Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 14


__ADS_3

Boom!


Kepala Aprilia seakan telah di lempari granat. Isi kepalanya di ledakkan begitu saja. Dia ingin murka sekarang. Wajahnya panas dan sangat merah. Dia jatuh kecewa.


Kasihan Dimas! Aku mengantri bodoh di sini, dan menjadi orang sia-sia.


Aprilia kesal. Tangannya segera menyentuh ganggang pintu. Ceklek! ceklek!


"Di kunci, " sungut Aprilia. Tidak lama suara dalam ruangan menjadi lebih senyap dan hening seperti kuburan.


Tidak lama kemudian, dari dalam ruangan terdengar suara tumit sepatu mengetuk lantai. Aprilia segera mundur, dan kembali pada barisan semula. Dia pun memasang wajah datar.


Cekrek! Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita cantik dengan tubuh berisi dan penuh itu keluar. Pakaiannya terlihat sangat kusut. Rambut yang tergulung cepol tadi berubah menjadi tergerai mengembang indah,dan warna lipstik bibir wanita itu terlihat raib.


"Ade Ratih," panggil seorang pria yang tiba keluar membawa tas. Wanita muda bernama Ade itu berbalik menatap pria yang masih terlihat muda dan tampan, usianya terlihat sekitar 28-30 tahunan, dan wanita itu mengambil tasnya dari uluran tangan pria itu.


"Terimakasih banyak, pak Aswin."


"Karena kualifikasi kamu sangat bagus. Minggu depan kamu boleh bekerja di sini."


"Terima kasih banyak, pak."


Aprilia berdiri tegang dan rasa gondok akan percakapan dua orang itu, membuat dirinya segera ingin menghancurkan meja di depannya. Apalagi, pria dan wanita itu hanya berjalan melewatinya begitu saja, seperti tidak melihat siapapun yang tersisa di lorong panjang ini.


Apa aku terlihat seperti hantu? Kalian bahkan melirikku tidak. Jijik sekali!


Aprilia menggigit sudut bibirnya. Dia segera memutar langkahnya, dan megejar langkah pria wanita itu yang berbelok menuju arah lift.


"Tunggu, pak!" cegah Aprilia. Pria bernama Aswin Mahendra itu terlihat mengurungkan niatnya menekan tombol lift turun. Dia terlihat kesal, namun detik selanjutnya dia mengubur perasaan kesal dari wajahnya. Dia memutarkan tubuhnya menghadap ke asal suara.


Wanita bernama Ade Ratih itu pun ikut menoleh ke belakang sebentar. Namun, segera berpaling lagi. Seakan dia merasa malu dan takut telah di curigai.


"Ada apa yah?" tanya pak Aswin terdengar datang dan di buat setenang mungkin.


"Saya pelamar pekerja terakhir. Namun, belum interview sama sekali."


Aswin terlihat membelotkan lidahnya, dia terlihat sengaja mengangkat pergelangan tangannya, dan sepasang matanya melirik melihat angka jarum panjang pada jam tangannya.

__ADS_1


"Ini sudah jam 7 malam. Jam kantor telah berakhir, paling lama jam 6 malam. Itu artinya kamu gagal, karena terlambat datang wawancara."


Aprilia menggeleng kepala, dan segera membatah, "Saya datang tepat waktu. Mengantri panjang, dan yang paling lama wanita itu." Aprilia mengangkat dagunya menunjuk punggung wanita yang terlihat sedikit bergetar takut karena dirinya di bawa dalam perbincangan.


"Dia lama interview karena kami mengobrol panjang soal pengalaman dan kualifikasi sebelumnya," gugup Aswin menjawab.


Aprilia ingin meludah segera. Kebohongan sangat nyata di depan matanya. Terlihat sangat berkelit.


"Ini ti-dak a—" Aprilia menggantung kalimatnya, kala suara lembut wanita itu terdengar.


"Pak Aswin," — Wanita itu berbalik, memutar tubuhnya menghadap Aprilia — "Dia kasihan mengantri begitu panjang. Beri kesempatan untuk besok interview kembali."


Aswin melirik sebentar dan tersenyum manis pada wanita muda dengan sepasang matanya terlihat seperti kelinci yang pandai menyihir.


"Baiklah, De." — Aswin pun kembali menatap Aprilia— "Aku memberi kesempatan untukmu! Datanglah besok tepat jam dua. Terlambat satu detik saja, kau gugur!"


Aprilia mengganggukkan kepala, "Terima kasih atas kesempatannya."


