Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 74


__ADS_3

...Rasa yang tidak pernah imbang, di duakan, dan di tinggalkan. Untuk apa di pertahankan....


...—Eouny Jeje—...


...Bagai pasak lebih besar dari tiang. Besar rasa mencintai daripada dicintai. Pemborosan rasa....


...—Aprilia—...


...꧁❤•༆PJP 74༆•❤꧂...


"Masuklah! Aku akan membuatkan teh."


Aprilia berjalan teratih-tatih karena kakinya yang terjulur akibat terkejut jatuh saat mobil pria muda itu akan menabraknya.


Pria muda itu terlihat bersalah akan kaki yang berjalan bersusah payah mengantar secangkir teh untuknya.


"Tidak perlu Tante. Saya pamit pulang."


Aprilia menahan napas. Menghalang pria muda itu untuk pergi, dan sepasang bola mata terlihat membola indah.


"Mata Tante, cantik sekali."


Pria muda itu terlihat terkagum melihat indahnya mata Aprilia. Seakan hanya ada satu di dunia.


Aprilia tersenyum tipis,ada rasa rendah diri menyelimutinya.


Sayang hanya mata yang dia puji.


"Yuk,minum teh."


"Baik."


Pria muda itu menyeruput tehnya, dan Aprilia yang masih terkesima akan sosok tegap itu, membuka pembicaraan, "Siapa namamu? dan berapa usiamu?"


"Namaku Damian,Tante. Usiaku 21 tahun."


Aprilia mengangkat alisnya. Ternyata perbedaan yang mereka miliki terbentang cukup jauh.


"Dam? Tadi dari mana kok buru-buru."


"Habis ngantar teman wanita pulang, Tante. Di apartemen sebelah ini."


"Setelah selesai bermalam."


Damian menggaruk kepalanya sebentar, dan hanya mengangguk bodoh.


"Aku pikir tidak ada yang punya."


Damian mendongak sebentar, menatap Aprlia yang terdengar bernapas berat pada kalimat barusan.


"Aku pikir kamu masih single. Jadi Tante bisa mendekati."


Damian kikuk. Dia mulai gugup kala pembicaraan itu seakan mengutarakan jika wanita berwajah kotak yang terlihat seperti ibunya itu, justru melemparkan godaan-godaan.


"Damian, sering mampir ke apartemen  Tante yah!"


"Tante, saya permisi pulang."


Tidak tahan berlama untuk di goda. Damian segera berdiri, dan bersiap  beranjak keluar dengan buru-buru. Punggungnya terlihat dingin dan kaku.

__ADS_1


"Tunggu Damian. Aku minta nomor ponsel. Andai aku ada keluhan lain, kau harus datang yah."


Aprilia tersenyum ramah dan berharap dia mampu menjadi lebih dekat daripada pria ini.


Tidak ada Jack. Sementara memiliki selingan lebih muda dulu, harap Aprilia bergetar akan tubuh binaraga pria muda di depannya.


Damian menggaruk kepalanya, terlihat berkecamuk untuk memberikan nomor ponselnya.


Apa aku harus memberi nomor ponsel ku? Matanya sih cantik, tiada duanya. Lekuk tubuh Tante sangat menarik. Wajahnya, oh aduh deh ....


Damian menahan napas. Wanita di depannya terlihat sangat berharap akan nomor ponsel miliknya.


"0811**** *7, itu nomor ponselku, Tante!"


Aprilia tersenyum girang,dan mencatat nama pria muda yang telah menolongnya. Damian Tampan.


Damian segera berpamit pergi, dan melintas masuk ke dalam lift, "Syukur deh nomornya aku ganti belakangnya. Aku tidak akan lewat jalan tikus ini lagi. Serem banget ketemu Tante girang!" keluh Damian.


Damian menggelengkan kepala. Serasa ada angin dingin yang menyapa tekuknya. Damian menyentuh lehernya sendiri, bergindik menakutkan setelah masuk ke dalam lift.


"Seperti angker nih lift!" Damian mengedarkan pandangannya acak pada lift. Dia melewati sosok yang tidak terlihat olehnya. Nenek Mayang berdiri mengamatinya, dengan perasaan sejuta tidak suka.


Kau akan bertekuk lutut selanjutnya pada Aprilia. Kau akan tergila-gila mengejar anak gadisku, bocah kecil.


Nenek Mayang hilang kemudian dari lift, dan hanya menyisakan hawa yang begitu dingin untuk Damian yang mulai merasa ketakutan ketika lampu lift mulai berkedip-kedip seram.


Nenek Mayang hadir kembali dan duduk di atas sofa. Dia mengamati Aprilia yang sedang mencuci piring dengan menyandungkan lagu manis yang terdengar merdu di telinga.


