
Aprilia, kau akan jatuh menjadi abdi setan. Kau akan jadi pengikutku. Bersamaku kau akan menggengam dunia. Kecantikan di tangan kirimu. Kekayaan di tangan kananmu. Pria di bawah kakimu.
Ruh Nenek Mayang merangkak keluar dari tubuh Jack. Menerobos dinding masuk ke dalam kamar Aprilia. Di dalam kamar, Aprilia terlihat menatap setiap langit-langit kamar. Aprilia terlihat tersenyum sendiri, akan apa yang telah dia lakukan bersama Jack di dapur tadi. Bahkan dia melupakan pesanan Puspa, yang meminta Teh Madu.
Perlahan bulan merangkak naik makin tinggim Aprilia pun terlelap dengan cepat. Nenek Mayang yang terus berdiri membungkuk mengawasi, kini maju peelahan ke tepi ranjang Aprilia. Diapun tersenyum geli. Dengan telunjuknya dia pun mengirimkan ilusi ke dalam pikiran Aprilia. Dia mengirim kan sosok Jack yang kembali datang mengikutinya hingga ke dalam alam mimpinya.
Sosok Jack datang menemuinya dan membisikinya perlahan, "Jauh di lubuk hatiku. Aku ingin menikahimu. Bukan Nana. Hatimu lebih cantik daripada Nana. Kau wanita baik, pantas menjadi ibu untuk anak-anakku."
Aprilia gagap dalam mimpinya. Bersiap menyentuh dan merekuh pria itu dalam pelukannya. Namun, pria itu telah menguap hilang begitu saja.
"Jack!" Aprilia bangun seketika. Matanya membola ingin sesuatu dari Jack. Dia meremas kaos di depan dadanya. Dia teringat akan setiap mimpinya. Mimpi itu membuat seluruh wajahnya terlihat merah menghangat.
Aprilia menatap dirinya di pantulan cermin. Dia menatap dirinya yang terpantul. Dia menghela napas.
"Aku tidak bisa hanya terus bermimpi. Terus berkhayal tanpa bergerak. Hanya akan menjadi orang bodoh." Aprilia mengepalkan tinjunya. Dia menatap dinding. Jam tiga pagi.
Jadilah licik, Aprilia. Untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Tidak boleh hanya menunggu dan diam, bisik Nenek Mayang. Namun, tidak terdengar oleh telinga jasmani Aprilia. Aprilia hanya menoleh ke kiri sebentar, seakan merasakan ada angin masuk ke dalam telinganya. Dia menggosok telinganya dan bergindik sebentar. Aprilia bangkit berdiri. Dia merasa takut akan sosok yang tidak terlihat. Tetapi siapakah itu?
Aprilia menepis segala ketakutannya. Dia menggigit ujung bibirnya. Saat ini dia menyusun rencana. Dia ingin seratus langkah lebih maju, mendekati Jack, pujaan hatinya.
Kret! Aprilia keluar dari kamarnya. Mengendap-ngendap seperti pencuri. Dia pergi ke dapur, dan mendapati Jack masih terlentang pulas tidur di lantai yang dingin. Aprilia jatuh kasihan akan sosok pria itu. Dia pun berjalan menghampiri pria itu, berjongkok.
__ADS_1
"Jack. Lihatlah aku. Aku tidak cantik fisik. Tetapi, jangan ragukan hatiku. Percayalah, aku mampu menjadi isteri yang baik. Jika kau bersedia menikahiku." Aprilia pun jatuh mendorong bibirnya mencium kening Jack. Cup! kecupan itu hanya datang sekilas. Tetapi, meninggalkan jejak hangat pada kening pria itu.
Lalu, Aprilia membopong tubuh pria itu. Membopong nya dengan perlahan. Berat di awal. Namun, sekuat tenaga Aprilia mengangkat berdiri tubuh pria itu, dan perlahan mampu membawanya berjalan walau terlihat snagat tertatih-tatih dalam tiap langkahnya.
Aprilia berdiri menatap kamar miliknya dan kamar Puspa bergantian. Dia terlihat ragu sebentar, kemanakah dia mengantar Jack?
Apa ke kamar Nana?— Aprilia menggelengkan kepala— Tidak. Lebih baik aku memikirkan keuntungan untuk diriku sendiri. Nana itu wanita serakah. Dia tidak akan pernah berbagi denganku.
