Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 172


__ADS_3

...Kita berada di perahu yang sama. Kau selalu membantuku. Namun, seorang pria tidak mampu meletakkan kakinya pada dua perahu sekaligus. Kau memilih naik perahu bersamaku atau memilih bersamanya....


..._Puspa_...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Puspa mengerutkan hidungnya tajam. Seakan bau air asin laut masih terendus dalam hidungnya, dan asinnya air laut masih terkecap dalam lidahnya.


"Asin sekali!" geram Puspa bangun. Dia berdiri turun melompat dan menatap jam dinding. Tampak gelap gulita. Namun, dia memutuskan kembali terjaga.


"Siapa wanita itu?" Satu pertanyaan itu terusik bagai bola api yang membakar otak Puspa. Dia segera melangkah keluar. Menuju kamar yang biasanya Jack huni jika tidak ingin tidur bersamanya.


Deg! Bagai pecut kuda telah mencambuk hati Puspa. Puspa melaju ke pintu.


Klek! Klek! Klek! Pintu terkunci. Wanita itu tampak menghela napas panjang. Namun, hal ini bukanlah kebuntuan baginya. Dia masih memiliki kunci candangan. Dia segera memutar haluan langkahnya menuju laci penyimpanan kunci. Laci itu berada tepat di bawah ruang vois tangga. Dia berjalan mengendap-ngendap menuju ruangan di bawah void tangga.


Senyap. Langkahnya di buat sesenyap mungkin. Seakan, dia tidak ingin ketahuan jika telah menjadi pencuri pada pagi buta.


Tap! Tap! Tap! Langkah Puspa menjadi lebih berisik kala mencapai lantai peratama. Tapak kakinya berisik menuntunnya pada kotak penyimpan kunci cadangan. Ruangan kecil itu terlihat gelap, sedikit pencahayaan datang dari lampu yang membias pada sudut tergelap itu.


Deg! Rumah jantung Puspa bergetar. Seakan dia bukan hanya menemukan kunci pintu kamar. Namun, dia juga menemukan kunci jawaban. Siapa wanita itu? Tatapan misterius wanita  itu terlihat mampu membunuhnya dalam satu tepukan menepuk lalat. Tatapan yang mampu menghujam jantung.


Klek! Pintu laci kotak penyimpanan kunci terbuka. Bergetar! bergetar! sangat bergetar! kala tangan Puspa meraba, menggenggam setiap anak kunci yang bergantung pada setiap kaitan U. Sepasang matanya menembus kegelapan. Tangannya meraih setiap anak kunci kepada pencahayaan temaram,  mengeja label nama kunci satu demi satu berganti. Hingga akhirnya dia menemukan kunci yang tepat.


Kunci kamar utama.


Deg! Jantung Puspa melompat. Puspa telah menemukan kunci kamar utama. Dia menggenggam satu anak kunci. Namun, seakan ikut menggenggam pisau dalam tangannya, dan ingin mencabik-cabik seseorang yang menjadi misteri dan bersembunyi di dalam kamar utama.


Puspa melangkah keluar dari ruang kecil, pengap, dengan hawa busuk itu. Dia meniti setiap anak tangga. Saat ini, dia tidak ingin terburu-buru, seakan dia menyukai kehatian-hatian untuk menemui rahasia yang bersembunyi di dalam kamar utama. Rahasia besar yang bersembunyi.

__ADS_1


"Kita berada di perahu yang sama. Kau selalu membantuku. Namun, seorang pria tidak mampu meletakkan kakinya pada dua perahu sekaligus. Kau memilih naik perahu bersamaku atau memilih bersamanya," gerutu Puspa pada dirinya sendiri, menyalahkan pria yang selalu memberikan tempat untuknya. Berjalan sejauh mungkin. Kini, dia telah berdiri di depan pintu kamar utama.


Puspa menghela napas panjang, seakan mengatur setiap ritma di dalam dadanya untuk tenang. Ritma yang bagaikan bunyi tabuh perang yang memekakkan telinganya. Dia meletakkan anak kunci pada lubang kunci.


"Jack, rahasia apa yang kau miliki? Bahkan anginpun harus membisik pergi melangkah memeriksa kamarmu?"


Klek! Klek! Suara anak kunci berputar dua kali. Kret! Pintu terdorong perlahan. Cahaya lampu koridor memberi pencahayaan persegi panjang terbias mengerucut pada kamar gelap tersebut.


Jemari tangan Puspa meraba dinding yang bersebelahan dengan kusen pintu. Menemukan saklar. Klek! Lampu menyala. Kamar tampak terang benderang.


Puspa melangkah kakinya pada garis pintu. Sepasang matanya beredar acak seakan mencari setiap jejak dan bukti, dan terminal perhentian sepasang matanya jatuh pada bingkai canvas yang menggantung pada dinding kamar yang menjadi latar kepala ranjang.


Sepasang mata Puspa melotot. Lidahnya kelu ingin membelot akan sosok wanita yang terbingkai itu.


"Wanita berhantu itu? Kau sudah lama menyimpannya di sini! Di kamar milikmu sendiri!"


Sinar mata Puspa meredup. Tatapannya jatuh menatap setiap ubin lantai, rinai hujan tampak jatuh setitik dua titik menyentuh setiap jemari kakinya.


