Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 77


__ADS_3

...Pergi adalah alasan terbesar hanya untuk melupakan dan di lupakan. Namun, cinta mengutuk rindu itu terus datang....


...Tak bisa melupakan dan Tak ingin di lupakan....


...— Eouny Jeje—...


...Aku sangat merindukanmu. Bagai mulut merindukan air. Hidupku telah mengalami kemarau panjang karena merindu padamu...


...— Aprilia—...


...꧁❤•༆PJP 77༆•❤꧂...


Aprilia menggelengkan kepala. Dia tiba-tiba menjadi jijik akan sosok balita dengan wajah dewasa dengan kepala botak tersebut.


Aprilia segera melangkah keluar. Kret! Pintu kamar terbuka lebih dulu tanpa dirinya menyentuh lebih dulu.


Santi di ikuti Sadewa dan seorang wanita berambut merah melangkah masuk ke kamar.


Nenek Mayang dan Moon hilang dalam satu kedipan.


"Mba Nung. Apa bisa bantu ibu saya pergi?"


Wanita berambut merah bernama Mba Nung tersenyum dan menganggukan kepala, berjalan ke sisi ranjang dan mulai berkomat-kamit. Terlihat dia melirik Aprilia sebentar, dia bergindik merinding akan aura yang Aprilia bawa.


Sepertinya orang yang tinggal di rumah Mbak Santi ini, memiliki kekuatan supranatural di atas dukun rata-rata,aku akan berkata agar Santi berhati-hati pada wanita ini, ujar Mba Nung dalam hatinya.


Santi terlihat cemas akan kondisi Ratih. Dia berdiri dengan banyak doa yang dia panjatkan dalam hatinya.


Ibu pergilah dengan tenang. Langit terbuka untukmu, Bu.


Sadewa terlihat tidak tertarik dengan apa yang di lakukan mba Nung dan Santi. Sepasang matanya terlihat lapar melihat isteri keduanya. Dia segera berjalan menghampiri Aprilia, dan menggenggam tangan wanita itu.


"Ikut aku!" pinta Sadewa berbisik lapar dan ingin dahaganya segera di penuhi.


Aprilia tidak berkutik. Tangannya terseret mengikuti Sadewa. Dia menoleh sebentar, dan hanya melihat tatapan cemburu Santi. Namun, detik selanjutnya Santi kembali menatap ritual yang di lakukan mba Nung. Melepas kepergian Ratih.

__ADS_1


Kret! Pintu kamar yang berada di sebelah kamar Ratih, di buka Sadewa. Pria itu langsung mendorong Aprilia begitu saja ke ranjangnya. Terbaring telentang menggoda. Blam! Pria itu membanting pintu keras.


"Aku sangat merindukanmu. Bagai mulut merindukan air. Hidupku telah mengalami kemarau panjang karena merindu padamu," utara Sadewa dengan tatapan cinta pada bola mata indah isteri keduanya. Tidak pernah terbersit sekalipun dalam hatinya, jika dia akan jatuh ke dalam pelukan seorang janda yang dia pikir hanya akan singgah sebentar. Ternyata, dia malah menjatuhkan dirinya pada pelabuhan janda tersebut, dan dia terlihat enggan berlayar dan berpetualang kembali. Baginya, kini Aprilia adalah pelabuhan terakhirnya. Dia tidak ingin meneruskan pelayarannya lagi. Dia ingin menetap pada Aprilia.


"Aku mencintaimu, Aprilia!"


Aprilia menjulingkan matanya. Ada perasan mual segera naik ke dalam kerongkongannya. Ingin muntah tepatnya mendengar rayuan Sadewa setelah banyak hinaan pria ini padanya dulu.


Sadewa gila. Tidak melihat ajal mertuanya. Malah mengurung diriku bersamanya di kamar ini. Menyebalkan, rengek Aprilia dalam hati. Setengah ingin terbahak. Setengah lagi menyesal telah memelet pria dengan sejuta napsu yang tidak mampu menahan diri.


Aprilia menghela napas, hanya dapat membisu, dan menerima hujan rindu kecupan Sadewa yang telah lapar begitu lama.


"Lama sekali tidak mencumbuimu," bisik Sadewa.


Aku malah menghindari cumbuanmu, mas! Aku merindukan cumbuan ....


Aprilia merapatkan bibirnya sendiri. Entah mengapa sentuhan Jack memiliki sensasi yang jauh berbeda. Dia rindu akan sentuhan Jack semalam. Cumbuan Jack, tidak agresif dan rakus seperti milik Sadewa.


