
...Proses sakit dan tidak ada harapan adalah investasi menuju cita-cita besarmu....
...—Eouny Jeje—...
...Kau wanita polos dan baik yang diperdaya oleh seorang jelmaan buaya....
...-Aprilia—...
...꧁❤•༆PJP 62༆•❤꧂...
"Kau menyebut nama orang lain!" tegur Sadewa mengejutkan jantung Aprilia, dug! Jantung Aprilia berdegup lebih keras,dia terlihat gugup seketika, sepasang matanya membola besar. Namun, tampak indah dan mempesona di mata Sadewa. Sadewa tertegun dan terhipnotis masuk, tunduk dan berdiam. Di saat itulah, Aprilia ingat keindahan matanya memiliki pelet yang luar biasa.
"Mas, Jack adalah nama calon bayi kita kelak."
"...." Sadewa linglung sebentar, lalu terkekeh di atas tubuh wanita keduanya, "Nama yang bagus. Kau wanita yang baik, tutur katamu lembut. Aprilia yang aku kenal, bukanlah wanita yang tidak mengenal kesetiaan pada suaminya."
"Iya, mas. Terima kasih atas kepercayaanmu." Aprilia mengeratkan pelukannya pada suami kedua dalam hidupnya, dia memeluk dan menciumnya. "Lanjutkan kembali, mas ...," pinta Aprilia kemudian. Sadewa melanjutkan kembali apa yang dia inginkan, memuaskan hasratnya yang tertunda.
Menjelang dini hari. Terdengar suara Kokok ayam bersahutan. Aprilia Mengerjakan matanya, dia terbiasa bangun sebelum matahari naik menghias langit. Kelopak matanya terbuka perlahan dan lebar. Satu titik lampu kamar menyilaukan penglihatannya pertama kali. Dia berdecak senang,dia telah memperoleh penglihatannya kembali.
Aprilia beranjak akan bangun. Namun, sosok berat di atas tubuhnya terlihat enggan berpindah. Sadewa tertidur di atas tubuhnya sepanjang malam. Aprilia dengan kuat mendorong tubuh itu berguling terlentang dengan dekuran yang pekak terdengar.
"Sepertinya aku pingsan oleh ulahnya. Bukan tertidur. Suara ngorok, terdengar ngeri sekali." Aprilia duduk dan menarik selimut tipis untuk menutupin kepolosan tubuhnya. Dia mengamati sekeliling kamarnya. Kumuh, penilaian pertama.
"Tega sekali memberikan kamar seperti ini untukku," keluh Aprilia segera mengenakan pakaian. Dia memilih acak dari kopernya. Mengambil satu potongan daster bewarna merah muda. Setelah mengenakannya, dia terlihat bingung akan mengerjakan apa setelah bangun pagi di rumah Santi.
"Apa yang harus di lakukan? Membersihkan rumah? Ah konyol, aku kan bukan babu Santi. Aku adalah istri kedua dari pria tidak berguna ...,"gerutu Aprilia yang kemudian memutuskan keluar kamarnya, sekedar ingin berjalan-jala melihat bagaimana mewah dan megahnya wanita yang memiliki banyak uang itu.
Kret! Pintu berderit terbuka perlahan. Sepasang mata Aprilia membola kagum dan serakah terlihat, rumah Santi terlihat seperti istana. Jauh lebih menganggumkan dari rumah sederhana milik Puspa.Aprilia berdecak akan setiap barang antik yang terpajang di dinding dan setiap guci besar yang terletak di sudut ruang, terlihat sangat mahal.
Aprilia berjalan pelan menuju sofa. Dia duduk dan melompat-lompatkan bongkok ya pada busa yang terasa tebal dan empuk itu.
__ADS_1
"Kursi itu mahal. Jangan kau hancurkan dengan bokongmu yang berlaku!" Suara itu terdengar ketus dan lantang.
Aprilia menelan ludah, raganya bergetar takut, dia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang, mengintip sang pemilik suara. Wanita berambut putih dengan tongkat di depan kedua kakinya, terlihat memasang raut tidak suka akan perilaku Aprilia yang datang dan duduk melompat-lompat di sofa tersebut.
"Kau tidak tahu diri sekali. Jangan bermewah atas milik orang lain. Apa kau lupa kedudukanmu?"
Aprilia segera bangkit dari sofa. Dia melipat tangan malu di depan pinggangnya. Wajahnya menunduk seakan telah ketahuan mencuri, "Maaf," desis Aprilia merasa tersudut.
Tiba langkah kaki dan suara tongkat terketuk di lantai, Tuk! Tuk! Tuk! dan berhenti tepat di depan wajah Aprilia.
"Kau ingat siapa dirimu?" Pertanyaan itu mengejutkan dan terkesan menuntut jawaban segera.
"Aku adalah isteri kedua Mas Sadewa."
