
...Cinta itu mampu menjual harga diri untuk bersaing. Cinta itu mempertahan harga diri untuk mengalah....
..._Eouny Jeje_...
...Aku mengijinkan awan lebih sering menurunkan hujan atau awan perlu menghilang, biar Sadewa tau betapa banyaknya awan di langit telah memperhatikanmu, Sadewa, mempelai pria-ku...
..._Tina_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aprilia memarkirkan mobilnya pada garasi. Dia menatap pada jam yang tertera pada MID mobil. Pukul 00.30 Wib.
Aprilia menghela napas. Seraya melepas sabuk pengamannya. Dia menoleh ke sisinya, dan menggerutu kemudian, "Aku pulang selarut malam ini. Bahkan tidak mengetahui apa saja yang telah aku lakukan. Selain pergi ke toko buku."
Tina tersenyum,dan memberi pandangannya pada Aprilia, "Kau tidak perlu memikirkan apa yang terjadi. Kau hanyalah patung manekin bagiku. Kau hanya raga medium."
Aprilia menoleh ke kursi belakang.
"Buku yang ingin aku beli? Apa kau tidak membawanya?"
Tina menggelengkan kepala.
"Namun, aku bisa mengambilnya untukmu."
Tina berkedip. Dia raib begitu saja. Lalu, tidak lama hadir kembali setelah dia menarik satu buku fiksi dari rak di sebuah ruangan yang terlihat gelap gulita.
Tina membuka telapak tangannya dan tidak lama sebuah buku fiksi berada di atas telapak tangannya.
Kekasih Tuan Muda Ruan, Eouny Jeje.
Aprilia tercengang. Takjub. Akan merebut buku tersebut. Namun, Tina menghempaskan tangan wanita itu.
Tina merobek plastik sampul. Lalu, membalik-balik halaman secara berurutan dengan sangat cepat. Setiap matanya terlihat memantulkan setiap huruf yang tereja oleh bibirnya.
Lalu, Tina menutup buku. Menyerahkan buku itu pada Aprilia.
"Aku sudah selesai membacanya."
"Cepat sekali. Apa menurutmu?"
"Aku adalah Anna. Kau adalah Gita. Sadewa adalah Ethan."
Aprilia mengerutkan kening. Akan protes. Dalam tokoh manapun, dia hanya ingin menjadi tokoh utama protagonis. Namun, tatapan tajam Tina menyurutkan lautan nyali miliknya.
"Kau ingin bersaing denganku, Gita?"
Aprilia menggelengkan kepala. Menyerah jika harus bersaing dengan sosok yang tidak terlihat.
"Seperti akhir novel. Ethan hanya akan mengikuti Anna. Ethan akan mengikutiku. Ethan akan pergi bersamaku."
"Tetapi, kau hantu!"
__ADS_1
"Jangan lupa kami adalah pasangan!Pernikahan itu akan terjadi. Apa kau tau rindu."
Aprilia membisu. Dia hanya merasakan seluruh jalan napasnya telah di potong lebih pendek. Menciptakan rasa sesak.
"Bagai dialog Ethan yang memperhatikan Anna. Begitupula diriku yang memperhatikan Sadewa."
Tina menghela napas dan mengutip kalimat dialog Ethan, dan mengubah kata ganti dalam dialog, "Aku mengijinkan awan lebih sering menurunkan hujan atau awan perlu menghilang, biar Sadewa tau betapa banyaknya awan di langit telah memperhatikan dirinya, Sadewa, mempelai pria-ku!"
Deg! Aprilia bergindik, sekejap dia menjadi sangat ketakutan. Klek! Dia segera melompat turun dari mobil. Tentu saja wanita itu menyampaikan pesan Kematian. Wanita itu ingin mengantar maut.
Tina hanya tersenyum sinis melihat bagaimana Aprilia lari ketakutan.
"Ethan tidak akan pernah memilih tetangga Anna, si Gita. Dia akan memilihku. Jika aku telah mati. Dia harus mati juga," bisik Tina pada telinga Aprilia.
Aprilia segera menutup telinganya. Mempercepat langkahnya, memasuki ruang tamu.
Aprilia berhenti di tengah ruang tamu. Terlihat pria paruh baya dengan sepasang mata merah menatapnya. Wajahnya kusut. Rambutnya berantakan. Tumpukan gelas kopi terlihat berserak di atas meja, di depan pria itu.
"Oppa," seru Aprilia berjalan mendekat pada pria itu. Pesan Kematian itu tiba mengusik dan membuat Aprilia menjadi makin biru menelisik jurang kesedihan dalam mata pria itu.
"Mengapa kau tak memberi kabar padaku? Aku khawatir. Aku terus mencarimu seperti orang gila. Hidupku meledak dalam rasa khawatir. Bahkan aku harus meleburkan diriku dalam lautan kopi. Agar aku tidak terpejam sedikitpun. Walau hanya untuk sedetikpun."
Aprilia melekukkan kakinya turun. Berlutut di sisi pria itu. Lalu, menggenggam tangan pria itu. Dia mampu merasakan getaran kesedihan pada pria itu, dan dia menoleh pada setiap gelas kemasan kopi, dengan logo Tentang Kopi .
