
...Musuhmu tidak akan pernah menyebutkan kebaikkanmu.Tidak akan pernah. Jika iya— Hal itu, karena telah tersudut akan kemunafikannya....
..._Eouny Jeje_...
...Seorang musuh tidak akan pernah memberi dengan tulus. Dia yang memberi uang dan Dia pula menuduhku mencuri kemudian. Dia yang menjahatiku. Namun, dia bercerita jika aku-lah yang memulai....
..._Aprilia_...
...****************...
Santi berjalan mundur. Menyelusuri setiap anak tangga dengan tatapan nelangsa menuju kamar Alm. Ratih, ibunya. Langkahnya terlihat rapuh. Seakan hanya kaki yang melangkah. Namun, jiwanya seakan telah pergi merindu kehadiran ibunya.
Jleb! Lampu kamar yang akan di masuki Santi, mendadak padam. Santi berdiri mematung. Cukup terkejut. Namun, suara langkah terdengar mendekat dari belakang punggungnya.
Sentuhan tangan tiba-tiba mengejutkan Santi. Santi, menoleh ke sosok empunya tangan. Wanita itu cantik dan sempurna. Namun, juga memberi rasa iri dan cemburu. Bagaimana dia lupa? Sepanjang malam, Sadewa mencium kening adik perempuannya sendiri.
Aku tidak boleh terbakar cemburu. Hanya karena mereka tidur di ranjang yang sama. Bukankah mereka adalah kakak adik.
Embun dalam sepasang matanya mulai terbit kembali.
"Lea." Santi berhadapan dengan sosok wanita yang telah mengiris dadanya. Dia menyeka air matanya dengan buru-buru.
Aprilia mengangkat satu alis, "Mengapa kakak ipar belum tidur?"
"Belum lelah," jawab Santi rendah.
"Aku tadi melihat kakak ipar turun dari kamar atas. Tanpa sengaja ... aku mendengar langkahmu yang menjauh dengan suara isak. Apa yang membuatmu menangis?"
Santi mengkritingkan bibirnya, dan mengangkat pandangannya, "Tidak ada yang perlu di khawatirkan."
Aprilia akan berembus pergi. Namun, pandangan jatuh pada perut besar milik Santi. Telapak tangannya pun meraba perut besar itu, "Aku dengar Sadewa tidak menginginkannya lagi."
Santi memejamkan matanya sejenak. Seakan ada pisau yang menghujam jantungnya, membuat dirinya harus menutup mata akan napas satu-satunya yang serasa menguap ke atas, meninggalkan raganya.
"Dia akan mengantarkan surat cerai untukmu," ujar Aprilia menambahkan garam kembali pada daging luka Santi.
Santi mundur beberapa langkah. Seakan setiap kata adik iparnya bagaikan peluru yang melubangi jantungnya. Dia berusaha menghindarnya. Namun, tatapan wanita cantik itu mengingatkannya kepada sosok yang pernah tinggal di dalam rumahnya, madu suaminya, yang tidak akan pernah di lupakan oleh Sadewa.
"Aprilia?" Satu nama itu lolos menduga kemiripan yang nyata.
Aprilia mengedipkan matanya. Dia pun berjalan kian mendekat akan sosok wanita yang terjebak di dinding.
"Aprilia siapa itu? Yang kau sebut Bumi? Bumi tandus! Bumi gersang! Bumi Hangus!"
__ADS_1
Santi menahan napasnya, menelan ludahnya akan amarah yang di cipratkan ke wajahnya. Dia memberanikan sekali lagi menatap bola mata wanita cantik di depannya. Persis. Terlihat sangat sama.
"Apa kau Aprilia?" duga Santi bodoh.
"Ah, tidak mungkin. Wanita itu telah mati! Dia di perkosa dan terbakar!" lanjut Santi mengelak kemudian. Dia terlihat cemas.
"Di perkosa, mati, dan terbakar," ulang Aprilia dengan inotasi rendah.
"Siapa Aprilia?" tanya Aprilia dengan raut tenang, menyembunyikan luka atas rencana wanita di depannya.
Santi mengangkat pandangannya, dan menatap Aprilia sebentar. Setelah, pandangan beredar menghindar tatapan Aprilia, "Dia adalah seseorang yang mengikuti dalam rumah ini. Dia telah mencuri setiap uangku. Pergi malam hari, dan mendapatkan naas-nya malam itu. Karma itu ada untuknya."
Aprilia tersenyum. Senyum itu hanya sebatas kulit. Namun, hatinya berdialog miris untuk cerita Santi, Seorang musuh tidak akan pernah memberi dengan tulus. Dia yang memberi uang dan dia pula menuduhku mencuri kemudian. Dia yang menjahatiku. Namun, dia bercerita jika aku-lah yang memulai.
