Pelet Janda Penggoda

Pelet Janda Penggoda
Ep 30


__ADS_3

Setelah itu kecupan pada Aprilia pun datang perlahan. Aprilia pun hanya berdiam menerima dengan kaku atas apa yang di lakukan Sadewa padanya sepanjang malam. Dia tidak merasakan hubungan cinta ini terasa manis dalam satu malamnya. Sangat berbeda dengan Jack.


Diam-diam Aprilia hanya merindukan sentuhan Jack. Setiap detik Jack, mampu membuat dirinya melompat-lompat pergi ke awan, dan mencubit daging awan. Daging awan itu terasa manis dalam gigitannnya.


Pagi Menjelang Kemudian ...


Aprilia menyibakkan selimutnya. Dia merasa isi perutnya naik ke rongga dadanya. Dengan tubuh berbalut hanya selimut, Aprilia berlari ke kamar mandi, dan membuang isi muntahan dari perutnya.


Selesai menyeka mulutnya dari muntahan. Aprilia segera kembali duduk ke tepi ranjang. Sadewa telah pergi cepat malam itu. Oleh itu dia hanya menyepi sendiri di kamar. Dia pun menarik laci, dan melihat beberapa lembar uang merah.


"Ada sejuta. Syukurlah." Aprilia segera meraup uang dalam tangannya, dan bersikap acuh tidak acuh kemudian. Lalu, dia mengenakan pakaiannya dan pulang.


Dengan uang sejuta dalam tangannya. Aprilia kembali ke rumah segera. Namun, baru saja dia menjejakkan kakinya di ruang tamu. Dia di kejutkan dengan sosok Puspa yang bergelantungan manja pada lengan pria yang terlihat sangat familiar hanya dari punggungnya.


"Babu jelek!" seru Puspa dan dia telah berdiri di hadapan Aprilia. Puspa mendelik menatap pakaian yang di kenakan Aprilia. "Kau mengenakan pakaianku?"—Puspa menatap tas dan sepatu yang di kenakan Aprilia "Tas sepatu ini milikku juga."


Puspa mendelik kesal.


Duh! Aprilia mengigit bibirnya. Baru saja dia akan berkata untuk membela dirinya. Puspa sudah menarik lengan dress, bersiap akan melorotkan pakaian itu dari tubuh Aprilia.


"Aku tidak menyukai seseorang mengenakan pakaianku. Kau tidak tahu betapa mahalnya milikku," omel Puspa.


Aprilia menahan lengan dress dari setiap tarikan Puspa. Dia tidak ingin di permalukan di hadapan pria yang dia sukai. Aprilia mempertahankan harga dirinya. Dia menahan agar Dress itu tidak melorot jatuh. Dia tidak ingin polos dan tercela di hadapan Jack. Dia tidak ingin terlihat murah.


"Nana!" Jack berseru. Puspa melepaskan cengkeramannya. Aprilia segera menyilang kan tangan dan memeluk raganya yang bergetar malu akan sosok yang terasa berjalan mendekatinya. Rindunya mencekam masuk dalam dadanya. Aroma maskulin pria itu masuk dalam hidungnya. Menghangatkan dirinya seketika.


"Dia pencuri!" tuding Puspa dengan telunjuk ke arah hidung Aprilia.


"Dia bermaksud meminjam."— Jack mengelus punggung Puspa— "Jangan mempermasalahkan hal kecil. Aku bisa membeli yang lebih bagus dari itu."


"Pencuri harus dihukum!" Puspa masih menuding marah. Aprilia makin bergetar. Malu akan penyebutan untuk dirinya. Pencuri!


"Sayang!" — Jack memutar tubuh Puspa mengarah padanya— "Jangan berhitung pada hal kecil. Dia hanya orang kecil. Kau adalah ratuku. Mengapa harus berhitung dengan seorang yang miskin. Tidak mampu lagi."

__ADS_1


Aprilia mendongakkan kepalanya, sedikit melirik pada sang pemilik suara sang pria. Aprilia mengelap bibirnya sendiri, betapa banyak rasa rindunya pada pria ini. Baru melihatnya lagi, sejuta panah asmara tertembak lepas kembali mengenai jantung Aprilia, Dup-dup-dup. Jack terlihat makin tampan dan terlihat tegap sempurna. Sungguh perasaannya ingin memiliki pria ini, makin menjadi-jadi.


