
...Tidak pernah aku sangka. Di hari ini, kita akan menangis bersama. Hanya untuk mengenang hari yang di sebut kemaren. Merindu sekaligus membenci. Menggenggam madu bersama racun. Manis dan pahit sekaligus kita telan....
..._Tina_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sadewa tidak kunjung menjawab. Dia hanya memeluk erat pinggang ramping itu. Lalu, merengek tanpa suara. Namun, jelas air matanya tumpah membasahi dress yang dikenakan Aprilia.
Apakah kau sangat kehilanganku? tanya Tina membantin.
Sengguk tangis Sadewa terdengar samar. Walau, riak tangis itu lembut, tetap terdengar.
"Siapa dia?" tanya Tina berharap menebak sosok itu adalah dirinya.
"Sebut saja dia Sunny."
"Sunny oh sunny, cinta pertamaku," sahut Tina melantunkan dengan irama yang terdengar menyayat jantung dua raga yang saling merangkul tersebut. Cinta pertama bagai bukan yang pertama mengenal cinta.
Apa kau yakin mengenalku sebagai cinta pertamamu? Sunny! Bagaimana dengan Santi? Bagaimana dengan Eouny, adik kepalsuan milikmu? Apakah matahari mampu terbit tiga sekligus di langit yang sama?
Tina menurunkan kelopak matanya. Bulu matanya terlihat bergetar, kala dia ragu akan penyebutan Sunny ditujukan untuk dirinya.
"Apakah dia sangat berati?"
Sadewa mendongakkan kepalanya, sedikit keluar dari rangkulan wanita itu, dan bibirnya bergetar dengan sepasang mata yang mengalirkan bulir-bulir air bening.
"Apakah ada artinya, jika orang itu telah pergi?" tanya Sadewa.
Tina mundur dari rangkulan. Dia meletakkan tangan pada setiap pundak pria itu, dia menatap sepasang mata yang berkaca pria paruh baya itu dan dia melengkungkan senyumnya bak busur panah yang siap menerbitkan anak panahnya.
"Jika dia tidak berarti. Kau tidak akan pernah menangis."
Sadewa segera sadar akan air matanya. Dia segera meraup air dari wajahnya. Dia berpaling ke samping, hanya untuk menyembunyikan wajahnya.
Tina mengangkat pupil matanya. Seakan, tidak ingin mengijinkan air matanya jatuh bergulir. Dia mengelus rambut pria itu. Lalu, membiarkan air matanya jatuh membasahi ufuk kepala itu.
Tidak pernah aku sangka. Di hari ini, kita akan menangis bersama. Hanya untuk mengenang hari yang di sebut kemaren. Merindu sekaligus membenci. Menggenggam madu bersama racun. Manis dan pahit sekaligus kita telan.
"Aku tidak ingin kehilangan dirimu," sengguk Sadewa yang meremas air matanya lebih banyak.
Apa kau ingat? Jika, kau pernah berkata hal yang sama. Tidak ingin kehilangan diriku.
Tina memeluk Sadewa. Rangkulan itu menghangat. Lalu, detik jam bergerak berputar beberapa kali. Tiba, saling melepas pelukan, dan saling bertukar pandangan mata. Seakan ada rasa manis yang menggoda. Kala, membingkai bibir dalam bola mata masing-masing.
Tangan Sadewa maju perlahan,merapikan setiap anak rambut yang bergulung bak ombak indah. Lalu, jemari tangan pria itu merangkak ke tulang pipi rahang, berjalan perlahan, hingga ujung telunjuk Sadewa menyentuh bibir yang terlihat pudar warna lipstiknya.
Apakah kau tau? Mengapa wanita menerima sentuhan seorang pria? Karena, dia sangat menyukaimu. Dia ingin melayanimu.
__ADS_1
Kepala Sadewa bergerak maju, dan miring perlahan, dengan ujung hidung yang bersisian dengan milik Aprilia. Deru napas pria itu menyapu setiap detail wajah Aprilia. Lalu, bibir pria itu menempel perlahan, memberikan sentuhan hangat pada bibir Aprilia yang terasa sangat dingin.