Ingin rasanya aku meludah jijik pada kalian berdua. Apalagi pada yang wanita.


Aprilia mendongakkan kepalanya, dan di saat itu, Ting! pintu lift terbuka. Aprilia berburu langkah masuk ke dalam lift, mengikuti Aswin dan Ade yang berjalan masuk lebih dahulu.


Aprilia tidak tertarik akan perbincangan mereka. Namun, Aprilia menghentikan gerakan kedua jempolnya berhenti bermain legend snake, kala mendengar ucapan Ade.


"Pak Aswin, saya minta nomor ponsel yah," pinta Ade dengan wajah terlihat merah malu.


Aprilia pun membuka kontak baru, dan jempolnya pun bersiap menekan setiap angka, entah kenapa hatinya merasa akan sangat penting menyimpan nomor ponsel yang memiliki jabatan sebagai kepala HRD perusahaan kosmetik ini.


"Nomor ku 0856****5758," jawab Aswin. Di saat yang bersamaan Aprilia dan Ade telah menyimpan nomor Aswin.


"Wah, nomor bapak cantik sekali artinya."— Ade terlihat melakukan panggilan pada nama Aswin yang tertera pada layar ponselnya— "5758 artinya maju mapan mapan yah pak."


"Benar sekali." — Aswin menurunkan matanya melihat pemanggil di ponselnya— "Nomor kamu?"


Ade menganggukan kepala.


"Nomor milikmu juga cantik triple 777," puji Aswin, "Artinya hoki, seperti hari ini kau langsung dapatkan pekerjaan."

__ADS_1


Aprilia seakan merasakan perutnya tersodok akan segera muntah mendengar jawaban Aswin.


Ade tersenyum. Mengangguk manis, dan menoleh ke belakang, memposisikan kepalanya menoleh pada Aprilia, "Maaf, mbak. Jika ingin mengobrol. Silahkan bergabung. Jangan diam saja."


Aprilia terlihat linglung sebentar mencari topik, dan teringat akan empat digit kembar nomor ponselnya, baginya dia sangat beruntung mendapatkan nomor kembar empat digit sekaligus dengan harga yang sangat murah, "Nomorku bagus. Empat digit kembar. Tetapi, aku tidak tahu artinya."


Ting! Di saat Aprilia selsai berbicara. Pintu lift terbuka. Satu demi satu keluar dari lift lebih dulu, baru kemudian kembali berbincang.


"Nomormu berapa mbak, jika begitu cantik.'


Aprilia menelan ludahnya, ada rasa bangga orang lain akan mengetahui betapa uniknya nomor ponsel miliknya, "Nomorku 0895***4-4-4-4."


Ade dan Aswin berhenti. Memutar kepalanya menatap ke sosok belakang yang terlihat tersenyum cemerlang mengira dirinya akan berbesar hati mendapatkan pujian bahwa dia memiliki nomor dan keberuntungan yang bagus.


"Lebih baik ganti nomor, mbak. Apalagi sampai banyak gitu empatnya."


Aswin terkekeh dan hanya tersenyum dingin dan pergi lebih awal. Tersisa Ade yang tiba merapat pada Aprilia, dengan melingkarkan lengannya dan terlihat ramah.


"Emang ada apa dengan empat?"


"Menurut fengshui artinya mati, miskin, susah. Apalagi ada yang empat. Sialnya ada empat kali."


"Iya. Aku memang mati, berjalan pun bak mayat hidup. Miskin, memang sangat miski. Serba susah lagi," rengek Aprilia.


Aprilia terenyuh sebentar mendengar arti nomor yang dia miliki, sungguh jauh dari keberuntungan.


Ingin ganti nomor. Tetapi, tidak punya uang, keluh Aprilia dalam hatinya.


"Oh iya, mbak. Karena, saya dari luar kota,dan belum dapat—"


Aprilia segera menggeleng seraya menjawab, "Tidak bisa, karena —" Kalimat Aprilia menggantung begitu saja. Ketika, tanpa sengaja Aprilia mendapatkan tatapan magnet Ade. Tatapan itu seakan mengubah pemikiran Aprilia segera.


"Baik! kamu boleh menumpang ke rumah. Asal jangan masuk kamar nona Nana. Takut dia marah," utara Aprilia.


Aprilia dan Ade pun meninggalkan perusahaan ,dengan memanggil taxi argo.


......................

__ADS_1


Bersambung ୧(^ 〰 ^)୨


Jangan lupa tinggalkan Vote, like dan komentar yah ᕙ(͡°‿ ͡°)ᕗ


__ADS_2