Santi berpaling dan berkata pada Aprilia, "Aku ingin istirahat."
Aprilia berjalan menuju tangga. Bukankah itu adalah kamar yang sama dengan Sadewa. Santi membola cemas dan segera mengiterupsi, "Lea, bukankah kamarmu di sana."
Lea berpaling, "Aku ingin tidur bersama Oppa. Karena, kami telah lama berpisah. Kami hanya ingin bernostalgia!"
Santi terpaku.
Aprilia menginjakkan tangga. Seraya, tersenyum miring dan membisik pada dirinya, "Menghajar seorang musuh itu gampang. Hajar saja perasaannya dengan rasa cemburu yang dalam."
Santi tersenyum kaku di tempatnya. Seakan, dia mampu membaca sepasang mata yang berdiri menghunusnya dengan tatapan telah membunuhnya. Kebencian itu sedalam lautan.
Santi segera berpaling. Masuk ke dalam kamar ibunya.
Blam! Santi membanting pintu. Dia lari dan berdiam dalam kegelapan. Padahal sebelumnya, dia sangat takut berada dalam kegelapan. Namun, kini hal itu membuat dirinya lebih aman. Daripada harus bertukar pandang dengan Lea — adik Sadewa.
"Mengapa dia terlihat membenciku?"
Deg! Santi memukul jantungnya.
Apa yang telah aku lakukan padanya? Mengapa dia lahir ingin membunuhku? Bukankah, aku tidak pernah melukainya. Namun, tatapan itu sangat mirip dengan madu bekas rumah ini.
Santi menggelengkan kepalanya. Dia terbahak kemudian, dan merasa konyol jika Aprilia mampu hidup kembali. Jasad dan KTP telah di antarkan ke rumah ini. Bahkan, tangannya sendirilah yang ikut menabur bunga di atas tanah merah yang bergunduk tinggi.
"Dia sudah mati. Dia mati. Jikapun dia menjadi arwah. Dia akan takut menemuiku. Karena, hantu tidak akan mampu memukul pembunuhnya. Kecuali ...."
Santi menahan napasnya, "Dia tidak pernah mati! Karena, lahir kembali itu tidak ada. Hanya saja dia masih hidup dengan sosok baru. Ganti kulit. Lalu, muncul kembali dengan wajah berbeda dan sifat yang berbeda."
Santi menjatuhkan dirinya segera ke bantal. Mengelus perut besar miliknya, dan berdoa sebentar, "Jika aku telah kehilangan Sadewa. Aku hanya akan mampu bersandar padamu, nak."
__ADS_1
Santi terpejam kemudian. Membiarkan dirinya masuk dalam ruang pikirannya, dan tiba-tiba dia bermimpi seorang wanita tua datang padanya, menemuinya dengan senyum terlihat sangat ramah.
"Siapa kau, nek?"
"Mayang!"
Santi mengedipkan matanya. Nama itu terdengar sangat tidak asing. Dia pun memncoba membuka lembaran ingatan dalam kontak pikirannya.
"Iblis milik Aprilia."
"Yes!" jawab Nenek Mayang.
Santi terperanjat. Segera berjalan mundur. Namun, Nenek Mayang memilih hilang sebentar dalam satu kedipan. Lalu, hadir di belakang punggung Santi kemudian.
"Apa kabar bayiku?"
Deg! Jantung Santi tertikam akan rasa terkejut. Namun, tangan renta dan keriput itu melingkar lebih cepat, dan telapak tangan itu mengelus-ngelus perut Santi.
"Bayiku. Aku telah mendengar suara jantungmu. Kau sangat harum."
Santi segera menepis tangan itu.
"Kau iblis. Kau jangan menyentuhnya."
Nenek Mayang terkekeh. Rambut putihnya berkibar ke belakang. Merak dan sepasang matanya melotot kemudian pada Santi, "Bayi itu bukan titipan Tuhan. Namun, titipan milikku. Akulah sang empunya bayi itu."
"Tidak! Ini adalah milik Sadewa."
Nenek Mayang terkekeh, "Itu bukan milik Sadewa. Bukan pula milik Bintan. Itu milik tetanggamu!"
Plak! Santi seakan tertampar kenyaataan pahit.
"Aku akan mengambilnya!"
"Tidakkkk!"
Santi terjaga segera. Peluh keringat membanjiri hingga rahangnya. Dia segera membola. Tangannya bangkit memeriksa perutnya.
"Syukurlah masih ada."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ...
__ADS_1
Santi pandai menggonggong. Namun, dia nggak sadar Aprilia telah mengigitnya hingga ke tulangnya. Lama-lama Santi akan jadi kurus sendiri.... 🥰 Diet terhebat adalah Sakit hati dan malu. Diet tanpa obat.