
Satu Jam Kemudian
Sebuah mobil Pick Up telah terparkir di halaman rumah Puspa. Pria berbadan besar dengan kumis tebal turun dari mobil.
Aprilia segera menyeret keluar tubuh Dimas yang memberontak keluar dari kamar. Dia menarik paksa puteranya dan mendorong masuk ke dalam mobil.
"Mas Irfan, ini uang titip buat nenek." Aprilia menyerahkan uang 800 ribu pada Irfan. Kemudian, memberikan 200 ribu selanjutnya, "Yang ini untuk mas Irfan yang bersedia mengantar jauh-jauh."
"Iya. Terima kasih, mbak."
"Aku akan mengirim lagi nanti."
Irfan menganggukan kepala.
Setelah memberikan uang. Blam! Pintu mobil tertutup rapat. Irfan pun menginjak pedal gas. Terlihat Dimas terus merengek di balik jendela kaca mobil. Dia terlihat memukul jendela mobil, tidak ingin berpisah dengan ibunya.
"Terpaksa." Aprilia menyeka air matanya. Dia telah merasakan setiap darahnya telah bercampur dengan kebencian. Tiap jantungnya berdetak, dia dapat merasakan aliran kebencian bersama dengan darah yang mengalir pada setiap nadinya. Napasnya pun kini haus akan membalas dendam.
"Kau akan merasakan apa yang namanya jatuh karena menghina orang lain, Nana."
...****************...
Pukul 23.00 Wib
Aprilia menatap dirinya di cermin. Dalam gengamannya tangannya terlihat memegang gunting. Dia baru saja memotong rambutnya menjadi pendek. Rambut berserak di bawah kakinya. Dia terlihat lebih jelek dari sebelumnya. Rambut pendeknya membuat dia terlihat lebih tua dengan wajah lebar yang memberi kesan betapa galaknya dirinya.
Tidak lama terdengar langkah kaki dengan ketukan tumit sepatu yang lancip masuk ke dalam kamarnya.
"Babu jelek!"
__ADS_1
Aprilia mendongakkan kepalanya. Menatap wanita berpakaian indah yang terlihat membalut ketat dan sexy. Wanita itu berjalan sempoyongan, dan berakhir berdiri menyandarkan dirinya di garis pintu.
Aprilia menggengam erat gunting dalam tangannya. Ingin rasanya dia mengarahkan ujung gunting, dan menusuk perut wanita ini. Betapa banyak hinaan yang di ucapkan wanita ini, apakah dia pikir hal itu tidak akan membuat dirinya terluka? Aprilia terluka. Sangat terluka. Sekaligus cemburu akan pria yang telah dia cintai. Namun, pria itu malah lari pada pangkuan wanita ini. Sedih sekaligus perih menjadi remasan jantung yang paling menyakitkan baginya.
"Babu jelek! buatkan aku dan Jack dua gelas teh madu. Sekarang yah!"
Setelah mengucapkan permintaannya. Puspa berjalan keluar dari kamar Aprilia. Aprilia memejamkan matanya. Menahan diri dari amarah, adalah kekuatannya. Dia melepaskan gunting berusaha sabar. Gunting jatuh ke lantai. Dia pun segera bergegas pergi akan pergi ke dapur. Membuat dua gelas teh madu.
Tetapi, baru saja Aprilia menyiapkan dua gelas teh madu. Tiba-tiba satu rangkulan datang dari belakang. Tangan besar itu melingkar dari perutnya. Bau alkohol terendus masuk ke dalam lubang hidung Aprilia.
"Nana ...." Suara serak pria itu menjadi magnetik rindu di hati Aprilia. Walau nama wanita lain yang di sebut. Aprilia tidak perduli. Tangan kecilnya ikut menjabat tangan yang melingkar di perutnya. Dagu pria itu menempel pada pundak Aprilia. Kepala pria itu bergerak miring, dan berbisik pada kulit leher Aprilia, "Aku ingin menikahimu, Nana. Jadilah wanita dalam rumah tanggaku?"
Deg! Jantung Aprilia bak di sambar petir pada malam hari. Raut wajah Aprilia berubah sangat hitam, dan dia mengutuk kehidupan Puspa.
Mengapa kau beruntung daripadaku, Nana? Mengapa semua pria lengket padamu! Kau cantik, kau bebas memilih. Sisakan satu pria saja, Jack untukku.
"Apakah kau setuju menjadi isteriku?"
Aprilia sengaja mengumpan perasaan pria itu. Dia ingin tahu, apa yang ada di dalam hati pria itu? Dia ingin tau perasaan Jack di saat mabuk seperti ini. Dia ingin kejujuran pria ini.
Rangkulan tangan di perut itu makin ketat. Jack melepas rangkulannya dan memutar tubuh Aprilia. Aprilia bersandar di meja dapur. Sedangkan, Jack dengan mata merahnya menatap lekat dirinya, dan setiap tangan besar pria itu bertengger pada pundak Aprilia.
"Nana," sebut pria itu. Penyebutan nama yang berbeda, membuat Aprilia jatuh terlempar ke lubang pesakitan. Bibirnya mengeriting sedih. Setetes embun tertampung di kelopak mata bawah Aprilia.
"Mengapa kau memintaku menikahi Aprilia? Aku tidak mau!" Jack terus menggelengkan kepala.
"Mengapa kau tidak suka dia? Mengapa kau tidak suka Aprilia?"
"Dia jelek. Dia babu jelek!"
__ADS_1
Deg! Bagai pisau menancap pada jantung Aprilia. Saat ini, Aprilia telah mati tertohok karena satu kalimat Jack. Dia jelek. Dia babu jelek!
"Aku hanya mencintai Nana. Nana yang cantik."
Aprilia kesal. Embun di matanya jatuh menyusuri pipinya.
"Mengapa menangis?"
"Karena kau bodoh! Kau kena pelet Nana. Bukankah kau tau jelas Nana itu wanita yang tidur dengan sahabatmu. Kau makan wanita yang sama dengan sahabatmu. Kau pria idiot!" Aprilia marah. Mendorong Jack darinya. Pria itu tersungkur ke lantai dengan mudahnya.
"Nana, pilih aku jangan Dandy." Jack terlihat merengek di lantai seperti anak kecil.
Aprilia menyeka air matanya. Kemudian, duduk berjongkok di sisi pria itu. Tiba-tiba saja tangan Jack merekuh lengannya dan menarik tubuh rampingnya jatuh berlabuh pada tubuhnya, "Aku menyukai Nana."
Deg! Aprilia bersiap akan menampar wajah pria yang terlihat sangat merah dan terus merancau menyebut wanita lain. Namun, belum saja dia menampar. Tangan Jack bergerak cepat, menekan tekuk lehernya, dan wajah Jack sedikit mendongak, dan bibir mereka pun saling menempel.
Aprilia berhenti bernapas. Ciuman di antara merka, membuat segala kemarahan pada pria ini meluap seketika. Bagai api yang berkobar telah di siram dengan mudah oleh seember air. Hanya dengan sebuah ciuman. Aprilia kembali luluh dalam dekapan pria ini. Dia pun membalas setiap pagutan pria di bawah tubuhnya. Ciuman di antara mereka terjadi begitu lama, dan berhenti saat Aprilia menyadari jika Jack telah tertidur pulas.
Aprilia menarik bibirnya. Tangan pria itu jatuh lunglai ke lantai, mengendur dari pinggang Aprilia. Aprilia menatap lekat pada Jack. Ujung jemarinya tiba-tiba berjalan meneliti dari setiap fitur lima indera milik Jack. Tampan dan mempesona dalam satu bingkai.
Aku tergila-gila padamu, Jack. Aprilia mengehela napas. Dia berdiri bangkit dari tubuh Jack. Mengelap bibirnya sendiri. Kemudian, dia merasa malu akan apa yang telah dia lakukan barusan. Dia segera berlari ke kamar. Mengunci kamar, dan melupakan membuat teh madu.
Di dapur. Jack terlihat pulas. Namun, perlahan satu sosok nenek bungkuk melepas dari raga Jack. Dia telah merasuki raga Jack yang tertidur karena mabuk, untuk menggoda Aprilia.
...****************...
Bersambung ...
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
__ADS_1
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo