Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 88


__ADS_3

...Rasa sakit membuatmu depresi dan kejam secara perlahan....


..._Eouny Jeje_...


...Terkadang aku membiarkan kau terluka lebih dalam. Agar kau tidak berjalan dengan hati yang setengah dingin setengah panas....


..._Nenek Mayang_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


"Kami juga tidak ingin. Tetapi, kami di bayar untuk itu."


Aprilia berdiri dengan telunjuk bergetar menunjuk setiap hidung pria di depannya.


"Jangan menyentuhku! Kalian menjijikan!"


"Menjijikan?" Salah satu pria terlihat heran. Dua pria itu bertukar pandang dan terkekeh kemudian. Terbahak lepas, dan salah satu segera mengangkat suaranya, "Bagaimana binatang berteriak pada binatang? Jangan sok suci. Kami bahkan bisa menebak bahwa kami bukanlah orang pertama untukmu!"


Aprilia menatap nanar. Raganya mendadak kaku, dingin, dan jantungnya berhenti berdetak. Sepasang kakinya jatuh di tarik dnegan kasar. Tubuhnya terlentang dengan satu pria di atas kepalanya. Satu pria di bawah kakinya. Pakaian miliknya di Lucuti dengan mudah  begitu saja.


"Jangan lakukan itu!" Aprilia bergeliat, memberontak dan menolak. Namun, kekuatan dua pria itu lebih besar, agresif untuk mencumbuinya dan rakus meraup tubuhnya.


"Hentikan!" Aprilia memohon. Setitik air matanya jatuh berguling menyusuri pipinya. Sekotor itukah dirinya setelah hari ini? Aprilia merintih akan setiap rakus mulut dua pria yang berganti meraup setiap jengkal tubuhnya.


"Nenek Mayang! Bantu aku! Nenek Mayang! teriak Aprilia meronta memohon kehadiran wanita tua itu.


"Siapa yang kau teriakkan? Nenek moyangmu! Dia tidak akan menolongmu!" ledek Pria itu yang kemudian menindih tubuh Aprilia dan melepaskan hasrat miliknya dengan memaksa tubuh Aprilia untuk menerimanya.


"Lepaskan aku," mohon Aprilia.


Jleb! Aprilia membola dengan raga tegangnya. Saat itu pula dia merasa tubuhnya menjadi sangat kotor, dan harga dirinya terinjak dengan perlakuan dua pria yang bergantian di atas tubuhnya. Tak kuasa atas kesedihannya, membuat seluruh kesadarannya hilang begitu saja. Pandangannya berangsur gelap akan setiap hasrat yang di lampiaskan untuk dirinya. Miris dan perih.


Di saat itulah Nenek Mayang menampakkan dirinya di sisi jendela ruangan tersebut. Sedari tadi dia hanya mengintip dan membiarkan hal itu terjadi. Dia tersenyum ironis akan apa yang terjadi pada Aprilia.


"Terkadang aku membiarkan kau terluka lebih dalam. Agar kau tidak berjalan dengan hati yang setengah dingin setengah panas."


Nenek Mayang menghela napasnya. Jemari dengan kuku hitam panjangnya mengetok jendela membentuk melodi sedih. Ting! Ting! Ting!


Dua pria yang terlihat berpeluh keringat, bertukar pandang seakan mendengar suara ketukan jendela. Saling memberi isyarat, dan menatap jendela. Kosong. Tidak ada siapapun di sana.


"Hanya ilusi!"

__ADS_1


Salah satu pria hanya mengangkat alisnya, dan saling memberi isyarat untuk mengenakan pakaian. Selesai mengenakan pakaian lengkapnya. Bertukar pandang menatap Aprilia.


"Apa yang harus kita lakukan lagi?"


"Pulang!"


Pria yang lainnya mengangkat dagunya ke arah Aprilia.


"Biarkan saja seperti itu. Kita kan sudah selesai."


Dua pria itu selesai mengenakan pakaian lengkapnya dan meninggalkan ruangan pengap itu. Klek! Salah satu pria menekan saklar. Dengan sengaja memadamkan lampu. Blam! Pintu terbanting keras.


Sunyi. Sepi melompong. Hanya dengkur napas Aprilia yang terdengar teratur cukup lama. Hingga, tiba-tiba semilir angin yang dingin, mengejutkan dirinya dari alam bawah sadarnya, tubuhnya polos menggigil kedinginan. Dia mencoba menarik sprei, sekdar untuk menutup tubuh yang telah terjamah dengan liar oleh dua pria yang baru dia kenal. Sekejap kemudian perlahan hatinya mulai beriak seakan bayangan dua sosok penjajah tubuhnya masih berada di dalam kamar untuk meludahinya lagi dengan napsu rakus.


Jijik. Kotor. Menyedihkan!