"Kau pencuri yang terselamatkan." Puspa berbalik memeluk Jack. Setelah Jack memberikan kartu hitam miliknya, dan Jack membisiki Puspa, "Kau boleh memakai sesukamu."


"Wow! Terima kasih sayang!"


Aprilia menitikkan air matanya. Seakan setiap kata yang terlontar itu di tujukan untuknya. Kartu hitam itu menyita perhatiannya. Aku butuh uang? Kapan aku bisa mendapatkan pria kaya seperti Jack. Aku butuh dia. Aku butuh uangnya juga.


"Sayang. Kau temani aku belanja, yah."


"Baiklah."


Puspa menatap kembali pada Aprilia. "Ambillah pakaian itu untukmu. Rasanya jijik mengenakannya. Walau kau mencuci seribu kali pun. Keringat kotor itu tidak akan hilang. Terus menempel dan menjijikan, lagipula ...."— Puspa mengendus pada leher Aprilia — "Apa kau habis melakukan sesuatu? bau pria murahan dan tua terendus menjadi aroma yang menjijikan."


"Kau tidak pulang semalaman? Apakah menghasilkan uang?"


Aprilia membisu. Puspa mencubit dagunya. "Kau itu jelek. Bagaimana semua lelaki menghargaimu? Jika kau ingin di hargai, kau harus cantik."


Jack tersenyum dengan sepasang mata yang menunduk setuju akan pernyataan Puspa.


"Aku seperti mendengar drama komedi secara langsung di sini," komentar Jack tiba-tiba.Jack terbahak kemudian. Dia pun segera mengapit Puspa, melangkah pergi melewati garis pintu.


Plak! Hati Aprilia seakan tertampar, dan rasanya sangat jijik mengetahui apa yang di lontarkan Puspa tepat di depan Jack, dan pria yang dia sukai


Imageku hancur di hadapan pria yang aku cintai. Aprilia segera lari meninggalkan ruang tamu. Dia tak kuasa menahan air matanya. Blam! Dia membanting pintu kamarnya. Merekuh tubuh Dimas dalam pelukannya.


Dimas terbangun segera, menatap ibunya, dan menyeka air matanya.


Aprilia termenung lama di hadapan Dimas. Setiap kata Puspa berputar di dalam kepalanya.


Babu jelek. Nasibmu jejek. Jika kau tidak pernah serakah sungguh-sungguh.


Aprilia menganggukan kepalanya bersamaan dengan menitikkan air matanya. Aku harus serakah demi sebuah kedudukan. Aku hanya akan terus pergi di hina, jika terus berada di bawah.

__ADS_1


Aprilia mendongakan wajahnya, menatap Dimas, dan mengelus rahang puteranya. Dia terlihat sangat sedih kemudian.


Aku tidak bisa membawa Dimas bersamaku lagi. Dia harus ku titipkan pada neneknya.


Aprilia segera memeluk erat Dimas, dan berbisik, "Yang pintar yah, nak. Jika berpisah dengan ibu."


"Ibu kenapa?" tanya Dimas. Dimas tegang sesaat, dan mulai merengek, "Aku tidak ingin pisah dengan ibu."


Aprilia menggelengkan kepala. "Ibu ingin menitipmu pada Nenek."


"Nenek?" Dimas terlihat tidak senang. Mendorong tubuh ibunya.


"Dengan begitu ibu bisa bekerja leluasa. Ibu harus mengejar sesuatu untuk kita."


Dimas menggelengkan kepala. Dia ikut menangis. Bersikap menolak. Namun, Aprilia terlihat bersikap acuh tidak acuh. Dia sudah membuat keputusan, dia tidak ingin semua orang pergi memandangnya sebelah mata. Sudah cukup dia merasakan punggungnya yang selalu terinjak.


Aprilia merogoh ponselnya. Menghubungi seseorang yang dia kenal bernama Irfan, yang merupakan sepupunya dari pihak ayahnya.


Tidak menunggu lama. Panggilan pun tersambung.


"Mas Irfan, bisa menjemput Dimas. Titip pada nenek."


"Mengapa di titip?" Irfan terlihat akan menolak.


"Aku bekerja di perusahaan. Tidak mengijinkan membawa anak." Aprilia berbohong.


"Baik." Pria di seberang sana menjawab dengan tangan yang terus mengemudi mobil Pick Up.


...****************...


Bersambung ....


Jangan napsu dan membenci. Akhirnya akan mendapatkan karma di belakang, jika salah mengambil jalan. Keep heart, Aprilia!

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .


Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo


__ADS_2