mencintai?"


"Hanya ada berdua," jawab Aprilia sekenanya.


Aprilia mengabaikan pria itu. Dia  menggunakan telapak tangannya untuk meluruskan ekor rambutnya yang terlihat berantakan. Lalu, dia  mempercepat langkahnya menuju gate keluar pantai.


Aprilia meninggalkan pria itu jauh di belakangnya. Pria itu terlihat menatap ujung sepatunya yang telah basah.


Aprilia bersikap acuh dan tidak acuh, tidak memperdulikan bagaimana telapak kakinya hanya telanjang dan pasir pantai menempel. Dia-pun menginjak setiap ubin kayu jembatan. Berjalan akan pulang. Sudah waktunya dia merayakan ulang tahun bersama Sadewa.


"Sebenarnya kelahiran-ku bukan hari ini. Namun, Oppa telah mengganti tanggal lahirku. Tentu saja, aku harus merayakan dengan Oppa."


Aprilia melangkah pulang. Berjalan di pinggir toko-toko kelontong yang terlihat ramai. Bulan telah memuncak tinggi. Namun, keramaian pejalan kaki terlihat tidak berkurang. Aprilia harus berjalan lebih jauh lagi, untuk mencapai mobilnya.


Berjalan. Aprilia berjalan tanpa alas kaki. Seraya mengamati setiap pernak-pernik, pakaian, aksesoris, tas, apapapun itu yang bergantung. Lalu, pandangannya berhenti.


Deg!


Jantungnya kembali berhenti berdetak untuk persekian detik. Wanita bergaun merah itu tampak hadir duduk di sebuah kedai kopi. Dia terlihat duduk berhadapan dengan seorang nenek tua yang sedang menyeruput kopi dengan sepasang mata yang terlihat abu-abu dan tangannya renta terlihat bergetar meraba cangkir.


Aprilia berdiri kaku. Memandangi kedai kopi di seberang, dan nama kedai yang tergantung.


Kedai Kopi Mantan.


Wanita bergaun merah itu seakan menyadari tatapan Aprilia. Dia menoleh dengan gerakan waspada. Tersenyum aneh. Melambaikan tangan memanggil Aprilia.


Aprilia menelan ludahnya. Wanita itu kembali tampak berbicara dengan nenek tua yang duduk berseberangan dengannya.


Aprilia  mengamati gerakan sosok merah itu. Kali ini, wanita itu tidak membawa mawar. Melainkan membawa sebuah boneka Teddy bear yang telah menghitam gosong. Sepertinya boneka itu telah terbakar.


Aprilia melangkah dengan seluruh jantungnya terlihat telah dilubangi rasa penasaran. Kala, kepalanya menoleh ke kursi tempat sosok merah itu. Sosok merah itu menguap hilang kemudian.


Mengejutkan. Namun, sangat nyata. Aprilia menyeka wajahnya. Dia masih berusaha menopang kuat kedua lutut kakinya agar tidak goyah menubruk lantai.


"Apakah dia hantu aneh? Melambai memanggilku. Namun, menghilang kala aku akan menemuinya."


Aprilia berjalan menghampiri kursi yang tampak kosong.


"Duduk," pinta nenek itu pada Aprilia.


Aprilia menatap pada sang nenek. Dia duduk perlahan. Namun, Boneka Susan yang duduk di kursi sebelah nenek. Terlihat memiliki bola mata yang hidup, dan bibir yang mampu berkata-kata. Boneka itu menatap teduh padanya.


Tiba-tiba lamunan Aprilia buyar, kala  sang nenek mengantarkan cangkir kopi mendekat pada Aprilia.


"Kopi gratis dari dia," ujar Nenek mengejutkan Aprilia.


"Aku tidak suka kopi," jawab Aprilia menolak.


"Siapa dia?" Aprilia menjadi lebih penasaran.


"Hanya hantu lewat yang kebetulan mengenalmu, dan ....." Nenek itu tidak melanjutkan kalimatnya.


Deg! Jantung Aprilia seakan melompat jatuh ke dasar. Pertanyaan dan rasa heran merasuk rongga dadanya sendiri.


Apa hubungannya denganku? Mengenalnya pun tidak.


"Dia menginginkan apa dariku?"

__ADS_1


"Dia mati penasaran. Butuh waktu membuat dia tenang dan pergi dengan damai ke langit."


Boneka sebelah sang nenek terlihat bergetar hebat. Tangan renta sang nenek segera mengambilnya, meletakkan di atas meja. Berhadapan dengan Aprilia. Sepasang bulu mata lentik boneka itu bergetar ke atas. Bola mata besar itu terlihat bersinar hidup. Bibir kecil tipis boneka itu terbuka perlahan, dan dia berkata, "Bersiap-siap, perang hantu sesungguhnya akan di mulai."


Aprilia mengerutkan keningnya.


"Aku tidak mengerti."


"Dia datang membalas dendam. Hantu Belanda banyak uangnya, pasang benteng pertahanan setinggi gunung. Hantu Jepang sadisnya minta ampun, lahir bak Yakuza, serangannya mematikan. Hantu Indonesia Malaysia prajurit seperti semut berbaris."


"Tidak mengerti!"


Boneka Susan menutup kelopak matanya. Jatuh terguling, merebahkan diri ke meja.


"Dia sudah kehabisan tenaga. Susan jarang bicara. Namun, hal itu benar."


Aprilia menatap Boneka Susan.


"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti dengan perang hantu!"


Nenek itu hanya bangkit berdiri. Membawa boneka Susan pulang bersamanya.


Aprilia menatap heran pada dirinya sendiri, "Makin aneh!" ujar Aprilia pada dirinya sendiri.


"Jangan di pikirkan."


Aprilia di kejutkan dengan kehadiran Nenek Mayang.


"Eoma?"


"Aku akan menjagamu."


"Siapa hantu merah itu?"


"Tidak perlu kau pikirkan. Cukup fokus pada kehamilan. Aku butuh persembahan! Untuk menyelamatkanmu dari Si Manis, hantu merah itu."


"Dia ingin mencelakaiku?"


Nenek Mayang mengangkat bahunya.


"Kita tunggu saja. Apa yang akan dia lakukan?"


"Kau bisa mengatasinya?"


"Dia mati dengan darah. Hantu penasaran sulit di ajak negosiasi."


Nenek Mayang hilang kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ria : lah masukin Susan ke horor novel. kan serem.


Susan : ih sis kok komplain, yang minta masuk kan aku. biar tambah seru


author : tambah serem yang ada 😭Aku takut!


__ADS_1


__ADS_2