Hidupku tanpa cintamu


Bagai malam tanpa bintang


Bagai panas tanpa hujan


Jiwaku berbisik lirih


Ku harus milikimu


Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta.. kepadaku


Beri sedikit waktu biar cinta datang


Kar'na telah terbiasa


"Dewa 19-Risalah hati," komentar Nenek Mayang setelah lagu itu berakhir.


Aprilia sadar akan kehadiran seseorang dalam apartemen, berpaling dan terkejut melihat sosok Nenek Mayang yang telah duduk manis di sofa.


Aprilia menarik napas, Aku harus terbiasa dengan kehadiran Nenek Mayang yang mulai sering menjumpaiku.


Nenek Mayang berkedip dan tiba-tiba berdiri di belakang Aprilia, dan menyentuh dingin pundak Aprilia, dan sepasang mata rentanya jatuh pada cangkir bekas Damian, "Jangan cuci gelas itu."


Aprilia mengerut kening dalam.


"Untuk?"


"Air liurnya menempel di sana. Kau bisa gunakan untuk memikatnya."

__ADS_1


"Benarkah?"


"Pelet dia. Dengan mantera pemanggil rindu milik Nenek Mayang."


Aprilia membola, "Apakah ada mantera demikian nek!"


"Ya, setelah lidahmu di potong. Kau akan bisa mengucapkan mantera apapun untuk memelet dan mengutuk setiap orang yang tidak kau sukai."


"Sungguh?"


"Tentu saja. Nenek Mayang tidak pernah berbohong."


Aprilia segera meraih cangkir dan menyimpan cangkir itu tanpa mencucinya,dan dia pun meletakkannya di dalam lemari.


"Terimakasih, Nek. Kau sudah banyak membantuku."


"Ada harga yang harus di bayar. Ada khasiat yang kau dapat. Nenek Mayang tidak pernah berhutang."


Aprilia kikuk dan bangga akan dua teman spritualnya.


Nenek Mayang mundur dan hilang kemudian.


Aprilia mengedipkan matanya. Dia teringat akan nomor ponsel yang di berikan Damian padanya. Dia segera duduk di sofa, mengambil  ponsel di atas meja,dan melakukan panggilan terhadap pria muda itu.


Tuts! panggilan terhubung dengan cepat.


"Halo,selamat siang," sapa seseorang di seberang sana.


Aprilia menahan napasnya. Mengetahui suara yang menyambut adalah seorang wanita.


"Apa ada Damian?"


"Damian? Maaf sepertinya Nyonya salah sambung."


Lalu, bunyi tuts panjang terdengar.


"Sudah aku duga! Dia memberi nomor palsu. Besok alamat palsu. Esoknya lagi cinta palsu."


Aprilia terkekeh sendiri, dia meraba wajahnya dan menahan napas panjang, dan dia teringat akan perkataan Nenek Mayang barusan.


Pelet dia. Dengan mantera pemanggil rindu milik Nenek Mayang.


"Damian kau yang akan datang mencariku. Kau akan datang merindu dan tidak tahan diri untuk menemuiku. Di saat itulah kau akan menjadi gila mengejar diriku."


Aprilia terkekeh bangga akan rencana barunya yang akan di dukung oleh Nenek Mayang. Dia pun tersenyum kembali akan sosok Jack yang terlintas.


"Mulai hari ini, aku berhenti mencintaimu, Tuan Jack Alderman."


Aprilia mengepalkan tinjunya.


"Suatu saat kaulah yang akan mengejarku. Dan kau akan tau rasanya menjadi diriku. Perasaan di injak. Tidak di anggap. Dan di ludahi."


Aprilia terbahak. Kepal tangannya makin membentuk tinju dendam yang tidak akan mudah luntur begitu saja.


"Bagai pasak lebih besar dari tiang. Besar rasa mencintai daripada dicintai. Pemborosan rasa," umpama Aprilia berandai-andai akan cinta Jack yang menghabiskan segalanya kelak.


"Untukmu Nana. Kau tidak akan mampu menyentuhku lagi. Kau akan tau bagaimana rasanya bibirmu yang akan mencium kakiku, dan sepatuku lancip menendang perutmu. Aku akan menunggu hari itu, di mana kau akan menjadi gila karena pemabalasanku yang tiada habisnya. Setiap satu hari kau bernapas, maka itu adalah satu hari penderitaanmu."


...꧁❤•༆PJP 74༆•❤꧂...

__ADS_1


...Setelah Sadewa mati. Aprilia akan jadi Janda terdepan atau terbelakang?...


__ADS_2