
..."Aku lebih idiot mempercayai anak panah tidak akan melukai jantungku."...
..._Eouny Jeje_...
..."Layaknya kerang yang di hempas ombak. Dia tidak tau rasanya sakit mencintai tak berbalas. Tidak tau rasanya, sakit telah di campakkan."...
..._Aprilia_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perahu telah berada di pinggir pantai. Jack, Pria jangkung dengan darah biru dalam dagingnya itu turun lebih dulu menginjak pinggir pantai. Ujung sepatunya terlihat di tenggelamkan air laut. Dia mengulurkan tangannya pada Aprilia.
Aprilia menerima tangan itu. Melompat turun dengan hati-hati, seraya menjinjing sepatu hak tinggi miliknya.
"Terima kasih, Jack," ujar Aprilia setelah mendaratkan kedua telapak kaki telanjangnya menginjak pantai.
"Jangan sebut nama. Kau dan aku terlihat asing," ujar Jack dengan wajah tertunduk tersipu merah.
Aprilia mengelap bibirnya sejenak. Ada rasa tertinggal menempel pada jejak bibir merah tipis miliknya.
"Bukankah kita memang asing, Jack," sahut Aprilia sengaja menekan perasaannya sendiri. Letupan api asmara bagai api panah yang membakar rumah jantungnya saat ini. Panas sekali. Hingga, kedua belah pipi putih salju itu terlihat merona merah.
"Kita tidak asing lagi. Bukankah bibir kita telah saling menempel dan beradu," singgung Jack dengan bola mata menyelidiki wanita yang berjalan di depannya dua langkah lebih dulu.
"Ehem," dehem Aprilia yang masih mampu mendengar apa yang di ucapkan pria itu padanya.
"Panggil aku sayang," ujar Jack berkomentar dengan tiada menahan malunya sebagai pria casonova yang telah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Panggil aku sayang. Panggil aku sayang! Dulu, aku di sebut babu jelek! Babu jelek, minggir sana, menjauhkan dariku! sindir Aprilia konyol dalam hatinya, mengingat bagaimana aroganya pria itu padanya.
"Panggil Pipi Mimi juga boleh," usul Jack.
Aprilia menggelengkan kepala, dan menjawab, "Kita belum menikah."
Jack menggaruk kepalanya. Merasa telah mengunyah daging mentah beradu mulut dengan wanita di depannya.
"Panggil aku Honey, juga boleh," tawar Jack.
Aprilia menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya dan berkata padanya, "Kalau begitu kau boleh memanggilku Toxic Honey. Kedengarannya sangat keren, artinya sangat meracunimu. Meracuni hati seorang casonova, Jack."
Jack mendekat perlahan. Menyisakan satu langkah. Semilir angin pantai mengibarkan rambut ikal bergelombang Aprilia, dan membuat sinar kekaguman dalam mata Jack makin nyata dan bibirnya melengkung sempurna, seakan biji cinta telah menjadi tunas, dan bertumbuh cepat menjadi pohon rindang, dan berbuah apel manis bewarna merah.
Aprilia segera melangkah mundur. Memutar tubuhnya bagai wanita modeling. Dia mengangkat dagunya sedikit. Berjalan menyilang dan melangkah bagai wanita anggun di atas karpet merah. Memamerkan lengkung pinggangnya yang ramping.
Dulu aku tidak bisa berjalan bak wanita anggun. Menggunakan high hell baru saja, patah tumit sepatunya di hari pertama.
"Lea!" seru Jack terpukau akan jalan wanita itu.
Lea berhenti dia berputar 180 derajat dengan cepat,dan ekor rambutnya yang bergerak mengikuti arah mata angin.
"Ada apa Tuan DAS?"
"DAS? daerah aliran sungai."
"Terlalu kaku! DAS itu artinya di atas standar, Bambang."
"Ehem," dehem Jack menghentikan kakinya kala Aprilia terlihat berlari di pinggir pantai, "Toxic Honey, tunggu."
__ADS_1
Jack mengejar Aprilia dan menahan pergerakan pergelangan tangan wanita itu, dan merangkulnya ketat, menahan raga wanita itu bergerak untuk lari kembali.
"Kau adalah wanita terindah dalam hidupku," bisik Jack kemudian.
"Kau pandai merayu. Jika kau berbohong. Seluruh oksigen pantai akan menjadi Karbondioksida. Lalu, dewa maut akan menembakkan panahnya pada jantungku. Aku mati. Aku mati karena dibohongi. Konyolkan."
"Sst! Jangan berkata seperti itu. Kau tidak akan ku ijinkan mati."
"Mengapa tidak ijinkan mati?"
"Karena aku rela memberikan napasku. Jika Tuhan ingin merenggut dirimu dariku," bisik Jack membuat seluruh rongga dada Aprilia sesak untuk bernapas.
"Jika begitu. Aku ingin berlari ke tengah lautan. Tenggelam. Lalu, aku ingin melihat bagaimana kau datang menyelamatkanku," umpan Aprilia.
Jack tersenyum tipis. Mengigit cuping telinga Aprilia, dan hal itu mengejutkan Aprilia, "Mengapa kau tidak datang dengan membawa pisau. Merobek dagingku. Mengambil jantungku. Dengan senang hati, aku memberikan jantungku."
Aprilia terkekeh. Berusaha keras keluar dari rangkulan pria itu. Kala, dia berhasil keluar. Dia tertawa lepas. Lalu, pandangannya beredar dan merekam beberapa wanita pria di pinggir pantai yang terlihat gagah dan cantik dengan hanya mengenakan renang, duduk bercengkerama mengelilingi api unggun.