"Ijinkan aku," bisik Sadewa di atas kecupan yang berakhir singkat.
Tina memejamkan sepasang mata milik Aprilia. Bulu mata wanita itu lentik bergoyang, dengan bibir yang sedikit terbuka, dan meloloskan satu kata, "Silahkan."
Bisakah hal ini akan membuatmu mengingat. Jika, anak ini adalah milikmu.
Tina meraba perut rata milik Aprilia.
Pagutan Sadewa datang kemudian. Dengan balasan yang di berikan Tina, dan air liur yang tercipta saling bertukar lebih banyak. Tangan Sadewa memegang ceruk leher Aprilia, seakan tidak mengijinkan ciuman itu berlangsung singkat.
Satu tangan Sadewa, menarik tali dress Aprilia. Di turunkan hingga jatuh ke bahu.
Tina memundurkan wajahnya sedikit, dan memberikan ruang untuk berbisik, "Naikkan aku ke ranjang."
Sadewa membola cerah. Bagai gayung yang telah bersambut. Dia segera membopong tubuh wanita itu, naik ke ranjang. Meletakkan perlahan di tengah ranjang kedaulatan milik sang pria tirani.
"First unboxing, Oppa," ujar Tina dengan raga yang terbaring di bawah raga pria yang telah menaruh tempurung kakinya bertumpu bersisian di kiri kanan raga Aprilia pada kasur empuk. Pria itu melepas setiap kancing kemeja miliknya. Lalu, melepas kaos dalamnya.
"Jangan terburu-buru," aba wanita itu, "Ini adalah hari pelepasan segel baru," singgung Tina.
Sadewa tersenyum penuh gairah. Dia menurunkan raganya, mulai mencium kening wanita itu. Lalu, menyelusuri perlahan sepanjang tulang hidung. Hingga kembali, berlabuh pada bibir ranum wanita yang membuat seluruh kesedihan berganti menjadi gairah yang meletup.
Perlahan, tangan Sadewa melepas kedua tali dress itu jatuh merosot hingga pergelangan tangan.Lalu, kerah dress itu di buat turun hingga berada sedikit di bawah tulang rusuk dada. Memamerkan gunung kembar yang berselimut busa kain bewarna merah yang terlihat memenuhi pesona dalam gairah mata pria yang telah lama menanti pembukaan yang sangat menggoda.
Setelah kaitan itu lepas. Bagai bayi yang merindukan air susu. Bibir Sadewa merangkak buru-buru, menghisap salah satu milik Aprilia. Lenguh terdengar di bunyikan dengan sengaja, sepasang mata milik wanita itu hanya terus menerawang ke langit. Tanpa mengetahui rasa yang telah di berikan Sadewa.
Tina membiarkan seluruh raga Aprilia kaku, dia tidak membalas dengan genitnya, dia hanya membiarkan Sadewa lebih dominan. Hingga, pria itu membuka suara, dan menunjukkan protesnya, "Mengapa kau tidak bergerak? Kau hanya diam. Bukankah ini bukan pertama kita?"
Tina tersenyum, "Aku adalah wanita baru, Oppa. Ini adalah First unboxing. Aku adalah si perawan yang kau ciptakan. Yang ingin kau hargai dengan mahal. Jadi, jangan salahkan aku, jika aku tidak mampu seantusias yang kau sebut ini bukan pertama."
Sadewa tersenyum dan dia terkekeh dan berbisik, "Kemasan baru. Aku sangat menyukainya."
"Telur yang pertama pecah," goda Tina.
Sadewa pun meraba lembut dan meremas setiap gunung yang terlihat polos di bawah matanya. Tina hanya membuat lenguhan-lenguhan palsu, membiarkan raga Aprilia terus kaku dan mata menatap kosong itu, terus menatap langit-langit.
