Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 155


__ADS_3

...Aku tidak termasuk dalam Flashsale 11.11...


..._Aprilia_...


...Selamat hari pahlawan 10.11...


...Jasamu terkenang mengukir sejarah...


...Eouny Jeje...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sadewa terlihat bertatapan dengan sosok yang tidak asing. Sosok itu adalah Mylea, seorang adik yang tidak memiliki darah yang sama dalam nadinya. Namun, di sebut keluarga.


"Oppa, kenapa kau menyingkirkan-ku?" Pertanyaan itu seakan melumpuhkan sepasang kaki Sadewa. Sepasang kaki pria itu luyut, dan lutut itu bertumpu pada lantai.


"Oppa, kenapa kau memberikan identitas-ku pada wanitamu?"


Sadewa menunduk.


"Oppa, apakah aku terlalu idiot? Sehingga kau selalu manfaatkan diriku!"


Mylea mendekat, dia ikut berjongkok, dan mengangkat dagu pria itu, dan mendengus, "Oppa, mengapa kau tega pada diriku? Bukankah, kau tau. Jika, kita menyantap ayam kalkun terpanggang. Aku akan selalu mengambil bagian terburuk dari semua keluargaku. Kenapa kau selalu mamfaatkan orang baik!"


Sadewa menatap sepasang mata yang berair di depannya, dan wanita itu bertutur lembut kemudian, "Pada akhirnya, aku mengerti, sebaik apapun engkau, akan tersingkir, terbuang sia-sia oleh sosok yang hanya menghargainya dirinya sendiri."


"Mylea," sengguk Sadewa.


"Aku membencimu!"


"Aaaaaaaaaa!"


Sadewa terjaga kemudian. Aprilia ikut bangun terjaga pula. Sepasang mata mereka membola ke arah sosok yang terlihat sedang menutup mata, di garis pintu.


Imah berdiri dengan raga gemetar memergoki pasangan terlarang itu.


Aprilia mengedipkan mata, menatap Imah. Lalu, menatap dirinya sendiri yang berada di bawah selimut. Dia berkedip dengan bulu mata yang bergetar. Dia menoleh ke pria di sisinya. Pria itu terlihat bertelanjang dada, dengan sebagian tubuhnya tenggelam dalam selimut.


Seakan mengerti satu hal.


Aprilia segera menatap nyalang pada Imah, "Imah! Keluar!"


"Keluar, Imah!" timpal Sadewa dengan suara bagai petir turun dari langit.


Imah segera menurunkan kedua tangannya yang menutup kedua belah matanya, "Maaf, tidak sengaja melihat."


Imah segera lari meninggalkan kamar. Turun menapaki tangga dan jatuh termenung di lantai.


Apa benar mereka hanya adik kakak? Jika, adik kakak mengapa tidur bersama?


Aprilia meraba jantung. Dup-dup-dup!


Jantungnya masih berlari-lari, seakan pecut kuda masih dicambuk pada bokongnya.


Apa karena dia merasa import? Jadi, hidup bebas seenak jiwanya. Atau, cerita Nyonya Santi adalah kebenaran. Dia adalah Nyonya kedua yang merubah wajah. Operasi plastik?


Imah larut dalam kebingungan. Tidak lama, langkah kaki di belakang tubuhnya terdengar. Dia menoleh. Melihat sosok wanita agung itu terlihat berdiri dengan membawa sejuta keangkuhan yang ingin menerkam dirinya.


"Nona," sebut Imah segera berdiri dan menunduk dalam. Tiba-tiba dia yang merasa malu, karena telah mengintip pasangan tanpa busana itu di pagi hari.


"Kau di pecat!" putus Aprilia dengan kegeraman yang ingin mencekik pembantu wanita yang berani melangkah mengintip.


"Tetapi, saya tidak sengaja!"


Aprilia yang mengenakan dress semalam, mendekat, dan mengancam, "Jika, kau berani membocorkan rahasia kami. Kau dalam bahaya."


Glek! Imah menelan air liurnya.


"Pergi dan kemas barangmu sekarang!"

__ADS_1


"Pesangon apa ada?"


"Tidak ada!" Aprilia mengangkat telunjuk meminta Imah segera keluar.


Imah menghela napas. Dia segera berlari menuju kamarnya. Peluh keringat membanjiri keningnya. Jantungnya, masih berdegup kencang tidak karuan. Dia-pun segera bersandar pada pintu kamarnya. Menenangkan dirinya, dan tatapan jatuh pada layar kaca televisi. Serial Naruto dari ikan terbang, sedang berlangsung.


"Jika, pulang kampung. Kelanjutan kisah hidup Naruto setelah bertemu musuh besar, tidak akan bisa aku ketahui lagi. Di kampung, tidak ada telivisi. Semoga, Naruto baik-baik saja. Biasanya pahlawan selalu menang. Kecuali, imitasi! Naruto berjuanglah! Walau aku tidak menonton perjuangan terakhirmu di episode terakhir!" rengek Imah. Lalu, menekan tombol power dan segera mengambil koper di bawah ranjangnya dan mengemas setiap pakaian dari lemarinya.


Setelah mengemas semua pakaian dalam koper, dan barang dalam kotak yang terikat rapi. Imah keluar dari kamar, untuk berpamitan. Namun, hanya tatapan dingin yang di berikan Aprilia.


"Permisi, Nona!"


"Pergi! Aku tidak ingin melihat wajahmu!"


Imah hanya mengelus dadanya sebentar, dan melangkah pulang dengan langkah gontai di ikuti satu rasa heran dalam hatinya.


Adik kakak di depan publik. Suami istri dalam selimut. Semoga, Tuan Sadewa adalah pria bertanggungjawab.


Imah menghilang di garis pintu. Pintu perlahan menyatu dengan kusen.


Blam!


"Sebentar lagi, akan datang pembantu baru mengganti Imah," celetuk Sadewa seraya menuruni anak tangga terakhir.


"Siapa?"


"Wati, namanya."


"Oh."


"Kau masih marah. Karena, tidak suci lagi."


Aprilia hanya melongos kesal dan  pergi. Tentu saja, dia masih marah karena kesuciannya hilang tanpa persetujuannya. Sadewa, bagai kapten perompak bajak laut. Mampu merompak harta berharga dalam diam.


"Kau masih marah?" Sadewa mencegah langkah Aprilia . Dia mencengkram pergelangan tangan kecil itu.


"Nasi sudah jadi bubur!" sahut Aprilia.


Aprilia risih, menurunkan paksa tangan pria itu. Bergerak menjauh satu langkah dari hadapan pria itu.


"Aku ingin tenang saat ini."


"Kebetulan besok tanggal sangat cantik. Tanggal 11 bulan 11. Mari kita menikah?" ajak Sadewa dengan sepasang mata penuh kesungguhan.


"Aku tidak termasuk dalam Flashsale 11.11!"


"Kau sudah terjebak masuk keranjang milikku. Tentu saja, tidak ada dalam beranda manapun," seloroh Sadewa.


Orang kaya selalu menyebut wanita itu adalah barang. Setelah bosan, dia akan memasukan barang yang lain dalam keranjangnya.


"Ingat, status kita adalah adik kakak. Apa kau lupa? Aku mencuri identitas adikmu."


Sadewa menggigit jemarinya. Bagaimana dia bisa melupakan pertukaran identitas itu? Sekarang, bagai buah simalakama. Sangat konyol, seorang kakak ingin menikahi adiknya. Dia akan segera memikirkan cara, agar bisa menikahi adiknya.


Aprilia menghela napas. Meninggalkan pria dewa itu jauh di belakangnya. Masuk ke dalam kamarnya. Lalu, melepas pakaian semalamnya. Masuk kamar mandi. Membenamkan dirinya begitu lama.


Satu jam kemudian ....


Aprilia masih membenamkan dirinya dalam bak yang di penuhi air yang bersabun. Segenap, dia masih merasa sabun tidak akan melenyapkan kekesalannya saat ini.