"Oppa, apa kau tidak takut sakit karena kopi."
"Aku hanya takut. Kau tidak pulang. Aku sangat khawatir."
"Kau pergi ke mana saja?" Sadewa akhirnya bertanya.
Aku bahkan tidak tau kemana saja manis mantanmu membawaku pergi berkeliaran.
"Aku ketiduran setelah membaca. Lalu, aku pergi makan."
"Ketiduran?"
"Kelelahan dan tidur tanpa sengaja. Ketika, aku bangun. Hari sudah larut. Aku lapar. Pergi makan. Baru kembali kemudian."
Sadewa menghela napas. Ingin rasanya dia meremas jantungnya sendiri, "Apakah kau tidak bisa menyiapkan jawaban yang logis. Selain ketiduran."
Aprilia menggelengkan kepala.
Sadewa ingin menggigit lidahnya sendiri saat ini.
Aprilia menghela napas, dan menunduk pasrah menatap lutut pria paruh baya itu yang masih terlihat bergetar.
Jiwa mantanmu yang membawa ragaku berkeliaran. Jika, aku jujur apakah kau akan percaya? Aku tidak ingat apapun.
"Berdiri dan kembalilah ke kamar," perintah Sadewa kemudian.
Aprilia berdiri dengan bantuan tangan Sadewa. Mereka terlihat berdiri serasi di awalnya. Namun, kala langkah Aprilia akan menuju kamarnya. Pria paruh baya itu mengubah haluan langkah wanitanya. Membawa wanita itu ikut mengikuti langkahnya. Menaiki setiap anak tangga. Menuju kamar miliknya.
__ADS_1
"Oppa, ini?" Aprilia menjadi sangat canggung. Saat ini, dia ingin menampar wajahnya. Bagaimana dia bisa melupakan? Dia telah melewati satu malam dengan pria itu kembali. Tentu saja, pria itu akan kembali mengikatnya ke ranjang itu kembali.
"Tidurlah bersamaku setiap malam. Agar rasa khawatir dan takut akan kehilanganmu, lenyap."
Aprilia menoleh. Dia menghela napas. Menggelengkan kepala.
"Cinta ini akan terlihat terlarang. Bukankah semua orang hanya melihat kita adalah adik kakak."
"Setiap orang dalam rumah ini. Bibir. Telinga. Mata telah aku jahit. Apa yang perlu kau khawatirkan?"
Deg! Aprilia pasrah. Tidak memiliki satu kata untuk membatah lagi. Dia telah lama menjual dirinya untuk Sadewa. Kini, dirinya bukanlah milik dirinya sendiri. Dia adalah milik Sadewa.
Klek!
Pintu kamar terbuka.
Jantung Aprilia berdegup kencang. Sepasang matanya membingkai pada ranjang pernikahan Santi dan Sadewa. Bahkan foto pernikahan pria itu masih menggantung tinggi di dinding.
"Oppa, apakah kau bisa turunkan foto itu?"
"Besok akan di lenyapkan."
Sadewa menyeret langkah Aprilia, menginjak setiap ubin. Mendekat pada sisi ranjang. Lalu, duduk bersama di tepi ranjang.
Tangan pria itu meraba lurus pada punggung ramping Aprilia. Lurus menyelusuri tulang ekor wanita itu. Lalu, tangan itu menurunkan ujung retsleting dress Aprilia.
Dup! Bagai petasan yang di ledakan. Aprilia menahan napas sedalam mungkin. Hanya memejamkan mata, dan membiarkan rasa khawatir pria itu di bayar segera dengan tubuh yang terlihat polos.Tidak mengenakan sehelai benangpun.
Tina menyipitkan mata dari celah pintu. Cemburu. Dia tidak ingin berbagi sentuhan Sadewa. Diapun segera melayang, merasuki raga Aprilia kembali.
Tatapan wanita itu membola dingin kemudian.
"Aku akan melayani-mu," bisik Tina.
Sadewa tersenyum merona seakan sejuta khawatir telah berganti sejuta napsu. Hal ini segera di bayar dengan pertukaran sentuhan dan air liur, dan suara yang mendesah naik turun.
Setelah melewati sepanjang malam. Sang pria yang telah terlelap. Sosok merah pun keluar perlahan dari raga Aprilia. Lalu, dia duduk di tepi ranjang. Menghela napas lelah. Lalu, memutar kepalanya menoleh pada sang wanita yang terlelap bersembunyi di dalam kekasihnya.
"Kau hanya akan di sentuh. Di sentuh. Tanpa ada pernikahan. Itu adalah kutuk untukmu. Karena, Sadewa adalah milikku. Mempelai pria-ku. Sebentar lagi, aku akan menjemputnya sebagai mempelai."
Tina mengangkat kelopak matanya pada bingkai pernikahan Santi dan Sadewa. Mengedipkan matanya. Sosok mempelai wanita di dalam gambar, berganti rupa. Kini, terlihat wajah miliknya dan Sadewa yang bersanding dalam gambar.
"Pernikahan kita akan berlangsung."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author : ngajak nikah Mulu?
Tina : namanya cinta di bawa sampai mati
Author : tidak tergantikan begitu yah
__ADS_1
Tina : iya