Dalam seperkian jarum menit yang berputar berkali-kali. Sadewa melewatinya hubungan sentuhan kulit. Seakan, dia memperkosa seorang patung yang hanya diam tanpa perlawanan. Sadewa menghela napas. Lalu, dia meloloskan pakaian bawah pinggangnya, dan melucutkan setiap potongan pakaian Aprilia yang melekat.
"Aku akan lebih pelan. Menembus seorang perawan untuk Oppa."
Tina hanya tersenyum. Dia seakan tidak perduli dengan rasa aneh itu. Dia hanya memejamkan mata. Seakan dia telah meninggalkan pria itu bermain sendirian. Sedangkan dirinya, pergi melanjutkan tidurnya.
"Cukup sulit," kekeh Sadewa dengan pinggangnya yang terlihat memompa naik turun miliknya menembus keperawanan wanita ciptaannya. Dia turun bergerak naik turun, dan peluh keringat membanjiri dari keningnya. Sekali-kali, dia mengintip sosok patung kaku di bawah tubuhnya.
Apakah dia tidur di malam pertama? heran Sadewa yang menghela napas. Namun, perjalanan menembus dinding selaput tipis itu tidak boleh berhenti begitu saja. Dia sedikit menggeser paha wanita itu, agar terlihat lebih sedikit lebar.
__ADS_1
Memompa kembali. Kembali, di pompa dengan tenaga yang di dorong lebih ke dalam. Bagai bor terus melubangi tanah.
Jleb! Akhirnya, sobekan pertama itu terdengar. Sadewa berbangga telah mencapai kesuksesannya telah melepas kelopak mawar baru itu.
Tina membuka matanya. Dia tersenyum aneh, dan mengubah wajahnya menjadi sosok wanita di masa lalu Sadewa.
Hentakan dan kenikmatan datang. Sadewa melenguh dalam pompaan yang dia buat. Sepasang matanya masih terpejam. Tanpa, menyadari sosok di bawah tubuhnya, telah mengubah wujudnya kembali. Dia bukan lagi Aprilia. Dia adalah wanita yang datang dari masalalu.
Puncak gairah tiba. Dia merobek kenikmatan sebagai pria yang yang telah selesai bertanding akan hasrat yang telah terpenuhi. Peluh keringat banjir, dan tidak lama kemudian, dia melepaskan cairan hangat dan lengket itu pada liang Aprilia dengan sangat dalam.
"Sudah selesai?" tanya Tina.
Sadewa mengangguk-angguk, menyeka keringat. Membuka matanya melihat bagaimana dia telah mencabut miliknya yang telah lunglai. Lalu, dia mendongakkan wajahnya, akan mengantarkan kecupan terima kasih pada Aprilia yang mengijinkan untuk menyentuh lebih dalam.
"Sadewa, apa sudah ingat semua?" kejut Tina dengan wajah seputih pucat kapur yang terlihat melotot marah.
Sadewa terpanah membola terkejut. Seakan, sepasang bola matanya memiliki per, dan mampu melompatkan sepasang matanya keluar dari perumahannya.
"Kau?"
"Mantan."
Shock. Seluruh napas Sadewa seakan di renggut ilahi. Jantungnya berhenti berdetak persekian detik. Kembali berdetak, kala wanita di bawah payung wajahnya itu, terlihat Aprilia kembali.
"Oppa, mengapa wajahmu pucat setelah satu ronde? Kau kelelahan?"
Sadewa membisu. Dia berguling dengan tubuh polosnya jatuh di sisi Aprilia. Kini, gilirannya menatap satu titik lampu dengan kekosongan yang menguasai seluruh semesta pikirannya.
Hantu itu tidak ada. Hanya kenangan yang menghantuiku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sadewa : Bikin kesel deh kamu, Thor
Author : tokoh kok kesel ma penciptanya
Sadewa : Tapi kehadiran mantan bikin sadar
Author : sadar apa?
Sadewa : Apa yang telah terjadi, pasti akan mampu teringat kembali.
Author : Sedih?
Sadewa : Menurut kamu
Author : sedih sih sangat
__ADS_1