Menjijikan. Mengingat setiap belatung itu keluar dari setiap pori-pori wajahnya.


"Kau menyimpan wanita berhantu. Bersembunyi di belakangku. Menyebut dirimu sebagai Qais dan dia adalah Layla."


Puspa mendekih. Sinar matanya menjadi lebih gelap. Seakan api cemburu telah membakar seluruh logikanya. Dia melompat ke ranjang. Menurunkan wajah seorang wanita yang terbingkai, dan dia membanting keras, menjatuhkan canvas berbingkai itu ke lantai. Pletak! Remuk kayu papan kanvas terdengar patah.


Sepasang kaki Puspa turun perlahan dari ranjang. Dia menginjak-nginjak  gambar. Seakan, dia tidak sudi alam pikiran pria-nya telah diregut oleh wanita yang terlihat menghunus raga dan jantungnya.


Terus menginjak. Seakan, dia telah menginjak setiap fitur wanita itu di bawah kakinya.


"Kau bukan siapa-siapa? Bahkan jika dua iblis itu mendukungmu. Kau tidak akan bisa membunuhku!"

__ADS_1


Puspa mengerutkan keningnya. Sepasang matanya menyipit dan terlipat seakan seluruh arogansi jatuh menuju dasar lembah. Bagaimana dia bisa menemukan kemenangan terhadap dua iblis wanita yang terlihat mempengaruhi jagat raga raya. Dua nama yang tersohor itu.


Nenek Mayang. Nenek Arum.


Dua nama wanita iblis itu saling tumpang tindih, memenuhi semesta pikiran milik Puspa. Lututnya longgar jatuh merosot ke lantai. Seakan setiap baut tulang sendi kakinya telah dicabut. Dia duduk menindis canvas berbingkai itu dan terkekeh dengan air mata yang berlinang.


Sepasang mata Puspa berkabut emosi beraduk kesedihan. Pandangan mulai berbayang, dan samar-samar gambar wanita hasil kuas itu, berubah menjadi sosok yang dia benci. Babu jelek.


"Babu jelek?" Puspa pangling akan penglihatannya sendiri.  Seluruh udara dalam rongga dadanya, telah menipis. Hanya ombak isak yang terlihat bergulung-gulung menghajar tepi pantai. Suara riak ombak bagai suara tangis putri duyung yang terdampar dan terjebak dalam jala nelayan.


"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak akan menjadi ikan!" Puspa bangkit. Memungut gambar tersebut. Membekap wanita kuas dalam dadanya. Dia berjalan tertatih-tatih dengan tapak kaki yang berat melangkah pada setiap kotak keramik, berat melangkah setiap menuruni  anak tangga yang terlihat begitu terjal. Berat sekali bebannya. Seakan dia berjalan bukan membawa wanita dalam kuas. Tepatnya , dia seakan berjalan menggendong mayat yang sulit digerakkan. Membuat setiap langkahnya harus membungkuk sedalam mungkin.


"Wanita berhantu! Kau gila! Kau teror! Kau bom!" maki Puspa bagai peluru melukai lawan dalam gendongan tangannya. Dia terus berjalan tertatih-tatih seakan menyeret mayat  yang begitu berat pergi bersamanya.


Klek! Pintu dapur terbuka. Hamparan permadani hijau terlihat. Semilir angin pagi buta menyapanya, sensasi dingin menusuk-nusuk daging hingga tulangnya. Bergindik. Seluruh bulu roma berdiri tegang.  Namun, sepasang matanya mengkilat menuju bak kremasi sampah. Dia menggendong dalam letupan api semangat, menuju bak kremasi sampah.


Pletakkk! Puspa melempar gambar ke dasar bak kremasi. Dia terkekeh seakan dirinya telah membantai musuh besarnya. Dia kembali ke dapur dengan tergesa-gesa. Memeriksa setiap laci dapur. Mengobrak-ngabrik setiap kotak penyimpanan. Hingga akhirnya dia menemukan apa yang dia inginkan. Menemukan korek gas.


Ujung bibirnya menukik miring. Seakan kepuasan telah menemukan senjata yang tepat untuk membakar. Dia berlari keluar secepat mungkin. Langkahnya bagai anak kecil yang terbirit-birit ketakutan, menuju bak kremasi.


Ngosh! Ngosh! Menghela napas setelah mencapai garis terminal perhentian. Puspa duduk berjongkok di tepian bak  kremasi. Tek! Tutup pematik api korek gas terbuka. Lalu, api kecil menyala. Jemari tangan halus menjepit bergerak ke ujung bingkai, dia meletakkan api kecil pada sudut bawah gambar.


Menyala bagai lilin kecil. Melubangi lapisan kain kanvas. Api kecil itu perlahan menembus lapisan kanvas dan meraup rakus dalam nyala kuning jingga, sangat cepat.


"Terbakarlah. Biarkan kau menjadi abu!"


Hangus. Tak tersisa. Nyala kuning jingga perlahan padam kemudian.


Puspa mundur membawa raganya berdiri kembali masuk ke rumahnya. Sementara wanita kuas telah menjadi abu, dan semilir angin pagi buta  menerbangkan abu pergi ke langit.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2