Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 175


__ADS_3

...Matahari akan bergerak ke barat. Matahari terbenam yang indah di pelupuk mata pantai. Matahari terbenam yang indah di pelupuk barisan gunung. Lalu, setiap orang memujanya sebagai keindahan yang menakjubkan. Hal itu indah  kala  matahari telah menyelesaikan tugasnya....


..._Sadewa_...


..."Bumi mengelilingi matahari satu kali. Itu artinya satu hari. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau di hadapkan dengan putaran terakhir?"...


..._Aprilia_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa maju perlahan. Menyentuh pundak Aprilia kemudian. Hangat bagaikan sapaan sinar matahari menyentuh kulit dingin yang membeku.


"Tidak selamanya matahari itu akan menyakitkan mata, dan setiap orang tidak berani memandanginya. Matahari akan bergerak ke barat. Matahari terbenam yang indah di pelupuk mata pantai. Matahari terbenam yang indah di pelupuk barisan gunung. Lalu, setiap orang memujanya sebagai keindahan yang menakjubkan. Hal itu indah  kala  matahari telah menyelesaikan tugasnya."


Aprilia menghela napas berat, dan terdengar tepat mengeluh. Tentu saja,dia teringat dengan hantu wanita di dalam kehidupan Sadewa sebelumnya. Hantu itu seakan mendorong matahari itu segera terbenam.


"Mengapa kau bernapas berat?" tanya Sadewa.


Aprilia mengadahkan kepalanya. Tubuh pria itu tegak bagai payung yang menghalau sinar mentari pagi. Teduh untuk bernaung.


"Oppa, apa yang akan menjadi tugas terakhirmu?" tanya Aprilia tiba-tiba.


Sadewa tercenung sesaat. Senyumnya terlihat getir seakan merangkai kata apa yang akan menjadi tugas terakhirnya. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, sulit untuk di jawab.


"Bumi mengelilingi matahari satu kali. Itu artinya satu hari. Lalu, apa yang akan kau lakukan jika kau di hadapkan dengan putaran terakhir?"


Klek! Seakan suara pintu hati Sadewa  di buka begitu saja. Malaikat maut telah tiba dan memeriksa apa yang bersarang dalam hatinya. Sadewa tertawa. Dia kembali duduk bersimpuh. Tangannya meraih tangan Aprilia, menggenggamnya, dengan sepasang mata yang terlihat menyelidik sang pemberi pertanyaan.


"Tugas terakhir? Apakah kau akan mempercayai jika aku mengetahui sisa putaran terakhirku. Maka, tugas terakhirku di sebut pemutihan."


"Pemutihan?"


"Aku hanya berharap pengampunan dari setiap orang. Aku tau aku seorang yang kotor. Namun, tidak ada yang mampu kubawa selain maaf. Harta, kekuasaan, dan ragapun tak mampu aku bawa bersamaku."


"...."


"Apakah kau merasakan sesuatu yang-"


Sadewa menghela napas. Dia kaku sesaat, dia teringat bagaimana Tina ingin memeluknya kembali di dalam dunia yang berbeda.


Sadewa konyol, menatap nelangsa dinding putih yang terlihat kotor memantul dirinya, hantu itu tidak ada. Aku tidak mempercayai hantu itu ada. Namun, dia telah menemuiku akhir-akhir ini. Pesan cinta yang membuat sepasang mataku harus berair. Mengapa aku begitu jahat padanya?


"Oppa," sebut Aprilia.


Atensi Sadewa beranjak pindah pada Aprilia.


"Lalu, bagaimana dengan tugas terakhirmu?" tanya Oppa selanjutnya.

__ADS_1


Tugas terakhirku? Aprilia tertohok.  Pertanyaan itu kembali pada dirinya sendiri. Menjadi paku pada otaknya. Buntu. Tak memiliki satu jawaban yang bagus.


"Oppa, aku tidak tau. Yang aku inginkan, hanya terus berputar mengitari matahari. Satu kali putaran, maka ... aku telah melewati satu hari lagi."


"Berputar-lah teruslah berputar. Matahari tidak akan pernah meninggalkanmu. Karena, dia selalu berada di tepat yang sama."


Aprilia hanya tersenyum. Lalu, pria itu kembali bangun berdiri. Mencium keningnya sesaat. Lalu, melangkah keluar dari kamar Aprilia.


Tersisa sendiri,dalam keheningan yang panjang. Dia hanya menatap pantulan dirinya yang terbingkai cantik dalam cermin segi empat itu.


"Aku bahkan tidak tahu bagaimana berputar? Jika matahari itu tidak terlihat lagi. Apakah bumi akan kehilangan arah?"


