
"Beb!" seru parau suara pria bangun. Membuatkan lamunan Puspa. Puspa menelan ludah dalam tenggorokannya. Baru saja dia menelan hasrat. Kini, dia harus menelan pahitnya bergumul dengan Dandy. Dengan cepat, Puspa menghapus jejak percakapan.
"Nana, bersiaplah. Kita pulang."
Puspa berjalan ke sisi ranjang. Bergabung dalam selimut yang sama dengan pria berkepala licin itu. Wajah campuran Australia-Indonesia, Dandy menjadi daya tarik kaum hawa, pertama kali melihatnya. Namun, hanya orang yang seranjang dengannya yang mengetahui betapa kejam dan dinginnya pria ini. Oleh itu, demi Jack. Puspa harus menutup rapat hubungan gelap di belakang pria ini. Harus licin, dan tidak boleh salah satu langkahpun. Karena, pria ini pandai menjerat leher kehidupan setiap orang.
"Om Danny."
"Yea!" Pria itu menjawab dengan malas. Dia terpejam kembali.
"Karena Alicia telah meninggal. Tidak baik, kita di desuskan sebagai penyebabnya meninggal."
Dandy membuka matanya lebar. "Jadi kau ingin?"
Puspa menganggukan kepalanya, dan memeluk leher pria itu.
"Jangan mencekikku. Aku bisa membalasmu," sindir Dandy terdengar dingin dan ketus.
Puspa terkekeh, "Tidak. Aku tidak berani. Aku hanya ingin sebaliknya. Mencium leher berlemakmu, dan mengigitnya lembut."
"Kau pandai berkata manis. Berbeda dengan Alicia. Di atas tempat tidur pun dia memakiku, agar segera mati. Tetapi, tidak aku sangka ... sumpah mulutnya kembali kepadanya."
Puspa terkekeh, kecupan dengan gigitan kecil di sasarkannya pada ujung telinga Dandy, lima detik.
"Kau ingin aku melakukan lagi seperti malam tadi." Dandy berbalik dan merekuh bahu ramping wanita yang bersisian dengan dirinya di ranjang. Dia merebahkan wanita itu perlahan dan dia berada di atasnya, dia mengesampingkan ke belakang telinga, setiap anak rambut yang terlihat berantakkan.
"Nana."
"Yes."
Dandy mencium kening Puspa, dan mencium melingkar leher angsa Puspa. Ada bercak merah disana dengan cap lima jari membekas. Dandy memejamkan matanya, seakan sedih melihat betapa kejamnya dirinya pada wanita simpanannya.
__ADS_1
"I thought that I really love my wife. I'm even afraid to injure her. However, she went to scold me every day. As if she hated me. Then, I run to every revelry and get drunk on women. Finally I stopped at one woman. Namely, you. Where can I appear to be myself. Rude and crazy. However, believe me I will never kill you."
"..."
"Apakah kamu mengerti?"
Puspa tersenyum konyol dan menjawab, "Om Dandy kan tahu. Nana bodoh bahasa Inggris."
Dandy tersenyum aneh. Benaknya memikirkan betapa dirinya sangat mencintai isterinya, Alicia. Namun, keangkuhan dan kesombongan wanita itu membuatnya takut untuk menjadi dirinya sendiri. Kemudian, takdir menetapkannya pada seorang wanita penghibur malam, gadis manis berusia 22 tahun, tidak berpendidikan, mulutnya sangat beracun sekaligus manis bak madu yang pandai membujuk pria kasar seperti dirinya mengekorinya.
"Bantu aku terjemahkan yang kau ucapkan tadi, om. Aku sangat penasaran."
"Artinya adalah Saya pikir saya sangat mencintai istri saya. Saya bahkan takut untuk melukainya. Namun, dia pergi memarahi saya setiap hari. Seolah dia membenciku. Kemudian, saya lari ke pesta pora dan mabuk pada wanita. Akhirnya saya berhenti di salah satu wanita. Yakni kamu. Di mana saya bisa tampil menjadi diri saya sendiri. Kasar dan gila. Namun, percayalah aku tidak akan pernah membunuhmu."
Puspa membisu. Ada sedikit rasa cemburu menyelinap. Bagaimana Dandy mengakui sangat mencintai isterinya.
"Aku cemburu om. Kau masih mencintai yang telah mati."
