
...Satu hal yang membuatku ingin memelukmu. Kau membuatku merasa aman walau harus berjalan sendirian....
..._Eouny Jeje_...
...Hanya ada dua hal tujuan hantu itu menemuimu. Pertama, dia merasa kau adalah teman baiknya. Kedua, dia merasa kau adalah musuhnya....
..._Nana_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jack membola. Akan bertanya. Namun, seakan tenggorokannya tersumbat. Dia hanya membiarkan sepasang matanya melihat wanita itu bergerak menjauh darinya. Jauh perlahan dan hilang.
Jack masih mematung. Heran bercampur aduk ketakutan. Kembali, dia terngiang akan kalimat di koarkan Puspa pada wanita yang baru dia kenal.
Kau kesurupan arwah!
Jack menggelengkan kepalanya. Seakan tidak yakin. Namun, hal itu terasa nyata.
Apakah Lea kesurupan? Rasanya sangat tidak mungkin.
Jack menggelengkan kepala. Setiap kata wanita itu manis terngiang di telinganya. Berusaha dia menepis kecurigaannya pada wanita itu.
Tidak mungkin ada dua jiwa dalam satu raga. Tetapi, Nana tidak akan asal tebak.
Tidak yakin akan apa yang telah terjadi. Jack teringat bagaimana Puspa mampu mengenal kedok Babu Jelek yang menggunakan mantera untuk menipunya waktu lalu. Kini, perlahan dia mulai yakin, jika yang di ucapkan Puspa kali ini menuju kebenaran kembali.
Jack merogoh ponselnya dari saku celananya. Memanggil kontak dalam daftar teleponnya. Nana sayang.
"Nana, kau dimana?"
"Kau lebih bertanya di mana aku berada? Daripada apa yang telah terjadi padaku?"
"Aku ingin melihat keadaanmu. Oleh itu, aku bertanya kau dimana?"
"Siloam Hospital!"
"Aku akan menemuimu!"
Tuts! Pangggilan terputus kemudian.
Tiga puluh menit kemudian ....
Jack telah tiba pada front office Unit gawat darurat rumah sakit Siloam. Diapun akan bertanya pada resepsionis bernama Cesilia.
"Saya ingin menanyakan pasien berna-"
"I'm here," sahut seseorang tiba-tiba di belakang Jack.
Jawaban dari suara seorang wanita yang terdengar tidak asing.
"Aku sudah selesai di rawat."
Jack menoleh ke asal suara. Dia berpaling. Dia mengamati dengan hati-hati warna kulit yang terlihat masih meninggalkan bekas jejak lima jari itu. Sudut bibir yang robek membekas di ujung bibirnya.
"Apakah ini sakit?"
"Menurutmu?"
"Sangat sakit!"
Puspa melipat tangan di dadanya.
__ADS_1
"Maafkan aku." Sekejap, Jack merasa sangat bersalah.
"Kau membawa penganiaya untukku. Dia wanita kesurupan, kau berani ingin berkencan dengannya."
Jack menghela napas. Keraguan dan keyakinan bercampur aduk, membuat setiap akalnya hanya menemui hal yang di sebut mustahil.
"Aku bahkan tidak pernah percaya. Jika hantu itu ada."
Wanita di depannya, memamerkan pipinya lebih dekat pada Jack. Dia mencondongkan sedekat mungkin.
"Apakah wanita biasa mampu menampar sekuat ini?"
Jack prihatin. Ujung telunjuknya menyentuh pipi wanita di depannya.
"Maaf," bisik Jack kembali dan sangat menyadari bahwa tamparan itu, jelas melebihi kekuatan pria tangan besi manapun.
Puspa menjauhkan wajahnya.
"Untung saja. Tulang otot wajahku masih normal. Jika aku tak mampu bicara, bagaimana?" keluh Puspa marah.
"Kita akan menghubungi Roy, fisioterapi. Untuk memijat wajahmu."
"Aku rasa kau yang perlu di simulasi otaknya, Jack. Menjumpai wanita berhantu, dan kau masih membelanya. Kau ingin mati cepat."
Jack menggembungkan napas dalam mulutnya. Menghembuskan kasar. Konyol. Dia tidak ingin mempercayai hal mistis. Namun, jejak tamparan itu jelas bukan milik jejak tangan wanita biasa.
"Apakah dia dirasuki?"
Puspa membuka kelopak matanya. Lebar dan besar kemudian.
"Tentu saja. Aku tidak salah menebak. Wanita itu di huni hantu yang menyeramkan."
Jack gelisah. Seketika, wajahnya terlihat sedikit pucat, dengan warna bibir yang terlihat memudar warna aslinya.