Aprilia menatap jauh keluar pikirannya. Dia meraba perutnya dan memandang Jack kemudian. Tatapannya lekat dan penuh harap. Bagaimana jika anak ini di sebut anakmu saja.
Aprilia tersenyum dengan siasat baru dan hasratnya memiliki Jack. Dia pun membopong Jack ke dalam kamar miliknya. Membaringkan Jack terlentang di atas ranjangnya. Melepaskan sepatu pria itu, dan meletakkannya di sudut ruangan dekat lemari.
"Biarpun aku jelek. Tetapi, aku akan membuatmu terus bertanggung jawab padaku. Aku ingin suatu hari nanti kau mempersunting ku dan menjadikan aku isteri sah-mu."—Aprilia tersenyum merekah— "Menjadi isteri siri, sebenarnya juga tidak apa sih. Asal aku nomor satu di sini." Telunjuk Aprilia menempel pada jantung Jack yang berdetak teratur.
Aprilia menempelkan bibirnya lagi pada kening pria itu. Meninggalkan jejak kehangatan di sana, sekali lagi. Aprilia mengendap kembali keluar kamar. Dia mengambil dupa penyenyak tidur yang pernah dia lihat. Dupa itu berada dalam lemari ruang tamu. Dia pun mengambil, menyalakannya dan diam-diam mengendap masuk ke kamar Puspa.
Kret! Pintu kamar dibuka perlahan. Terlihat Puspa terlelap pulas di atas tempat tidur. Aprilia memandangi sebentar, dan seringai kebencian terpantri di garis bibirnya yang terlihat miring, "Ingin rasanya aku membunuhmu. Wahai wanita tukang hina. Kau suka menghina orang lain, padahal hidupmu pun tidak sebagus dariku."
Aprilia meletakan Dupa penyenyak tidur di atas nakas, mengibaskan asap dupa yang terbakar untuk mendekat pada Puspa, "Tidur yang nyenyak saja. Sementara, aku mengurusi pria-ku yah."
Bau dupa mengisi ruangannya. Aromanya tajam dan membuat sangat mengantuk ketika setiap tarikan napas menarik udara bercampur aroma lavender itu masuk ke dalam rongga dadanya.
__ADS_1
Aprilia tersenyum akan rencana barunya. Dia meraba perutnya, dan menatap pantulan perut ratanya di cermin, "Anakku, kau punya ayah layak."
Mata Aprilia jatuh pada laci lemari. Dia pun merasa heran. Dia telah membakar boneka jerami. Namun, khasiat jampi-jampi boneka itu masih mampu menguasai hati Jack. Penasaran. Aprilia menarik laci tersebut, Kret!
Aprilia tercengang. Boneka itu masih utuh dalam laci. Tidak terbakar. Tangan Aprilia bergetar, meraup boneka tersebut, dan memeriksanya. Ada sedikit gosong di punggung boneka jerami. Hanya sedikit bekas terbakar. Sisanya utuh.
"Ini?" Aprilia takut dan melempar boneka kembali ke laci. Dia pun segera bangkit berdiri. Jiwa raga bergetar ketakutan. Dia segera menutup pelan pintu kamar, Kret! diapun berlari ke kamarnya. Duduk di tepi ranjang. Dengan sosok Jack di sisinya terlentang tidur.
Aprilia mengingat apa yang terjadi malam itu. Dia telah membakar boneka jerami menjadi abu dan tidak tersisa. Tetapi, boneka itu kembali utuh dengan hanya punggungnya yang terlihat sedikit menyisakan jejak terbakar. "Apakah ini pertanda bahwa boneka itu memang gaib?"
Deg! Jantung Aprilia jatuh sangat takut. Dia segera mengangkat kakinya ke ranjang, menurunkan tubuhnya, tidur bersebelahan dengan Jack, dan memeluk tubuh tegap pria itu.
"Jack peluk aku. Aku takut sekali. Akhir-akhir ini aku sering mendengar seseorang membisiki diriku, aku sedot takut padanya, " bisik Aprilia pelan tepat di telinga pria itu. Pria itu hanya terlelap, dan hanya sedikit bergeliat merasa geli akan sapaan di telinganya.
...----------------...
Bersambung ....
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo
__ADS_1