"Kau akan lupa dengan ucapanmu. Ketika salah satu bayi-bayi bikini pantai itu melirik dan memeluk pinggangmu." Bibir Aprilia manyun menunjuk sederet wanita pria mengenakan bikini, dan ada yang hanya mengenakan bra tali spagheti dan celana segitiga ketat.
Aprilia menjatuhkan sepatu yang dia jinjing ke sisi kiri kanan Jack.
"Kau melempar sepatu?"
"Karena aku tidak mempercayai ucapanmu."
Jack mengikuti arah mata Aprilia. Dia tersenyum. Seakan jiwa kelincinya berontak mengiyakan. Namun, tidak perlu dia ungkapkan saat ini.
"Aku tidak Playboy seperti kelinci murahan. Panah-panah seperti orang bodoh."
"Celup-celup teh begitu maksudnya," ejek Aprilia.
Jack mengangkat Aprilia ke udara. Raga wanita itu naik ke udara melebihi kepala pria itu, dan dia memutar tubuh wanita itu berkali-kali dengan sangat cepat, "Aku akan membuatmu pusing tujuh keliling!"
"Hentikan! Aku pusing!" respon Aprilia dengan degup jantung berontak, dan tangannya memukul bahu pria bertubuh jangkung itu.
"Hentikan! Ku mohon," pinta Aprilia lepas. Putaran tubuhnya perlahan melambat. Sepasang matanya menatap teduh pada pria di bawah payung wajahnya. Pria itu tersenyum padanya. Terlihat menyejukkan rongga dadanya yang telah panas sedari tadi.
Aprilia tersipu malu. Mengalihkan pandangannya, berputar acak, menyiram api dalam hatinya. Pandangan matanya menyapu sekitar pantai, dan dia berkedip membola kemudian. Dia melihat sosok merah yang memandang kedalaman laut.
Seorang wanita bergaun merah. Tampak tak asing. Memegang setangkai mawar, dan dia berdiri di haluan perahu. Terlihat mencabut satu demi satu kelopak mawar, dan menjatuhkan ke laut.
"Dia?" Aprilia mencoba mengingat sosok itu. Tiba-tiba saja dia teringat sosok wanita masalalu Sadewa. Sosok wanita yang hadir dalam ruangan pemantau tadi siang.
"Dia?"
"Siapa?"
"Rose. Wanita pembawa mawar!"
Sosok bergaun merah tampak melambaikan tangan pada Aprilia. Seakan meminta agar Aprilia mendekat padanya.
Aprilia tak bergeming.
Byurrrr! Sosok itu terlihat menjatuhkan dirinya ke laut. Tenggelam.
Aprilia membola, meminta segera diturunkan.
__ADS_1
Jack menurunkan tubuh Aprilia. Dia terlihat heran. Namun, akhirnya mengikuti kaki kecil wanita itu melangkah kembali ke perahu.
Aprilia menghela napasnya panjang dan pendek kemudian. Dia menatap laut. Memastikan apa yang telah dia lihat. Seorang wanita menjatuhkan dirnya ke dalam laut.
"Ada apa?"
"Seseorang jatuh ke dalam air."
"Air laut begitu tenang. Tidak ada yang jatuh, Lea."
Aprilia berusaha menatap jauh ke dalam dasar. Kegelapan malam hanya mengandalkan sinar rembulan. Tidak mampu memberikan sedikit penerangan hanya untuk menerobos mencari jejak wanita itu.
"Aku hanya berhalunisasi."
Aprilia mundur ke badan perahu perlahan. Lalu, turun perlahan ke badan perahu, dan dia turun perlahan kembali menginjak pasir pantai.
Aprilia bergindik. Seluruh bulu romanya terlihat berdiri tegang. Sosok wanita itu terlihat telah mengikutinya. Sejak kapan? Aprilia tidak ingat persis.
Untuk apa aku takut? Bukankah Iblis Mayang saja telah menjadi Eoma-ku.
Aprilia menenangkan dirinya. Duduk berjongkok kemudian. Sepasang matanya yang berkabut mendadak cerah menemukan kerang di pinggir pantai.
"Memungut kerang?"
Aprilia hanya mengangguk tanpa menoleh pada Jack yang telah ikut memungut kerang.
"Ingat kerang. Ingat Manusia bodoh."
"Manusia bodoh. Vokalisnya Doni, Ada band." Aprilia mengangkat pandangan. Bibirnya melengkung sempurna dengan sepasang mata yang terlihat gemerlap menatap sosok di depannya.
"Kau tau lagu manusia bodoh?"
"Sedikit liriknya aku mengingatnya."
Aprilia memamerkan kumpulan kerang dalam tangannya pada Jack, bibir tipisnya bersenandung kemudian.
Tiada yang salah
Hanya aku, manusia bodoh
Yang biarkan semua
Ini permainkanku berulang-ulang kali
Mencoba bertahan sekuat hati
Layaknya karang yang dihempas sang ombak
Jalani hidup dalam buai belaka
Serahkan cinta tulus di dalam takdir
Aprilia menatap Jack kemudian. Teringat setiap bayang pria itu menindasnya di saat hari-hari yang telah berlalu.
"Layaknya kerang yang di hempas ombak. Dia tidak tau rasanya sakit mencintai tak berbalas. Tidak tau rasanya sakit telah di campakkan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Author lagi sakit. Jadi up pelan-pelan. Jangan lupa play Manusia bodoh ....