Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 67


__ADS_3

...Manis itu awal pertemuan. Pahit itu proses. Sedih/bahagia akhir yang kau tentukan....


...—Eouny Jeje—...


...Cinta itu menerima segala yang baik, buruk, dan mengejutkan."...


...—Aprilia—...


...꧁❤•༆PJP 67༆•❤꧂...


Aprilia bergindik kala bayang hitam sosok Ade hilang melesat cepat masuk ke dalam kamar. Ada rongga celah mengintip. Pintu kamar itu terbuka, menggelitik rasa penasaran Aprilia, sekaligus rasa takut.


Apa yang di makan Ade?


Aprilia bergindik. Seluruh bulu Roma berdiri. Kala sayup-sayup telinganya mendengar seperti suara seseorang sedotan mengisap dengan sangat kuat.


Aprilia menaikkan kelopak matanya ke atas. Tampak dua bola mata indahnya memiliki sorot penasaran yang luar biasa. Tidak lama kemudian, kakinya pun berjalan mengendap perlahan mendekati pintu kamar. Celah cukup besar untuk mengintip.


Sepasang bola mata Aprilia tampak bersiap akan keluar dari perumahannya. Apa yang dia lihat terlihat mengerikan.


Aswin terlihat terbaring di atas ranjang. Wajahnya pucat dan sepasang bola matanya terlihat melotot menatap langit kamarnya. Setiap kakkinya terkunci dengan tali. Setiap tangannya menggantung dengan borgol. Dia tampak sangat kurus. Pucat,dan wajahnya menghitam.


Aprilia menutup mulutnya. Kala, Ade mulai mengeluarkan lidahnya kembali. Lidahnya ramping panjang seperti milik ular. Lidah itu menyelusup masuk ke dalam lubang telinga. Sekali-kali Aswin merasa kejutan datang. Darah segar kembali keluar dari hidung pria itu. Di saat itulah, Ade kembali menarik lidahnya dan menyesap cairan merah yang terasa manis.


Aprilia menggelengkan kepala. Dia mundur perlahan tanpa melakukan gerakan berisik sedikitpun. Dia memutuskan akan segera keluar apartemen. Kret! Pintu apartemen terbuka. Blam! Pintu itu terhempas mengatup kembali. Seakan tidak mengijinkan Aprilia untuk keluar.


Semilir angin lembut tiba-tiba berubah kencang dan menyeramkan. Aprilia berbalik dengan tangan yang saling menggosok kedinginan. Dia di kejutkan dengan sosok kepala yang dia kenal. Terbang melayang dengan rambut yang berkibar merak ke belakang. Angin tampak senang mempermainkan setiap helai rambut Ade.


Blep! Blep! Tiba-tiba saja lampu apartemen terus berkedip. Setiap perabotan terlihat bergoyang. Suara gorden terdengar berisik di tiup angin kencang.


"De!"


Ade tersenyum. Wajahnya pucat. Seakan darah Aswin, tidak cukup menghapus dahaganya.


"Aku masih lapar!" gumam Ade mengejutkan. Pandangannha jatuh pada perut Aprilia.


"Ade, aku penyelamatmu!"


Ade terlihat gelap. Rambutnya berkibar merak dan suara gigi gemeretak terdengar saling mengadu, menimbulkan bunyi keras, bersiap ingin mencabik.


Kepala dengan usus yang menjuntai keluar itu terlihat terbang mendekati Aprilia, dari dekat terlihat bewarna pucat menakutkan.


Aprilia terkesiap menggunakan tangannya untuk menghalau kepala Ade menyentuhnya. Tangan Aprilia berayun kesana kemari, dan hal ini tidak membuat Ade gentar akan tujuan.


"Ade!" teriak Aprilia.


Ade yang lapar terkesiap bangun. Mendadak dia tidak tega pada Aprilia. angin badan perlahan tenang. Tiba-tiba sepasang matanya bersinar cerah. Kepala yang mengambang tinggi di udara, tiba-tiba jatuh ke lantai dan bergerak menyeret masuk kembali ke dalam kamar Aswin.


"Aprilia ... tolong aku."


Aprilia masih mematung shock. Telinganya tuli untuk mendengar permintaan tolong Ade.


"Aprilia ... tolong aku!" teriak Ade lebih besar.


Aprilia terkesiap bangun . Panik dan segera berlari ke kamar Aswin. Dia melihat sosok kepala itu terlihat jatuh berbaring lemah di lantai dekat tubuh Ade yang berdiri tegak bersandar pada belakang pintu.


"Pasangkan kepalaku!"

__ADS_1


"Bukannya kau habis makan? Seharusnya tenagamu sudah pulih?"


"Darah Aswin mulai tidak di konsumsi. Berikan aku darah hewan, Aprilia. Darah hewan yang baru di potong."


"Hmm!"