"Ha ... ha ... ha!" Suara tawa itu terdengar mengejek, dan merasa konyol akan jawaban Aprilia.
"Kau hanya mamalia dalam rumah ini. Apa kau mengerti?"
Deg! Aprilia meringis marah dalam dadanya. Namun, tidak berani menunjukkan kemarahannya.
"Kau adalah mamalia yang di ijinkan beranak di dalam istana megah milikku, bukan milik Sadewa. Setelah anak itu hadir, kau akan kembali di buang, kau tidak berarti."
Aprilia makin meringsutkan hatinya.Dia makin menunduk dalam, dan jatuh berlutut di depan kaki wanita berambut putih tersebut.
"Nyonya, jangan membuang hamba. Boleh lah menyebut dan menghinaku dengan banyak makian. Namun, jangan memisahkan aku dengan anakku ini kelak," rengek Aprilia dengan air mata yang sengaja dia jatuhkan dan di cari-cari, untuk dia pamerkan kepada sang wanita tua.
"Sebenarnya, tidak ada niat hatiku untuk masuk dalam rumah ini dan merebut mas Sadewa dari Nyonya Santi. Tetapi ...."
Ratih terlihat menyipitkan matanya, hatinya mendadak kasihan akan air mata yang deras milik wanita yang terlihat bersujut mencium kakinya , dan seakan dia telah kehilangan harga dirinya.
Setidaknya wanita ini terlihat lemah, bodoh, dan tidak berdaya di hadapan Santi. Lagipula, yang gatal adalah menantu sialan itu.
__ADS_1
"Kau boleh tinggal di sini. Untuk menjaga anakmu kelak. Namun, kau tidak akan mendapatkan gaji, dan tidak berhak di panggil ibu."
Ratih menatap pada pintu kamar. Semalam Santi mengeluh dan jatuh menangis ke dalam pelukannya, menyebutkan jika suaminya telah lari masuk ke dalam kamar Aprilia. Ingat hal itu, raut Ratih menjadi lebih muram.
Ratih terlihat menilai dengan cermat penampilan wajah dan tubuh Aprilia.
Dia tidak cantik. Hanya saja memiliki mata yang indah dan tubuhnya jauh lebih langsing daripada Santi. Tetapi, jika Santi berhasil menurunkan berat badannya, dia akan lebih unggul dari wanita mamalia ini, komentar Ratih dengan mata yang bergerak naik turun menilai.
"Satu lagi syaratnya."
Aprilia mendongakkan kepalanya, menatap wanita tua yang terlihat berwibawa, dan sangat di segani karena kehidupannya yang memiliki banyak harta.
"Kau harus menolak setiap persetubuhan dengan Sadewa. Apa kau setujui?" Ratih turun berjongkok, "Kau akan mendapat imbalan jika menolak suami Santi menyentuhmu."
Apa imbalanku? Sadewa tidak mampu memberiku uang. Dia kehilangan segalanya. Dia di buat miskin oleh Santi. Tiap malam dia hanya mengantar benih. Berhubungan dengan pria tidak berguna.
"Nyonya, aku hanya akan mengabdi padamu, dan aku akan menolak persetubuhan. Bukan untuk imbalan. Namun, untuk menebus dosaku."
Ratih kembali berdiri. Mata rentanya terlihat menyelidiki sebentar. Namun, wajah polos Aprilia, membuat dia yakin.
Kau wanita polos dan baik yang diperdaya oleh seorang jelmaan buaya. Santi juga begitu bodoh, tidak ingin melepas cintanya.
"Kau wanita baik. Kau pantas menjadi adik Santi. Aku akan membantumu berbicara pada Santi. Untuk tidak membencimu. Yang salah adalah suaminya, dan dirinya sendiri yang tidak pandai menjaga tubuh agar suami tidak lari pada pangkuan wanita lain."
Aprilia menganggukan kepala,dan tersenyum. Air matanya jatuh dan memeluk kaki wanita tua itu, dan berkata dalam isaknya, "Terima kasih .... Atas Budi Nyonya. A-aku hanya wanita yang singgah sebentar. Na-mun, bukan wanita pelaju*. Aa-ku akan mundur perlahan."
"Kau sepertinya wanita baik. Putriku saja yang bodoh mencintai jelmaan buaya itu."
Aprilia terkekeh dalam hatinya. Dia berhasil mendapatkan kepercayaan dengan menjilat hati wanita tua ini. Aprilia hanya menyimpan dendam, dia bersumpah akan menggulingkan kehidupan congkak Santi dan ibunya. Untuk saat ini, bom waktu tidak harus di ledakkan hanya karena telinga panas.
...꧁❤•༆PJP 62༆•❤꧂...
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai dengan episode ini. Besar harapannya author sih, readers terus mengikuti dan membaca, dan jangan lupa berikan hadiah 🎁, Vote 🎫, Like 👍, dan Coment setelah membaca yah .
Besar dukungan kalian sangat di harapkan Lo