Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 75


__ADS_3

...Kesetian tanpa pamrih itu mahal. Bahkan binatang pun memiliki rasa setia besar untuk sosok yang dia lindungi....


...—Eouny Jeje—...


...Kau dan aku berbeda. Kau iblis. Sedangkan aku adalah makhluk mitos legenda. Dalam diriku ada kesetian untuk tuannya."...


...—Ade—...


...꧁❤•༆PJP 74༆•❤꧂...


"Sangat setuju!"


Aprilia menoleh ke asal suara. Nenek Mayang hadir lagi, dengan satu tangan mengangkat silet bewarna merah darah di udara, "Silet yang akan kugunakan untuk mengiris lidahmu Aprlia."


Aprilia menelan ludahnya. Ada rasa ngeri hinggap sebentar. Namun, dendam di hatinya segera membuang rasa ngeri dan takut itu.


"Aku akan menjalannya ilmu serapan itu, Nenek Mayang. Karena sakit di hatiku, belum sembuh."


"Hanya darah yang bisa menyembuhkan itu!" sahut Nenek Mayang dengan suara menggelegar mengisi apartemen.


Embun di mata Aprilia jatuh seketika. Penghinaan dan ludah yang jatuh pada wajahnya. Tidak akan pernah dia lupakan,dan dia pun menerima uluran tangan Nenek Mayang lagi.


Matahari berganti bulan. Bulan tampak bundar. Ini malah bulan purnama yang di tunggu Nenek Mayang. Aprilia dan Ade.


Ade menghela napas seraya menyedot botol minuman darah ayam yang telah di pesan online, dan sekali-kali tangan Ade mengambil cemilan dari box makanan, yang merupakan potongan usus dengan bau darah segar.


"Kau siap? Lidahmu kau persembahkan untukku!"


Aprilia menahan napas. Ada silet mendekati bibirnya. Dia melirik menoleh ke asal suara yang terlihat penuh mengunyah makanannya.  Aprilia bergindik jijik kan cairan merah sekitar mulut Ade. Itu bukan saos. Itu darah berbau amis.


"Ade, bisakah kau tidak berisik! Aku ingin mempersiapkan diriku untuk di potong lidahku!"


Ade mengehentikan kunyahan dalam mulutnya, "Baiklah aku akan makan di ruang tamu saja. Seraya menonton drama Korea kesukaanku— She Would Never Know."


Ade bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan kamar. Blam! Pintu menyatu dengan kusen. Hanya tersisa Aprilia bersama Nenek Mayang.


Nenek Mayang berjalan pelan ke sisi jendela, "Kau tidak akan mampu berbicara selama seminggu Aprilia. Lidahmu akan terpotong dan akan tumbuh lagi pada hari ke-8"


Aprlia menghembuskan napasnya.


"Baik, nek."


"Dan kau harus berhati-hati menggunakan lidahmu. Lidahmu mampu mengutuk dan memikat siapapun. Hanya saja—"


"Apa itu?"


"Mantera itu hanya bisa di ucapakan sebulan sekali, hanya pada saat bulan purnama itu datang."


"Aku mengerti."

__ADS_1


Nenek Mayang mendekatkan wajahnya.


"Julurkan lidahmu."


Aprilia menahan napasnya dalam.


"Setelah ritual ini berakhir. Seminggu kemudian di hari ke-8, kau bisa menggunakan lidahmu untuk pelet pria bocah itu."


Aprilia mengangguk setuju. Perlahan dia menjulurkan lidahnya. Kuku Nenek Mayangpun bergerak ke bawah lidah Aprilia.


"Nek, aku tarik napas dulu."


"Serius! Waktu kita tidak lama."


Aprilia menarik napas dan menghembuskanya untuk berkali-kali. Lalu, menjulurkan kemudian.


Tangan Nenek Mayang meraba ujung lidah Aprilia. Satu kukunya menggores bawah lidah Aprilia. Cairan merah jatuh begitu banyak ke kasur.


Aprilia meringis dan ingin memasukan lidahnya kembali ke dalam mulutnya. Namun, jepitan tangan Nenek Mayang cukup kuat.


Setelah menggores dengan kukunya. Melubangi titik di bawah lidah Aprilia. Nenek Mayang mencari, menemukan dan mencubit urat syaraf lidah. Menarik kasar keluar.


Kelu. Sakit luar biasa. Aprilia kaku dengan lidah yang terlihat pucat dengan banyak cairan merah mulai mengisi dalam mulut Aprilia.


"Dengan urat yang tercabut. Mampu mengurangi sakitmu."


Nenek Mayang mengangkat silet ya dengan ramalan mantera yang terucapkan, dia pun mengiris sedikit demi sedikit lidah Aprilia yang terjulur panjang.