Aprilia menggerutu dengan suara mulut terdengar mengunyah amarah. Menghembuskan kasar bagai mengeluarkan kepulan asap rokok dari  kedua lubang hidungnya.  Mengeluarkan hawa pengap yang bersarang dalam dadanya. Dia menunduk malu akan perubahan dirinya sendiri.


"Bahkan hantu-pun ikut menertawakanku?" ledek Aprilia pada dirinya sendiri.


Tuk! Tuk! Tuk! Ketukan cermin mengejutkan.


Terbangun dari lamunannya. Aprilia menengadah tegak menghadap sosok yang terbingkai dalam cermin. Bukan dirinya. Melainkan wanita berwajah manis yang terlihat menyunggingkan senyum.


"Aku akan menjemput kekasihku. Katakan padanya tidak akan pernah hitam berubah menjadi putih. Yang sering terjadi, putih ternoda hitam."


"...."


"Kau takut?"


Aprilia menggelengkan kepala sebagai reaksi pertahanannya.


Mata merah terbingkai melotot besar pada Aprilia.


"Apakah kau merasa sebagai Juli, Aprilia? Pengganti orang yang telah mati."


Glek! Aprilia mengambil vas bunga terdekat. Akan bersiap melemparkan Vas menabrak cermin. Namun, sosok itu tiba-tiba hilang, dan hadir di belakang raganya.


Bagai angin dingin, sosok itu hadir perlahan menusuk-nusuk ceruk lehernya, menggetarkan hingga sepanjang tulang ekornya . Bergindik. Aprilia segera menoleh ke belakang. Sosok merah itu tersenyum miris padanya.


"Tidak akan! Aku akan menjambakmu!"


"Ha .... Ha .... Ha ...." Sosok itu hanya terbahak. Suara tawa yang terdengar menakutkan dan hilang kemudian.


Geram. Aprilia geram pada sosok yang telah hilang itu. Sepasang matanya tampak berkaca kemudian. Dia mengangkat sepasang kakinya ke atas kursinya, memeluknya kemudian. Wajahnya dia benamkan di atas kedua lututnya. Tangisnya dia rendam di sana.


Sekian jam untuk meratapi putaran terakhir miliknya. Aprilia segera bangkit bangun kemudian. Menyeka air matanya, dan dia terbahak konyol akan setiap kelopak matanya terlihat bagai bola pingpong.


"Aku belum mati. Sadewa belum mati. Namun, aku telah berduka lebih dulu. Konyol sekali."


Aprilia menyeka wajahnya dan berpaling ke arah lemari. Mengambil satu pakaian yang terlihat cerah warnanya. Setelah memilah salah satu. Dia segera mengenakan.

__ADS_1


"Jika dua iblis itu ingin mencelakaiku. Setidaknya, Ade tidak akan mencelakaiku!"


Aprilia segera meninggalkan rumah. Menuju apartemen Ade. Memakan waktu lebih lama di pagi hari, karena lalu lintas yang begitu padat.


Empat puluh lima menit kemudian.


Aprilia telah berdiri di depan pintu apartemen Ade. Dia menekan bel berkali-kali. Namun, sedari tadi pintu tidak pernah di buka.


"Ada apa dengan kuyang itu? Ponselnya pun tidak aktif. Apa dia bisa mati?"


Aprilia menghela napas. Dia menatap isi kantong belanja. Ada tiga kantong darah segar dalam paperbag yang telah dia beli di khususkan untuk Ade. Tidak memiliki harapan, akan mampu bertemu pada pagi hari. Aprilia meletakan paperbag, tepat di depan pintu.


"Masuk saja."


Aprilia menoleh ke sosok yang baru datang. Mengambil langkah di depannya, dan klek, wanita dengan rambut kusut  itu membuka pintu.


"Rupanya pintu tidak terkunci." Aprilia segera menenteng kembali paperbag. Lalu, menatap punggung wanita yang masuk melangkah ke kamarnya.


"Ade, kau baik-baik saja."


"Seperti yang kau lihat."


"Aku lelah. Biarkan aku tidur. Setelah aku bangun, aku akan menjawabmu."


Aprilia mengeluarkan kantong darah.


Ade terlihat menggeleng pada cairan merah itu.


"Simpan di lemari es. Saat ini, aku sedang tidak haus."


Ade melompat ke tempat tidur. Aprilia segera akan menyusul. Namun, blam! Pintu kamar mengatup lebih dulu sebelum Aprilia melangkah masuk.


"Kapan kau akan bangun?"


"Jam satu!"


"Jam satu siang!"


"Aku akan bangun jam satu malam!"


Tok! Tok! Tok! Gedor Aprilia keras.


"Mengapa begitu tinggi malam?" protes Aprilia.


Tidak ada jawaban kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Selamat tahun baru yah semua :) Sukacita menyambut 365 putaran lagi. Lakukan yang terbaik untuk setiap putaran.


Sadewa : Putaran terakhir T_T


__ADS_2