
...Jangan pernah mengakui cinta, jika sakit itu tidak pernah datang. Sakit itu menguji? Bertahan atau pergi. Karena Cinta itu tidak pernah pergi....
...— Eouny Jeje—...
...Berbaring denga Sejuta Kesedihan. Memeluk derita. Mendekap dengan amarah. Dendam itu pun di mulai tanpa pernah air mataku akan jatuh lagi....
...—Aprilia—...
...꧁❤•༆PJP 71༆•❤꧂...
Puspa menjuling kesal. Dia menarik tangan Aprilia dan memposisikan wanita malang itu untuk duduk. Puspa menatap Aprilia. Dia tersenyum sinis. Ada bekas jejak ludah di sana. Puspa mengambil tisue dari dompetnya, dan menyeka ludah Jack dari wajah Aprilia.
"Aku takut kau akan memelet Jack dengan ludah yang terlempar menghina wajahmu. Ah, Jack bodoh sekali, tidak mengetahui betapa berharganya ludah itu."
Aprlia bersiap lunglai seperti agar-agar . Untuk pertama kalinya dia terjebak dalam ketakutan luar biasa. Dia bagaikan seorang pencuri kecil yang terjebak pada markas penyamun besar.
"Aprilia, aku memperingatimu.Jangan pernah mengambil milikku!" Puspa berdiri,dan baru saja dia menghadap pintu akan pergi, dia merasa ada sesuatu yabg sangat kurang. Kurang memberi pelajaran tambahan untuk Aprilia. Dia kembali berjongkok, mejambak rambut Aprilia.
"Kau harus di beri pelajaran. Agar kau jera mencoba mencuri milikku."
Bug! Kepala Aprilia lunglai begitu saja setelah di hantaman keras pada dinding. kesadarannya di doroong perlahan untuk terlelap. Bug!Bug! Bug! Aprilia mengerjap terkejut bangun akan setiap kaki yang terasa menyiksa dengan tendangan berkali-kali menghajar perutnya. Dia merintih. Perutnya sakit tidak tertahankan.
"Jangan menyentuh milikku lagi."
Aprilia bergetar. Samar mata sayup hanya menatap kepergian Puspa melewati pintu. Gelap pandangan makin gelap. Perutnya melilit sakit, dan dia merintih kala cairan merah panas terasa keluar menjalar dari tubuhnya dan menggenang kemudian di lantai.
"Nana! Kau ...,"lirih Aprilia hanya pada pintu yang terlihat kejam dan dingin menertawakan kesendiriannya dalam kesakitan yang panjang.
"Babu Jelek! Bukan Nana namaku, jika tidak membuatmu jera hingga mati. Sejak hari ini, kau tidak akan berani lagi menyentuh milikku. Sehelai rambutnya pun tidak akan ku ijinkan," teriak Puspa di depan pintu yang menyatu rapat dengan kusen.
Puspa menggeleng puas. Dia bahkan tidak menyadari jejak kekerasannya membuat Aprilia berguling di dalam ruangan. Sakit. Perih. Bersimbah darah begitu banyak. Puspa hanya berjalan indah dengan lekuk tubuh rampingnya, seakan dia tidak memiliki dosa. Sepanjang koridor yang sepi melompong, dia hanya terbahak teringat betapa muramnya wajah Jack, mengetahui pria itu hampir saja meniduri wanita yang paling dia hindari.
"Aprilia. Sungguh naas nasibmu!"
__ADS_1
Tuk!
Puspa mundur selangkah. Dia telah menabrak tubuh seseorang di depannya. Meraba keningnya sebentar. Sedikit sakit. Seperti telah menabrak batu besar.
Puspa mengangkat pandangannya. Dia di kejutkan dengan sosok wanita cantik yang kerap kali dia lihat di perusahaan Dandy. Sosok cantik yang terlihat pucat dan menyeramkan. Sepasang matanya terlihat seperti bola besar, marah dan ingin menerkam segera.
Puspa menyipitkan matanya. Dia mulai menduga jika sosok wanita cantik ini telah di panggil Aprilia untuk hadir.
Ternyata sahabat babu jelek!
"Kau jangan menakutiku? Dandy kapan saja bisa memecatmu."