Perih sakit. Tidak tertahankan. Kala silet mengiris hingga ujung pangkal lidah Aprilia. Setiap cairan merah penuh mengisi mulut Aprilia. Aprilia menjadi gelap seketika dan jatuh pingsan.


Ade yang berdiri di depan daun pintu sedari tadi hanya bisa mendengar proses menyakitkan itu. Dia mengakhirnya tontonan dramanya dengan cepat, kala dia mencium aroma manis darah yang mengguncang seluruh isi perutnya.


Kret! Pintu ternganga lebar. Terlihat Nenek Mayang masih sibuk menikmati setiap potongan lidah yang berada di dalam mulutnya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Ade pada Nenek Mayang.


"Kenyal."


"Seperti permen Yupi!"


Nenek Mayang menganggukan kepalanya. Seakan tidak ingin berbagi dengan Ade. Nenek Mayang segera membawa setiap potongan lidah itu dan menghilang segera.


Tersisa Ade yang menahan napas. Hidungnya gatal akan bau amis yang tercipta. Aprilia telah terbaring tidak sadarkan diri dengan banyak cairan darah di dalam mulutnya.


"Siapa suruh bersekutu dengan Nenek Mayang? Tidak cukup hanya mengandalkan Nenek Ade yah."


Ade mendekat. Membuka mulut Aprilia. Hidungnya mengerti tajam akan bau amis darah yang tidak tertahankan.


"Jika kau hanya berteman denganku. Kau tidak akan semenderita ini, Aprilia. Nenek Mayang tidak tulus berteman denganmu."

__ADS_1


Kepala Ade terlepas kemudian dari lehernya. Lidahnya panjang terjulur masuk mengambil setiap cairan merah dalam mulut Aprilia, menghentikan pendarahannya  dan membersihkan darah dari setiap dinding mulut Aprilia.


Ade menarik lidahnya kembali. Kepalanya kembali  menyatu dengan tubuhnya. Tangannya bergerak menyeka mulutnya. "Untung kau berteman denganku, Aprilia. Jika Nenek Mayang mengkhianatimu, aku akan melindungimu. Aku bersumpah, Ade tidak akan pernah berhutang atas kebaikan yang sering kau berikan untukku."


Ade tersenyum pada wajah kotak pucat Aprilia, dan merapikan setiap anak rambut Aprilia, "Setiap sakit hatimu akan terbalas segera. Aku akan melindungi jika Nenek Mayang berani menghabisi nyawamu, Aprilia."


Tiba-tiba saja lampu terus berkedip. Angin bertiup kencang. Suara jendela terdengar bergetar, kain gorden melambai-lambai.


"Kau ingin melawanku, Ade!"


Suara Nenek Mayang terdengar. Namun, sosoknya tidak terlihat.


"Aku akan melawanmu. Jika kau berkhianat!"


"Aku setia!"


"Iblis tidak ada yang setia!" Ade menatap tajam pada ujung sudut ruangan. Tidak lama Nenek Mayang menampakkan dirinya di sana."


"Apa kau setia?"


"Kau dan aku berbeda. Kau iblis.Sedangkan aku adalah makhluk mitos legenda. Dalam diriku ada kesetian untuk tuannya."


"Hi ... hi ... hi ...!" Nenek Mayang terbahak keras dan sepasang matanya melotot tajam, "Apa kau mampu melawanku?"


"Aku cukup mampu bertarung hingga sampai darahku habis."


Nenek Mayang mendekat dengan cepat, dan tangannya mencekik Ade. Ade tersenyum dengan sepasang mata yang menjuling ke atas dan tubuh Nenek Mayang terpental begitu saja ke dinding.


"Aku sudah memiliki energi yang cukup. Berbeda dengan pertemuan pertama kita. Jangan mencoba berkhianat, Nenek Mayang."


Nenek Mayang bangkit berdiri, dia mengerut tidak suka pada Ade. Namun, dia lebih memilih untuk tidak menjadi musuh terhadap makhluk mitos legenda tersebut.


"Aku tidak akan menjadi musuhmu. Asalkan Aprilia baik padaku. Tidak melupakanku. Aku akan baik pula padanya, dan akan terus mengikutinya. Tuanku hanya satu, dan aku abdi yang baik jika tuannya baik pula."


"Pegang isi mulutmu!" sindir Ade dengan sepasang mata yang berkedip kemudian menenangkan angin kencang dalam ruangannya.


"Tentu. Aku mampu memegang isi mulutku."


Nenek Mayang hilang kemudian.


Angin kencang pun berubah menjadi lebih tenang, dan semilir angin itu terasa sepoi-sepoi menerbangkan rambut halus Ade.


...꧁❤•༆PJP 75༆•❤꧂...


Dalam berteman itu ada dua:


Dia berteman karena manfaat


(Nenek Mayang hobi makan)

__ADS_1


Dia berteman karena saling menyayangi


(Ade menyukai Aprilia baik padanya)


__ADS_2