"Aku akan selalu menjadi sahabatmu. Aku bersungguh-sungguh."


Aprilia ragu dia menatap Aswin yang berbaring setengah hidup. Setengahnya tampak mati.


"Aswin?"


"Dia berselingkuh. Aku membencinya. Aku frustasi. Aku gila. Lalu,aku mempertontonkan kehidupanku. Dia terkejut. Shock. Dia memecahkan botol red wine. Lalu, ingin menabur pecahan kaca pada leherku."


"Dia ingin membunuhku!"


"Iya!"


"Pasang kepalaku segera."


Aprilia mendengus pada Aswin, "Kau pantas mendapatkannya pria laknat. Bukankan cinta itu menerima segala yang baik, buruk, dan mengejutkan."


Setelah berkomentar demikian,Aprilia berjongkok meraih kepala Ade,dan hidungnya terlihat mengerti tajam akan bau amis yang di miliki Ade.


"Andai aku tau seperti ini. Aku tidak akan mampir kemari. Wangi mahal dari salon itu hilang berbaur dengan bau amis milikmu," keluh Aprilia kesal dan meletakkan kepala Ade pada poros leher.


"Aprilia pesankan darah hewan untukku!"


"Aku tidak tahu memesan hal seperti itu."


Ade terlihat lemah dan memohon di dalam suaranya. Aprilia menghembuskan napas panjang dan melihat Aswin lagi, ada rasa tidak tega akan sosok pria yang terlihat mati otak berbaring di atas ranjang, dengan selang oksigen di bawah hidung, beserta selang infus NaCL yang melingkar pada pergelangan tangannya, dan jarum yang menusuk pada punggung tangannya.


"Dimana aku harus membeli?"


"Via online. Cari saja di google."


Aprilia segera merogoh ponselnya dari saku tasnya. Dia dengan sengaja memamerkan merk baru ponsel yang dia gunakan pada Ade.


"Ponsel baru?"


"Iyes!" Aprilia bersiul kemudian mencari darah hewan segar pada mesin pencarian google.


Sedetik kemudian. Berita penelusuran muncul seketika. Aprilia memilih pada penelusuran gambar.


"Pilih hewan apa? Kambing ? Bab*? Ayam?"


"Yang paling murah saja."


"Syukurlah. Jadi Kuyang tidak pilih-pilih!"


Setelah melakukan pemesanan. Aprilia  mengakhiri pesan dengan sang penjual online.


"Hah? Mengapa kau tidak membeli dari dulu daripada berkeliaran."


"Pantang untukku membeli online. Karena, kami akan di tangkap untuk di ambil botol minyaknya."


"Oh, pantasan."

__ADS_1


Aprilia duduk di kasur. Dia terlihat jatuh kasihan pada Aswin, "Kau tidak kasihan padanya? Lepaskan saja dia."


"Dia sudah mati otak."


"Maksudku biarkan ruh nya pergi ke langit. Aku kasihan melihat tubuhnya makin kurus seperti tengkorak. Berapa lama kau siksa dia seperti ini?"


"Dua bulan lamanya!"


Aprilia menggelengkan kepala.


"Maafkan saja perselingkuhannya."


"Tidak semudah itu lupa!" Ade marah, dia menjilat bibir dan menahan raga yang menggigil lapar.


"Tetapi dia sudah seperti ini. Zombie Aswin."


Aprilia mendekat pada wajah Aswin, "Sungguh sayang kau seperti ini. Aku tiba-tiba rindu kau panggil bebek. Bebek. Bebek!"


Drrtt!


Ponsel Aprilia bergetar.


"Pesananmu sudah tiba di bawah. Cukup cepat!"


Aprilia segera turun mengambil pesanannya. Yang di letakkan penjual dalam sebuah botol minuman dengan kemasan bergambar buah berry, dan tertulis aroma original.


"Apa ini darah segar?" bisik Aprilia bertanya.


"Baru saja potong, sista ...," bisik sang penjual.


"Untuk sesajen yah non?" goda penjual.


"Iya untuk pelet!"


"Pelet laki orang yah!"


"...."


Setelah membayar. Aprilia dengan hati- hati membawa lima botol darah ayam kampung itu ke apartemen Aswin.


Ade mengisap darah tersebut. Hausnya pun terbayar dengan cepat. Wajahnya berseri merah kembali.


"Kau ingin menggoda seseorang?"


"Iya nih!" aku Aprilia malu-malu.


"Jack?"


Aprilia mengangguk.


Ade pun mengeluarkan sebuah botol minyak, dan tersenyum, "Gunakan minyak ini agar kau terlihat sangat cantik memikat."


...꧁❤•༆PJP 67༆•❤꧂...


Jangan lupa mampir


ke cerita : Kekasih Tuan Muda Ruan dan Hantu Istriku Balas dendam untuk pecinta horor

__ADS_1


__ADS_2