Dandy mencium bibir Puspa. Rasanya sangat dingin dan hambar. Apa kau tahu, aku sangat merindukan isteriku. Aku ingin gila dan melompat dari atap gedung kala mengetahui kematiannya. Namun, syukurlah ada kau di sisiku. Aku hanya perlu memerlukan pengganti yang tepat. Yang bisa meredakan amarahku.
Dandy tidak mengelak, dan dia merebahkan kepalanya pada bahu Puspa. "Aku sangat merindukannya. Aku bahkan menyesal berselingkuh darinya."
Deg! Puspa terkejut. Merasakan isak tangis Dandy pecah pada pagi hari ini. Puspa pun merasakan pundaknya telah basah. Pria ini menangis.
"Kau menangis?"
"Hmmm!" Dandy menghela napas panjang. "Aku menyesal berselingkuh darinya. Aku hanya ingin menakutinya. Aku hanya ingin mengetahui berapa besar dia menginginkanku. Aku hanya ingin melompat padamu, untuk menguji hatinya. Aku hanya ingin tahu, tanpa harus menyakitinya. Aku menyesal berselingkuh darinya. Dia istri yang cerewet yang aku rindukan."
Deg! Puspa linglung akan pernyataan Dandy. Barulah dia teringat akan nenek Junjung yang berpesan padanya, Sihir manapun tidak akan bisa menguasai hati seseorang yang bersedih akan cinta sehatinya. Makin dalam perasaan. Maka, makin sukar kau menguasai seluruh hatinya. Kau hanya bisa menguasai hatinya pada saat dia kosong.
Puspa menghela napas, dan baru menyadari satu hal bagaimana sikap kasar Dandy malam tadi. Seakan mencari pelampiasan. Pria itu hampir mencekiknya mati sekali lagi. Bahkan tidak segan-segan untuk menjambak rambutnya, dan di saat penyatuan diri mereka. Pria ini selalu menyebut nama isterinya dengan banyak pengakuan.
__ADS_1
Alicia aku mencintaimu. Alicia aku merindukanmu. Alicia maafkan aku. Alicia. Alicia.
Puspa mendorong tubuh pria itu ke samping. Dia berpura-pura merajuk, dengan bibir manyun dia segera protes, "Mengapa kau tidur denganku? Jika kau tidak memiliki hati."
Dandy terkekeh, "Apakah kau percaya bahwa aku telah lama berhenti memberikan kebutuhan biologisnya padanya. Karena ...."
"Karena apa?"
"Karena aku tidak ingin menyakitinya. Aku tau aku adalah pria gila. Aku menyukai kekejaman di saat hal itu berlangsung. Namun, hatiku sangat sakit jika mendengar rintihannya. Hatiku sangat berlubang. Aku sangat mencintainya. Namun, aku tahu diri, aku adalah pria yang memiliki penyimpangan."
Puspa menelan ludahnya. Ada isak dalam ludahnya bercampur dengan kesedihan. Diapun menyadari satu hal lagi. Susuknya tidak memikat hati pria ini secara keseluruhan. Puspa tidak mempercayai hal ini, dia pun polos bertanya, "Apakah ada sedikit cinta untukku, om?"
Dandy menggelengkan kepala. "Aku tahu kau makin hari makin cantik. Mataku mungkin menyukai keindahanmu. Namun, hatiku telah terpahat satu nama. Hatiku hanya terpahat satu nama."
Puspa bangkit berdiri. Dia berdiri di sisi ranjang. Dia marah dan melepaskan pakaiannya. menunjukan setia luka yang dia dapatkan.
"Apa maksud Om dengan semua ini? Kau menyiksaku dengan setiap pukulan, mencekikku. Lalu, om katakan begitu lah cara om mencintaiku."
Dandy terbahak. Sepasang matanya berembun. "Apakah aku boleh jujur?" Dandy menatap ke luar jendela, seakan sosok Alicia telah berada di atas langit, dan melambaikan tangan kebenciannya.
"Aku tidak ingin mendengarkan kejujuran sedikitpun. Aku membenci hal yang menyakitkan."
"Kau hanyalah boneka pemenuh kebutuhan."
Plak!
"Aku memang murahan. Tetapi setidaknya kau boleh berbohong demi kebaikanku, biar aku tidak membenci diriku sendiri."
......................
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo