Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 171


__ADS_3

...Kau pikir kau adalah pria-pria yang pantas di sebut mahaesa. Hanya satu-satunya di muka bumi, yang kehidupan di sebut layaknya seperti Tuhan....


..._Puspa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Klek!


Puspa membuka pintu kamar hotel. Teringat akan sesuatu di wajahnya. Dia segera merabanya.


Blam!


Pintu kamar hotel kembali terkatup rapat. Dia berpaling kepada Madam Marlena. Dia meraba wajahnya dan bertanya, "Apakah wajahku akan baik-baik saja?"


Madam Marlena menghela napas berat.


Puspa membola. Dia sangat khawatir kuku Nenek Mayang akan membuat wajahnya busuk seketika.


Madam Marlena memutar puntung rokok pada alas asbak yang bertabur belatung. Puntung rokok mati. Dia bangkit dari kursinya, mengitar keluar dari meja bironya. Berjalan mendekati wanita beraut panik itu.


"Apakah akan baik-baik saja? Apakah akan ada belatung kembali?"


Madam Marlena mencubit dagu Puspa. Menolehkan ke kanan, untuk melihat luka yang tidak terlihat secara kasat mata tersebut.


"Terlihat saat ini, baik-baik saja."


"Maksudmu?" Derap panik Puspa melaju lebih cepat.


"Kita akan melihat efek cakaran itu dalam beberapa hari ke depan. Jika, terlihat buruk. Kau harus mempersembahkan sesuatu untuk iblis Mayang."


Deg! Jantung Puspa mengejut tegang. Dia melirik pada asbak. Ingin muntah, mengingat setiap belatung telah bergeliat begitu lama dalam lapisan kulit wajahnya.


"Aku akan melakukan apa saja, untuk menyelamatkan wajahku!" ujar Puspa.


Madam Marlena menghela napas. Dia ikut meraba wajahnya, tamparan Nenek Arum terasa begitu panas dan mengirim rasa bakar.


"Aku bahkan memikirkan wajahku pula."


Puspa membenamkan pikirannya untuk sesaat. Dia merasa buntu saat ini. Wajah rusak adalah hal yang sangat memalukan. Bagaimana dia mampu pergi ke kelab? Jika, wajahnya mengubur belatung dalam lapisan kulit. Perlahan dan pasti, belatung itu akan naik ke permukaan kulit, dan terlihat menjijikan di hadapan semua orang.


"Kau harus membantuku dan bertanggungjawab. Madam, yang memperkenalkan diriku pada dua  nenek tua aneh itu."


Madam Marlena membuka telapak tangannya, "Jangan hanya minta bantu. Tanpa membayar."


Seakan mengerti arah permintaan Madam Marlena. Puspa merogoh dompet kecilnya dari saku celananya. Lalu, membuka dompet. Mengambil black card, menuju meja Madam Marlena. Menyematkan kartu pada bibir mesin EDC.


Menekan berapa digit angka yang akan dibayar. Lalu, menekan pin kemudian.


Drrttt!


Lembar kertas keluar perlahan dari bibir EDC. Puspa segera merobeknya, dan meletakkan pada tangan Madam Marlena.

__ADS_1


"Pastikan wajahku tidak akan mendapat belatung seperti tadi."


Madam Marlena mengeja pada angka yang di bayar Puspa untuknya, "Sepuluh juta."


"Aku akan menambahnya kelak. Jika, hal ini sudah terlewati. Tidak ada belatung busuk lagi yang bersembunyi dalam lapisan kulit."


Puspa melangkah pergi. Meninggalkan hotel. Kembali, ke rumahnya. Setelah, mematikan mesin. Dia turun dari mobil miliknya. Hanya menatap kekosongan halaman mobil Jack.


"Pria itu tidak pernah mengunjungiku lagi? Ada apa dengannya?"


Puspa masuk ke dalam rumahnya. Hanya kekosongan yang menyambutnya. Sedih dan suram. Puspa menahan napas, seakan kesepian adalah peluru yang menembak pada dadanya.


"I'm alone!"


Puspa menatap bingkai gambar pada dinding. Ada dirinya. Ada Jack yang merangkul pundaknya.


"Kau bahkan tidak pernah datang lagi. Ada apa denganmu Jack? Bosan!"


Puspa menghela napas. Merogoh ponsel dari saku celananya. Pukul 01.00 dini hari, tertera pada layar sambutan ponsel miliknya.


Jempol Puspa bergulir, ke daftar kontak. Lalu, jempolnya bersiap akan menekan panggilan untuk satu nama. Jack- Buaya.


Tiga detik selanjutnya. Puspa mengurungkan niatnya. Dia menggelengkan kepalanya kemudian.


"Pria buaya itu pasti pergi ke gua lainnya. Untuk apa kita pikirkan!"


Puspa melempar asal ponselnya jatuh ke salah satu sofa.


Puspa mendekih licik. Menatap setiap jemari kukunya, "Jack, kau berani mempermainkanku. Aku dengan senang hati meletakkan dirimu sebagai tumbal keselamatanku."


Puspa mendekih kembali. Sepasang matanya terlihat menyeringai benci. Dia segera melangkah menuju kamar tidurnya. Menghempaskan raga lelahnya ke ranjang peraduan miliknya.


Puspa menatap langit-langit kamarnya untuk sejenak. Dia menyipit kemudian akan sosok Jack yang terlihat mencumbui wanita lain.


"Cih!" Puspa meludah angin kemudian.


"Kau pikir kau adalah pria-pria yang pantas di sebut mahaesa. Hanya satu-satunya di muka bumi, yang kehidupan di sebut layaknya seperti Tuhan."


Puspa tersenyum miring.


"Aku akan mempersembahkanmu, Jack!"


Puspa mencebik bibirnya kemudian. Puspa terjaga untuk beberapa saat. Hingga kesunyian dengan suara jangkrik mengantarnya larut dalam tidurnya yang menembus dimensi ruang lain.


Deg! Puspa membuka sepasang matanya. Rasa dingin menusuk kulitnya. Mengejutkannya. Dia menatap sekitarnya. Dia berada di lautan. Dia menggoyangkan kakinya yang terlihat berekor sekaligus  bersisik emas. Dia  menenggelamkan dirinya ke bawah permukaan air. Dia mengayuh kaki ikannya meliuk-liuk di dalam air dan berenang menuju titian jembatan yang terlihat di pinggir pantai. Berenang dengan sangat cepat dan lincah. Tanpa menyadari dirinya telah berwujud ikan.


Pandangan Puspa dari dalam air, tajam bagai sinar lampu menyoroti kaki pilar jembatan. Sepasang matanya membola  cerah, kala gambar kaki pilar titian jembatan makin terbingkai besar dalam bola matanya. Kepalanya perlahan naik ke permukaan. Menggoyangkan kaki bersisik. Menggapai anak tangga pertama titian jembatan.


Mencapai Titian jembatan. Tangan halus wanita itu menggenggam pinggir anak tangga. Puspa berasa siap akan naik meniti setiap anak tangga. Namun, tiba-tiba merasa janggal. Seakan, dia merasa hanya memiliki satu kaki, dan sangat sulit di gerakkan. Seakan mati rasa untuk melompat naik. Sekuat tenaga, Puspa mendorong tubuhnya naik ke anak tangga pertama. Menyeret perlahan raganya mencapai lantai jembatan kayu itu.


Tetesan air laut tampak jatuh bagai rinai yang mencium lantai jembatan dengan derasnya. Puspa menyeka peluh air pada wajahnya. Lalu, dia mengalihkan kepalanya, memeriksa kakinya.

__ADS_1


"Apa ini?" kejut Puspa pada dirinya. Separoh tubuhnya hingga ke dadanya, bersisik bagai ikan.


"Aku putri duyung?" Puspa menggelengkan kepala, tidak percaya. Dia ingin memeriksa apakah setiap sosok itu nyata miliknya. Dia mencabut satu sisik bagian tubuhnya.


"Aw!" ringis Puspa sakit kala satu sisik miliknya tercabut kasar. Dia menjepit sisik dalam tangannya, dia memandang mustahil.


"Mengapa aku menjadi ikan? Ikan duyung?"


"Karena kami menginginkannya."


Dua suara tidak asing terdengar bersamaan. Puspa menoleh ke asal suara. Dia di kejutkan dengan Nenek Mayang dan Nenek Arum yang hadir bersamaan di hadapannya.


"Kenapa kalian mengubahku seperti ini?"


Dua wanita iblis itu hanya mendekih. Terlihat berjalan mendekat dengan posisi saling menyilang bergantian. Lalu, dua wanita iblis itu duduk berjongkok di hadapannya. Menyeringai dengan kekejaman dalam bola matanya. Dendam bagai menatap jauhnya dasar laut.


"Apa kau lupa? Apa yang telah kau lakukan padaku?" ujar Nenek Arum.


"Kau masih amnesia?" ujar Nenek Mayang menimpali.


Menelan ludah. Puspa menggelengkan kepalanya. Sedikitpun dia tidak pernah mengingat pernah melukai dua wanita iblis ini. Dia tidak ingat.


"Kau lupa?" Dua kata itu di ucapkan serak secara bersamaan.


Puspa menggelengkan kepalanya.


Nenek Arum dan Nenek Mayang bertukar pandangan. Bertukar senyum licik. Lalu, terlihat dua ruh saling membayang, tumpang tindih, bertukar posisi. Perlahan kemudian, menyatu membentuk satu sosok yang terlihat tidak asing. Wanita yang sangat familiar. Babu jelek.


"Kau babu jelek?"


Sosok di depan itu menganggukkan kepala. Tersenyum sinis.


"Apa kabar tuan Puteri?"


Puspa bersiap akan melayangkan tangan ke udara. Menyentuh wajah wanita di depannya. Namun,raganya terangkat ke udara, makin tinggi dan makin tinggi.Lalu, hempasan gravitasi turun menjatuhkan dirinya dengan sangat cepat.


Byurrrrr!


Suara air mengejutkan. Membuat seluruh indera Puspa terpacu bangun, dan dia kembali terjaga. Sepasang matanya membola dengan kejutan pertemuan dengan sosok yang telah dia lupakan.


Puspa segera bangkit memposisikan dirinya untuk duduk. Dia memeriksa kakinya. Tidak bersisik. Memiliki sepasang kaki yang indah dan jenjang.


"Aku tidak akan menjadi ikan!" pekik Puspa rendah pada dirinya sendiri.


"Wanita itu? Di mana? Hidup atau telah mati?" gumam Puspa bingung dan gelisah kemudian.


Dup-dup-dup! Degup jantung Puspa berdetak kencang. Tiba-tiba siluet wanita yang dia temui di toko buku. Sorot mata yang tajam dan penuh kebencian itu, mengingatkannya pada sosok wanita yang pernah tinggal bersamanya.


"Tidak mungkin," geleng Puspa.


"Dia adalah transformasi babu jelek.  Upik abu menjadi Cinderella. Dongeng hidup! Itu konyol!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2