Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 89


__ADS_3

...Terkadang rasa benci menjadi cambukkan seseorang produktif dan kreatif. Menjadi jahat atau lebih baik itu pilihannya....


..._Eouny Jeje_...


...Terlalu tua menurutmu. Jangan melihat seseorang dari fisiknya. Lihatlah bagaimana caraku memperlakukanmu?...


..._Nenek Mayang_...


꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂


Aprilia mengehela napasnya, dan tangan halus memegang tangan Nenek Mayang, "Nek!"


"Panggil ibu saja!" interupsi Nenek Mayang.


"Tetapi." Jeda. Aprilia terlihat menilai sosok di depannya. Tidak cocok menjadi seorang ibu. Tepatnya seorang nenek.


"Terlalu tua menurutmu. Jangan melihat seseorang dari fisiknya. Lihatlah bagaimana caraku memperlakukanmu?"


Aprilia menganggukan kepala. Ada haru dan keyakinan akan sosok di hadapannya.


"Aku akan membalaskan dendammu. Dua pria itu akan mati saat ini pula."


Sekejap kemudian. Nenek Mayang hilang, dan dia ekmbali hadir duduk di Kabuh tengah mobil Jeep. Terlihat dua pria yang saling bertukar kata dengan suara musik yang terdengar pelan dari tape mobil.


"Bas,sudah mengirim pesan untuk Nyonya Santi?"


Pria bernama Abas itu menoleh hanya untuk memberikan anggukan pada Dimas, temannya yang duduk di posisi co-driver. Kemudian, tetap mengarahkan pandangannya pada jalan sepi yang terlihat gelap karena saat ini telah pukul 00.10 Wib dini hari.


"Uangnya bagi dua yah."


Dimas mengangguk dengan seraya menahan kantuk.


"Oh, iya gimana rasanya wanita tadi."


"Seperti perawan. Kencang banget dan mencengkram."


"Satu pikiran yang sama." Abas terlihat membayangkan setiap adegan dan rasa yang dia lewati.


"Sekali-kali harus mencoba lagi."


Nenek Mayang tersenyum sendiri, dan berbangga akan pelet miliknya, Pelet Nenek Mayang membuat semua pria memberikan testimoni yang bagus.


Nenek Mayang pun hilang kemudian dari mobil tersebut. Mengubah wujudnya menjadi seorang wanita muda cantik dengan balutan pakaian yang terlihat sopan, menyebrang jalan dan menghalang jalan mobil Jeep tersebut.


Drritttt! Dimas mengerem mendadak mobilnya. Dia hampir mengutuk akan sekelebat bayangan yang tiba-tiba berdiri di tengah jalan. Namun, segala amarah itu menguap. Kala, wanita itu mengangkat kepalanya, dia terlihat sangat cantik.


"Cantik banget!"


"Benar! Mirip Lisa Blackpink. "


"Blackpink in your area. Blackpink in your area!" Dimas buru-buru melepas sabuk pengamannya setelah melontarkan lirik lagu Korea yang dia ingat.


Dimas dan Abas segera turun. Tiba-tiba sosok wanita itu terlihat merengut dan banjir air mata segera.


"Om,Bantu antar ke kota sebelah. Aku kabur dari rumah."

__ADS_1


Abas dan Dimas saling melempar pandang. Menerima rejeki dalam satu hari yang sama. Baru saja mendapatkan tubuh seorang janda. Kini,seorang perawan terlihat mengantarkan diri.


"Ayo, om antar!" Abas pun membawa Nenek Mayang dalam wujud wanita cantik itu duduk berbagi kursi co-driver.


Dimas masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi. Seakan dia berburu segera. Mencari rumah kosong dan sepi penduduk.


"Adik kok malah malam-malam kabur?"


"Kabur dari perjodohan, om."


"Oh!"


Abas menatap dengan lekat. Sangat cantik.


"De, boleh pegang tangannya?"


Nenek Mayang mengangkat salah satu alisnya,"Mau mastiin aku bukan hantu yah,om!"


Abas mengangguk.


"Cium juga boleh, om. Biar yakin bukan hantu!" goda Nenek Mayang dengan genit.


Abas tergiur. Dimas menelan ludahnya akan godaan itu. Dia segera menginjak pedal gas, kala menemukan warung kopi yang berada di pinggir jalan.


"Dik, berhenti di sini dulu. Buat ngopi!"ajak Dimas dan mematikan mesin mobil.


Klek! Abas membuka pintu, dan menggenggam tangan Nenek Mayang, dan membantunya dengan hati-hati turun dari mobil.


"Pesan 3 kopi!"


Sang pemilik warung kopi menngantar kopi dan cukup heran. Memesan 3 kopi. Namun, yang terlihat hanya berdua,dan dua pria itu terlihat sangat menggoda sosok yang tidak terlihat. Namun,sang pemilik warung tidak perduli. Hal itu urusan pelanggan. Dia kembali ke mejanya dan melanjutkan tidur.


"Namanya sapa?"


"Mayang!" jawab Nenek Mayang.


"Mayang. Mayang. Cantik sekali nama adik."


"Bukan cantik. Tetapi, unyu dan imut," sahut Nenek Mayang dan kemudian terlihat mengantuk


"Ngantuk dik?"


Nenek Mayang menganggukkan kepalanya berkali-kali dan menguap.


Abas dan Dimas saling bertukar mata.


"Dik, istrahat di dalam. Nanti, lanjut perjalanan kembali."


Nenek Mayang hanya menganggukkan kepala. Membiarkan tangannya tergenggam Abas dan membawanya ke lorong di balik warung, terdapat beberapa bilik sederhana yang di sediakan untuk pelanggan untuk sekedar beristirahat dan memesan teman wanita.


Sementara Dimas terlihat membayar harga sewa kamar.


"Sejam kamar sewa, dua ratu ribu."


Dimas mengambil beberapa lembar uang merah dan meletakkan di atas meja, "Dua jam aja."

__ADS_1


Dimas pun menyelusuri lorong dan menunggu di depan nomor kamar yang telah Abas beritahukan dalam pesannya.


Kamar no. 1 sebelah toilet.


Dimas pun membalas pesan.


Cepatan yah. Buruan gantian!


Abas membuka pesan. Melemparkan ponselnya begitu saja. Dia melihat sosok gadis yang terlihat merebahkan dirinya di atas kasur. Matanya terpejam dengan sedikit ujung gaun tersibak ke atas. Pahanya terlihat mulus, dan mengkilat di bawah penerangan lampu kuning yang remang-remang.


Abas bergerak ke sisi dan memeluk wanita itu dari belakang. Nenek Mayang tersenyum licik.


Masuk jebakanku. Mari makan!


"Bang, hentikan tanganmu!"


"Dik, apa boleh Abang cium? Biar yakin adik Mayang bukan hantu."


Mayang berbalik. Mengedipkan matanya dan berhadapan dengan pria itu.


"Boleh bang. Asal jantung Abang untuk Mayang seorang."


Abas tersenyum penuh hasrat. Gayung bersambut di depan mata.


"Jantung ini berdetak hanya untukmu. Bahkan hanya akan berhenti berdetak karenamu."


"Gombal."


"Bukan janji manis, dik. Aku jatuh hati pada pandangan pertama."


Genitmu kalah jauh dengan genit milikku. Nenek Mayang memejamkan matanya dengan sengaja kemudian.


Abas mendekatkan bibirnya memeluk dan mencium wanita itu. Di saat bibir tipis gadis itu di ***** perlahan. Nenek Mayang menarik mundur. Dia terlihat bosan akan ciuman pria ini.


Amatiran sekali. Bosan ciuman dengan pria amatiran, keluh Nenek Mayang dalam hatinya.


Eksekusi jantung sekarang, lanjut pikir Nenek Mayang lagi.


Nenek Mayang membuka matanya, dia tersenyum genit, "Ijinkan aku mengambil jantungmu sekarang."


Abas dengan ekspresi telah jatuh cinta pada pandangan pertama, hanya mengangguk mengijinkan, "Jantungku untukmu,Dik."


Abas pun kembali mencium bibir Nenek Mayang. Rakus dan cepat. Lalu, lidah Abas masuk ke dalam mulut Nenek Mayang, bergerak mengabsen setiap gigi Nenek Mayang, dan memyentuh langit-langit lidah tersebut.


Nenek Mayang tersenyum. Membalas dengan lidahnya pula. Lidahnya kecil beegerak lincah, dan membuat Abas kewalahan menyeimbangi gerak lidah wanita tersebut, dan merasa sangat heran.


Lidahnya kok bisa panjang dan makin panjang terasa, heran Abas dalam hati dengan merasakan sesuatu seakan menutup jalan udara dalam kerongkongannya.


Di dalam mulut, Seakan lidah Nenek Mayang memiliki mata. Lidah itu berjalan dan bertumbuh dalam kerongkongan Abas. Masuk ke dalam setiap laring pajang itu.


Sesak napas. Abas tercekat. Udaranya seakan di regut habis. Sepasang matanya membola menatap sosok wanita cantik.


Hantu, jerit Abas. Namun, tidak mampu membuka mulutnya.


...꧁❤༆Pelet Janda Penggoda༆❤꧂...

__ADS_1


__ADS_2