"Kau perhatikan saja bola matanya. Apakah sepasang matanya terlihat miliknya? Pandangan matanya dingin menatapku dan menatapmu. Apa kau tidak sadar? Pandangannya bukan seperti orang hidup. Sangat dingin. Dia tidak memiliki empati. Seakan dirinya telah di kuasai seseorang. Sepasang matanya tidak akan pernah lurus melihat wajahmu."
Jack meremas rambutnya. Dia terlihat kembali kepada setiap adegan saat dia bertemu Aprilia. Namun, hanya untuk hari ini wanita itu sangat berbeda.
"Sebelumnya dia tidak seperti itu? Dia wanita yang sangat menyenangkan! Bagiku, dia asyik."
"Kau gila! Masih menyebut wanita berhantu itu menyenangkan!"
"Aku tidak percaya ada hantu! jika ada sosok yang di sebut arwah, maka dia hanya akan diam di dalam tanah."
"Yang ada berkeliaran! Pergi kesana kemari hanya untuk berkunjung dari satu rumah kerabat dan teman yang dia kenal, atau bahkan sedang duduk nyaman mengikuti orang yang dia sukai."
Jika Lea di rasuki hantu? Berarti hantu itu mengenalku!
Jack menghela napas panjang. Dia meraup seluruh wajahnya. Menghapus jejak ketakutan mengingat bagaimana wanita cantik itu mengetahui identitas lama yang telah dia buang.
Randi. Mengapa dia mengenal namaku? Aku akan mencari tahu. Siapa hantu atau arwah dalam raga Lea.
Jack menatap Puspa dan menggandeng wanita itu perlahan masuk ke dalam mobilnya.
Jack masih termenung di balik kemudi. Sepasang matanya hanya terlihat membingkai mobil ambulance di lobby unit gawat darurat. Namun, dia telah memikirkan hal yang lain.
Aku sangat menyukai Lea. Apa ada cara mengusir hantu itu dari raga Lea? Lalu, mengapa dia mengenalku? Nama Randi, nama lama yang telah aku tinggalkan.
"Ada apa denganmu?" tanya Puspa.
Jack terlihat tuli.
__ADS_1
Klek! Pintu sopir terbuka lebar. Wanita itu berdiri menatap Jack yang masih kosong pikirannya.
"Belum berjalan. Atau aku yang mengendarai mobil. Kau duduk saja termenung santai di sebelahku."
Jack terbangun. Dia menatap sang pemilik suara. Menghela napas, dan berkata gusar, "Aku yang akan kembali menyetir.
Puspa kembali memutar langkah. Duduk kembali ke posisi sebelah sopir.
Jack masih terlihat gamang menginjak pedal gas. Dia menoleh pada wanita yang di sisinya, dan bertanya akan kejanggalan hatinya.
"Apakah aku harus percaya jika ada dua jiwa dalam satu raga? Apakah itu termasuk mistis miris!"
Puspa mendekih, dia ingin mati konyol saat ini.
"Aku sudah menjelaskan lebih dari satu kali. Kau masih tidak percaya?"
Jack memukul setir. Dia menatap lurus, dan mengeluarkan kalimat yang menjadi penjagal di dalam dadanya.
"Apakah aku harus percaya jika hantu dalam tubuh Lea mengenalku?"
Puspa menyipitkan matanya. Tatapannya menjadi lebih serius, "Hantu itu mengenalmu?"
Jack menganggukkan kepala.
"Dia menyebut nama lawasku."
"...."
"Lalu, apa tujuan hantu itu mengejutkanku?"
Puspa mengangkat dua jari pada Jack, dan mencondongkan tubuhnya mendekat pada Jack. Lalu, berkata dengan suara rendah.
"Hanya ada dua hal tujuan hantu itu menemuimu."
"...."
"Pertama, dia merasa kau adalah teman baiknya."
Jack menganggukkan kepala.
"Kedua, dia merasa kau adalah musuhnya."
"Bagaimana aku tahu rupanya? Teman atau musuh."
"Biarkan dia bermain lebih banyak denganmu. Jika musuh, dia pasti akan membuatmu gelisah untuk bersalah. Jika dia temanmu, dia akan menuntutmu ke satu hal untuk membuka satu rahasia."
Rahasia? Apa itu?
Jack mundur. Melempar punggungnya bersandar segera pada kursi sopir miliknya.
Mengapa harus Lea yang di rasuki? Mengapa tidak ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tina : Ding Dong aku mencarimu jangan bersembunyi
Author : serem 🤣 jangan nakutin deh
Tina : mau bawa ke laut
Author : ni aku kasih pelampung . Bilang aja referal Eouny Jeje 🥳 biar aku dapat bonus.
__ADS_1