
...Jatuh cinta itu mudah. Menjaga cinta itu lebih sulit. Layaknya menyiram bunga di padang gurun. Cinta itu muda layu, jika tak pernah kau siram lagi....
..._Eouny Jeje_...
...Lelah sekali, menghadapi cinta yang tidak pernah berbalas...
..._Santi_...
...꧁❤•༆PJP 80༆•❤꧂...
"Dusta mana yang ingin kau karang, Janda sialan!" hardik Santi dengan wajah merah seakan dia telah menemukan rahasia besar Aprilia.
Aprilia menghela napas. Kini, setiap orang tanpa Santi sadari, telah di beli dan di bujuk Aprilia untuk selalu mendukungnya.
"Imah! Imah!" teriak Santi memanggil dengan suara intonasi yang tinggi. Bahkan Mba Nung, yang tidak terpanggil, ikut keluar ke teras.
Tatapan Mba Nung jatuh menatap bergantian dua wanita yang terlihat bersiteru.
Siapa yang harus ku bela di antara mereka? Yang bisa menghasilkan uang untukku, pilah Mba Nung bingung. Aprilia terlihat seperti bebek bersangkar emas, sedangkan Santi terlihat seperti angsa yang terjebak dalam kumbangan kotor.
Tidak lama kemudkan derap langkah seseorang datang, mengalihkan perhatian mereka.
Imah tergopoh-gopoh keluar dari dapur dengan wajah peluh keringat karena uap masakan yang sedang dia kerjakan. Dia terlihat heran akan setiap ekspresi Nyonya rumah yang terlihat seperti seorang yang akan menyelidiki sesuatu.
Santi datang mendekat. Alisnya terlihat melengkung tajam, sedikit urat pada keningnya terlihat menonjol ke permukaan, jelas sekali dia tidak mampu menahan amarahnya lagi. Dia meletakkan tangannya pada bahu Imah, wanita yang terlihat sederhana dengan penampilannya itu, dan cukup memiliki keriput sekitar mata dan keningnya. Dia adalah wanita yang usianya telah melewati setengah abad. Sangat konyol sekali, jika Aprilia menyebutkan wanita yang telah menopouse itu membeli pembalut untuk dirinya.
"Iya, nyonya Santi!"
"Kau sedang datang bulan?"
Imah mengerut bingung. Aprilia berkedip meminta dia untuk menjawab 'Ya' sebagai jawaban pertanyaan ketus Santi tersebut.
"Iya, saya sedang datang bulan."
Santi terlihat bengong sebentar. Dia melirik menatap Aprilia. Dia melotot pada Imah, dan tatapannya terlihat menyelidiki wajah pucat wanita paruh baya itu. Degup jantung Santi berdetak kencang, marah, seakan menduga bahwa Imah telah di beli oleh Aprilia.
"Imah sejak kapan umur 58 tahun, masih datang bulan! Ingin berdusta, mikir dulu pakai otak!"
Mba Nung bersiap terbahak. Namun, segera menutup mulutnya.
Benar Juga. Sudah setengah abad begini, kok masih datang bulan.
Imah hanya tertunduk lemas, dan hanya meratapi bahwa dirinya sial telah terjebak sandiwara isteri kedua dalam rumah ini.
"Maaf, Nyonya Santi. Saya hanya bercanda! saya tidak pernah datang bulan lagi."
__ADS_1
"...." Aprilia melirik sinis pada Imah.
Yah, Nyonya Aprilia masa iya orang tua di minta ngaku lagi datang bulan. Tentu saja, Nyonya Santi tidak bodoh untuk percaya.
Aprilia tidak berkutik. Tangannya terkepal di belakang punggung tangannya. Seakan dia baru menyadari kebodohannya sendiri. Menjadikan Imah sebagai pengalihan alibi pembelian pembalut, terdengar sangat konyol. Wanita menopouse buat apa membeli pembalut? Aprilia ingin segera kembali menarik setiap ludah yang terlontar.
Santi merasa sepasang kaki emasnya menginjak awan, dia melotot pada Aprilia dan mencubit dagu Aprilia. Tatapan mereka bertemu, dan bibir gemuk Santi terbuka lebar berkata, "Kau ingin sebut Imah menggunakan pembalut untuk ngompol, begitukah?"
Mba Nung dan Imah tidak tahan untuk tidak terbahak. Mereka terbahak tanpa suara. Terlihat jelas, Santi piawai mempermalukan Aprilia.
Aprilia hanya mengerjapkan matanya. Dia telah kehilangan seluruh kata-katanya. Tubuhnya bergetar karena kebodohannya.
Santi mencubit dagu itu dan membuangnya ke kiri, "Tamat riwayatmu, jika Mas Dewa tau kau berbohong soal kehamilanmu. Hamil palsu. Seperti kehidupan imitasi milikmu. Cepat atau lambat, kau akan segera angkat kaki, menjadi janda lagi. Jadi janda lagi!"
"...." Aprilia tertunduk lesu. Tidak berdaya. Menyesal akan kebodohannya sendiri.
Setelah puas berkata. Santi melenggang pergi. Mba Nung terlihat bersiap menjilat kepada Santi, segera mengikuti wanita berbadan besar itu.
Tersisa Imah berada di teras yang sama dengan Aprilia. Imah maju perlahan, langkahnya terlihat mengendap mendekati wanita kedua dalam rumah ini.
"Maaf, Imah nggak bisa bantu bohong buat Nyonya Aprol!"
Aprilia hanya menghela napas. Dia meraba keningnya yang berdenyut keras, dia tidak sedang ingin membayangkan bagaimana Sadewa yang biasa menghujaninya dengan banyak kata rayuan dan manis itu akan berubah dalam satu malam. Mencaci karena kehamilan kosong. Dia harus mempersiapkan diri menghadap amarah Sadewa.
Imah terlihat berpikir sebentar. Matanya terlihat berputar acak mencari alibi yang tepat untuk Aprilia.
"Jika Nyonya beli pampers. Mungkin Tuan akan percaya, jika saya perlu pampers. Tetapi, pembalut ...."
Aprilia menelan ludahnya. Pahit sekali kenyataan yang dia hadapi. Dia telah kehilangan janinnya untuk ke dua kalinya. Kebohongan apa lagi yang akan dia lontarkan pada Sadewa? Keguguran lagi? Oleh siapa? Santi.
"Sudahlah, Imah! Kepalaku pusing!"
Aprilia terlihat gamang berdiri. Dia merasa buntu seketika.
"Minta pendapat Ade saja!"
Aprilia segera megambil ponselnya. Menanyakan keberadaan Ade.
Kau dimana? Pesan itu terkirim.
Beep! Pesan balasan segera masuk.
Aku di apartemen Aswin. Tidak bekerja hari ini. Karena lelah, setiap hari di kerjai botak. Jadi, aku sebut saja diriku sedang sakit.
Aprilia merasakan seluruh udara kembali padanya. Dia mampu bernapas lagi. Setidaknya, dia bisa meminta pendapat Ade.
__ADS_1
Aku membutuhkanmu. Aku akan segera ke apartemenmu.
Aprilia tidak menjauhkan matanya dari layar. Dia menanti pesan.
Beep! Pesan itu datang.
Kita bertemu di mall saja. Biar gaul sedikit. Aku bosan di apartemen setiap saat. Aku ingin cuci mata. Berbelanja. Berkenalan dengan pria baru.
Aprilia menghela napasnya. Melangkah keluar dari rumah. Meminta seorang supir untuk mengantarnya ke sebuah Mall yang di bagikan lokasinya oleh Ade.
Sementara itu, kepergian Aprilia telah di intip Mba Nung dan Santi yang berdiri di sidi jendela kamar.
"Auranya sangat tajam. Dia pasti memiliki ilmu serapan yang tinggi luar biasa. Oleh itu dia bisa mencuri suami Nyonya Santi."
Santi terlihat menyipitkan matanya. Dia masih merekam detik-detik mobil yang di tumpangi Aprilia itu melesat pergi dan hilang.
"Sudah ku duga! Pasti Mas Dewa telah di pelet Janda jelek itu."
Mba Nung terlihat menganggukkan kepala dengan tangannya mengelus dagunya sendiri. Dia terlihat seakan telah menyimpulkan sesuatu.
"Selingkuhan mas Dewa biasanya tidak sejelek dia. Tiba-tiba berganti haluan. Kalau bukan pelet apa lagi penyebabnya!"
"Benar! Oleh itu kita harus menumpas pelet tersebut."
Santi memutar tubuhnya. Dia berhadapan dengan Mba Nung. Wajahnya terlihat serius bercampur harapan banyak.
"Apa bisa? Menumpas pelet janda tersebut. Sekaligus membuat suamiku kembali menyayangiku. Lelah sekali, menghadapi cinta yang tidak pernah berbalas."
"Kau bisa menggunakan Pelet Mba Nung!"
Santi terlihat optimis kemudian.
"Apa itu tidak sulit?"
Mba Nung menggelengkan kepalanya, "Tidak sulit. Jika aji yang di miliki Aprilia berada di bawahku."
"Aku akan membayar Mba Nung dengan banyak uang. Kau ingin mobil. Akan kuberikan. Ingin rumah. Akan ku berikan."
"...." Mba Nung tersenyum.
"Santet Aprilia sampai mati membusuk!" Santi menatap penuh harap. Tangan berlemak miliknya menggenggam tangan Mba Nung erat.
"Apa Mba Nung bisa santet Aprilia, sampai mati?"
"Tentu bisa! Jalankan amalan tenung selanjutnya untuk membuat dia mati perlahan. Sakit tanpa sebab. Mati adalah ujung nasibnya segera."
__ADS_1