"Oh," jawab Ade dingin tidak mengurangi sorot kelam matanya menatap Puspa.
"Beri aku jalan."
Ade tersenyum sinis. Di saat Puspa berjalan melewatinya. Hawa dingin itu menyergap tekuk Puspa, dan terasa terus bergerak mengikutinya. Puspa menoleh ke belakang dan hanya menemukan sosok Ade tiba-tiba berpaling dan menoleh dengan senyum yang terlihat sinis, dan gerak bibir wanita berwajah pucat terbaca mengancam.
"Suatu saat Aprlia akan membalasmu!"
"Kau?"
Ade hanya berbalik kemudian. Masuk ke dalam room yang menuntunnya terhadap aroma Aprilia. Dia di kejutkan dengan sosok Jin nya telah kembali kepadanya, dan mengadu jika Aprilia telah di siksa oleh seorang wanita muda yang mampu membaca sihir Aprilia. Sihir kuyang yang legendaris.
"Nana. Kau selanjutnya akan tahu. Menyakiti Aprilia berati kau menyakiti diriku, sang Kuyang yang kejam. Dan penderitaaanmu, akan mulai ku rancang dari saat ini."
Kret! Ade membuka pintu. Dia di kejutkan dengan sosok Aprilia yang bersimbah darah di lantai, dan sosok Nenek Mayang yang berjongkok di depan kedua kaki Aprilia yang terkakang lebar. Terlihat tangan tuan dan renta itu menerobos masuk ke dalam liang, dan mengais-ngais sesuatu di dalam sana.
"Nenek Mayang!" tegur Ade akan marah. Namun, aroma manis darah di lantai membuat hidungnya terasa sangat gatal.
"Ambil bagianmu. Janin di dalam perutnya telah mati. Kesalahan ini bukan milikku. Aku hanya menerima apa yang di berikan Aprilia padaku."
Ade mengerutkan hidungnya. Hidung terasa sangat gatal, dan lehernya terlihat merobek luka. Kepalanya ingin meminta terbang segera. Aroma darah segar itu membuat darah dalam tubuh Ade bergejolak menginginkannya. Kepalanya ingin lepas begitu saja.
__ADS_1
"Nenek Mayang hentikan itu!"
Nenek Mayang menoleh ke belakang,melotot marah pada Ade. Dia tidak akan melepaskan makanannya. Setiap kukunya telah menemukan sesuatu di dalam sana. Daging kecil yang terlihat belum sempurna segalanya. Namun memiliki cikal tunas yang menyerupai wajah, tangan, kaki.
"Dia sudah mempersembahkannya untukku!"
Ade menatap pada Aprilia yang berwajah pucat dan kosong.
"Aprilia," pangil Ade sedih akan sosok kosong di sana.
"Aprilia!" teriak Ade lebih keras.
Aprilia mengangkat pandangannya. Menoleh ke asal suara yang membangunkannya. Diapun memberikan senyum lirih, dan tidak berdaya pada Ade, dan napas itu terlihat pendek.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Aprilia menggelengkan kepalanya pelan, dan tertawa tanpa suara dengan sudut mata yang menerbitkan air yang deras.
"Aku tidak apa-apa. Turut ambil bagianmu, Ade."
Dup! Ade terhenyak. Untuk pertama kalinya air matanya jatuh akan sosok malang yang terlihat berbaring lemah dengan sejuta kesedihannya.
"Ambillah persembahanku. Hanya ini yang kupunya." Aprilia terbahak tanpa suara lagi. Air matanya terbit dari setiap sudut matanya.
Berbaring denga Sejuta Kesedihan. Memeluk derita. Mendekap dengan amarah. Dendam itu pun di mulai tanpa pernah air mataku akan jatuh lagi,tekad Aprilia membenci Puspa.
"Menyedihkan!"
Nenek Mayang hanya bersikap acuh dan tidak acuh. Sekarang daging lembut berada di dalam genggamannya, dan rasa lapar itu meledak begitu cepat. Taring-taringnya terlihat runcing dan menancap daging lembut yang tak bernapas itu. Kresh!kresh!kresh!
...꧁❤•༆PJP 71༆•❤꧂...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo