Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 116


__ADS_3

...Kebaikanmu bagai madu yang tidak pernah habis. Aku jatuh cinta akan rasa manis itu....


..._Eouny Jeje_...


...Kebahagian Santi akan tenggelam bersama matahari pergi ke barat. Kesedihan Santi akan terbit bersama matahari pergi ke timur....


..._Lea_...


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...


Aprilia berlari kecil menuju mobilnya. Blam! Pintu mobil terkatup rapat. Dia segera mengarahkan kaca spion tengah hanya untuk menengok betapa merah meronanya pipinya.


Dup-Dup-Dup! Jantung Aprilia masih berdegup kencang, dan pikirannya masih teringat akan sosok gagah Jack yang terlihat menggilainya untuk pertama kali. Dia pun ikut tersenyum, kala sosok Damian yang tampan bersikap manis, dan mengejarnya untuk pertama kali.


Aprilia menepuk pipinya.


"Menjadi rebutan adalah hal yang di luar dugaanku."


Aprilia terkekeh. Menghentikan tepukan pipinya. Tiba-tiba dia menggigit bibirnya. Tatapan Jack membuat dia berdegup kembali.


Dup-Dup-Dup!


"Ternyata jantungku masih mampu berdetak untuknya."


Aprilia meraba letak jantungnya. Dia  memejamkan matanya. Menajamkan telinganya, dan dia menikmati setiap ritma jantungnya yang berdegup kencang,dan darah yang berdesir panas menggelitik raganya.


"Aku menginginkanmu lagi!"


Ciuman Jack yang dulu kembali menyelinap dalam ruang pikir Aprlia. Namun, gambar itu segera terhapus. Kala, senyuman Damian terasa masih  membekas dalam benaknya.


"Damian, kau manis sekali. Aku pun menginginkanmu."


Aprilia membuka matanya, kala terdengar suara, beep! Sebuah pesan obrolan baru masuk. Dari nomor asing.


Aprilia membuka matanya lebar, dan terkejut membaca pesan tersebut.


Kita bertemu kembali. Dulu dalam mimpi. Kini dalam nyata. Jack.


Aprilia segera menutup mulutnya. Ingin menjerit segera. Dia tidak pernah menyangka jika Jack menemukannya nomor ponselnya dengan cepat.


Beep! Pesan baru dari nomor asing masuk kembali.


Google mengarahkanku pada hatimu. Damian.


Aprilia ingin segera melompat keluar dari mobil. Menemukan dua pria itu dan memeluknya bersama.


"Kalian berdua sangat manis. Yang satu Om gula. Yang satu adik gula."


Aprilia meletakkan ponselnya. Menginjak pedal gas. Kembali ke rumah.


Tiga puluh menit kemudian ....


Aprilia menepikan mobilnya di halaman, dan meminta pelayan mengantarkan mobilnya ke garasi.


Aprilia mencapai rumahnya kala senja mewarnai langit. Aprilia mengadahkan sepasang matanya ke langit. Jingga dan kuning yang sangat indah.


Kebahagian Santi akan tenggelam bersama matahari pergi ke barat. Kesedihan Santi akan terbit bersama matahari pergi ke timur.


Aprilia melangkahkan kakinya. Terlihat Santi duduk di ruang tamu, dan tersenyum ke arahnya kemudian.

__ADS_1


"Sudah selesai berolahraga? Silahkan makan."


Aprilia hanya menggelengkan kepala. Melenggang pergi memasuki kamar tamu yang telah di khususkan untuknya.


Blam! Aprilia menutup pintu. Klekk! Memutar kunci.


Sosok pria di atas tempat tidur mengejutkannya.


"Op—" Satu kata tersebut terhenti karena interupsi Sadewa.


Telunjuk Sadewa tiba berada di ujung bibirnya, "Diam. Santi akan mengetahui diriku di sini."


Aprilia mendekat ke ranjang. Pria itu menariknya dalam dekapannya, "Aku sibuk beberapa hari. Kini, rinduku tidak tertahan."


Aprilia menelan ludah. Seakan tahu maksud Sadewa datang menyelinap masuk ke kamarnya.


Katakan saja napsumu yang tidak tertahan.


"Oppa, apa rencanamu malam ini?"


"Aku sudah mengaturnya lebih sadis dari yang dia rencanakan padamu dahulu."


Aprilia mengangkat alisnya. Cup! Kecupan mesra datang menyentuh ufuk kepalanya.


"Kita hanya perlu menunggu dengan baik. Aku telah meminta seseorang mengirimkan makanan yang baik untuk melonjakkan napsu birahinya."


"Apa kau merencanakan pria banyak untuknya."


"Tepat! Kau cerdas menerka."


"Lalu, kau ikut menyediakan wartawan pula."


"Tepat! Kau cerdas menerka."


"Tepat! Kau satu pikiran denganku."


Aprilia tersenyum gemilang. Lalu, membiarkan Sadewa melepaskan rindunya hingga bulan merangkak ke atas cukup tinggi.


"Cukup,oppa!" cegah Aprilia dan memanyunkan bibirnya agar Sadewa berhenti menciuminya lagi.


Sadewa mundur dan memberikan ruang untuk Aprilia duduk.


"Sudah pukul sebelas malam!"


Sadewa menganggukan kepala. Dia mengenakan sepatunya. Sedangkan Aprilia segera melompat ke ranjang dan menyalakan monitor CCTV yang tidak di ketahui Santi.


Semenjak Sadewa berlakon tidak pernah kembali ke rumah. Aprilia dan Sadewa terus mengamati setiap kepergian wanita itu.


Di layar monitor terlihat Santi melewati jalan belakang,seperti yang pernah di lalui Aprilia yang di larikan pergi sebelum ke Korea Selatan.


Santi terlihat melewati jalan sempit dengan hati-hati, dan menaiki sebuah mobil seperti yang telah di instruksikan.


"Sopirnya telah aku ganti, dengan orangku."


Aprilia tersenyum miring.


"Kita hanya tinggal menunggu naas Santi."


"Hmm!"

__ADS_1


"Kita tinggal tidur saja. Biarkan waktu yang menghukumnya."


Aprilia meletakkan kepalanya pada bahu pria paruh baya itu dan melintas pergi ke dalam ruang mimpi bersama Sadewa.


Langit gelap dan Hitam perlahan memudar. Bintang terlihat bersembunyi. Bulan merangkak mundur dan tenggelam. Matahari naik merangkak dengan cahaya jingga kuning di ufuk timur. Perlahan makin naik, hingga warna hitam itu berubah menjadi langit putih yang terlihat kosong tanpa awan.


Aprilia mengerjapkan matanya. Pertama kali untuk bangun. Dia membuka kelopak matanya lebar, dan menemukan dirinya telah terbaring di sisi Sadewa, dengan kepalanya bersandar pada dada pria tersebut. Lalu, sepasang matanya naik ke arah jendela. Matahari sedang terik bersinar.


"Terlambat!" Aprilia sontak bangun dan duduk, membangunkan pria di sisinya.


"Bangun!"


Sadewa masih erat mengatup matanya. Namun, gerakan kepalanya memberi respon, dia masih sangat lelah.


"Oppa!"


Sadewa terpaksa membuka matanya. Kala namanya di teriakan dengan nyaring.


"Ada apa?"


"Bagaimana Santi?"


Sadewa tersenyum.


"Dia sedang di tahan di kantor polisi. Di sebutkan sebagai perselingkuhan dengan pria beristri. Terlibat dengan dua pria sekaligus."


"Apakah kau sudah ke sana?"


Sadewa menggelengkan kepala.


"Aku menolak datang. Alasanku sedang di luar kota. Biarkan saja dia berdiam lebih lama di sana. Merenung dosa."


Aprilia tersenyum,dan terkekeh, "Sangat konyol. Melihat seorang wanita hamil berselingkuh di saat perutnya besar, dan dia terlibat dengan dua pria. Aku sangat geli."


Sadewa tersenyum. Mengelus rambut Aprilia, dan berkata, "Bukankah beritanya lebih mengerikan. Apalagi setiap isteri telah melapor hal tersebut. Tamatlah riwayat Santi. Di sebut penggila dan penapsu dengan banyak pria. Pria yang menjamah tubuhnya, bukan satu orang saja."


Aprilia merebahkan bahunya pada Sadewa dan setiap jemari tangannya tersemat pada jemari tangan besar pria itu.


"Lalu, apa rencanamu lagi?"


"Silahkan menebak."


"Kau akan bersikap jijik dan melempar bukti perselingkuhanya."


Sadewa mengangkat satu alisnya, "Alurnya terlihat sama seperti dalam drama. Kau saja mengatur plot twish selanjutnya untuk Santi."


"Saatnya aku berlakon masuk dalam drama. Eksekusi perlahan.  Tidak perlu membunuhnya. Namun, menyiksanya."


"Kau lah ratu dalam rumah ini. Dia hanya babu milikmu," kata Sadewa. Dia pun mengecup kening Aprilia, dan turun dari ranjang kemudian. Dia menarik gorden, dan membiarkan sinar matahari terik menyelusup, menerangi kamar.


"Rumah ini kau lah tuannya. Istana ini kau lah ratunya," ujar Sadewa yang membelakangi matahari. Dia terlihat agung dan angkuh dengan setiap katanya. Sesuai namanya, dia adalah dewa kematian untuk setiap orang.


Siapa yang berani menindaknya? Hanya sang langit, yang bisa, komentar Aprilia dalam hati.


"Lalu, bagaimana dengan puteranya?"


"Aku tidak perduli."


Baguslah! Jika kau tidak perduli. Maka, aku akan persembahkan pada Ibu Mayang.

__ADS_1


...꧁❤ Pelet Janda Penggoda❤꧂...


...Nenek Mayang dapat makanan lagi nih. Berhubung Aprilia masih perawan, dia cuti hamil dulu....


__ADS_2