
...Berani menampar lagi? Wajahmu akan hancur lebur. Ibarat wajah merah padam menjadi malu yang tak bisa ditanggung lagi. Berdiam lebih baik. Menepi lebih aman. Mengaku lebih disukai....
..._Tina_...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau siapa?"
Little Susie, sahut Tina dalam hatinya teringat akan sebutan dirinya yang di labelkan oleh Sadewa di masa lalu.
"Kupu-kupu indah! Mawar jemputan! Wanita yang sedang hamil anak Jack," sindir Puspa.
Tina mengerutkan dahi. Dahi berkerut tajam, menunjukkan ketidaksukaannya.
Hamil? Tuduhan itu membuat wajah Tina merah hitam bersiap meledak. Dia memutar tubuhnya, menatap dengan dendam yang melebur bersama milik Aprilia.
"Jika kau telah hamil. Ingin menyebut anak sebagai ikatan pernikahan. Aku katakan padamu. Lahirkan dulu anak itu. Tes DNA kemudian!" ujar Puspa meledak.
"Apa yang kau bicarakan?" Tina menunjukkan pertanyaan bagai sengatan lebah pada masalalunya. Memiliki anak haram. Menggelikan dan sakit terdengar di telinga Tina.
Jangan menyebut anak haram. Jika seorang ibu mampu mengenal ayah anaknya. Anak haram itu tidak ada! Kecuali, seorang ibu tidak mampu mengenal ayahnya.
"Jangan menghinaku jika kita baru berkenalan," ujar Tina menegur.
"Dari sampulmu sudah cukup terlihat jelas."
"Jika kau berkata seperti itu. Bearti kau adalah seorang mata Nazwa yang telah buta."
"Kau yang buta!"
"Kau yang buta sekaligus tuli!"
"Baiklah tiga cacat sekaligus untukku. Buta. Tuli. Bisu. Sedangkan dirimu, cacat perilaku!"
Pertarungan dua wanita ini terlihat sengit. Seakan tajam kuku akan saling bertukar merobek daging wajah lawan.
Jack segera mendorong Tina mundur di belakangnya. Membuat wanita itu berdiri di belakangnya.
"Nana jangan berubah menjadi piktor terhadap setiap orang yang baru kau kenal. Dia wanita baik-baik."
Puspa melongos dengan napas malas, jantungnya berdegup kecap, dan dia menjadi marah karena Jack lebih membela wanita yang menjadi lawannya.
"Kau membuatku cemburu, Jack!"
"Bukan seperti itu. Aku hanya ingin kalian rukun."
Puspa menahan napas. Air matanya ingin jatuh. Segera dia tahan. Berpaling ke belakang sebentar. Menyekanya perlahan.
__ADS_1
"Kau berkata seperti itu, seakan dia adalah wanita yang telah lama berada di bawah atap yang sama denganmu."
"Aku dan Lea belum pernah serumah. Kami masih berteman."
"Namun, kau mementingkan dia daripadaku," protes Puspa keras. Melipat dada. Menyiram cuka cemburu ke dalam bara api.
"Aku hanya tidak setujui. Kau menindasnya!"
"Bearti kau sangat menyukainya!" Puspa merendam amarah. Dia memejamkan mata untuk sesaat. Seakan, api cinta yang membara telah di siram air hujan yang begitu derasnya. Tetesan langit itu jatuh memadamkan dengan cepat.
Jack lebih menyukainya daripadaku. Bahkan dia lebih memilih membela wanita itu. Sialan!
"Dia wanita baik-baik, jangan menyebutnya seperti itu!"
Gusar. Marah. Kesal. Tangannya mendorong bahu pria itu, "Setiap teman kencanmu, kau sebut wanita baik. Namun, kau dipastikan pria tidak baik itu."
"Tutup mulutmu! Kau membuatku-"
"Muak dan ... kau ingin katakan telah bosan begitu?"
Puspa menjulurkan leher mengintip sosok yang di sembunyikan. Hal yang tidak disangka, sang pemilik mata di belakang punggung itu menatap nyalang padanya.
Bergindik. Puspa bergindik akan sorot yang terlihat menamparnya hanya dengan tatapan yang menusuk.
Gusar. Sekejap pedal gas keberanian di injak Puspa.
"Kupu-kupu, kau berani menatapku? Apakah kau tau dua telunjuk tanganku mampu mengeluarkan bola matamu."
Tina menurunkan kelopak matanya seperkian detik. Lalu, mendorong Jack ke belakangnya. Tiba-tiba, dorongan tenaga wanita itu begitu besar. Jack bahkan merasakan tangannya mudah di remukkan dalam satu sentuhan.