Ah, sangat berbeda! Mungkin karena memiliki rasa cinta pada Jack. Sedangkan pada Sadewa, aku hanya berakting layak wanita penjual diri, ludah Aprilia jijik dalam hatinya akan setiap sentuhan datang membabi buta. Tepatnya Sadewa bak singa lapar menelan rakus daging kelinci.


Lidahku telah di potong! Apa yang mau di keluarkan?, jawab Aprilia dalam hatinya. Aprilia mengalihkan keinginan Sadewa dengan mengecup telinga pria itu dengan bibirnya. Berhasil. Sadewa melupakan lidah Aprilia,dan bergerak rakus menjelajahi tubuh Aprilia, hingga menjelang siang. Percintaan di antara mereka pun berakhir.


Aprilia segera mengenakan pakaiannya dan membersihkan diri dengan membasuh wajah dan tubuhnya. Sedangkan, pria itu malah terbaring dengan sisa api yang mulai padam.


Tidak lama kemudian, terdengar suara langkah dan isak tangis meledak dari kamar sebelah. Suara tangis itu tidak asing. Suara sang nyonya rumah, istri pertama Sadewa. Santi terdengar meronta-ronta dan menangis panjang.


Tok!Tok!Tok! Pintu kamar peristirahatan Sadewa dan Aprilia di ketok keras. Gedoran pintu itu seperti ingin menghancurkan pintu.


Sadewa segera mengenakan seluruh pakaian miliknya, Aprilia terlihat baru saja selsai mandi dan telah mengenakan pakaian pula. Setelah itu, Aprilia segera merapikan tempat tidur, menghapus jejak kusut bekas percintaan mereka tadi.


Kret! Pintu terbuka. Sadewa terlihat dengan ekspresi tenang, seakan tidak ada rasa bersalah di wajah itu. Selesai bercinta di hadapan istri pertamanya.


Wajah Santi terlihat penuh dengan air mata. Tangannya bersembunyi di belakang punggungnya. Dia mengepal kuat dengan amarah, ada bekas aroma percintaan yang di cium hidungnya. Namun, saat ini bukan saatnya untuk cemburu. Dia segera memeluk Sadewa, dan bersedih dalam dada suaminya.


Hanya dia yang kumiliki. Ibu telah pergi, aku tidak boleh membuat Sadewa pergi meninggalkan pula, keluh Santi memeluk erat suaminya.

__ADS_1


"Mas, ibu telah pergi selamanya."


Sadewa terlihat  sedikit berpura-pura terkejut, padahal dia sudah lama merancang kematian mertuanya itu. Sadewa bagai singa berpura-pura jinak dan penuh kasih sayang, dia memeluk erat isteri pertamanya, "Sabar. Masih ada aku bersamamu."


Sadewa melirik ke Aprilia yang terlihat berdiri sedih mendengar meninggalnya Ratih.


Saatnya Santi yang akan menjadi kematian selanjutnya dalam rumah ini, seru Aprilia dalam hati.


Sadewa pun membawa pergi Santi keluar dari kamar,dan sebelumnya dia berpesan pada Aprilia, "Aprilia beristirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Karena kau sedang hamil, jangan keluar dari kamar dulu, karena tidak baik ikut bergabung dalam acara mengantar pergi mertuaku."


Aprilia hanya tersenyum.


Blam! Pintu tertutup rapat.


Hamil? Sadewa, maaf janin itu tidak bisa kulindungi.


Aprilia berjalan mengambil tas miliknya, dan merogoh sesuatu dalam tasnya. Menemukan satu kemasan obat. Aprilia segera mengambil satu pil dan menelannya segera.


Aku tidak ingin hamil lagi. Aku tidak ingin hamil lagi. Aku tidak mau. Karena sudah pasti dipastikan Nenek Mayang akan memakan janinku.


Aprilia mengambil satu gelas air putih, dan melarutkan pil kontrasepsi itu masuk ke dalam dasar perutnya.


Tidak perlu keluar, karena Nyonya rumah itu mati. Baiklah, bersantai saja di kamar. Tetapi, tidak mungkin hantunya berkunjung ke kamar ini.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


...Jangan lupa koment jawabannya : Apakah Hantu Ratih akan berkunjung menemui Aprilia?...


...Pesan Janda:...


...Hati-hati ibu-ibu pegang erat suaminya, karena Aprilia, si janda akan bereaksi dengan peletnya, mengambil suami ibu-ibu? Sering2 Berdoa untuk suaminya yah ibu-ibu, biar nggak kena serangan pelet Aprilia....


...(Bercanda. com)...


...Jangan lupa mampir ke cerita horor Author : Hantu istriku Balas Dendam yah. lagi butuh dukungan buat naik level ✌️...

__ADS_1


__ADS_2