"Jack, pria di atas perahu. Sadewa, di atas kapal. Seharusnya, aku berbahagia karena telah tidur bersama Sadewa, Kapten bajak laut! Perompak kaya."


Aprilia merengut bingung. Apalagi Sadewa mengajaknya menikah? Menjadi wanita resmi? Bukankah itu tawaran yang sangat menggiurkan.


"Hmm," dehem sosok halus yang tiba datang, dan duduk di sisi bak mandi.


"Eoma!" seru Aprilia terkejut.


Nenek Mayang mengabaikan, dia mencelupkan tangannya ke dalam bak mandi. Lalu, menyentuh perut telanjang Aprilia.

__ADS_1


"Belum ada perkembangan juga, belum hamil juga. Aku akan memeriksa seminggu lagi. Jangan lupa bercinta lagi malam ini."


Aprilia mengerutkan kening.


"Eoma?"


"Seharusnya, satu kali harus berhasil,Sadewa."


"Eoma, kau mengintip pula!"


"Ssst! Aku bahkan memberikan kalian selimut."


"Eoma!"


Nenek Mayang hanya terkekeh dengan tangan yang di tarik keluar dari air , dan wajahnya mendekat pada sisi telinga Aprilia dan berbisik.


"Persembahkan janinmu, Aprilia."


"Eoma. Kami, baru satu kali. Hal itu belum terwujud."


"Bercinta setiap hari. Agar segera terwujud. Apalagi, Sadewa sudah merasakan dunia plastik milikmu itu."


Aprilia memetikan air sabun ke udara. Buih-buih sabun terbang menerpa wajah Nenek Mayang.


"Eoma, bisakah kau tidak menuntut persembahan?"


"Aku lapar. Aku bahkan telah mencuri dengar. Jika, Sadewa mengajakmu menikah tanggal 11 bulan 11!"


Aprilia menahan napas.


"Aku tidak akan menikah besok!"


"Aku akan membuat hal itu terwujud, Aprilia."


"Eoma, kami adalah adik kakak!"


"Iblis tidak perduli status seperti itu. Aku hanya ingin kau segera mengandung sebesar mungkin."


Nenek Mayang mengangkat telunjuknya dan mengeringkan air dari bak mandi.


Sekejap Aprilia menjadi malu akan kepolosan di dalam bak mandi. Dia mengedip mata marah pada Nenek Mayang yang hilang kemudian, dan meninggalkan suara pesan menggema.


"Cepat keringkan tubuhmu. Nanti, sakit!"


"Eoma, kau sangat perhatian." Aprilia melompat dan membalutkan handuk pada tubuhnya segera.


"Aku tidak perhatian padamu. Namun, pada bayi persembahan itu. Jika, kau sakit. Janin itu gugur, aku akan sangat sedih. Aku ingin, janin itu tumbuh besar. Kemudian, aku akan memakan dengan lahapnya."


"Bisakah Eoma tidak berkata hal yang mengerikan seperti itu?"


Tidak ada sahutan kembali. Aprilia menggelengkan kepalanya. Dia merasa seluruh raganya luruh dalam rasa dingin. Dia segera keluar dari kamar mandi, menuju lemari. Memilih satu pakaian.


"Aku akan pergi. Membeli jamu gugur janin! Aku tidak ingin hamil. Jika, akhirnya kuku Iblis itu merobek dan mencuri janin milikku!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author : cie yang mau nikah ....


Sadewa : Shopee 🤣


Author : Btw! Tina si hantu manis terlupakan bakal datang lagi Lo ..


Sadewa : moment manis jangan ganggu


Author : dia hobi ganggu. jangan lupa anak dalam perut Tina, milikmu Sadewa


Sadewa : horor


Author : besok aku bikin pernikahan gaib yah

__ADS_1


Sadewa : jangan ! atau aku marah nih!


Author : 😤 suka suka gua. gua penulis nya.


__ADS_2