Aprilia mengepalkan tinju. Bencinya bukan hanya untuk Puspa. Sadewa. Jack. Kini, satu nama bertambah, Santi. Wanita yang berani membuat dirinya sadar, jika dia telah masuk dalam kumbangan kotor, dan tidak akan mampu di bersihkan lagi.


"Aprilia!" Suara itu tiba-tiba datang dengan serak, dan hadir dengan sosok renta yang membungkuk kasihan akan kemalangan wanita itu.


Aprilia menangis pilu akan suara yang tidak asing. Namun, terlambat datang.


"Ada apa denganmu?" suara itu datang terdengar ikut prihatin sekaligus durjana kemudian akan setiap biru ungu yang tercetak begitu banyak menghiasa kulit wanita itu.


"Maaf, aku datang terlambat." Nenek Mayang menghela napas berat seakan ada kekecewaan yang sengaja di tunjukan.


Aprilia membuka kelopak matanya yang terasa sangat berat. Dia duduk kemudian. Memeluk lutut, dan dagu yang bertopang pada lututnya. Dia menoleh ke arah Nenek Mayang,dan seakan menyalahkan kehadiran yang terlambat.


"Mengapa kau tidak menolongku?"


Banjir. Aprilia menangis dengan tersedu-sedu. Sesak di dadanya. Kala bantuan tidak pernah datang di saat dia terdesak butuh pertolongan. Hingga akhirnya dia harus pasrah tenggelam dalam kumbangan kotor. Di perkosa. Bukankah itu sangat menjijikan!


"Mengapa kau baru datang?" Aprilia berteriak marah.


Tangan renta itu datang perlahan menyeka air mata Aprilia, "Iblispun bisa sibuk. Iblis pun bisa datang terlambat."


Aprilia terkekeh geli bercampur perih. Jawaban Nenek Mayang terdengar sangat konyol di telinganya.


"Apakah kau sedang mempermainkanku?"


"Sssst!" Nenek Mayang meletakkan telunjuknya pada bibir Aprilia, dan sepasang matanya terlihat berkaca. Tangan rentanya mulai mengelus rambut Aprilia dari ufuk kepala, hingga ke ujung. Lembut seperti seorang ibu pada anak perempuannya.

__ADS_1


"Seorang ibu tidak akan pernah mempermainkan anak gadisnya."


"Kau iblis penipu!"


"Jangan marah padaku. Bukan aku yang memperkosa dirimu!"


Aprilia menjerit kembali dalam tangis. Benar. Bukan Nenek Mayang yang memperkosanya.


"Ketahuilah Aprilia. Setiap manusia memiliki iblis dalam hatinya. Bencilah iblis yang menyakitimu. Aku Nenek Mayang tidak pernah menyakitimu,"  ujar Nenek Mayang dengan tatapan yang menghipnotis Aprilia.


Aku hanya diam dan membiarkan itu terjadi dengan sengaja, lanjut Nenek Mayang dalam hatinya .


"Kini, aku kotor!" keluh Aprilia merengek dengan suara rendah dan meminta kasihan.


"Tidak perlu terpuruk dalam kesedihan. Berani menerima kotor itu baik! Untuk apa kau menangis. Jika kau memiliki aku. Perintahkan aku!"


Aprilia tersenyum sarkas, "Bunuh mereka berdua untukku!"


"Aku mendengarkanmu."


Aprilia tersedu. Tangannya masih terkepal makin ketat. Buku-buku tangannya terlihat bergetar kuat. Wajah Santi terlintas dalam pikirannya.


Aku akan memikirkan cara membalasmu pelan. Namun, sangat menyakitkan! lanjut Aprilia dalam hatinya.


"Nek."


"Iya, anak gadisku."


"Apakah perintah ini hanya berlaku satu kali saja dalam tiap purnamannya?"


Nenek Mayang tersenyum, "Aturan memang sperti itu kuberlakukan pada setiap pengikutku. Namun—"


Jeda. Nenek Mayang berhenti sebentar menunggu reaksi Aprilia.


"Apakah kau tidak kasihan padaku?"


Nenek Mayang mendekatkan bibirnya pada telinga Aprilia dan berbisik, "Mulai hari ini. Aku memberi pelayanan khusus untuk anak gadisku. Kapan saja kau butuh, kau bisa memerintahku! Harga boleh seiklas hatimu. Apakah ini penawaran yang sangat bagus?"


Aprilia membola percaya akan ketulusan Nenek Mayang.


"Bahkan melebihi diskon manapun. Bukan sekedar Buy 1 Get 2!" ujar Nenek Mayang menggoda dengan diskon.

__ADS_1


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


...Terjebaklah Aprilia dalam lingkaran diskon Nenek Mayang🙏🏿...


__ADS_2