"Kau hanya burung nuri. Sadar diri! Sadar diri! Kekuatanmu bahkan tidak bisa menyentuh sehelai rambutku! sadar diri! Kau hanya burung Nuri."
Puspa melipat tangannya di dada. Dia mencondongkan bahunya menatap lebih dekat pada wanita di depannya, "Kau lah yang sadar diri. Kupu-kupu! Kau-lah yang harus sadar diri! sadar diri. Kau-lah kupu-kupu terbang ke milik orang lain!"
Plak!
Tamparan melayang mengenai wajah Puspa. Cap lima jari membekas panas, bahkan sudut bibir Puspa ikut robek.Merah ungu terlihat jelas di ujung bibirnya. Tamparan wanita itu begitu kuat.
Plak!
Puspa membalas dengan cepat. Namun, tamparan itu bagai sentuhan angin yang tidak melukai Tina. Yang terjadi adalah hal sebaliknya, telapak tangannya terlihat merah dan bengkak kemudian.
"Berani menampar lagi? Wajahmu akan hancur lebur. Ibarat wajah merah padam menjadi malu yang tak bisa ditanggung lagi. Berdiam lebih baik. Menepi lebih aman. Mengaku lebih disukai." tegur Tina.
Puspa mundur satu langkah menatap telapak tangannya. Dia mampu melihat asap hitam keluar menjejak dari telapak tangan miliknya.
"Kau kesurupan arwah?" tebak Puspa. Dia mundur segera.
__ADS_1
Tentu saja aku akan kalah, jika berperang dengan hantu. Sialan!
"Hantu! Aku bukan hantu! Aku manusia biasa. Hanya saja aku pernah karateka waktu SD!"
"Kau hantu! Aku yakin!" tuding Puspa. Dia masih mampu melihat asap hitam menipis hilang perlahan dari telapak tangannya.
"Nana! Kau sudah keterlaluan. Kupu-kupu kau sebut. Sadar diri kau gaungkan. Burung Nuri kau labelkan. Kini, kau sebut Lea kesurupan."
"Dia wanita baik-baik. Kau jangan menyamakan dirinya dengan wanita lainnya. Aku mengenalnya dengan baik. Dia wanita baik-baik," terang Jack mengejutkan.
"Diam kau!" ujar Puspa mengacungkan telunjuknya panjang pada Jack. Dia menatap nyalang pada sosok yang masih berdiri tegak, dengan senyum miring yang terlihat sarkas mengejek. Puspa menyipit tajam. Seakan, dia mampu menebak. Dia bukan berurusan dengan sosok halus biasa.
Rupanya kepalaku mengenai batu. Berurusan dengan raga yang di isi hantu penasaran.
"Bermain menyerangku dengan arwah. Aku akan pastikan, aku akan gunakan arwah pula menyerangmu!" Puspa melangkah keluar dari setiap susunan buku yang tersusun pada rak.
Puspa menoleh sebentar. Dia menyipit kala siluet wanita bergaun merah itu terlihat menampakan diri padanya.
Sialan. Wanita itu berhantu!
Baru saja Puspa bergumam dalam hatinya. Suara wanita bertangkai mawar itu, terngiang berbisik padanya.
Kau berani menyerangku. Maka, kau akan rasakan akibatnya. Jangan suka menghina orang lain. Jika, tidak siap di hina kembali. Tanggung resiko lidah berani meludah. Maka, jangan salahkan orang lain, ludah di atas tanah itu, kembali di angkat, dan di lemparkan ke wajahmu.
Jack menghela napas lega. Setidaknya satu wanitanya telah pergi. Kini, dia berhadapan dengan mangsa baru yang terlihat menarik karena sepasang mata indah itu bagai tatapan serigala pada malam hari yang bersembunyi di balik semak-semak.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Jack dengan sejuta prihatin. Kedua tangannya bertengger di atas pundak wanita itu masing-masing.
Tina menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja. Jack menyipitkan matanya. Tidak ada jejak merah di sana. Namun, yang terjadi pada Puspa adalah hal yang sebaliknya.
Perlahan. Telapak tangan Jack merayap menyentuh pipi bekas tamparan Puspa.
"Apakah pipimu terbuat dari besi? Kau bahkan tidak berteriak kesakitan."
Tina menurunkan telapak tangan itu. Lalu, mendongak menatap Jack.
"Jangan berubah menjadi perhatian, Randi."
Randi.
Nama lawas yang telah lama dia tinggal. Mengapa terdengar mengerikan ketika nama itu di sebut oleh sosok asing yang baru dia kenal.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author : pipi sapa yang sakit?
Nana: saya yang sakit
__ADS_1
Tina : Tangan hantu di minta nampar.
Author : peluk dulu Nana. Sabar yah Na. Tunggu Lea nggak kesurupan, baru balas!